![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
BACA DULU, PENTING!!!
-PERTAMA-TAMA SAYA MAU MINTA MAAF DIKARENAKAN UP TERLALU LAMA.
-KEDUA, MULAI DI PART INI SUDUT PANDANG CERITA SUDAH BERUBAH. YANG AWALNYA POV AUTHOR SEKARANG PAKE POV AURORA ALIAS POV 1.
-KETIGA, YANG GAK SUKA PAKE POV 1, MENDING GAK USAH BACA, SAMPAI DI PART SEBELUMNYA AJA. TAKUTNYA ENTAR BOSEN.
-KEEMPAT, SUDUT PANDANG TIDAK AKAN LAGI BERUBAH SAMPAI END.
-LIMA, GAK USAH TERLALU BURU-BURU, CERITA INI RINGAN BANGET KONFLIKNYA. JADI BESAR KEMUNGKINAN CEPAT END.
ITU AJA.
HEPIRIDING!
---
Aku kira rasa pusing yang kurasakan hanya akan berlangsung beberapa menit saja. Nyatanya, rasa pusing itu kembali menggerogoti, pelipisku sudah tertempeli koyo namun, rasanya masih sama. Aku memijit pelipis lalu menyandarkan punggungku ke kursi putar yang biasa aku gunakan.
“Dokter baik-baik aja, kan?” tanya Lisa yang sejak tadi menemaniku setelah tahu bahwa kepalaku sedikit pusing.
“Iya.”
“Tapi muka Dokter pucet. Mau saya telpon pak Agra aja?”
“Gak usah. Dia pasti sibuk sekarang. Kamu balik kerja aja.”
“Beneran, Dok?” tanyanya ragu.
“Iya, Lisa. Saya baik-baik aja, kok.”
Bisa kulihat Lisa menghela napas sebelum pamit keluar. Sepergian Lisa, aku membuka ponselku, membuka Instagram untuk sekedar menghilangkan penat. Dan benar saja, mataku kontan membulat saat melihat postingan Keyra yang pertama kali muncul di laman beranda Instagram ku. Foto dengan caption, ‘Welcome back Bro!’. Tidak, bukan caption-nya yang membuatku terkejut. Melainkan cowok yang berfoto dengan Keyra di sana.
Rey.
Reynald Erlangga.
Sedang memasang senyum manis di sana bersama Keyra yang ku yakini di sebuah Cafe. Buru-buru aku keluar dari Instagram kemudian menelfon Keyra. Panggilan pertama langsung diangkat oleh sahabatku itu.
“Rey mana?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku benar-benar merindukan Rey, serius. Dia sosok yang cukup berarti selama ini bagiku.
“Yailah, Bu Dokter. Gue kira lo mau nanyain gue, tau-taunya malah nanyain Rey. Gue aduin Agra tau rasa lo.”
“Apaan sih, lo. Cepet, Rey mana? Gue mau ngomong.”
“Sabar, elah. Nih, Rey Bu Dokter mau ngomong. Kangen katanya.” Aku memutar mata malas mendengar Keyra yang sudah cekikikan di sana. Hanya butuh beberapa detik suara berat Rey sudah terdengar.
“Kenapa, Ren?” tanyanya yang membuatku kesal.
“Kenapa lo bilang? Heh! Lo kemana aja selama ini? Gue balik lo yang pergi. Jahat lo! Katanya lo bakal slalu ada buat gue, nyatanya apa? Lo malah ikut pergi!” cercaku. Tidak tahu kenapa mataku tiba-tiba saja memanas. Mengingat Rey selama ini sangat baik padaku.
“Gue gak kemana-mana, Ren. Gue slalu ada di dekat lo, kok.”
“Bohong! Buktinya pas gue nikahan lo gak dateng! Jahat lo!”
Aku bisa mendengar ia terkekeh di sana bersama Keyra. Dasar! Aku lagi marah mereka malah tertawa. “Sori, ya, gue gak dateng. Lo lagi sibuk? Kalo gak sibuk datang aja ke Cafe yang ada di dekat studio Alif. Gue di sini bareng Keyra.”
“Berdua doang sama di kunyuk?”
“Iya.”
“Yaudah, tunggu gue. Awas kalo pergi lagi!”
Rey terkekeh lagi, “iya Bu Dokter.”
Aku ikut terkekeh lalu mematikan sambungan telfon. Kemeja saat ini yang ku gunakan kuganti menjadi kaos lengan panjang santai. Lagi pula, shift ku sudah selesai. Operasi juga sudah selesai, sisanya hanya tugas dokter Yasya.
####
Aku memeluk Rey ketika sudah duduk di sampingnya, Keyra yang melihat kelakuanku hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian berkata, “ingat sama si Aa.” Aku hanya terkekeh kemudian melepas pelukanku.
“Lo kemana aja, Rey? Gue pulang lo udah gak ada di Jakarta!”
“Gue ke Mexico ngurus cabang perusahaan bokap gue di sana. Sekalian ngejauh buat ngelupain seseorang yang udah jadi istri orang.”
