[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 13



Pemandangan pertama kali yang ku lihat ketika membuka mata adalah langit-langit sebuah ruangan yang dominan berwarna putih dengan bau obat-obatan yang khas. Mataku yang masih berat untuk terbuka sempurna kugerakkan pada setiap sudut ruangan. Sekarang, kudapati bibi yang tengah menyiapkan sesuatu di dekatku.


“Bi …,” panggilku dengan suara


lemah. Si bibi dengan cepat menoleh dengan wajah kaget yang sedetik kemudian berubah menjadi raut senang dipenuhi kelegaan. “Alhamdulillah, Nya. Akhirnya sadar juga, bibi khawatir tau Nyona semalam pingsan,” ucap bibi yang membuat alisku berkerut.


“Pingsan, Bi?” tanyaku dengan meminta jawaban lebih. Bibi mengangguk. “Iya. Nyonya semalam pingsan habis nerima telfon. Saya bawa ke RS ini sama sopir pribadi Nyonya. Kata Dokter, asam lambungnya naik karna perut Nyonya kosong banget.”


Aku mendesah pelan mendengar jawaban bibi. Iya, kemarin memang sepulang dari rumah sakit aku belum makan sama sekali karena panik akan Agra yang menyuruku cepat pulang. Malam harinya pun aku tidak makan karena benar-benar selera makanku hilang digantikan kecemasan pada dirinya.


“Aa mana, Bi?” tanyaku setelah menyadari tidak adanya keberadaan suamiku itu. Dari raut lesuh yang ditunjukkan bibi, aku paham. Dia pasti belum ke sini. “Aa gak ke sini, ya, Bi?” tanyaku lagi yang dijawab anggukan lemah bibi.


“Tuan ada di rumahnya tuan Deon. Semalam nelfon katanya tuan Agra dibawa sama temennya yang namanya Rey.”


“Rey?”


“Iya, Nya.”


Hening menguasai kami, cukup lama sebelum bibi bergerak mengambil mangkuk yang ku tahu berisi bubur. “Nyonya makan, ya. Saya gak mau Nyonya pingsan lagi karna perutnya kosong.”


Aku menatap bibi dan bubur tersebut sekilas. “Aa tau aku masuk rumah sakit?” tanyaku lagi.


“Iya, Nya.” Napasku terhembus berat. Sakit? Jelas. Kehadirannya benar-benar ku harapkan sekarang ini. Namun, mungkin melihat wajahku saja dia enggan. Dengan pelan kududukkan diriku lalu mengambil semangkuk bubur dari bibi lalu memakannya sendiri walau bibi sempat ingin menyuapiku.


Baru terhitung lima sendok yang masuk ke mulutku, aku menyimpan kembali semangkuk bubur itu ke atas nakas. Perutku bergejolak jika harus memakan lebih, bibi yang terus memaksaku menghabiskannya karena takut aku drop lagi akhirnya menyerah karena aku benar-benar tidak mau makan lagi. Aku cuma mau suamiku ada di sini.


Saat hendak berbaring lagi, aku mendengar suara seseorang yang terdengar berdebat di luar pintu.


“Lo gak usah kekanak-kanakan, sat. Kasian, noh, bini lo masuk rumah sakit gegara khawatirin lo.”


“Apaan, sih. Lebay, lo!”


“B4ngsat! Gitu-gitu juga bini lo kali. Mau lo kalau dia kenapa-napa, hah?! Paling juga entar lo yang galau! Ayo masuk!”


“Gak, ah! Males gue. Lo aja sana!”


“Saolah, Gra. Masalah tuh dihadepin, bukan malah lari dari kenyataan. Ayo kita masuk bareng-bareng!”


“Gak, Yon. Lo aja sana, gue gak mau ketemu dia dulu.”


“Oke, gue masuk. Tapi jangan salahin gue kalo entar Aurora mau makan gue suap-suapin terus gue gendong kalo ke toilet. Ter-”


“Bacot, lo!”


Bersamaan dengan pintu yang terbuka, aku dan bibi saling melempar pandangan sebelum akhirnya kembali menatap dua orang yang baru saja masuk ke ruang rawat inap ku. Deon dan Agra. Kedua sahabat itu masuk dengan raut wajah yang berbeda. Deon dengan senyum lebarnya dan Agra dengan wajah tanpa ekspresi.


Deon mendekat, sedangkan suamiku itu hanya melongos duduk di sofa. Bibi pamit keluar, katanya tidak ingin mengganggu.


