[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 4



Setelah acara sarapan selesai, Aurora menunggu Agra yang membersihkan diri dengan mem-packing barang-barang mereka untuk pindah ke rumah baru yang telah Agra beli setelah Aurora kembali ke London dulu.


Dua koper berwarna beda telah terisi setengah di depan Aurora. Wanita itu melipat beberapa pakaian dan menyiapkan pakaian untuk Agra.


Suara pintu terdengar dan menyita perhatian Aurora untuk menoleh. Agra baru saja selesai mandi dan keluar dengan keadaan yang sudah memakai kaos putih volcom dipadukan dengan celana selutut.


Rambut hitam yang belum dikeringkan itu meneteskan air ke lantai hingga membuat Aurora berdecak.


“Keringin dulu, Gra, rambutnya. Becek entar lantainya.”


Agra yang hendak mengambil ponsel di atas nakas menoleh lalu mengambil handuk kecil di dekat koper dan menyerahkannya ke Aurora.


“Keringin, yah.” Agra mencengir.


Aurora mendesis samar lalu menepuk tempat yang kosong di sampingnya. Menyuruh Agra untuk duduk di sisinya.


“Yang bener ngeringinnya, sayang.”


Aurora berdecak. “Ini juga udah bener A’a suami.”


“A’a suami?” tanya Agra. Ia menatap Aurora walau kadang terhalang dengan kedua lengan Aurora yang masih mengeringkan rambutnya.


Aurora mengangguk. “Dulu, kata Bunda. Gak baik manggil suami pake nama. Musti pake embel-embel Mas atau A’a. Abang juga bisa.”


Agra menganggukkan kepala. “Andai aja Bunda masih hidup, yah, Ra.”


Aurora tersenyum lalu merapikan rambut Agra yang telah ia keringkan. “Emang kenapa kalau Bunda masih hidup?” tanya Aurora.


Agra mengambil tangan Aurora yang merapikan rambutnya untuk ia genggam. “Mau ngomong aja sama Bunda. Makasih udah lahirin bidadari ke dunia ini.” Agra mencolek hidung Aurora.


Aurora memalingkan wajah dengan pipi yang bersemu. “Apaan, sih!” ujarnya salah tingkah.


Merasa gemas, Agra mendekatkan wajah hendak mengecup pipi Aurora. Tapi, suara ponsel Aurora yang bardering membuatnya harus menahan wajahnya di depan wajah Aurora.


“Bentar.”


Agra berdecak lalu menarik wajahnya. Dia menatap Aurora yang mengangkat telfon dengan mimik wajah yang tiba-tiba berubah menjadi serius.


“Iya. 30 menit saya sampai.”


Mendengar jawaban Aurora untuk orang di seberang sana membuat Agra menghela nafas lirih. Agra tahu, itu pasti telfon dari pihak rumah sakit yang menghubungi Aurora untuk datang.


Sentuhan di tangannya membuat Agra terhentak dari pikirannya. Ia menatap Aurora yang tersenyum kecut.


“Ada operasi mendadak pagi ini. Korban kecelakaan.”


Menghela nafas, Agra tersenyum seraya mengacak rambut Aurora. “Pergi aja. Pasien nomor satu, kan, untuk seorang Dokter?”


Walaupun Agra membiarkannya, tetap rasa tidak enak itu hinggap di hati Aurora. Ini adalah hari pertama mereka dengan status baru. Dan hari ini juga masih terhitung cuti pernikahan mereka. Tapi, karena pihak rumah sakit yang mengatakan hanya Aurora harapan satu-satunya karena Dokter yang bertugas sedang menghadiri pertemuan penting di Singapore, maka mau tidak mau harus Aurora yang terjun.


“Maaf.”


Agra mengangguk. Menatap punggung Aurora yang hilang di balik pintu kamar mandi untuk berganti pakaian.


Agra kembali menghela nafas lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Baru saja beberapa menit yang lalu mereka bersikap romantis, dan sekarang dalam sekejap berubah hanya karena panggilan dari rumah sakit.


####


Membiarkan Aurora pergi ke rumah sakit, Agra memilih mendatangi kantornya pagi ini setelah memastikan semua perlengkapannya telah di atur oleh orang suruhannya. Saat pria berkemeja putih tanpa tuxedo itu turun dari mobil, semua mata pegawainya menatap heran. Tentu dengan pertanyaan yang bersarang di kepala mereka.


Kenapa Bosnya datang hari ini?


Bukannya masih cuti pernikahan?


Agra memilih abai dengan semua tatapan itu. Ia melangkahkan kaki memasuki lift menuju ruangannya di lantai lima. Saat pintu lift itu akan tertutup, seseorang masuk hingga membuat pintu lift itu kembali terbuka.


“Selamat pagi, Pak.” Wanita dengan rok setengah paha dipadu kemeja ketat berwarna putih menunduk pada Agra hingga belahannya sedikit tampak.


Agra hanya berdehem singkat dengan mata lurus menatap pintu lift. Agra bukannya takut tergoda, ia hanya risih dengan wanita di sampingnya ini.


Sherly, namanya. Wanita yang beberapa bulan lalu menjabat sebagai sekretaris Agra.


“Ganteng banget, Pak, hari ini.”


“Ingat batasan kamu, Sherly,” seru Agra. Nadanya santai namun terdapat ancaman bagi yang mendengar dengan seksama.


