![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
"Kenzie!!"
Aku terkejut mendengar teriakan suamiku yang terdengar dari ruang tengah, aku yang sedang meminum di dapur meletakkan gelas bekasku lalu dengan cepat ke ruang tengah.
"Apa, sih, Mas, teriak-teriak?"
Oh iya, mengenai panggilanku padanya aku sudah menggantinya sebab, panggilan Aa yang awalnya kusematkan untuk Agra kini berganti haluan ke bocah tiga tahun yang tengah menuruni tangga rumah kami dengan menguap lebar dan tangan yang menggaruk lehernya.
"Papa ini kenapa, sih, hobinya teliak-teliak sama Kenzie? Papa pikil Kenzie budek?"
Pertanyaan dengan nada cadel itu adalah milik putra kami yang hadir di dua tahun pernikahan ku dengan Agra. Anak yang sangat-sangat susah di dapatkan karena mengingat kondisi hormonku sedikit terganggu kala itu.
"Gimana Papa gak teriak-teriak kalau kamu bikin ulah terus? Kamu, kan, yang basahin laptop Papa sampe rusak?" Agra memijit pelipisnya, tidak mudah memang menghadapi seorang Kenzie Gemilang Demiand.
Anakku itu mengerjap polos. "Laptop Papa lusak?"
"Iya!"
"Kasian ... nanti Kenzie mintain uang sama Opa bial dibeliin mainan laptop lagi. Papa kan suka beliin Kenzie mainan, sekalang gantian Kenzie yang beliin Papa mainan tapi pake uang Opa," jawab Kenzie dengan santai lalu mendekatiku. Ia memeluk pinggangku lalu menyembunyikan wajahnya yang masih mengantuk di perutku.
Aku yakin, Agra mini ini masih mengantuk namun teriakan papanya membuat ia bangun.
"Aa masih ngantuk?" tanyaku yang dianggukinya.
"Cih, paling alasan doang ngantuk, gak mau dimarahin Papa, kan, kamu?" Agra ikut duduk di sampingku ketika aku mendudukkan diriku dan Kenzie di pangkuanku pada sofa hitam kami.
"Gak, tuh. Kenzie juga bisa malahin Papa, ya! Ingat! Kenzie aduin ke Mama kalau Papa sampe kalahin Kenzie debat."
"Dasar anak mama, masih sembunyi di ketek mama kamu aja songongnya minta ampun ke Papa."
"Kenzie gak pelnah, ya, sembunyi di ketek Mama!"
"Buktinya itu apa? Ngapain kamu ngedusel-dusel gitu sama Mama?"
"Suka-suka Kenzie dong, olang aku anaknya Mama. Bilang aja Papa ili kalna bukan anak mama."
"Anak mama aja bangga, gak malu kalau temen kamu tau, si Kenzie yang katanya keren masih nempel sama emaknya?"
"Gak, tuh, biasa aja."
"Kalau Papa jadi temen sekolah kamu, mana mau Papa temenan sama anak mama. Manja!"
"MAMAA!!!"
Aku segera mencubit pinggang Agra dan melototinya ketika Kenzie sudah berteriak memanggilku. Keadaannya memang selalu seperti ini. Agra dan Kenzie yang selalu berdebat hal-hal kecil dan aku yang selalu menjadi penonton setia. Mau melerai pun aku biasanya diabaikan begitu saja.
"Udah, Mas. Kamu ngalah aja sama anak kecil," kataku mengelus rambut hitam Kenzie saat bibir anak laki-lakiku itu sudah melengkung ke bawah dan menatap tajam papanya yang mencibir tanpa suara.
"Dengel, tuh! Ngalah sama anak kecil, masa udah gede gak mau ngalah sama anak kecil."
Aku mendengar dengusan Agra, ia menatapku. "Anak kamu ini emang suka cari gara-gara sama aku." Agra menjatuhkan kepalanya ke pundakku, membuat wajahnya dekat dengan Kenzie yang bersandar di dadaku.
"Ya, kamu gak usah ladenin, tau sendiri Kenzie gimana."
"Malain telus, Ma. Malain. Bial Papa gak belani lagi cali gala-gala sama Kenzie." Agra langsung menggerakkan tangannya menyentil hidung Kenzie dengan pelan.
"Ih, Papa jangan sentuh Kenzie! Kenzie jijik, Kenzie jijik sama Papa! Kenzie jijik!" Dengan tawa kecil, aku menggeleng-gelengkan kepalaku ketika Kenzie sudah mendramatis.
"Anak kamu, kok, alay gini, sih, Ra? Perasaan aku dulu gak kayak gini, deh." Kalau saja Kenzie kelakuannya jelek, pasti Agra akan mengatakan bahwa Kenzie anakku, namun ketika Kenzie melakukan hal yang membanggakan, ia akan dengan senang menyebut Kenzie 'anak papa'.
"Ingat-ingat dulu, Mas. Kali aja ada moment alay kamu yang kamu lupain."
Agra menggeleng di bahuku sedangkan tangannya asik merusuhi Kenzie yang mencoba menjauhkan wajahnya dari Agra.
"Mama! Papa, nih, ganggu Kenzie! Mana tangannya bau telasi lagi, ish!" oceh Kenzie seraya menepis tangan Agra yang ingin mengacak rambutnya.
