![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
Suasana hening dan canggung adalah suasana yang dibenci oleh Aurora. Wanita itu menolehkan wajah ke kursi kemudi lantas berdecak lirih. Sejak tadi—pulang dari kantor—Agra terus saja diam dengan mata yang fokus ke depan. Kedua tangan pria itu sibuk mengendalikan stir mobil.
“A’a.” Aurora mencoba membuka suara. Tapi, respons Agra tetap sama. Diam dengan pandangan ke depan.
“A’a sayang….”
“A’a Agra….”
“A’a suami….”
Dengan kesal Aurora memukul lengan kiri Agra hingga pria itu menoleh dengan alis bertaut. Wajahnya datar seperti papan tripleks hingga Aurora rasanya ingin memukul wajah itu.
“Istigfar, Ra. Suami kamu itu!” ia membatin dengan kekesalan yang terpendam.
“Apa?” seru Agra lalu kembali mengabaikan Aurora.
“Kamu marah sama aku?” Agra menggeleng tanpa berniat menatap Aurora. Entah ada apa denga pria itu, mungkin ia sedang dalam mode merajuk pada istrinya.
“Aku ngomong, loh, nih, A’.”
Agra menoleh sekilas. “Yah, tau,” sahutnya.
Menggeram kesal, Aurora menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil. “Kalau ditanya itu jawab yang bener! Jangan Cuma angguk-angguk aja terus nyahut pendek-pendek. Kayak gak tau kosa kata aja!”
Mendengar cercaan panjang lebar istrinya Agra mengulas senyum geli. Ia sebenarnya tidak marah dengan Aurora. Hanya saja mood-nya sedang tidak baik hari ini.
“Nah, kan, diem.” Aurora kembali berucap. “Aku tau aku salah karna masuk kerja di hari pertama kita nikah. Tapi kamu juga ngertiin aku dong, aku Dokter dan pasien nomor satu buat seorang Dokter.”
Agra kembali tidak menyahut. Ia hanya berdiam memasang telinga mendengar segala omelan Aurora yang terdengar menggelikan di telinganya.
“Di depan turunin aku di minimarket. Mau beli bahan bulanan.” Agra kembali mengangguk tanpa menatap Aurora. Demi Swipper yang tidak jadi mencuri, Aurora benar-benar dibuat kesal oleh suami tampannya ini.
“Tau, ah!”
Tanpa Aurora ketahu, Agra menggigit bibir bawahnya agar tidak terkekeh. Wajah memerah dan bibir mengerucut Aurora sangatlah menggemaskan di matanya.
Mobil yang di bawa Agra berhenti di depan minimarket sesuai permintaan Aurora. Tangan Agra bergerak menahan lengan Aurora yang hendak membuka pintu.
“Apa?” seru Aurora tidak santai.
Agra terkekeh lalu mengecup kening Aurora. “Bercanda tadi. Aku gak marah, kok.” Ia mengelus pipi Aurora sebelum tangan wanita itu memukul lengannya.
“Rese!”
####
Trolli yang didorong Agra telah dipenuhi oleh beberapa bahan dapur dan keperluan bulanan lainnya. Di depan, Aurora tengah sibuk memilih-milih merk sabun mandi yang akan mereka simpan di kamar mandi.
“Sukanya bau apa, A’?” tanya Aurora, tangannya sibuk mengambil satu produk lalu menyimpannya kembali saat merasa tidak cocok.
“Apapun yang kamu pilih pasti bagus.”
Aurora menoleh kebelakang lalu mendelik. Ia masih sedikit kesal dengan Agra yang mengerjainya.
“Eh, itu yang dorong trolli cakep banget, sih.”
“Ih, mukanya mulus gak ada brewoknya.”
“Iya, cocok tuh pasti kalau dijodohin sama anak saya.”
“Enak aja! Anak saya dong, kan dia ganteng cocoklah buat anak saya yang cantik.”
Percakapan dua ibu-ibu yang tidak jauh dari tempat Aurora berdiri cukup menarik perhatiannya hingga mata Aurora jatuh pada kedua ibu-ibu itu. Mata keduanya menatap memuja pada Agra yang sibuk dengan ponsel sementara tangan kirinya memegang pegangan trolli.
Mata Aurora memicing menatap kedua ibu-ibu itu. Berikutnya ia tersenyum miring lalu mendekat pada Agra dan bergelayut di lengan Agra yang bermain ponsel.
Mendapat gelagat aneh dari istrinya, Agra mengernyit lalu mengantongi ponselnya. “Kenapa?’ tanyanya.
Aurora menggelang. Hidungnya ia gesek-gesekkan ke lengan Agra, yang mana sikapnya itu membuat kedua ibu-ibu itu mencibir.
“Liat, deh, cewek itu. Murahan banget nempel-nempel.”
“Iya, gak tau apa kalau si ganteng risih digituian.”
“Emang, yah, anak jaman sekarang udah pada gak punya malu. Main nempel-nempel aja sama cowok yang bukan muhrim.”
Mendengar lontaran kalimat mencibir ibu-ibu itu, sekarang Agra tahu kenapa Aurora seperti ini.
“Maaf, Bu. Dia istri saya,” ucap Agra.
