[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
The Perfect Husband ; 14



Sore ini, Mama Citra datang menjengukku setelah beliau mengantar Papa Bram ke Bandara. Aku menceritakan segalanya padanya. Tentang aku yang mengkonsumsi pil KB karena masih ingin menikmati profesi, Agra yang marah sampai tidak pulang semalaman dan penyebab aku masuk rumah sakit.


Tahu apa respons-nya?


Wanita berhati malaikat itu malah tersenyum hangat khas seorang ibu kemudian memelukku dan berkata, “Mama paham, kok, apa yang kamu rasain. Dulu Mama juga pernah kayak kamu.” Beliau terdengar benar-benar tulus mengatakan itu walau pancaran matanya tidak bisa berbohong bahwa beliau juga kecewa.


Satu fakta yang juga membuatku terkejut akan Mama mertuaku itu. Katanya, dulu ia sama sepertiku. Mama seorang wanita karir yang saat itu benar-benar mencintai pekerjaannya sampai-sampai melakukan hal yang serupa denganku. Yaitu mengkonsumsi pil KB. Katanya juga, Papa Agra sempat marah besar dan tidak pulang selama tiga hari karena memilih keluar Kota untuk menyibukkan diri dengan bisnis. Hal yang patut aku syukuri adalah suamiku yang tidak mengikuti jejak papanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Mama Citra dulunya.


“Agra udah ke sini jengukin kamu?” tanya Mama yang sibuk mengupasi apel di samping brankarku. “Udah, Ma. Tadi pagi bareng Deon.”


“Udah itu gak ke sini lagi?” aku menggeleng lemah menanggapinya hingga helaan napas Mama terdengar jelas di telingaku. Mama berdiri dari dudukannya kemudian terlihat mengotak-atik ponsel mahalnya, aku yakin beliau tengah ingin menelfon putra tunggalnya.


“Ma, Mama gak usah nelfon Aa, Rara gakpa-pa, kok.” Mama hanya menggeleng menanggapiku kemudian menempelkan ponsel ke telinga kanannya.


“Suami macam apa kamu? Istri sakit malah ditinggalin. Mau sekalian Mama bawa istri kamu pergi biar gak usah kamu tinggalin lagi?” suara Mama terdengar sangat kesal, tatapannya tajam seolah di hadapannya kini sedang berdiri orang yang beliau temani berbicara di ponsel.


“Mama gak mau tau, Gra. Tiga puluh menit lagi kamu harus sampai di sini atau jangan salahin Mama kalau kamu gak bisa ketemu Rara lagi sampai kurun waktu yang tidak ditentukan.” Mama memutuskan panggilan dengan tidak santai lalu kembali duduk dan menyuapiku buah.


Jujur, aku tidak enak hati. Agra pasti berpikir bahwa aku memanfaatkan Mama untuk menyuruhnya kemari.


####


Saat Agra sudah datang ke kamar rawat inapku, Mama pulang setelah sempat memberi wejangan pada anaknya ditambah dengan jeweran di telinga. Jadilah sekarang, kami terlibat suasana canggung yang benar-benar kental. Dia duduk di sofa dengan laptop yang terbuka menyala dan beberapa susun dokumen ber-map di samping laptop. Aku menghela napas, apa bedanya dia ada di sini dan tidak ada di sini jika sekarang pun laptop dan dokumen itu lebih menarik perhatiannya?


Dengan sedikit kesusahan aku turun dari brankar dengan memegang tiang infusku. “Mau kemana?” aku menatapnya sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaan tanpa nada darinya.


Sandal jepit rumah sakit langsung ku kenakan ketika kakiku menyentuh lantai. Bisa ku lihat dahinya berkerut saat melihat aku berjalan ke arahnya.


“Ngapain? Tidur sana, entar sakit lagi. Aku banyak kerjaan buat ngurusin kamu.” Sakit? Jangan ditanya. Kalian tahu betul bagaimana rasanya ketika seseorang berbicara padamu dengan maksud dirimu hanyalah sebuah beban yang tidak lebih berarti dari sebuah benda-benda mati.


Walaupun aku ingin menangis, aku tetap melangkah mendekat padanya. Tiang infus ku letakkan di sisi sofa kemudian mendudukkan diriku di sampingnya dengan setengah meringis karena kepalaku yang berdenyut dan mataku yang agak membayang.


Agra? Ia tetap acuh dan mengerjakan sesuatu yang tidak ku ketahui di laptopnya. Aku menatapnya dengan tatapan sendu kemudian tanpa banyak kata aku menidurkan kepala di bahu lebarnya. Aku tahu dia kaget—dilihat dari tangannya yang berhenti kaku di atas papan ketik. Aku tidak peduli, kedua tangan ku bergerak melilit pinggangnya walaupun sedikit susah karena salah satu tanganku tertempeli infus.


“Maaf,” bisikku pada lengannya yang menjadi tempat menyerukkan wajahku. “Maaf.” Kali ini air mataku ikut serta saat tak ada pergerakan darinya kecuali jari-jarinya yang kembali mengetik. Kemeja hijau army yang ia kenakan sore ini sudah basah di bagian lengannya akibat airmataku.


Tubuhnya yang bersandar ke sandaran sofa membuat tubuhku ikut bersandar. Tangan kanannya yang bebas dari jangkauanku terangkat yang ku yakini untuk memijat pelipisnya. Suatu kebiasaan saat ia tengah pusing.


“Balik ke brankar. Istirahat sana,” ucapnya dengan nada rendah yang kuhadiahi dengan gelengan cepat. Kepalaku beringsut bersembunyi di dada bidang miliknya. “Aku gak akan pindah sebelum kamu maafin aku.” Kedua tanganku yang masih melilit pinggangnya semakin erat. “Aku tau aku salah karna gak diskusiin sama kamu dulu. Tapi aku mohon maafin aku.”


Helaan napasnya terdengar berat menyapu puncak kepalaku. “Aku gak marah, kenapa harus minta maaf?”


“Kalau gak marah kenapa pergi semalam dan gak pulang?”


Dia kembali menghela napas. “Aku cuma takut kelepasan nyakitin kamu kalau lama-lama ada di dekat kamu. Aku gak marah, cuma kecewa aja sama kamu.”


Mendengar nadanya yang hampir berbisik lebih menyakitkan dibanding mendengar bentakannya. Suaranya kali ini benar-benar terdengar berat sarat akan kekecewaan. “Maaf,” gumamku lagi. “Aku bukannya mau buat kamu kecewa dengan gak minta izin sama kamu. Aku cuma takut kamu gak izinin aku dan lebih milih nyuruh aku buat berhenti kerja.”


Tidak ada lagi tanggapan untuk kalimatku, yang ia berikan hanyalah usapan lembut di rambutku. Tidak apa-apa, setidaknya sapuan tangannya di rambutku sudah cukup membuktikan bahwa dia sedikit demi sedikit sudah memaafkanku.


“Gak marah lagi, kan?” tanyaku mendongak menatapnya. Mata hitamnya yang sekelam malam menumbuk netra coklat milikku, ia tersenyum tipis kemudian kembali mengelus rambutku.


“Gak.”


“Gak apa?”


“Gak marah lagi.”


“Serius?” dia kembali tersenyum tipis.


“Kamu yang paling tau gimana luluhin aku.”


.


.


.


SEMOGA YANG VOTE BANYAK2 DAPAT SUAMI MACAM Aa😂