![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
Agra tidak tahu harus bagaimana menghadapi Sherly yang terus memintanya untuk makan siang hari ini. Wanita dengan celan jeans ketat dan kemeja merah muda kekecilan itu terus saja mengikutinya bahkan sampai ke ruangan.
“Saya ada janji, Sherly. Saya tidak bisa makan siang bareng kamu!”
Bukannya menyerah, Sherly malah mempercepat langkahnya menyusul Agra memasuki lift menuju lantai bawah.
“Hari ini aja, Pak. Saya gak punya teman makan siang hari ini. Temenin, yah?” wajah memelas dipasang oleh wanita bersepatu high heels itu.
Jika saja pintu lift belum sepenuhnya tertutup, Agra lebih baik keluar dari ruangan sempit ini. Ia pusing jika harus berlama-lama dengan Sherly.
“Gak bisa! Kamu cari teman yang lain aja! Saya ada janji sama istri saya.” Agra melonggarkan sedikit dasi merah maroon yang terangkai dikerah bajunya.
Mendengar jawaban Agra, Sherly membulatkan mata. Ia memang tidak tahu jika Agra sudah menikah. Mungkin sejak Sherly ke Hongkong untuk mengurus kontrak kerja perusahaan Demiand, Agra melakukan pernikahan.
“P-pak Agra udah nikah?”
Agra menghela nafas jengah bersamaan denga pintu lift yang terbuka. “Iya.” Kemudian ia keluar dari sana masih dengan Sherly yang mengekor di belakangnya.
“Kok, Bapak gak bilang-bilang?”
Agra menghentikan langkahnya sejenak. “Kamu lagi sibuk di Hongkong waktu itu!” ia kembali melanjutkan langkah menuju basement kantor.
“Tap---“ belum sempat Sherly menghentikan langkahnya, Agra lebih dulu berlari kecil menghampiri wanita bercelana bahan hitam dengan kemeja putih.
Sherly menghentikan langkah. Apalagi ketika melihat Agra memeluk wanita itu.
“Pak Agra romantis, yah, sama istrinya.”
“Iya, jadi pengen dapet suami kayak Pak Agra juga.”
“Heh! Gak usah halu kamu!”
Kalimat-kalimat yang baru saja terdengar membuat Sherly menoleh pada dua karyawati yang sempat lewat di dekatnya. Sherly kemudian memicingkan mata menatap Agra yang kini membukan pintu untuk wanita yang katanya adalah istrinya.
“Jadi dia istri Pak Agra?”
####
Deon mendesah kesal di ruangan Alif. Jas hitamnya telah ia sampirkan di sandaran sofa ruangan Alif hingga menyisakan kemeja putihnya. “Sial banget, sih, gue!”
Alif yang tadinya acuh dengan lebih memilih mengotak-atik kameranya, kini beralih menaruh kamera itu lalu menatap jengah pada cowok yang duduk di kursi sofanya.
“Lo kalau mau ngeluh jangan ke gue. Sana ke Ustadz Danu!” gerutunya. Alif melepaskan kacamata yang bertengger lalu menghampiri Deon.
“Apaan, sih, lo! Teman lo lagi galau gini malah lo bercandain, gak lucu!”
Mendengar nada sensi yang dilontarkan Deon, alis Alif terangkat samar. “Lah, lo kenapa, sih? Kayak cewek lagi datang bulan aja!”
Deon mengusap wajahnya lalu memposisikan duduknya dengan benar. “Ini bahkan lebih parah dari sekedar datang bulannya cewek, Lif.” Ia berujar dengan mimik serius.
Alif memutar mata malas. “Paan? Jangan becanda!”
Wajah yang tadinya serius kini berubah lesuh saat mengingat hal yang membuat mood-nya down seperti ini.
“Lo tau pak Alexander, kan?”
Alif mengangkat alis setelah menyilangkan kaki. “Orang yang bakal kerja sama dengan perusahaan lo?”
“Nah, itu!” Deon menjentik jari hingga membuat Alif sedikit terkejut. “Dia bakal adain kerja sama bareng perusahaan gue, kalau gue bisa penuhin syarat dari dia.”
“Emang syarat apaan?” Alif menyahut santai dengan tatapan yang teralih pada ponselnya. Ia sedang menanyakan kabar istri labilnya itu.
“Gue dijodohin masa sama anaknya.”
Jari-jari Alif berhenti di atas layar ponsel. Ia melirik Deon. “Terus?” tanyanya dengan alis kanan yang terangkat.
Mendengus jenguh kemudian berdecak. “Terus-terus apaan, nyet?! Yah, gitu intinya gue dijodohin sama anaknya.”
Alif menganggukkan kepala dengan mulut membulat. Yang mana responnya itu membuat Deon mendelik kesal. Awalnya Deon kira ia akan mendapatkan pencerahan setelah bercerita pada Alif. Namun bukannya pencerahan, ia malah dibuat kesal.