Sherly, abai. Hendak lebih mendekat lagi pada Agra, namun pintu lift lebih dulu terbuka. Diam-diam Agra menghela nafas lega. Ini bukan pertama kalinya Sherly mencoba untuk menggodanya. Bahkan wanita itu pernah menawari Agra satu malam. Untung saja, Agra bukanlah lelaki berengsek yang gila akan nafsu sehingga ia dengan tegas menolak tawaran itu.


Jika kalian berpikir kenapa Agra tidak memecatnya saja?


Maka Agra dengan malas, menjawab. “Kemampuan wanita itu masih dibutuhkan oleh Demiand Corp.” dandanan Sherly memang selayaknya wanita malam di luar sana, namun siapa sangka, wanita itu memiliki ide dan bakat yang cukup menakjubkan.


“Ngapain lo ngantor? Seharusnya lo masih produksi pagi-pagi gini!”


Agra hampir saja berjengit saat membuka pintu ruangannya. Di sofanya, ada Deon yang berbaring di sana dengan kedua tangan berada di belakang kepala.


Agra mendengus lalu duduk di sofa yang tersisa. “Ngapain lo di ruangan gue? Mau sabotase lo?” tudingnya.


Deon menegakkan badan lalu mendelik. “Kuker banget gue nyabotase kantor lo! Mending sabotase studionya Alif aja, banyak ceweknya.”


Agra memutar mata malas. Ia heran, entah kenapa Deon bisa segila ini dengan perempuan sejak sering mendatangi studio Alif—yang memang Agra akui banyak cewek cantik dan seksi di sana. Tapi itu bukannya hal biasa untuk studio permodelan?


“Eh, Yon! Daripada lo nambah dosa tiap hari liat cewek bohai di sana. Mending lo nikah, deh. Di jamin lebih oke!”


“Idih!” Deon mendelik lantas menyilangkan kaki di atas meja.


Benar-benar sopan!


“Gue masih pengen hura-hura! Masih mau nikmatin masa lajang gue dulu. Entar kalo udah ada bini, ke sana dikit, ngebacot. Lirik dikit, yah, dibacok!” semburnya panjang lebar.


Agra menggeleng keheranan. Deon memang seperti itu, gila dengan wanita namun tidak ingin terikat pernikahan dengan alasan, ribet! Agra tidak tahu, kenapa Deon bisa seperti ini sekarang. Yang Agra tahu, otak Deon mulai kehilangan ke-stelirannya saat sering nongkring di studio Alif.


####


Alif tidak berhenti beristigfar sejak tadi. Bagaimana tidak? Istrinya yang dalam keadaan hamil ini benar-benar menguji kesabaran Alif. Sejak tadi, wanita berdaster rumahan itu meminta untuk dibuatkan nasi goreng oleh Alif. Namun setelah tersaji, ia menolak dengan mengatakan sudah tidak nafsu karena Alif terlalu lama dalam menggoreng.


Sekarang, wanita hamil berusia empat bulan itu ingin memakan mangga muda yang ada di depan rumah Alif. Dan yang membuat Alif menghela nafas lirih adalah, saat dirinya yang harus turun langsung memanjat pohon mangga yang menjulang tinggi itu. Belum lagi sang pemilik mangga yang memiliki hewan perliharaan berbulu yang galak.


“Sayang … beli di dekat taman aja, yah. Gak usah manjat segala.” Alif memasang wajah memelas di depan istrinya. Namun, bukannya mengangguk, istrinya malah melengkungkan bibir ke bawah dengan mata berkaca-kaca.


“Hiks. Kamu jahat! Kamu gak sayang lagi sama aku!” wanita itu merubah posisi duduk dengan membelakangi Alif.


Alif mengusap wajahnya lalu kembali beristigfar dalam hati. Semoga saja Allah berbaik hati hingga memberinya kesabaran yang lebih.


“Yah, udah. Aku yang manjat. Kamu suka, kan?” Alif menyentuh pundak istrinya untuk menyuruh wanita itu berbalik.


Alif kira, istrinya akan menunjukkan raut bahagia mendengar kepasrahan Alif. Namun lagi-lagi, hanya airmata yang Alif dapatkan.


“Gak usah! Kamu pasti gak ikhlas. Aku tau, kok, kamu gak sayang lagi sama aku,” kelakar wanita itu. Ia berdiri untuk berjalan menuju tangga namun Alif lebih dulu menarik tangannya hingga wanita itu jatuh ke pangkuan Alif yang duduk di sofa.


“Ngomong apa tadi?” tanya Alif.


Alisnya terangkat menatap wanita yang kini memalingkan wajah ke arah lain. Tidak mau menatap Alif.


“Gak sayang lagi sama aku!” wanita itu berlirih dengan bibir mengerucut.


Alif terkekeh gemas dengan kelakuan istrinya. Dengan cepat ia mendekatkan wajahnya lalu memanggut bibir yang sejak tadi mengerucut kesal itu. Alif terkekeh saat menyudahi ciumannya, istrinya sontak menyembunyikan wajah di dada Alif.


Alif memeluk wanita itu dengan gemas sesekali mengecup puncak kepalanya. Alif tidak tahu, kenapa wanita yang selama ini tidak terpikir olehnya bisa menjadi pendamping hidupnya dan membuat Alif jatuh dalam pesonanya.


Baru saja Alif dibuat senang, wanita itu kembali bersuara hingga Alif kembali beristigfar.


“Pengen mangga di depan, Mas.”


Astagfirullah!


.


.


.


LIKE, KOMEN, SHARE DAN VOTEE BANYAK BANYAK GAK MAU TAU!😂


ADA YANG MAU NEBAK ISTRI ALIF SIAPA?