![[DMS#2] The Perfect Husband](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-2--the-perfect-husband.webp)
[BUAT PEMBACA BARU, SILAHKAN BACA CERITA 'AGRA' DULU, YAH! WHY? KARNA SEGALA PENJELASAN BLA-BLA-BLA ADA DI SANA]
---
Deon tidak tahu harus bersikap bagaimana di tengah-tengah keluarganya dan keluarga pak Alexander malam ini. Pertemuan antar dua keluarga ini terlalu mendadak bagi Deon untuk membahas masalah perjodohannya dengan anak pak Alexander yang tengah duduk di depannya.
Tahu bagaimana tampilan cewek itu?
Ia memakai kebaya yang Deon yakini, nenek-nenek pun tidak ingin memakainya. Rambutnya di sanggul ditambah kondek besar di sana. Celak di pinggiran matanya benar-benar hitam menyerupai nenek sihir. Bibirnya berwarna merah semerah darah.
Deon meneguk ludah menatapnya. Bagaimana mungkin orangtuanya setuju ia akan dijodohkan dengan cewek tidak waras seperti anak pak Alexander?
“Pernikahannya akan kita laksanakan bulan depan. Pak Alex tenang saja, kami pasti akan menyiapkan pernikahannya sebaik mungkin.”
Ucapan dari papanya membuat Deon ingin mengumpat sekarang juga. Matanya tidak pernah lepas menatap ngeri pada anak pak Alexander. Cewek itu makan dengan sangat tidak feminim.
Saos belepotan kemana-mana, ayam dilahap habis langsung dengan mulut, dan kaki yang bersila di atas kursi makan. Deon meringis samar. Tidak kuasa membayangkan bagaimana dirinya jika ia benar-benar menikah dengan cewek gila itu.
Suara sendawa besar dari cewek itu menyita perhatian keluarga Deon termasuk para penghuni restorant. Pak Alexander menatap anaknya dengan wajah menahan malu. “Kamu apa-apaan sih, Zoy?” ujarnya setengah berbisik.
“Ini enak banget, Pa. Zoya belum pernah makan makanan kayak gini. Beuh! Mantap parah!” cewek bernama Zoya itu dengan sengaja membesarkan suaranya seraya mengecap ujung jarinya yang dipenuhi saos. Deon hampir saja muntah melihatnya.
“Maafkan anak saya, yah, Pak Ian, Bu.” Pak Alexander menampilkan raut wajah bersalah dengan sedikit malu. Seharusnya ia tidak gampang luluh pada putrinya saat Zoya memohon padanya ingin berpenampilan seperti ini.
“Gakpapa, Pak Alex, santai saja. Makanan di sini memang enak-enak, kok.”
Deon menatap tidak percaya pada mamanya yang baru saja bersuara. Saat ia melototkan mata pada mamanya, wanita itu malah menginjak sepatu kulit Deon di bawah meja. Kehilangan kesabaran, Deon berdiri dari duduknya.
“Maaf saya tidak bisa lama-lama. Saya ada janji,” ucapnya yang langsung pergi dari sana tanpa menunggu balasan orang tuanya.
“Dasar cewek gila, jorok! Enek, gue!”
####
Citra membawa sebaskom kecil air hangat ditambah handuk kecil di tangannya menuju kamar Agra. Wanita ber-dress putih itu memang datang ke rumah Agra setelah mendapat telfon dari ART Agra bahwa anaknya sedang sakit.
Aurora yang belum pulang dari rumah sakit mengharuskan Citra datang untuk merawat Agra. Citra tidak menyalahkan Aurora karena belum datang sekarang, ia tetap memaklumi pekerjaan menantunya itu yang memang membutuhkan penjagaan ketat dan kesiagaan.
“Agra baik-baik aja, Ma. Mama gak perlu repot.”
Citra berdecak samar mendengar ucapan Agra yang terdengar berat. Pria yang tertidur dengan kaos lengan panjang itu sangat pucat namun masih bisa berkata baik-baik saja. “Mama gak pernah merasa repot kalau anak sendiri, Gra.”
Jujur, Agra merasa tidak enak pada Citra. Ia memang anak satu-satunya dari Citra dan Bram, tapi tetap saja Agra merasa tidak enak. Apalagi ketika mengingat ia sudah memiliki keluarga kecil, sudah seharusnya ia tidak merepotkan Citra.
Agra mendudukkan tubuhnya walaupun kepalanya terasa sangat pening dan berat. “Agra bisa sendiri, Ma,” ujarnya seraya mengambil handuk yang telah diperas bersama air hangat oleh Citra.
Citra memukul pelan tangan Agra lalu mengambil handuk di tangan Agra. “Kamu diam aja bisa, kan? Atau mau Mama telfon Rara?”
