You're My Sunshiny

You're My Sunshiny
I Care About You, Don't Hate Yourself part 2



Pukul 10.19 malam, Fabian kembali ke kantor untuk mengecek pekerjaan yang tersisa. Namun, saat Fabian masuk ke dalam ruangannya, ia melihat Renata yang tertidur pulas di atas sofa sambil memegang berkas dan pulpen ditambah laptop Renata masih menyala. Fabian pun membuka jasnya dan menyelimuti Renata dengan jasnya, ternyata kepergian Fabian membuat Renata kerepotan dan Renata baru saja keluar dari rumah sakit. Itu membuat Fabian merasa tidak enak.


Fabian pun duduk di sofa satu lagi dan diam menunggu Renata untuk bangun. Fabian bisa melihat wajah Renata yang kelelahan, selama ini pasti Renata sudah merasa kesal dengan Fabian yang sungguh tidak jelas. Tapi Fabian tidak menyadarinya hingga, Fabian melihat Renata sakit beberapa hari yang lalu dan sekarang melihat wajah Renata yang kelelahan, itu membuat padangan Fabian terhadap Renata berbeda. Ditambah Fabian mengetahui Renata memiliki seorang putri kecil, padahal Fabian lebih tua dari Renata.


“Jika di lihat kamu adalah wanita yang hebat, Renata,” ucap Fabian dengan begitu pelan, ia tidak ingin mengganggu Renata yang tertidur pulas.


“Menurutku Renata adalah gadis cantik dan baik, kamu saja yang tidak menyadarinya. Kamu membutuhkan orang seperti Renata dalam hidupmu yang hampa.” Bisikan itu tepat di telinga kiri Fabian dan Fabian hanya diam tanpa membalas apa pun, karena bisikan itu ada benarnya. Jika saja Fabian membiarkan Renata masuk ke dalam kehidupannya, apa rasa hampa di hati Fabian akan hilang? Tapi Renata adalah asistennya, itu terasa tidak benar untuk Fabian.


Renata pun membuka matanya, ia langsung melihat sekeliling dan terkejut melihat Fabian. Renata segera bangun dan merapikan berkas yang berantakan, lalu Renata menyiapkan kalimat agar Fabian tidak memarahinya. Tapi saat Renata melihat Fabian, ia melihat tatapan Fabian yang kosong entah ke mana dan sepertinya Fabian sedang melamun lagi. Ini bukan pertama kali Renata melihat seorang Fabian dengan tatapan kosong dan melamun entah memikir apa. Renata mencoba menyentuh pundak Fabian, tapi Fabian menahan tangan Renata untuk menyentuh pundaknya.


“Eh, ternyata Tuan sadar saya kira Tuan melamun lagi. Soalnya dilihat dari tadi pagi Tuan lemas dan terlihat capek, apa Tuan baik-baik saja?” ucap Renata yang berusaha memisahkan tangannya dengan tangan Fabian, namun Fabian menahannya. Fabian ingin menggenggam tangan Renata walau hanya sebentar saja.


“Untuk apa memedulikan tentang saya,” balas Fabian.


“Tuan ini sungguh tidak peka, tentu saja saya memedulikan Tuan, karena Tuan adalah bos saya. Lagi pula wajar jika saya memedulikan Tuan, saya sudah mengenal Tuan lama sekali. Ucapan Tuan itu seakan meminta saya untuk tidak peduli,” ucap Renata yang kesal dengan jawaban ketus Fabian.


“Memang itu benar, untuk apa memedulikan saya. Selama ini yang saya lakukan untuk kamu hanyalah merepotkan kamu dan memarahi kamu akan hal kecil, harusnya kamu tidak menyukai saya apalagi memedulikan saya,” ucap Fabian dan Renata langsung memasang wajah cemberut, Renata tidak percaya jika Fabian mengira ia membencinya. Renata menjadi bingung, apakah Fabian berusaha membuat Renata benci kepadanya atau itu hanya alasan.


“Tuan Fabian, saya ini tidak pernah membenci Tuan mungkin terkadang saya kesal, tapi jika membenci tidak mungkin. Karena saya tahu Tuan punya hati yang baik dan Tuan hanya bersikap profesional,” balas Renata dan Fabian langsung terdiam, ia melihat kepada Renata. Renata pun menyadari jika Fabian masih memegang tangan, dengan cepat Renata langsung melepaskannya. Suasana menjadi canggung, ditambah Renata tidak nyaman dengan Fabian yang menatap, mengapa Fabian menatap Renata begitu lama, apa yang Fabian pikirkan tentang Renata sekarang.


