[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 15



Satu tahun berlalu begitu cepat menurutku. Hubunganku dengan Agra juga sudah membaik walau pada awalnya ia masih sempat bersikap dingin padaku. Sempat tidak pulang karena menyibukkan diri di kantor dan lebih memilih berlama-lama di kantor daripada di rumah.


Untungnya, aku dan mama Citra bisa membujuknya hingga hubungan kami kembali membaik seperti dulu.


Tentang pil KB yang sempat membuat hubungan kami renggang, aku sudah tidak mengkonsumsinya sejak pulang dari rumah sakit. Aku sudah pasrah jika memang harus mengandung di saat aku masih kerja. Ini memang sudah hakikatnya wanita yang sudah resmi menjadi seorang istri.


Tapi sayangnya, mungkin Tuhan sedang menghukumku saat ini. Tiga bulan setelah aku tidak mengkonsumsi pil lagi, tanda-tanda kehamilan mulai muncul seperti mual-mual, cepat lelah dan pusing sering menghampiri. Saat cek ke dokter ternyata perkiraan kami salah, aku tidak hamil. Tubuhku hanya lelah karena terlalu men-forsir diri dalam bekerja. Aku kecewa, jujur.


Lebih mengecewakan lagi saat dokter kandungan mengatakan akan sulit bagiku untuk bisa mengandung. Ada kelainan pada hormonku yang mengakibatkan aku sulit mengandung. Raut kecewa tampak jelas di wajah Agra. Walau ia tetap tersenyum dan menenangkanku, sorot wajahnya tetap tidak bisa berbohong.


Aku menangis. Menyadari kebodohanku tahun lalu. Mungkin ini cara Tuhan menghukumku. Tuhan mungkin juga kecewa berat atas kesalahanku tahun lalu hingga menghukumku seperti ini.


“Jangan nangis, sayang.” Kurasakan dua lengan kekar melilit perutku dari belakang. Dagunya tertumpu di bahu kananku. Deru napasnya menggelitik leherku. “Maaf,” ucapku.


Kurasakan ia menggeleng kemudian mempererat rengkuhannya. “Kita cuma butuh banyak doa dan usaha lagi. Aku yakin, kok, suatu saat nanti pasti bakal ada malaikat kecil di rumah ini.” Bibirnya mendarat di bahu kananku. Lalu ia membalikkan tubuhku dan membawa diriku kepelukannya yang hangat dan nyaman.


“Kalo aja dulu aku gak konsumsi obat itu, mungkin Tuhan gak akan ngehukum aku seberat ini, A. Ini semua salah aku.” Helaan napas lolos darinya. Tangannya mengelus kepalaku dengan lembut. “Aku kan udah bilang ini bukan salah siapa-siapa. Tuhan bukannya ngehukum kamu, sayang. Tuhan cuma belum ngasih kita kepercayaan aja.”


Satu kecupan mendarat di kepalaku cukup lama. “Jangan salahin diri kamu sendiri, ya?”


Aku mengangguk lalu memeluknya erat seperti tidak ada waktu untuk besok. “Kamu kenapa bisa, sih, sesabar ini hadapin istri kayak aku, A? Padahal kamu tau aku ini keras kepala, gak suka diatur apalagi.”


Ia terkekeh lalu melepas pelukannya kemudian menangkup wajahku. “Mau tau?” aku refleks mengangguk. Ia menyekah air mata di pipiku.


“Mata ini.” Kecupannya mendarat di kedua mataku bergantian. “Pipi ini.” Kini, kedua pipiku yang menjadi sasaran empuk bibirnya. “Hidung ini,” ucapnya lagi dengan melakukan hal yang sama pada hidungku. “Dan bibir ini.” Ia mengelus sekilas bibirku sebelum mendaratkan ciumannya di sana. Lembut dan aku suka.


“Semuanya aku suka,” tambahnya setelah pangutannya terlepas.


“Aku lebih baik sabar sama sifat kamu yang gak jauh beda sama aku, dari pada aku harus sabar nunggu kamu yang hilang entah kemana seperti dulu.” Ia menggeleng masih dengan menangkup wajahku. “Aku bisa gila, Ra, kalo kamu kembali hilang.”


Airmataku kembali jatuh. Aku terharu akan sikapnya yang manis. Benar-benar bersyukur aku diberikan suami sesabar Agra. Hanya Agra yang tahu sisi burukku namun tetap memilih bertahan. Tuhan, aku benar-benar sudah jatuh hati padanya.