"Heh!" Agra menjitak kepala Kenzie membuat Kenzie mengadu pelan dan aku yang memukul pahanya lalu mengelus kepala Kenzie. "Papa gak pernah pegang terasi, ya. Enak aja!"
"Bodo, ah! Kenzie mau main ke lumah Tilta aja." Kenzie segera turun dari pangkuanku, lalu menyalim tanganku, kebiasaan yang ku ajarkan sebelum ia pergi.
"Kamu gak mau salim sama Papa?" tanya Agra. Kenzie menatap Papanya sekilas lalu membelakangi Agra. Kemudian bocah itu menggerak-gerakkan bokongnya pada Agra.
Aku tertawa mendengar geraman dari Agra sedangkan anak yang wajahnya sangat mirip dengan Agra itu sudah menghilang dari ruang tengah.
Oh iya, Tirta yang tadi disebutkan oleh Kenzie itu adalah anak kedua Lena dan Alif yang merupakan teman sekolah Kenzie di PAUD.
####
"Kemalin Papa aku beliin aku boneka belbi yang lambutnya cantik, loh. Kenzie pasti gak punya boneka belbi gitu, kan?"
"Aku, kan, anak cowok. Kata Papa anak cowok itu mainnya lobot-lobotan bukan belbi kayak Adel."
"Bilang aja kamu gak punya, kan? Gak usah nyali alasan kali, masa anak olang kaya tujuh tulunan gak punya belbi. Kasian banget kamu."
"Adel jangan sembalangan, ya. Aku kalau mau juga bisa beli tokoh belbinya."
"Punya satu aja, enggak. Sok-sokan mau beli tokohnya."
"Kamu, kok, nyebelin sih, Del?"
Aku yang sedang menyiram bunga segera mematikan keran air lalu menghampiri dua bocah yang baru saja memasuki gerbang rumah. "Katanya tadi main ke rumah Tirta. Tirtanya mana?"
"Tilta lagi ke lumah neneknya, Ma. Kenzie tadi udah mau pulang tapi malah ketemu nenek lampil di jalan." aku bisa melihat Kenzie melirikkan matanya pada Adel ketika ia mengucapkan 'Nenek Lampir'.
Adel itu anaknya Deon dan Zoya, ia tiga bulan lebih muda dari Kenzie. Wajahnya bulat dengan pipi yang tembem dan rambut sepundak yang menambah kesan imutnya.
"Hush, Aa gak boleh gitu sama Adel." Aku jongkok menyesuaikan tinggiku dengan Adel dan Kenzie. "Adel udah makan, mau makan bareng Tante sama Kenzie gak?"
Adel mengangguk antusias. "Mau Tante, Adel mau!"
"Adel gak punya makanan, ya, di lumah? Kok, mau-mau aja diajak makan di lumah Kenzie? Belas di lumah Kenzie mahal tau, emang Adel bisa ganti kalau belas Kenzie abis?"
"Katanya Papa kamu punya banyak pelusahaan dan uang yang gak abis sampe tujuh tulunan, masa beli belas aja gak bisa?"
Aku segera membawa kedua bocah beda gender itu ke dalam dengan kedua tanganku yang memegang salah satu tangan mereka sebelum perdebatan unfaedahnya kian marajalela.
"Aa sama Adel duduk di sini dulu, ya. Mama mau ambil makanan di dapur. Ingat, jangan berantem!" aku mendudukkan mereka di kursi yang dibatasi meja makan. Keduanya saling duduk berhadapan, takutnya jika didudukkan bersampingan akan terjadi aksi baku hantam.
Kenzie mengangguk begitupun Adel. Aku segera ke dapur menyiapkan makanan yang akan ku bawa ke meja makan. Ada ayam goreng kecap, nasi, sayur kari dan beberapa buah.
Kenzie dan Adel tampak antusias. Aku memberikan mereka makanan masing-masing dengan porsi anak kecil. "Tante, Adel juga mau kayak Aa, mau paha ayam!" aku tersenyum lalu mengambilkan paha ayam ke piring Adel.
"Eh, Adel! Jangan panggil Kenzie Aa, ya! Itu panggilan Mama sama Papa aja!"
Adel menatap Kenzie dengan polos, "gitu, ya?"
Kenzie mengangguk dengan mengigit ayam kecapnya hingga bibir anak itu sedikit belepotan, aku memilih menikmati makananku sembari menyimak perdebatan mereka, selagi tidak berkelahi, aku tidak akan mengganggu mereka.
"Tapi, kan, Adel mau panggil Kenzie pake sebutan Aa, gimana dong?"
"Gak boleh!"
"Kenapa, sih? Yaudah, aku panggil Tilta aja pake Aa."
"Eh, gak!" tangan Kenzie dengan cepat bergerak seolah melarang Adel. "Adel panggil Kenzie Aa aja, gakpa-pa, kok. Kenzie ikhlas lahil batin."
Adel tersenyum. "Makasih Aa, Adel sayang sama Aa."
Seketika Kenzie yang sedang mengunyah nasinya tersedak mendengar Adel.
.
.
.
SAY HELLO TO KENZIE!!
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN DAN LIKE😉