[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 5



Hah!


Helaan nafas lelah itu baru saja terhembus dari mulut Aurora. Wanita itu membuang masker dan sarung tangan bekas operasinya ke tempat sampah lalu memijat pundaknya sendiri. Berlama-lama di ruang operasi dengan tangan yang tidak berhenti bergerak selama tiga jam tentu saja membuatnya lelah.


"Mau makan bareng, Dokter?" Aurora menoleh pada Dokter Yasya yang sudah berganti pakaian dengan kemeja putih.


Aurora tersenyum simpul sejenak. "Dokter duluan aja. Saya mau ganti baju dulu," jawabnya.


Dokter Yasya bergumam pelan lalu mengangguk. "Kalau begitu saya duluan yah, Dok."


Aurora mengangguk saja.


Setelah kepergian Dokter Yasya dia kembali menghela nafas lelah lalu mulai berjalan menuju lokernya. Mengganti pakaian bekas operasi menjadi kemeja putih bermotif kembang dipadukan dengan celana panjang yang senada.


"Agra udah makan belum, yah?" gumamnya kala mengingat Agra yang mungkin merajuk padanya.


Dia mengambil ponselnya dari dalam loker lalu menelfon Agra.


"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberap---"


"Ck." decakan disertai hembusn nafas pelan terdengar saat hanya Mbak Operator yang menjawab panggilan Aurora.


Wanita itu mulai berjalan menuju kantin rumah sakit dengan tangan yang masih sibuk menari di atas ponsel. Dia kembali menghubungi Agra berkali-kali namun hasilnya tetap sama.


Merasa jengah, Aurora beralih membuka room chatnya dengan Agra.


Husband❤


Kamu dimana?


Kenapa telfon aku gak di angkat?


Udah makan?


Mau aku beliin makanan?


Aurora menghembuskan nafas lagi saat chatnya hanya tercentang dua. Dia akhirnya memilih mengantongi ponselnya saja dan berbelok menuju kantin rumah sakit. Namun belum sepenuhnya berbalik, suara seseorang lebih dulu memanggil Aurora.


"RA!" teriak orang itu.


Aurora menoleh dan mendapati Alif yang duduk di luar ruang Dokter kandungan. Aurora tersenyum lalu menghampiri Alif yang kini telah berdiri.


"Hai!" sapa Aurora. "Apa kabar nih, calon Papa muda?"


Alif tertawa kecil lalu duduk kembali diikuti Aurora.


"Baik. Baik banget," jawab Alif. "Lo sendiri gimana? Agra gak bikin lo naik darah, kan?" lanjut Alif terkekeh.


Aurora ikut terkekeh. "Bikin naik darah sih, enggak. Tapi manjanya masih kayak dulu."


"Emang dasar lah, tuh, laki lu. Kayak anak kecil aja sama lo."


"Dari pada dia kasar sama gue mending kayak gitu, kan?"


Alif mengangguk lalu terkekeh. "Pas 'itu-itu' Agra gak kasar, kan?" tanya Alif setengah berbisik.


Aurora diam sejenak. Mencerna dengan baik maksud dari kalimat Alif. Setelah tahu maksud dari pria itu, Aurora membulatkan matanya dengan semburat merah di pipinya.


"Ngapain lo nanyain itu, kampreto!" desis Aurora menatap tajam pada Alif.


Alif hanya tertawa menanggapinya. Menghiraukan tatapan ibu-ibu hamil yang menatap kagum padanya. Beberapa ibu-ibu terlihat meneguk ludahnya dengan tangan yang mengelus perutnya saat melihat Alif yang tertawa.


Tawa Alif terhenti saat seorang wanita dengan dress selutut berwarna merah muda keluar dari ruang Dokter kandungan. Wanita berperut lumayan buncit itu tersenyum pada Alif dan Aurora.


Aurora berdiri lalu memeluk wanita itu. "Duh, bumil. Makin gemes, deh, gue," ujar Aurora.


Wanita itu terkekeh. "Makanya cepet nyusul juga, Ra."


Aurora melepas pelukannya lalu mendengus. "Nikahnya baru kemarin masa iya langsung isi. Gimana, sih."


Wanita itu terkekeh lalu beralih menatap Alif yang sudah berdiri. "Kamu udah lama ngobrol sama Aurora?" tanyanya.


Alif menggeleng lalu mendekat pada wanita itu. Memeluk pinggang istrinya saat matanya menangkap tatapan dari bapak-bapak yang mengantar para istrinya ke ruangan ini. Tatapan mereka tak lepas dari istri Alif.


Melihat mereka berdua Aurora mengulum senyum. "Duh, Lena. Suami lo posesif bener," celetuk Aurora menggoda Alif yang memutar mata malas.


Wanita bernama Lena itu terkekeh. "Dia emang Mr. Posesif. Gak kebayang, Ra, kalau lo tau gimana posesifnya dia. Ngiris bawang aja gak boleh, loh." Lena menatap Alif yang berdecak kesal. Dia kemudian tertawa kecil lalu mengecup pipi Alif.


Fyi, Alif dan Lena memang sudah menikah setelah satu tahun bertemunya Agra dan Aurora. Entah apa yang terjadi hingga mereka bisa seperti ini. Setahu Aurora, Alif hanya datang ke Jerman untuk proyek fotographinya selama satu tahun. Dan tahu-tahu, saat pulang ke Indonesia Alif langsung memberikan kabar mengejutkan.


Kabar bahwa dia akan menikahi Lena. Lena Jaquenza Mendensen. Mantan tunangan Agra. Ah, ralat. Maksudnya Lena Jaquenza Fernando. Karena sejak satu tahun lalu, dia sudah resmi menjadi Nyonya dari Alif Fernando Pratama.