“Maafin temen gue yang berengsek itu, ya, Ra. Gara-gara khawatirin dia lo sampe lupa makan terus drop, deh.”


Aku tersenyum tipis pada Deon. “Gak, Yon. Ini semua salah gue, kok. Temen lo gak salah.”


Aku bisa mendengar suara decihan dari arah sofa. Aku menatapnya sekilas kemudian menatap Deon lagi. “Alif sama Lena mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Si Alif lagi keluar kota bareng Keyra buat pemotretan brand kosmetik. Kalau Lena di rumah emaknya.”


Aku ber-oh ria. “Gue harap, sih, Alif gak kepincut sama Keyra. Kasian Lena.” Aku terkekeh mendengar guyonan Deon.


“Sembarangan lo, Yon,” timpalku dan Deon tersenyum seraya mengusap puncak kepalaku.


“Cepat sembuh, ya, Ra. Gue pamit dulu, si Zoya mau gue anter ke sekolah.”


Aku mengangguk kemudian berterima kasih pada Deon karna sudah menjengukku. Sepergian Deon, hening menguasai aku dan Agra yang berada dalam satu ruangan. Dia masih sama seperti tadi, masih mempertahankan wajah datarnya sembari memainkan ponsel. Aku menghela napas sebelum memutuskan untuk memanggilnya.


“Aa.” Dia diam, tidak menyahut atau mengangkat pandangan sedikit pun. Hatiku mencelos, sekalipun ia tidak pernah mengabaikan ku selama ini walau kami biasa terlibat cek-cok ringan.


Kembali, aku berusaha mendudukkan tubuhku dengan sedikit kesusahan, ditambah dengan ringisan kecil yang keluar dari bibirku karena kepalaku yang tiba-tiba berdenyut perih. Sama seperti hatiku saat melihat sifat acuhnya.


Dengan berpura-pura, aku mengaduh kesakitan seraya memegang perutku yang sebenarnya memang perih walaupun tidak sampai menyakiti. Senyum samarku terulas saat ia berdiri dari dudukannya lalu menghampiriku.


“Tidur,” ucapnya pendek. Masih dengan nada ketusnya. Aku menggeleng kemudian menatapnya sayu. “Kamu jangan pergi lagi, ya. Aku bisa jelasin, kok, ten-”


“Tidur, Ra.”


“A, aku gak maksud buat kamu kecewa. Aku cuma-”


“Tidur, gak?” melihat tatapan tajamnya, nyaliku menciut. Dengan berat hati aku kembali menidurkan tubuhku. “Tutup mata,” suruhnya lagi. Aku menggeleng menolak, aku ini baru bangun dari pingsan, masa disuruh tidur lagi. “Entar kamu pergi kalau aku tidur.”


Aku bisa mendengar helaan napas darinya walaupun samar-samar. Kemudian dia mendudukkan dirinya di kursi dekat brankar. “Enggak,” jawabnya yang membuatku mengerutkan alis bingung.


“Enggak apa?”


“Enggak pergi.”


Senyumku kembali terulas, kali ini sangat jelas. Ah, suamiku ini. Walaupun lagi marah ia tetap bisa membuatku tersenyum. Saat ia kembali manatapku datar, senyum ku hilang. Melihat tatapannya saja aku langsung ciut. Dia benar-benar menyeramkan.


Tanganku yang tertempeli infus bergerak mengambil tangannya yang paling dekat. Menggenggamnya erat seakan tidak membiarkannya pergi jauh dariku. Dia menatapku dalam diam, tanpa kata dan dengan tatapan yang sulit ku artikan. Yang jelas tatapannya sudah tidak semenyeramkan tadi.


“Temenin terus ya, A,” pintaku yang hanya dijawab oleh keheningan. Sepersekian detik berikutnya, dia membuang pandangan kemudian melepas genggaman tanganku dan berdiri dari kursi yang dia duduki. “Aku panggil, bibi.” Setelah mengucapkan itu, dia berlalu menghilang di balik pintu tanpa ingin repot-repot menolah padaku.


Hatiku kembali tercabik-cabik melihat sikap dinginnya. Airmataku kembali menetes mengingat dirinya yang tidak ingin berlama-lama denganku. Mataku terpaku pada pintu yang sudah tertutup. Dalam batin, aku terus meminta maaf padanya atas kekecewaan yang telah kuciptakan.


.


.


.


VOTE YANG BANYAK BIAR Aa CEPET BAIKNYA😂


C U~~