[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 2



“Rara… ciwi cantik gue akhirnya nikah jugaaaa!!!” teriakan dari Keyra diam-diam membuat pasangan pengantin itu mengiris samar, terlebih saat para tamu undangan menatap mereka dengan senyum geli.


“Suara lo, toa!” Deon datang dari belakang menjitak kepala Keyra. Untung saja sanggulan cewek itu tidak runtuh.


“Bodo amat!” Keyra beralih memeluk Aurora dengan erat.


“Bahagia slalu, yah, Ra. Udah cukup lo banyak nangis dulu.”


Aurora terkekeh lalu membalas pelukan Keyra. “Gue bakal terus bahagia kalau sahabat gue ini cepet nyusul gue.”


Keyra berdecak lalu mengurai pelukan mereka. “Gue mau fokus ke karir model gue dulu, Ra. Gak mau cepet-cepet nikah ngurusin anak orang,” kata Keyra.


Aurora hanya menggeleng pelan lalu tertawa saat Deon seenaknya merangkul pundak Keyra. “Nikah sama gue aja, Key. Jamin, dah, hidup lo penuh warna.” Deon menaik turunkan alis hingga Keyra memutar mata malas. Agra dan Aurora terkekeh.


“Yang ada hidup gue kayak labirin bareng lo! Penuh lika-liku!”


Mendelik, Deon melepas rengkulannya tak santai hingga Keyra memukul lengannya cukup keras.


Mengabaikan Keyra, Deon beralih memeluk Agra ala pria. “Congrats, broku! Yang kuat, yah, entar. Pake aja semua gaya yang udah gue kasih tau ke lo!”


Agra melepas lengan Deon lantas menoyor kepala pria ber-tuxedo hitam itu. “Kurang-kurangin, deh, Yon ke studio Alif. Rusak otak lo kebanyakan liat belahan di sana!” sungut Agra. Merasa jengkel dengan Deon yang entah sejak kapan berubah menjadi cowok mesum.


“Tau! Ngotorin studio gue aja yang ada!” Alif datang dengan menggenggam tangan istrinya. Mereka juga memberikan selamat pada Agra dan Aurora dengan berpelukan. Agra dan Alif, dan Aurora dengan istri Alif.


Keyra tertawa. “Maklum lah, Gra, Lif. Temen lo yang satu ini, kan, jomblonya udah tingkat akut.”


“Kayak lo gak jomblo aja!”


Keyra berhenti tertawa. Alhasil, kedua orang yang tida pernah akur itu kembali bertengkar.


####


Saat ini, Aurora dan Agra melakukan sungkeman atau maaf-maafan kepada kedua orang tua Agra. Citra menangis saat memeluk Agra. Tidak menyangka bahwa bayi yang dulu sering menangis tengah malam telah mengikat seorang gadis menjadi istrinya. Anak yang dulu memegang tangannya saat pertama kali belajar berjalan, kini telah memegang tangan seorang gadis untuk ia temani belajar menjadi pemimpin rumah tangga yang baik.


“Selamat, yah, Nak. Semoga kalian tetap bahagia sampai akhir hayat.”


Pria itu juga menitikkan airmatanya. Sungguh, ini adalah momen haru yang benar-benar menyentuh hati Agra. Perempuan yang selama ini ia perjuangkan akhirnya bisa ia genggam seutuhnya walau telah melewati perpisahan panjang selama enam tahun ditambah dua tahun lagi karena Aurora yang kembali ke London untuk melanjutkan S2-nya.


Setelahnya, Citra beralih pada Aurora. Dia juga memeluk Aurora. Gadis yang telah membuat anaknya benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya.


“Temani Agra disetiap langkahnya, yah, sayang. Kalau kalian ada masalah, dibicarakan baik-baik. Jangan saling meninggikan ego. Kamu tau, kan, Agra gimana?”


Aurora mengangguk lalu menyeka airmatanya setelah pelukan mereka terurai.


Sekarang giliran Bram. Pria ber-tuxedo serupa dengan warna gaun Citra itu juga memeluk Aurora setelah dari Agra.


“Maaf, kan, Papa yah, Ra. Maaf sudah membuat kamu dan Agra pisah dulu. Sekarang, Papa benar-benar menyesal akan hal itu.”


Aurora tersenyum lalu membalas pelukan Bram. “Gak usah minta maaf, Pa. Rara tau kok Papa Cuma mau yang terbaik buat anak Papa dan keluarga Papa.”


Mengenai masalah panggilan ‘papa’ yang digunakan Aurora, itu memang permintaan Bram sejak saat Agra selesai melamarnya saat itu.


“Dan ternyata apa yang Papa anggap baik bukanlah takdir Agra.”


Aurora terkekeh lalu tersenyum pada Bram.


“Kadang, apa yang menurut kita baik itu belum tentu baik untuk orang lain. Tapi gakpapa, Pa. Lagian Rara juga udah lupain itu.”


Bram menepuk puncak kepala Aurora. Citra dan Agra tersenyum melihat Aurora. Agra benar-benar tidak salah pilih dalam mencari pasangan hidup.


.


.


.


VOTE JANGAN LUPA HEY!!