![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
Suasana ballroom hotel sangatlah ramai. Puluhan pria berjas formal dengan wanita bergaun cantik di sampingnya tampak saling mengobrol satu sama lain dengan menyantap beberapa hidangan yang ada. Di pernikahan Deon ini, bukan hanya tersedia makanan Indonesia, melainkan juga beberapa makanan Eropa yang mendukung tema Eropa konsep pestanya.
“Akhirnya Deon lepas lajang juga, ya, A. Mana sama anak ABG baru lulus SMA lagi,” ucapku terkekeh yang mana membuat Agra juga ikut terkekeh. Oh iya, di pesta ini juga dibagi menjadi dua bagian, pada meja dengan taplak berwarna gold, dikhususkan untuk tamu VVIP seperti petinggi perusahaan, keluarga mempelai dan sahabat-sahabat mempelai. Sedangkan meja dengan taplak berwarna putih dikhususkan untuk pegawai kantor yang juga turut diundang.
“Woi, bro. Lama amat lo datengnya.” Alif menyambut kami dengan memeluk akrab bahu Agra dan menyapaku.
“Biasa, Lif. Posesifnya kambuh,” jawabku yang membuat Alif tertawa.
“Eh, Lena mana, Lif?”
“Tuh!” Aku mengikuti arah tunjuk Alif pada sebuah dinding yang bertenggerkan balon-balon. Lena yang kebetulan melihat kami datang menghampiri. “Hai, Ra. Lo kesini bareng Keyra?” tanya Lena.
Alisku mengernyit. “Emang Key belum dateng?” Aku bertanya balik kemudian mengambil alih Galen Fernando dari gendongan Lena.
Anak kecil berumur satu tahun ini adalah anak Alif dan Lena yang diberi nama Galen Fernando. Wajahnya tampan seperti papanya dan juga sedikit kebule-bulean seperti mamanya.
Lena menggeleng menanggapi pertanyaan ku tadi. “Belum. Gue ngiranya dia dateng sama lo.”
“Gak. Mungkin lagi di jalan kali, ya?” Lena mengangguk kemudian kami duduk di kursi jamuan di dekat suami masing-masing yang sudah lebih dulu duduk di sana.
“Halo, Galen. Ganteng banget malam.ini, beda sama bapaknya, ya?” Agra menyapa Galen dengan menepuk pelan puncak kepalanya. Galen tertawa dengan gumaman tidak jelas. “Maksud lo beda sama bapaknya apa?” sewot Alif.
Agra mengangkat bahu acuh. “Lo pasti tau maksud gue.” Aku tertawa lalu menyibukkan diri berbicara dengan Galen walau anak laki-laki ini hanya tertawa dengan gumaman yang tidak jelas dari mulutnya.
Saat kami asik dalam obrolan, tiba-tiba seseorang datang dengan heboh dan langsung duduk di sampingku yang kebetulan kosong. “Buset! Gue kira gue telat anjirr! Gue kira si Deon udah malam pertama ternyata belom. Hah! Lega gue!” napas Keyra yang ngos-ngosan membuat ku menggeleng tidak habis pikir. Model cantik ini memang tidak pernah tahu situasi.
“Lega Deon belum malam pertama atau lega karna gak telat?” wajah Keyra sontak mendelik jijik pada Alif. “Dih, ya gue lega karna gak telat, lah. Dia smackdown sama istrinya di kasur gue juga gak peduli amat.”
“Hus!” aku menepuk pelan lengan Keyra yang mana membuatnya cengengesan. Selain bar-bar dan tidak tau situasi, sahabatku ini juga mulutnya tidak bisa direm. Asal ceplos saja tanpa filter.
“Bareng sama siapa, Key?” tanya Lena. “Buat apa ditanya, sih, Yang. Ya, jelas bareng sopir taksi, lah.” Alif menjawab pertanyaan istrinya sendiri hingga membuat Keyra hendak melepas heel-nya dan melemparkannya ke Alif jika saja ia tidak punya malu.
“Untung lo bos gue, ya. Kalo enggak udah gue tendang lo ke kutub!”
“Galen, sayang. Entar kalo udah gede jangan kayak papa kamu nyebelinnya, ya? Harus sayang sama Aunty.” Galen bergumam tidak jelas menanggapi Keyra namun tangan anak laki-laki ini mendarat di hidung Keyra hingga sang empunya mengaduh sakit.
“Ih, Galen. Hidung mancung Aunty sakit tau. Kamu, kok, gitu sih?” aku mengernyit jijik saat melihat bibir Keyra mengerucut namun mampu membuat Galen tertawa.
“Nah, anak kecil kayak Galen aja tau mana yang lebih ngeselin,” celetuk Alif.
