![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
Entah memang benar atau hanya perasaanku saja, akhir-akhir ini aku sedikit berubah. Bukan berubah dalam bentuk Power Rangers, hanya saja sifatku akhir-akhir ini benar-benar sensitif. Tidak bisa disinggung sedikit langsung merajuk, bahkan Agra juga sempat heran denganku.
Hamil? Tidak mungkin. Aku belum merencanakan itu akhir-akhir ini. Kalau boleh jujur, tanpa sepengetahuan suamiku, aku mengkonsumsi pil KB. Bukan, bukannya aku tidak ingin mengandung anaknya, hanya saja aku benar-benar belum siap menjadi seorang ibu.
Pernikahan kami belum genap setahun, profesiku sebagai seorang Dokter juga belum lama ku tekuni. Aku hanya ingin merasakan bagaimana menikmati profesiku sebelum aku benar-benar menjadi seorang ibu rumah tangga sejati.
Aku tahu ini salah karena tidak mendiskusikannya dengan Agra terlebih dahulu. Aku bukannya tidak menghargai posisinya sebagai suamiku, aku hanya tidak ingin ia melarangku melakukan ini.
Dari dulu, aku sudah bekerja sendiri dengan gaji pas-pasan. Jadi apa salahnya jika aku ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja dengan gaji yang cukup besar? Aku benar-benar hanya ingin menikmati profesiku saat ini. Tapi bukan berarti juga aku menyepelekan tugasku sebagai seorang istri, aku masih tetaplah seorang ibu rumah tangga.
Aku masih melayani suamiku, memasak makanan kesukaannya, merawatnya dan menjadi temannya untuk bertukar pendapat dan juga sebagai pelepas penatnya. Aku tidak mungkin melupakan tugas ku itu.
Suara ketukan di pintu menyentakku dari lamunan. “Masuk,” sahutku yang kemudian membuat pintu terbuka dan masuklah Lisa. Perawat yang selalu menemaniku menjalankan operasi. “Sekarang sudah jadwal makan siang, Dok. Dokter gak mau ikut ke kantin?” tanyanya yang ku balas gelengan tanpa berpikir.
“Dokter masih gak enak badan, ya? Beberapa hari ini kayak gak semangat gitu?”
Aku tersenyum tipis. “Saya cuma kecapean, Lis.”
“Yaudah, Dok. Saya permisi.” Aku mengangguk mengiyakan.
####
Napasku terhembus kasar saat keluar dari ruang operasi yang sudah mengurungku selama lima jam di dalam sana. Masker bekasku dan baju bekas operasiku yang terkena cipratan dara aku buang ke tempat sampah. Tungkaiku yang terbalut flatshoes putih melangkah ke arah loker. Aku mengganti pakaianku namun, deringan dari ponselku menyita perhatian.
My Husband is calling….
Tersenyum tipis, aku menerima panggilannya. “Pulang sekarang!”
Alisku bertaut melihat layar ponsel sebelum kembali kutempelkan ke telinga kanan. “Kenap-”
“Pulang, Ra!”
Panggilan terputus begitu saja, aku benar-benar dibuat heran dengannya. Mendengar suaranya yang seperti menahan amarah membuat alisku menukik dalam. Tidak biasanya ia seperti ini.
####
Napasku seketika tercekat saat melihat apa yang ada di genggamannya. Atmosfer kamar kami yang biasanya hangat mendadak beku akibat aura yang menguar dari diri suamiku yang saat ini menatapku tajam di dekat kasur. Aku mengepalkan tangan takut-takut kemudian berjalan pelan ke arahnya. Memastikan apakah benar yang ada di genggamanannya saat ini adalah benda yang selalu ku sembunyikan.
“Ini apa?”
Perkiraanku sama sekali tidak meleset saat dia mengangkat pil tersebut tepat di depan wajahku yang sudah memucat. Lidahku keluh. “A, i-itu cum-”
“Cuma apa?” aku menunduk saat ia mengikis jarak kami dengan aura dingin yang ia bawah. Selama bersamanya, sekalipun belum pernah aku melihatnya seperti ini. Seperti orang yang benar-benar marah.
“Cuma apa, Ra!” Mataku refleks terpejam dengan badan yang sedikit tersentak saat ia membentakku keras. Lututku sudah gemetar dan juga rasa sesak datang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. Aku membuatnya marah besar.