“Lah-lah, kok, nangis? Aku kan udah bilang jangan nangis.”


Aku mencubit pinggangnya, kesal. “Aku terharu, tau! Kamu belajar ngomong manis kayak gini dari siapa, sih, hm? Aku rasanya hampir diabetes dengernya.” Suamiku ini malah tertawa lalu kembali membawaku ke dekapannya.


“Aku kan emang udah manis dari dulu. Kamu aja yang sok galak dulu sama aku. Ujung-ujungnya juga suka.”


“Heh!” aku melepas paksa pelukannya lalu mempelototinya. “Yang ngedeketin aku duluan siapa? Kamu, kan, yang dulu ngejer-ngejer aku. Aku kasihan aja liat kamu makanya aku terima aja rasa suka kamu.” Aku mengendikkan bahu cuek.


Senyumanku tersungging lalu memberanikan diri berjinjit dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya. “Istri kamu,” bisikku tepat di telinga Agra yang mematung.


####


“Ganti sama yang lain aja. Itu bahunya terlalu terbuka.”


“Ini model, A. Udah emang sepantasnya kayak gini.”


“Gak. Aku gak suka. Sana ganti, kalau gak mau ganti kita batal pergi. Titip amplop aja nanti.”


Aku menggerutu kesal untuk kesekian kalinya. Malam ini kami akan datang ke pesta pernikahan Deon dan Zoya yang digelar di ballroom hotel milik keluarga Deon sendiri. Dan suamiku yang sudah gagah dengan tuxedo hitam dengan kemeja putih sebagai dalaman itu terus saja mengomentari gaunku.


Terhitung, gaun dengan atasan model Sabrina ini sudah gaun ketika yang aku coba. Gaun pertama katanya terlalu ketat di tubuhku, gaun kedua katanya ia tidak suka dengan belahan pahanya dan gaun yang masih aku pakai ini katanya terlalu mengekspos bahuku. Aku menggelengkan kepala kemudian menghela napas jengah ketika sifap posesifnya kembali datang.


Aku mengambil gaun berwarna rose gold dengan model rok payung. Pada bagian atasnya terdapat renda-renda berwarna keemasan hingga lengan. Aku memakainya dengan cepat kemudian memperbaiki tatanan rambutku yang malam ini kusanggul walau Bapak Agra yang terhormat sempat protes.


“Gimana? Ini udah bagus, kan?” tanyaku, “plis, A. Ini aja, ya. Aku udah capek gonta-ganti terus,” sambungku saat melihat mulutnya akan kembali bersuara.


Agra yang awalnya duduk di sofa kamar kini bangkit mendekatiku. Lengan kanannya memeluk pinggangku kemudian tangan kirinya mengusap kening dan pelipisku yang berkeringat. “Kita gak usah dateng, ya? Aku gak mau orang-orang liat kamu cantik gini.”


Mataku berputar malas kemudian kulepas rengkuhannya dari pinggangku. “A, jangan lebay, deh. Ini itu pernikahan sahabat kamu dari orok. Yakali kamu gak dateng cuma karna alasan kamu itu,” ujarku sembari memoleskan lipstrik berwarna velved mate ke bibirku, kontras dengan warna gaunku.


“Iya-iya maaf. Kita tetap ke sana, kok. Tapi itu lipstiknya gak usah tebal-tebal.” Demi Elsa yang punya kekuatan membekukan, aku ingin sekali menyihir suamiku ini. Aku bukannya tidak suka akan sikap posesifnya hanya saja menurutku ini sedikit berlebihan.


“Kamu tuh dari tadi ngomentarin aku aja. Gaunnya itulah, inilah. Make up-nya inilah, itulah. Rambutnya ginilah, gitulah.” Aku membalikkan badan. “A, plis, ya, kita udah ngehabisin waktu sejam cuma karna menuhin komentar kamu.”


“Aku ngomentarin tampilan kamu itu ada alasannya, Ra. Aku rempong ngomong ini-itu karna aku tau gimana mata laki-laki di luar sana kalau ngeliat cewek yang menurut mereka menarik. Ak-” kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan kubantai habis ketika dengan gemas aku mencium pipinya.


“Aku tunggu di luar. Kalo gak keluar juga aku berangkat pake sopir aja.”


.


.


.


BUAT YANG UDAH PUNYA SUAMI, ENAK GAK SIH DI POSESIFIN?🤔