“Dasar-”
“Lo kok ninggalin gue sih, Key?” Kami serempak menoleh ketika mendengar suara yang cukup familiar akhir-akhir ini. “Rey?!” kompak kami terkejut. Bukan, bukan karena Rey ada di sini, melainkan karena ucapan cowok itu.
Aku menatapnya bergantian dengan Keyra. “Jangan bilang kalian dateng bareng?”
“Selamat menempuh hidup baru, ya, Yon. Semoga jadi keluarga yang bahagia.” Deon tersenyum lalu menepuk bahuku. “Thank you, Ra. Makasih juga udah dateng.” Aku mengangguk kemudian beralih pada Zoya yang sejak tadi hanya diam. Mungkin masih canggung dengan kami walaupun kami sudah sering bertemu dengannya di beberapa kesempatan.
Aku, Lena dan Keyra mengajak Zoya mengobrol sebentar sedangkan para lelaki sibuk berbicara tidak jelas dengan Deon. Kalian tidak usah tau, karena pembicaraan mereka akan sangat merusak otak bagi yang masih di bawah umur, aku yang mendengarnya saja hanya bisa menulikan telinga dari kalimat-kalimat vulgar mereka.
“Zoy, kamu jangan sungkan jadi istrinya Deon. Walaupun bobrok, dia punya banyak duit tau. Kalo perlu lo pinter-pinter morotin tuh om-om, ok?” ujar Keyra mengangkat jempolnya. Zoya terkekeh kemudian membalas jempolan Keyra. “Siap, Kak. Itu udah tujuan aku dari dulu buat morotin dia. Abis ngeselin banget,” balas Zoya yang kutahu hanya bercanda.
Zoya ini walaupun termasuk anak orang kaya, ia masih tetap sederhana walau sisi manjanya tidak bisa terelakkan. Ia juga termasuk dalam jajaran cewek yang tidak terlalu gila uang. Itu menurutku.
“Jangan didengerin, Zoy. Keyra itu musuh bebuyutannya Deon.” Lena ikut menimpali. “Tapi kalo mau juga gakpa-pa, kok. Kan, sayang punya suami banyak duit tapi gak bisa diporotin,” sambung Lena kemudian yang membuat kami tertawa.
“Gak usah diporotin juga pasti Deon bakal turutin apa maunya Zoya. Orang istri kesayangan, kok.” Zoya tersenyum malu-malu dengan ucapanku. Zoya memang sempat menolak di awal perjodohan ini kata Agra namun seiring berjalannya waktu hatinya mulai terbuka untuk si tengil Deon. Entah apa yang sahabat suamiku itu lakukan padanya hingga bisa meluluhkan cewek sekeras Zoya.
Setelah merasa cukup kami ada di pesta, aku dan Agra pamit pulang lebih dulu dikarenakan hanya ada bibi di rumah.
Sesampainya di rumah aku langsung menghempaskan tubuhku di kasur. Heels yang ku gunakan tergelak asal di dekat lemari rias. Entah karena kelamaan berada di luar atau aku yang berlebihan, aku benar-benar lelah saat ini.
Agra yang baru masuk menaruh sepatuku ke rak yang ada di belakang pintu lalu membuka tuxedo-nya dan di sampirkan ke sampiran yang menggantung di belakang pintu. Ia melepas dasi kupu-kupu di lehernya lalu membuka dua kancing teratas kemejenya. Lengan kemeja putihnya di gulung hingga sebatas siku. Bibirku tersenyum melihatnya, ia masih sama. Masih sama mempesonanya seperti dulu.
“Iya tau aku ganteng, kok. Biasa aja liatinnya.” Dan ia masih Agra yang dulu. Agra yang menyebalkan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Aku mendelikkan bibir. “Pede amat, Pak.”
Ia terkekeh lalu mendekat ke kasur, membaringkan tubuhnya dengan menjadikan perutku sebagai bantalan. “Geli, A.”
“Biar gini dulu. Sebentar aja.”
Aku mendudukkan tubuhku lalu memindahkan kepalanya ke pahaku. “Capek juga, ya?” tanyaku dan ia mengangguk. Memiringkan tubuhnya lalu membenamkan wajahnya di perutku. Tangannya bergerak mengambil tangan ku lalu diletakkan di kepalanya. “Elus.”
Aku terkekeh lantas mengelus rambut hitamnya yang halus. “Manja.”
.
.
.
CERITA INI SAYA TAFSIR SELESAI DI PART 20
YAH KOK PENDEK AMAT? "YAH, KARNA CERITA INI EMANG RINGAN. CUMA NGEBAHAS KEHIDUPAN MEREKA SETELAH SMA."
LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAW😍