Aurora tersenyum tipis. "Eh, kalian mau langsung pulang, gak?" tanya Aurora.


Alif mengangkat alis lalu menggeleng. "Mau ke kantor Agra dulu. Ada yang mau gue urus di sana. Ada Deon juga jadi sekaligus ngumpul."


Alis Aurora bertaut. "Bukannya Agra ambil cuti nikahan?" tanyanya.


Aurora membulatkan matanya. Agra baru saja menelfon Alif? Lalu kenapa Agra tidak menelfon Aurora kembali? Bahkan chatnya pun tidak dibaca sama sekali.


Aurora berdecak pelan. "Gue nebeng, yah?" wanita itu menujukkan cengiran lebar.


Alif mengangguk lalu mulai berjalan dengan tangan yang masih setia memeluk pinggang Lena.


####


"Wah, Papa muda udah dateng, nih." Deon berdiri dari sofa lalu memeluk Alif ala pria.


Alif hanya terkekeh lalu duduk di antara Agra dan Deon. Di samping Deon ada Keyra yang sibuk berselfi ria dengan berbagai macam gaya.


"Woy!" Alif memanggil Keyra. Cewek itu menoleh sejenak lalu kembali dengan kegiatannya.


"Lo ngapain di sini? Lo masih ada pemotretan tiga puluh menit lagi," cerca Alif.


Keyra berdecak kesal lalu menghentikan kegiatannya. "Yah, gimana gue motret kalau yang fotoin gue aja ada di sini?"


Alif menggaruk tengkuknya lalu cengengesan. Keyra mendelik padanya.


"Belum juga jadi Bapak-Bapak udah pikun lu!" cibir Keyra.


"Eh, lo jang----"


"Aaaa... Raraaaa... Miss u so bad...." tiba-tiba saja Keyra berlari ke arah pintu lalu memeluk Aurora yang baru saja masuk menenteng kantung kresek bersama dengan Lena.


"Gak usah lebay, deh, Key. Kemarin di resepsi juga ketemu." Aurora berlalu begitu saja meninggalkan Keyra yang berdecak.


"Aaa... Lena... Gue juga kang---"


"Duduk yuk, Yang. Kamu pasti capek."


Keyra hanya memeluk udara saat Alif tiba-tiba menarik Lena untuk duduk di sofa bareng mereka.


Keyra lagi-lagi berdecak. "Pengen cepet-cepet nikah rasanya!" gerutunya lalu ikut bergabung.


"Nikah bareng gue aja, Key!" celetuk Deon dengan alis yang dinaik turunkan.


Keyra berdengik ngeri. "Kagak mau gue. Masih banyak artis di luar sana yang ganteng-ganteng. Iya kali sama lo."


Deon mendelik lalu menoyor jidat Keyra pelan. "Eh, nenek lampir. Di luaran sono emang banyak yang lebih ganteng. Tapi yang setia sudah tentu cuma A'a Deon seorang." Deon tersenyum miring dengan tangan yang menyisir rambutnya kebelakang.


Mereka yang melihat itu hanya memutar mata malas. Mendengus, dan juga terkekeh.


"Setia, setia, pala lu botak. Liat cewek bening dikit aja tuh, mata udah mau keluar," kelakar Keyra. Mencomot kue yang di bawa Lena dan Aurora tadi.


Deon decak pelan beberapa kali. "Keyra sayang, kuh, liat cewek bening siapa yang gak melotot? Barang bagus gak baik di anggurin. Entar nyesel gak bisa liat."


"Idih! Barang bagus, barang bagus. Noh, jahannam waiting you!" pekik Keyra lagi. Dia beralih duduk di karpet agar bisa lebih muda mencomot kue red velved itu.


"Len, lo tutup kuping aja, yah. Takutnya entar diam-diam ngumpat kalo denger Deon. Gue gak mau ponakan gue kayak dia." Keyra beralih pada Lena lalu menyandang sinis Deon yang melotot padanya.


Lena hanya tertawa menanggapinya.


"Gue saranin deh, Lif. Jangan banyak main sama Deon. Entar kalau anak lo kaya dia kan, berabe." Dia beralih pada Alif yang terlihat membersihkan bibir Lena dengan tissue akibat kue.


"Berdoa aja Key, semoga aja anak gue sehat wal afiat tanpa kekurangan apapun." Alif melirik sekilas pada Deon dengan tawa yang dikulum.


Tenang, Deon masih sabar kok.


"Ini juga pesan buat lo, Ra. Entar kalau bikin debay sama Agra jangan ingat Deon, yah. Kasian benih Agra yang udah sempurna jadi amburadul gara-gara ingat Deon." Keyra beralih pada Aurora yang kini tertawa kecil. Di sampingnya ada Agra yang terkekeh meskipun sibuk memakan makanan yang dibeli Aurora yang sempat dia tolak.


Tenang, Deon masih sabar.


"Kalian ingat deh, pesen gue baik-baik. Jad---"


"Keyra...." Deon beringsut turun dari sofa lalu duduk bersila di samping Keyra.


"Hm." Keyra bergumam malas dengan tangan yang sibuk memasukkan kue ke dalam mulutnya.


"Keyra...." suara Deon kian melembut.


"Apa si---hmmppttt...."


Lumuran krim kue itu memenuhi mulut Keyra. Mata cewek itu membulat sempurna pada Deon yang tertawa kemenangan. Cowok itu kembali memasukkan sepotong kue pada mulut Keyra yang menganga lebar.


"Gue nikahin juga lo lama-lama!" sungutnya yang di sambut gelak tawa oleh mereka.


.


.


.


VOTE YANG BANYAK DONG:"(