Agra dengan cepat menggeleng. Dia tidak ingin Aurora tahu bahwa ia sedang sakit. Karena sudah dipastikan istrinya itu pasti sedang sibuk di rumah sakit.
“Gak perlu kasih tau, Ma. Rara udah di sini.”
Agra dan Citra kontan menatap pintu di mana Aurora baru saja masuk. Wanita itu menaruh tas putih dan snelli-nya ke sofa lalu mendekat ke arah Agra. Ia kemudian menempelkan punggung tangannya di jidat Agra sebelum membuka laci nakas untuk mengambil thermometer.
“Jangan dilepas sebelum aku keluar dari kamar mandi,” perintah Aurora. Citra tersenyum geli saat melihat Agra hanya bisa mengangguk patuh pada perintah Aurora.
“Kalau gitu Mama ke bawah, yah.” Citra keluar dari kamar tanpa berniat memberikan kesempatan untuk Agra menyahut.
Beberapa menit setelah Citra keluar, Aurora sudah selesai membersihkan diri. Wanita dengan handuk yang membungkus rambut itu berjalan menuju kasur di mana Agra menyendarkan punggung.
Aurora menghela nafas saat melihat suhu badan Agra yang cukup tinggi. Ia menyimpan thermometer itu di atas nakas lalu mengusap kepala Agra. “Pusing?” tanyanya.
Agra mengangguk. Lehernya sedikit pahit hingga rasanya membuka suara saja ia enggan.
“Mau minum obat?”
Agra dengan cepat menggeleng hingga Aurora terkekeh. “Dulu kamu, loh, yang pernah maksa aku minum obat pas pingsan di UKS. Masa sekarang kamu gak mau.”
Agra berdecak lalu menarik Aurora agar istrinya itu semakin mendekat padanya. Ia kemudian memeluk pinggang Aurora dengan kedua lengannya lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Aurora yang terbalut piyama terusan berwarna merah maroon.
“Gak sakit-sakit banget, kok. Besok bangun tidur pasti sembuh.” Ia bergumam di sana.
“Mana bisa kayak gitu, Aa. Kalau gak minum obat, yah, gak sembuh.”
“Sembuh, Ra.”
Aurora berdecak lalu melepaskan pelukan Agra. Ia kemudian berdiri lalu mengacungkan telunjuk di depan wajah Agra saat suaminya itu terlihat akan protes. “Jangan banyak protes! Kalau gak, tidur sendiri!”
Mau tidak mau Agra diam. Ia mendengus lalu merebahkan dirinya.
“Jangan tidur, aku mau ke bawah ambil obat.”
“Iya, ibu Negara!” Aurora terkekeh lalu keluar dari kamar untuk mengambil obat di lantai bawah.
Lima menit kemudian, ia kembali dengan nampan yang berisi beberapa tablet obat dan segelas air putih. Ia menaruhnya di nakas lalu duduk di sisi kasur yang ditempati Agra. “Minum obat, A’.”
Dengan berat hati Agra setengah mendudukkan tubuhnya lalu membuka mulut menerima obat yang disodorkan Aurora padanya. Jika saja bukan karena istrinya yang cantik ini, Agra tidak akan pernah mau menyentuh si pahit itu.
Aurora membantu Agra minum sebelum suaminya kembali berbaring dengan mata yang memejam. Saat Aurora hendak berdiri untuk kembali ke lantai bawah menyimpan obat, tangan Agra lebih dulu menahannya hingga ia tidak jadi berdiri.
“Kenapa?” tanya Aurora.
Agra menepuk ruang kosong di sebelahnya. “Temenin,” ucapnya.
Aurora tersenyum geli lalu setengah memutari ranjang untuk naik ke sisi Agra. Baru saja Aurora merebahkan tubuhnya, Agra sudah menyerbunya dengan pelukan erat. Aurora terkekeh lalu memiringkan tubuhnya menghadap Agra.
“Kamu kecapean, yah, sampai sakit gini?” tanya Aurora.
Jari-jarinya bergerak menyisir rambut Agra yang lumayan acak.
Agra hanya bergumam tidak jelas lalu memindahkan kepalanya—yang awalnya di ceruk leher Aurora—ke dada istrinya. Agra tidak berniat modus, ia hanya ingin lebih nyaman. Lagi pula, Aurora adalah istrinya jadi tidak masalah.
Aurora juga tidak mempermasalahkannya, wanita itu tetap menyisir sesekali mengusap rambut hitam Agra yang lembut. Senandung kecil keluar dari bibirnya. Tidak butuh waktu lama, bayi besar Aurora telah terlelap. Deru nafas suaminya telah terdengar teratur.
Aurora mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Agra.
“Selamat malam, Aa.”
.
.
.
Seharusnya ini ku up kemarin malam tapi kelupaan😭😂
Spam like, komen, dan vote, yeah!1!1!