“Ini pil KB, kan?” tanyanya yang ku respons dengan tundukan dalam. “Maksud kamu apa konsumsi pil ginian? Kamu gak mau punya anak dari aku?” kepalaku refleks mendongak saat ia mengatakan itu. Tidak, aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu.
“A, kamu salah paham. Aku pake obat itu kar-”
“Karna apa?! Kamu belum siap hamil? Bullshit, Ra! Semua istri pasti pengin punya keturunan!” Lagi-lagi ia memotong ucapanku. Wajahnya sudah memerah dengan rahang yang mengetat. Aku tahu, ia tengah menahan emosi saat ini, karena yang kutahu, Agra tidak akan meluapkan amarahnya padaku sekalipun ia ingin.
Aku menggeleng tegas dengan airmata yang entah sudah berapa banyak menetes. “Gak gitu, A. Dengar dulu. A-aku bis-”
“Udahlah, Ra. Mungkin di sini cuma aku yang anggap kamu istri. Sedangkan kamu gak pernah anggap aku sebagai suami kamu. Aku kecewa sama kamu.”
Aku kembali menggeleng kuat, demi Tuhan. Aku tidak pernah seperti itu, aku selalu menganggapnya sebagai suamiku. Hatiku sakit mendengar penuturannya yang benar-benar terdengar sangat kecewa padaku. Hatiku semakin gusar saat ia menyambar jaket yang tersampir di dalam lemari lalu mengenakannya.
“Ka-kamu mau kemana, A?” tanyaku dengan suara bergetar. Airmataku sudah kuusap saat melihatnya bersiap-siap akan pergi.
“Bukan urusan kamu,” jawabnya tanpa menatapku dan pergi begitu saja. Saat suara pintu kamar tertutup keras, disitulah tangisanku pecah.
Di luar sana memang masih siang bolong, tapi aku tetap khawatir akan dirinya. Pil yang tadi dilempar Agra padaku aku buang ke tempat sampa kecil yang ada di dekat ranjang kami.
Ini salahku sepenuhnya, seharusnya dari awal aku meminta izin terlebih dahulu padanya.
Detik berlalu menjadi menit. Menit berlalu menjadi jam namun Agra belum juga pulang. Jam dinding di ruang tengah tepat menunjukkan jam sepuluh malam namun, Agra belum juga tampak. Aku menggigit kukuku dengan cemas, mataku sudah basah sejak tadi. Aku benar-benar khawatir.
Bibi yang juga sudah tahu masalahku dengan Agra sempat memberiku wejangan. Dari sana aku benar-benar yakin bahwa aku memanglah melakukan kesalahan. Kata bibi, seorang istri memang wajib meminta izin pada suami jika ingin melakukan suatu hal yang akan berpengaruh pada kondisi rumah tangga.
“Nya, Nyonya makan dulu. Sejak tadi siang belum makan pulang dari rumah sakit, Nya.” Aku hanya tersenyum tipis pada bibi. Aku benar-benar tidak selerah.
Setelahnya bibi kembali ke dapur, mungkin beliau sudah menyerah karena ini sudah yang kesekian kalinya beliau menawarkanku untuk makan.
Menghela napas, aku menelfon Alif namun, jawaban yang kudapatkan ia tidak tahu di mana suamiku saat ini. Deon pun sama, katanya ia tidak berkontekan dengan Agra seharian ini. Kecemasan semakin merundungku. Kakiku sudah lemas untuk menopang berat badanku. Ku dudukkan diriku di atas sofa kemudian meletakkan wajahku di atas kedua telapak tanganku.
Aku kembali menangis sebelum telfon ku berbunyi dengan nama ‘Rey’ di layar.
“Kenapa, Rey?” aku berdehem pelan setelah menyadari suaraku yang serak.
“Lo ada masalah sama Agra?”
Refleks aku menegakkan tubuh.
“Lo ketemu Agra? Di-dia di mana, Rey?”
Rey sempat diam sebelum akhirnya menjawab dengan satu kata yang membuat hatiku mencelos.
“Club.”
.
.
.
DASAR AUTHOR GAK TAU DIRI, **DATANG-DATANG BAWA MASALAH 😭🤣
C U~~~
LIKE, KOMEN, VOTE JANGAN LUPA**!