Obrolan kami berlanjut, sesekali ditimpali candaan dan menggoda Keyra yang belum juga memiliki pasangan. Kemudian berbalik menggoda Rey yang juga belum punya pasangan. Lalu, aku menggoda keduanya untuk bersama saja. Keyra dan Rey sama-sama tersenyum canggung yang sukses membuat tawaku lepas. Rasa pusingku sudah hilang entah kemana.
Setelah berjam-jam lamanya, Rey mengantarku pulang menggunakan mobil Ferrari putihnya. Katanya itu hadiah dari papanya dikarenakan Rey berhasil menduduki jabatan CEO di Mexico. Sementara Keyra pulang lebih dulu dikarenakan Alif yang menerornya untuk segera kembali ke studio.
“Agra mana, Ren?” tanyanya setelah kami berada di luar gerbang rumahku. Setelah aku turun, ia juga ikut turun. “Masih di kantor, mungkin lagi sibuk.”
Rey mengangguk dengan ber-oh ria.
“Gak mau mampir dulu, Rey?”
“Gak, ah. Suami lo gak ada entar banyak yang ngomong enggak-enggak lagi.” Aku tertawa pelan kemudian mengangguk. Melambaikan tangan saat ia sudah berlalu dari hadapanku.
Aku masuk ke dalam rumah setelah sempat menyapa pak Satpam yang tengah membaca Koran di post. Setelah membuka pintu, aku dikejutkan dengan suamiku yang berdiri seraya bersedekap. Tampilannya sudah berubah menjadi tampilan rumahan. “Kamu udah lama pulang?” tanyaku kemudian melepas flatshoes-ku.
“Udah sekitar satu jam yang lalu. Kemana aja? Kata Lisa kamu udah lama pulang?”
Mati aku! Ekspresinya saat ini benar-benar seperti seorang suami yang memergoki istrinya telah berselingkuh. Tapi tidak mungkinlah, aku setia padanya meskipun suamiku ini masih menyebalkan seperti dulu.
Aku nyengir. “Maaf, ya, A. Aku tadi mampir ke Cafe dulu.”
“Kenapa gak izin?”
Aduh, Ra! Kenapa sampai lupa, sih? Ku garuk kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal. “Lupa, hehe.” Aku kembali nyengir. Agra menanggapinya dengan menggeleng kemudian mengacak rambutku lalu tangannya yang ia gunakan mengacak rambutku didekatkan ke hidungnya. Mengendusnya kemudian mengernyit. “Rambut kamu bau. Mandi, gih!” ia berlalu dengan kekehannya.
Sementara aku mendelik kemudian menggerutu. “Gak baik gerutuin suami, sayang,” ucapnya yang sudah santai menonton.
“Iya-iya.”
Tidak terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 18:30. Setelah shalat magrib berjamaah aku dan Agra bersantai di ruang tengah sembari menunggu makan malam yang dimasak si Bibi. Kali ini ku sedang malas memasak. Aku duduk di samping Agra lalu langsung menubruknya dengan pelukan. Tangannya sudah bertengger di kepalaku sesekali mengusapnya dengan lembut.
“Capek?” tanyanya. Aku menggeleng di dadanya kemudian menghirup aroma khas tubuhnya yang benar-benar nyaman. Suamiku ini walaupun tidak memakai parfum, ia tetap saja harum. Aroma sabun berbau Lavender benar-benar melekat di tubuhnya.
“A, pengen cilok.” Aku bergumam rendah tapi, aku yakin dia bisa mendengarnya.
“Kenapa mau cilok? Bentar lagi Bibi selesai masak, tuh.”
Tangannya sudah berpindah memeluk pinggangku sementara tangannnya yang satu memegang remot tv. Sedang mencari channel yang menarik mungkin.
“Tapi mau cilok, Aa. Sekarang ….” Sumpah, merengek padanya bukan gayaku sama sekali. Tapi entah kenapa suara rengekanku tiba-tiba terdengar. Dia langsung menurunkan pandangan bingung padaku. Kan, dia pasti bingung mendengar rengekanku.
“Habis makan malam, deh,” balasnya kemudian. Aku berdecak lalu menarik diri dari pelukannya tapi, si Aa yang menyebalkan ini malah menarikku kembali ke pelukan hangatnya.
“Mau berapa? Biar aku beliin.” Aku bersorak senang dalam hati.
“Liat di sana aja nanti aku mau berapa.”
Dia menukik alis. “Kamu mau ikut? Gak, kamu di sini aja nungguin. Udah malem.”
Aku kembali berdecak. “Aku mau ikut, A. boleh, ya? Ya, ya, ya?” aku mengedip-edipkan mata yang mana membuatnya tertawa kecil lalu mencubit hidungku.
“Sana ganti baju, gak mungkin kamu make daster keluar.”
Benar juga, sih. “Kita naik motor, ya? Motor kamu yang waktu SMA. Gimana?”
“Iya. Apapun untuk ibu Negara.”
“Dih, tadi aja aku ngerengek dulu baru mau dibeliin cilok.” Dia kembali tertawa menanggapiku.
.
.
.
.
GIMANA PAKE POV 1?
KALO GAK SUKA BACANYA SAMPE SINI AJA YAH😁
LIKE DULU SEBELUM PINDAH KE PART BERIKUTNYA!!