Kedua ibu-ibu itu melotot tidak percaya. Bagaimana bisa pria yang mereka rencanakan untuk dijodohkan dengan anak mereka ternyata telah beristri? Dengan wajah kikuk yang menahan malu keduanya tersenyum kecut. “Aduh… Maaf, yah, Dek. Kami gak tau.”
Wanita berhijab di samping ibu-ibu yang tadi bersuara itu mengangguk setuju. “Iya, maafin kami. Kami gak tau soalnya kalian masih mudah banget.”
Agra memberikan senyum maklum. Berbeda dengan Aurora yang tersenyum kemenangan dengan alis terangkat. “Makanya, Bu. Jangan suka nyimpulin asal-asalan, malu sendiri, kan.”
“Ra….” Aurora hanya mencebikkan bibir menyahuti Agra. Sebenarnya ia juga tidak ingin seperti ini hanya saja, ia masih kesal dengan Agra hingga moodnya berada di tingkat bawah. Ditambah dengan kedua ibu-ibu itu yang tambah membuat mood-nya ambruk.
“Maafin istri saya, yah.” Tanpa menunggu respon kedua ibu-ibu itu Agra menarik tangan Aurora menuju kasir dengan satu tangannya yang masih mendorong trolli.
“Aku gak suka, loh, Ra kamu yang kayak tadi. Kayak bukan kamu.”
“Maaf.” Aurora melirih. Ia mengaku salah karena terpancing dengan kedua ibu-ibu itu. Tapi ini juga bukan salah Aurora, memangnya istri mana yang tidak marah jika suaminya dijodoh-jodohkan dengan orang lain?
####
Melihat bangunan bertingkat dengan nuansa Eropa membuat Aurora tercengang. Mungkin sedikit lebay, tapi demi apapun saat ini mulut Aurora sedikit terbuka.
Rumah yang dikatakan Agra sederhana ternyata tidak sesederhana yang dikatakannya.
Karena nyatanya rumah ini benar-benar mewah.
“Mau di sini aja?” Aurora tersentak saat suara Agra terdengar dari sampingnya.
“A’, ini beneran rumah kita?” tanyanya tidak percaya.
Agra terkekeh lalu mengacak rambut istrinya. “Iyalah, sayang. Masa rumah tetangga.” Ia kemudian menggenggam tangan Aurora memasuki pintu utama rumahnya yang tidak terkunci karena keberadaan asisten rumah tangganya.
Di pintu masuk, beberapa pelayan wanita dan pria membungkuk pada Agra dan Aurora saat pintu terbuka. Agra hanya mengangguk samar menanggapinya, sementara Aurora melempar senyum kikuk. Demi kepala Ipin yang botak, Aurora belum pernah diperlakukan seperti ini. Berbeda dengan Agra yang mungkin sudah sangat biasa.
Agra menghempaskan tubuhnya ke sofa hitam yang berada di ruang tengah. Aurora masih sibuk menjelajahkan matanya ke segala sudut ruangan. Pernak-pernik berwarna perak dengan beberapa lukisan ternama terpajang di tembok membuat mata Aurora terbuai.
Televisi yang lebarnya hampir menyerupa layar tancap, melengkapi sofa yang berada di ruang tengah. Tangga berbentuk ‘S’ berada tidak jauh dari sofa tengah sebagai penghubung untuk ke lantai dua.
“A’, apa ini gak berlebihan? Kita cuma dua orang lo di sini?” ia mendekat lalu duduk di sisi Agra.
“Gak, lah.” Agra menjatuhkan kepalanya pada bahu Aurora dengan kedua tangannya yang memeluk Aurora layaknya guling. “Kan, nanti Agra junior bakal ada temenin kita,” sambungnya.
“Y-yah, tetap aja ini berlebihan.” Tangan kanan Aurora bergerak mengelus surai hitam legam Agra.
“Enggak. Entar Agra junior ada banyak. Puluhan.”
Aurora mencubit pelan pinggang Agra yang mana tindakannya itu mengundang kekehan dari sang empu. “Serius, A’a.”
Agra semakin merapatkan tubuhnya pada Aurora. Dan itu membuat Aurora sedikit was-was, terlebih saat kecupan singkat Agra singgah di lehernya.
“Aku juga serius, sayang. Emang kamu mau anak berapa?” Agra beralih menumpuhkan dagunya di bahu Aurora. Menatap wajah istrinya dari samping.
“Dua aja. Sepasang.”
Agra mengangkat kepalanya sejenak sebagai bentuk protes. “Apaan dua! Gak, ah. Aku maunya bikin keseblasan kayak Gen Halilintar.” Ia kembali menumpuhkan wajahnya.
Aurora berjengit tidak terima. “Gila, yah! Kamu, mah, enak! Aku yang setengah mati. Emang gak takut encok apa banyak gitu?” cerca Aurora.
Agra terkekeh lalu mengecup bahu Aurora yang masih terlapisi kemeja. “Gak, dong. Aku kan kuat, mau bukti? Yuk!”
Aurora memutar mata malas lalu melepas tangan Agra yang memeluknya. “Gak, ah. Mau mandi aja.”
Aurora berdiri menaiki tangga setelah bertanya pada pelayan yang baru saja keluar dari dapur mengenai letak kamarnya.
“Mau mandi bareng gak, Yang?” teriak Agra dari bawah.
“BOLEH. TAPI ENTAR TIDUR DI LUAR!!”
.
.
.
VOTE BUAT SI A'A!!!!