“Yah, bagus dong. Lo gak jomblo lagi. Dari pada lo tiap hari zina mata di studio gue, mending lo nikah sana. Lebih mantap, Yon. Serius, deh!”
Alif menyimpan ponselnya ke atas meja lalu menumpuhkan kedua lengannya di atas paha. “Lo, kan, bisa minta kebijakan sama pak Alexander buat ketemu. Please, deh, Yon. Kebegoan lo yang murni dari SMA tolong jangan pake sekarang!”
“Sialan!” Deon menjitak kepala Alif yang bermulut mercon itu.
Alif tertawa. “Terima aja kali, Yon. Kapan lagi dapat jodoh tanpa susah nyari-nyari.”
“Gak susah nyari, sih, iya. Tapi jangan anak SMA juga kali!”
Alif terkejut dan ingin tertawa. Bagaimana mungkin Deon yang sudah berusia matang dijodohkan dengan anak ABG?
“Lo ternyata hidup di dunia novel, Yon!”
####
“Cewek tadi yang ikutin kamu itu siapa?” Aurora memasukkan puncake dengan sebuah garpu ke dalam mulutnya seraya memandang Agra yang kini mendongak menatapnya.
“Cewek yang mana?” tanya Agra. Setelah kegiatan makannya ia menarik secarik tissue lalu mengelap bibirnya.
“Ituloh, yang ikutin kamu hampir sampai basement.”
Sejenak Agra berpikir kemudian membulatkan mulut saat tahu siapa perempuan yang dimaksud istrinya. “Dia Sherly, sekretaris aku.”
Aurora menghentikan kegiatan memakan puncake-nya dan lebih memilih menatap Agra. “Dengan pakain minim gitu?” dahinya berkerut.
Penampilan perempuan yang mengintili Agra tadi masih terbayang. Bagaimana kemeja itu membentuk lekuk tubuhnya dan memperlihatkan belahannya. Aurora bukannya ingin memusingi penampilan orang lain. Tapi ini juga menyangkut dengan suaminya.
Agra adalah pria normal. Dan mustahil jika pria normal tidak akan tergoda saat melihat tampilan perempuan bernama Sherly itu.
“Iya.” Alis Agra terangkat saat melihat keterdiaman Aurora dengan garpu yang ditusuk-tusukkan ke puncake. Menyadari apa yang membuat Aurora bungkam, Agra dengan cepat mengangkat tangan mengelus pipi istrinya.
“Gak usah khawatir. Aku gak bakalan tergoda, kok.”
Mendengar itu, bukannya lega, Aurora malah semakin gusar. Entah karena apa, yang jelas hatinya benar-benar gusar. Walaupun selama ini Agra tidak pernah bermain dengan perempuan lain, Aurora tetap saja cemas dengan berbagai macam persepsi.
Bagaimana jika Agra bosan dengannya yang terlalu sibuk dengan pasien?
Bagaimana jika Agra mencari perhatian dari cewek lain karena Aurora yang sering pulang malam karena jadwal shift rumah sakit?
Genggaman tangan kekar di tangannya menyentak Aurora dari lamunanya. Ia menatap sang empu dan mendapati Agra yang tersenyum lembut padanya. “Gak ada yang bisa narik perhatian aku selain kamu, Ra. Hati aku udah stuck ke kamu jadi gak bisa lirik cewek lain lagi.”
Menghela nafas, Aurora tersenyum tipis. Ia harus positif thinking. Agra tidak mungkin seperti itu. Agra bukanlah lelaki berengsek yang dengan gampang membuang seorang perempuan demi perempuan lain.
“Mau aku beliin es krim, gak?”
Mendengar kata ‘es krim’, wajah yang tadinya murung kini berbinar semangat. Walau telah berumur matang, Aurora belum bisa menghilangkan rasa sukanya pada es krim. Benda dingin dengan rasa manis itu selalu membuat mood-nya lebih baik.
“Boleh?” tanyanya, semangat.
Agra terkekeh lalu mengangguk sembari mengacak rambut Aurora. “Giliran es krim aja!”sahutnya hingga Aurora memberengut.
“Yaudah kalau gak boleh!” wanita yang telah menyandang gelar ‘Nyonya Demiand’ itu mendengus sebal.
“Masa gak boleh, sih. Pabriknya aja bakal aku beliin buat kamu.”
Aurora kembali berbinar. Ia menatap Agra dengan senyum lebar. “Boleh?” tanyanya, lagi.
Agra mengangguk tanpa menghilangkan kekehannya hingga istrinya itu memekik kesenangan. “Yeay! Boleh beli pabrik es krim!”
“H-hah?”
.
.
.
VOTE + LIKE + KOMEN!!!
JANGAN NEROR UP, KARNA SEMAKIN DI TEROR SEMAKIN MALAS NGETIKNYA!