![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
“Masih capek?”
Aurora menoleh pada Agra yang baru saja menyusulnya ke taman belakang. Pria itu sudah tidak bertuxedo lagi. Kini tinggal kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka. Pria itu ikut duduk di samping Aurora. Keduanya memilih merehatkan diri setelah acara resepsi selesai 15 menit yang lalu dan para tamu telah pulang ke rumah masing-masing.
“Dikit,” jawab Aurora. Dia tersenyum canggung pada Agra. Entah kenapa, rasanya sedikit malu saat ini setelah semua ritual pernikahannya selesai.
Agra terkekeh geli melihat Aurora yang canggung padanya. Dengan cepat dia mengecup pipi Aurora yang bersemu hingga gadis itu semakin malu padanya.
Gadis? Mungkin iya saat ini. Entah esok hari.
Aurora memukul pelan lengan Agra yang telah sengaja menggodanya. Agra tertawa lalu duduk di depan Aurora. Menarik kaki gadis itu ke atas pangkuannya.
“Gra.”
Agra hanya mendesis menyuruh Aurora diam sementara dia menyingkap sedikit gaun pengantin Aurora dan memijat pergelangan kaki istrinya.
Ah, istri? Hati Agra menghangat dan bibirnya tidak ingin berhenti mengingat status barunya.
“Kamu sendiri gak capek?” tanya Aurora. Tangannya terangkat merapikan rambut Agra yang sedikit acak.
Agra mendongak sekilas. “Tadi, sih, iya. Tapi pas liat kamu capeknya hilang.”
Kembali tersipu, Aurora mencubit kecil perut Agra hingga pria itu terkekeh geli.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Agra kembali duduk di samping Aurora lalu menjatuhkan kepalanya di bahu gadis itu.
“Seneng gak, Ra, kita nikah?” tanyanya.
Aurora menaruh pipinya di atas kepala Agra. “Yah, senenglah. Masa enggak.”
Agra terkekeh singkat lalu mengambil tangan Aurora dan memainkannya. “Aku bersyukur banget tau, Ra. Akhirnya Allah mempertemukan kita lagi. Aku udah hampir nyerah loh. Dan pasrah aja mau dinikahin sama Lena waktu itu.”
Aurora beralih menggenggam tangan Agra yang tadi memainkan jarinya. “Allah pasti punya alasan kenapa kita diberi ujian seperti itu. Dan Allah juga punya alasan kenapa kita dipertemukan kembali.”
Agra menarik kepalanya dari pundak Aurora lalu beralih membawa gadis itu kepelukannya.
“Ra?”
“Iya?”
“Kamar, yuk?”
WHAT?!
####
Sang surya perlahan menampakkan wujudnya dari ufuk timur. Memancarkan kehangatan pagi pada semua makhluk bumi. Di kamar hotel berbintang lima milik keluarga Demiand, dua pasutri baru itu masih bergelung di balik selimut dengan posisi berpelukan satu sama lain.
Cahaya yang perlahan menyelinap masuk ke ventilasi udara kamar hotel tersebut, membuat pria yang tidur tanpa pakaian atas disana mengernyitkan alis lalu perlahan membuka mata. Hal yang pertama yang ia lakukan adalah menguap lalu mengusap wajahnya. Saat dia menoleh ke samping, bibirnya berkedut hingga sebuah senyuman terbit.
Melihat wajah damai wanita yang ia cintai sejak pertama kali membuka mata dan saat akan menutup mata adalah hal yang sejak dulu ia impikan.
Agra. Pria itu sedikit meregangkan rengkuhannya agar dapat melihat dengan jelas wajah istrinya—Aurora.
Lagi dan lagi. Agra tidak bisa menahan lengkungan bibirnya untuk terbentuk. Dia beralih mengelus pipi Aurora lalu mengecupnya sampai tiga kali hingga lenguhan kecil mulai terdengar dari sang empu.
Agra terkekeh. “Bangun sayang….”
Bukannya bangun, Aurora malah semakin mengeratkan pelukannya pada Agra dan menenggelamkan wajahnya di dada Agra yang tidak terbaluti apa-apa.
“Sayang, bangun. Udah jam delapan, loh. Kamu gak laper?” jari telunjuk Agra bergerak menyusuri alis Aurora hingga turun ke hidung istrinya. Perlakuan Agra yang seperti itu justru membuat Aurora semakin ingin terlelap.
“Dasar kebo!” Agra bergumam lalu terkekeh. Dia melepas lingkaran lengan Aurora di pinggangnya lantas bangun. Menciumi seluruh permukaan wajah Aurora hingga wanita itu bangun dan melemparinya bantal.
“Ngapain, sih, lo di kamar gue?! Gue masih ngantuk, Key!” mata Aurora belum terbuka. Tangan kanan wanita itu menggaruk kasar kepalanya lalu kembali merebahkan diri.
Agra hampir saja tertawa setelah keterkejutannya saat Aurora melemparinya bantal. Pria itu terkekeh lalu setengah menyamping merebahkan dirinya.
Rupanya Aurora lupa bahwa kini statusnya telah berubah menjadi seorang istri.
“Bangun, Ra. Kamu gak laper emang?” Agra mengelus bahu Aurora yang tidak tertutupi karena wanita itu memakai dress malam bermodel slip dress.
“Gue ngantuk banget, Key. Capek. Semalam habis---“ merasa ada yang aneh dengan suara dan aroma tubuh Keyra yang tiba-tiba maskulin, Aurora membuka mata dan hampir memekik melihat Agra berada tepat di depan wajahnya dengan menahan senyum.
Agra dengan cepat membekap mulut Aurora saat tahu istrinya akan berteriak. “Habis ngapain, hayo?” kekeh Agra, menaikkan alis.
Aurora menurunkan tangan Agra. “Apaan, sih!” cetusnya dengan wajah memerah. Hampir saja ia keceplosan mengatakan bahwa ia kelehan karena semalam … ah, sudahlah.
Aurora malu mengingatnya, apalagi ketika Agra memperlakukannya seperti sesuatu yang sangat berharga hingga … Ah, apaansih!
Aurora memukul pelan kepalanya yang tiba-tiba berfikiran jorok.
Agra menahan tangan Aurora seraya tersenyum geli. “Keingat sama yang semalam, yah?” Agra menggoda Aurora hingga tampak rona kemerah-merahan di pipi istrinya.
“Apaan, sih. Mesum, ih!”
Agra tergelak. Terlebih saat Aurora memukul lengannya. Membiarkan Agra tertawa, Aurora menyingkap selimutnya lalu turun dari ranjang. Hendak melangkah menuju kamar mandi namun Agra lebih dulu menghentikan pergerakannya.
“Kenap---“ tepat saat Aurora berbalik ingin bertanya, sebuah benda kenyal lebih dulu menyapa permukaan bibirnya. Memanggut dengan lembut dengan salah satu tangan Agra menahan tengkuknya.
Belum sempat Aurora menyelesaikan keterkejutannya, Agra sudah menghentikan kegiatannya lalu berlari keluar kamar hotel setelah menyambar kaos hitamnya yang tergeletak di lantai. Agra hanya terkekeh di luar pintu, terlebih saat mendengar suara Aurora yang meneriaki namanya.
Benar-benar membuat mood Agra berada di tingkat tertinggi.
.
.
.
SENYUM-SENYUM GAK BACANYA?!
LIKE, KOMEN DAN VOTEEE YAHHH! GAK MAU TAU!!