[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 10



Berbulan-bulan berlalu dan keluarga Agra dan Aurora masih baik-baik saja. Mereka hanya beberapa kali terkena percekcokan ringan yang membuat mereka kembali dekat.


Aurora juga masih melakoni profesinya sebagai seorang dokter. Seperti saat ini, wanita bergaun hitam selutut dengan jas dokter itu baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah melakukan operasi pembedahan otak selama lima jam.


Kakinya yang jenjang bergerak menuju sebuah ruangan berpintu putih yang ada di dalam ruangannya. Di sana terdapat sebuah tempat tidur kecil yang memang telah disediakan di setiap ruangan dokter. Seperti sebuah tempat mengistirahatkan diri jika sedang lelah seperti ini.


Aurora melepas jas dokternya lalu di sampirkan ke kepala ranjang. Membuka flatshoes-nya, ia kemudian berbaring dengan tarikan napas yang terdengar cukup keras.


Sekujur tubuhnya pegal, matanya berat dan juga kepalanya sedikit pening.


Mencoba mengabikan rasa sakitnya, wanita itu mengambil ponsel dari saku jas dokternya lalu melakukan panggilan video dengan suaminya. Panggilan pertama langsung diangkat oleh Agra dengan waktu yang tidak lama.


Aurora tersenyum melihat suaminya yang tengah berdiri lalu menghampiri sofa itu.


“Kamu baik-baik aja kan, Ra?” tanya Agra. Wajahnya menelisik penuh khawatir menatap wajah Aurora dari layar ponsel. Wajah istrinya itu tampak sedikit pucat.


Aurora terkekeh. “Aku baik-baik aja, A’. Cuma pusing dikit aja,” jawabnya.


“Gak udah banyak mikir. Apalagi mikirin aku, mending kamu istirahat aja sekarang.”


Aurora tertawa. “Dih, pede amat, Pak. Siapa juga yang mau mikirin kamu. Yang ada kepala aku makin pening, nih.”


Agra ikut tertawa di sana. “Masa? Tapi kayaknya lebih enak deh mikirin suami ganteng kayak aku daripada mikirin pasien-pasien kamu yang penuh darah.”


Aurora mendengus malas namun tetap tersenyum. “Kamu suami siapa sih pede amat?” tanyanya memicingkan mata pada layar ponsel.


Agra memperbaiki posisi duduknya. “Masa gak tau sih aku ini suami siapa. Kamu pasti kurang update-yah?”


“Emang istri kamu siapa?”


“Itu, loh. Namanya dokter Aurora, suka ngancem kalau kemauannya gak diturutin. Suka marah-marah kalau suaminya telat makan padahal dia sendiri suka gitu. Tapi aku sayang, kok. Saking sayangnya aku kayak mau datengin tempat kerjanya sekarang.”


Aurora kemudian tergelak. Semua yang diucapkan Agra itu memang benar adanya. Ia selalu mengancam Agra dan marah-marah jika suaminya itu telat makan. “Tapi denger-denger, dokter Aurora itu cantik, yah?” candanya terkekeh.


“Mana ada. Dia jelek, soalnya kata aku gak usah cantik-cantik entar banyak yang naksir.”


“Terus kalau istrinya jelek dan dikatain orang gimana dong?”


“Yah, gakpapa, lah. Yang pentingkan dia cantik di depan aku.” Agra mengerlingkan mata kanannya pada Aurora, yang mana kelakuannya itu membuat Aurora tertawa.


Ah, rasanya semua lelahnya melupa ke udara ketika sudah bercanda ria bersama Agra.


####


Deon rasanya ingin lenyap saja daripada harus berhadapan dengan Zoya. Melihat tingkah laku cewek berseragam SMA ketat itu membuatnya geram bukan main. Beberapa menit yang lalu Deon baru saja keluar dari ruang BP akibat ulah Zoya. Kepergian pak Alexander ke Australia membuat Deon mau tidak mau harus menjadi wali cewek gila ini.


Zoya kedapatan merokok dan berkelahi dengan anak cowok yang Deon yakini adik kelas cewek itu. Jika saja saat itu pak Satpam tidak datang, mungkin anak laki-laki itu akan babak belur gara-gara Zoya.


Satu kenyataan baru yang Deon ketahui setelah melaporkan hal ini pada pak Alexander. Zoya ternyata anak atlet karate dengan sabuk hitam yang sudah pernah ia raih. Bahkan cewek itu kadang-kadang menjadi pelatih ekstrakurikuler karate di sekolahnya.


Deon meneguk ludah mengetahui fakta itu. Bagaimana nanti dirinya jika benar-benar menikah dengan Zoya? Bisa babak belur Deon dibuatnya.


Deon mendorong bahu Zoya sedikit kasar untuk masuk ke dalam mobil. Pintu mobil Range Raver hitam itu berdentum keras saat Deon menutupnya. Membuat Zoya menatap sinis pada cowok yang baru saja masuk ke kursi kemudi itu.


“Dasar om-om galak!” gumamnya yang masih bisa didengar oleh Deon.


Setelah memasang sealbet, Deon menoleh pada Zoya dengan mata memicing. “Lo ngomong apa barusan?” tanyanya. Nada bicara Deon berbeda jika kedua orang tuanya berada di dekatnya. Ia akan ber’aku-kamu’ jika kedua orangtuanya sedang mengawasi mereka.


“Om-Om galak! Jelek!” pekik Zoya kemudian membuang pandangan ke jendela. Saat merasakan hembusan nafas di telinganya, tubuhnya tiba-tiba menegang dengan matanya yang membola. Sedikit saja ia menoleh, maka hidungnya pasti akan bersentuhan dengan hidung Deon.


“A-apasih, Om. Sana, ah! Jangan deket-deket!” ketusnya gugup.


Bukannya menjauh, Deon semakin mendekatkan wajahnya hingga hidungnya yang tidak bisa dikatakan pesek itu menyentuh pipi mulus Zoya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring, Deon tampaknya ingin menggoda cewek gila ini.


“Lo cantik juga yah kalau dari deket,” bisik Deon di telinga Zoya. Tangannya membelai pipi cewek di depannya ini. Kontan saja sang pemilik pipi bersemu malu. Yang mana hal tersebut sangat manis di mata Deon.


Deon meneguk ludah. Melihat rona malu-malu di pipi mulus Zoya membuat sisi laki-lakinya mengambil alih. Ia mengutuk dirinya yang termakan dengan kelakuannya sendiri.


Saat Zoya menoleh padanya, Deon benar-benar dibuat gila. Pancaran jernih dari bola mata Zoya membuat ia menyelam terlalu dalam pada cewek itu. Pipi Zoya yang masih bersemu membuat tangannya tidak berhenti bergerak membelai pipi cewek itu.


Saat matanya jatuh pada bibir merah mudah Zoya yang terkatup, saat itulah Deon mendapatkan kesadarannya.


Dengan cepat ia memasangkan sealbet pada Zoya.


“Gue gak mau disalahin kalau lo kenapa-napa cuma karna gak masang ini.”


.


.


.


CERITA INI KU UP SESUAI IDE DAN MOOD, JADI MAAPKEN KALAU SUKA NGARET😭


ABIS SUSAH NYARI BAHANNYA😭


VOTE, KOMEN DAN LIKE WAJIBNYA❤