Mengapa Renata bisa mengatakan hal seperti itu tentang Fabian, selama ini Fabian tidak pernah sekali pun membantu Renata. Fabian selalu menunjukkan sikapnya yang wajar dan semua orang benci itu, tapi kenapa Renata bilang jika Fabian mempunyai hati yang baik. Dari sisi mana Renata melihat Fabian sebagai orang yang mempunyai hati yang baik, apakah selama ini Fabian salah menilai Renata.


“Sudahlah, lebih baik kamu pulang sekarang ini sudah malam,” ucap Fabian, sontak Renata langsung membereskan barangnya dan meja yang berantakan.


“Kalau begitu saya pulang dulu, oh iya Emily menitip salam untuk Anda. Kata Emily Tuan adalah orang yang baik,” balas Renata langsung pergi secepat kilat.


Fabian terdiam mendengar itu, ibu dan anaknya mengucapkan jika Fabian orang yang baik. Apakah mereka mengatakan itu untuk membuat Fabian merasa lebih baik tentang dirinya atau mereka hanya merasa kasihan kepada Fabian. Apakah Fabian dari sudut pandang seorang Renata berbeda? Apa Renata benar-benar merasa Fabian orang berhati baik? Jika itu benar mengapa Renata merasa takut kepada. Itu semua berputar-putar di kepala Fabian, mendengar seseorang mengatakan ia baik benar-benar membuat perasaan Fabian terkejut.


***


Pukul 02.36 malam, Fabian belum bisa tertidur. Ia terus memikir Renata yang mengatakan ia baik, padahal itu hanya kata sederhana. Tapi entah mengapa menurut Fabian itu benar-benar berartinya untuknya, selama ini tidak ada orang yang mengatakan Fabian adalah orang yang baik. Dari tahun ke tahun Fabian hanya mendengar kata ‘dingin’, ‘arogan’, ‘tidak mungkin ada orang yang betah dengannya’ semua itu yang Fabian dengar. Namun, Renata membuat Fabian merasakan jika ia mempunyai sisi baik, yang tak pernah Fabian tunjukkan kepada siapa pun.


Fabian pun bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke balkon apartemen untuk melihat bulan, tapi saat Fabian melihat ke atas langit, bulan itu tertutup awan. Fabian pun terdiam sejenak, Fabian berpikir bulan itu tertutup awan seperti hatinya yang tertutup masa lalu yang kelam. Awan menghalangi bulan untuk bersinar dan masa lalu Fabian menghalanginya untuk bahagia. Andai Fabian bisa menghapus masa lalunya mungkin sekarang ia sedang berbahagia dan bukan memikir apa ia layak untuk orang lain.


“Aku hanya ingin hidup dengan damai, mengapa itu susah sekali? Mengapa semua kenangan buruk itu selalu berputar di kepalaku? Apa aku pantas bahagia?”


***


“Apa Emily sudah tidur?” tanya Anastasia yang khawatir.


“Sudah, maaf ya kami jadi merepotkan kamu,” jawab Renata. Akhirnya Emily bisa tertidur juga dan akhirnya Renata bisa beristirahat dengan tenang. Renata pun meminta Anastasia untuk menjelaskan semuanya kepada Renata, mengapa Emily tidak bisa tertidur hingga dini hari. Anastasia menjelaskan jika tadi ia dan Emily pergi makan malam di luar dan semua berjalan lancar, bahkan Emily tidak rewel sama sekali, hingga Anastasia meninggal Emily sebentar untuk ke toilet. Awalnya Anastasia ingin membawa Emily, tapi Emily menolak itu.


Saat Anatasia di toilet, tiba-tiba Amelia datang mengacaukan semuanya, Amelia mengatakan hal-hal yang membuat Emily sakit hati. Bahkan Amelia membicarakan hal buruk tentang ayah dan ibunya Emily, hingga Amelia mengatakan Emily tidak pantas untuk hidup bersama Renata. Saat itu juga Emily berusaha menahan air matanya hingga Anastasia kembali, namun Anastasia begitu lama. Selama Anastasia pergi, Amelia terus-menurus menekan Emily.


Hingga akhirnya Anastasia kembali dan saat itu juga Amelia pergi, melihat Anastasia yang datang. Emily langsung memeluk Anastasia dan menangis, Emily menceritakan semua omongan Amelia kepadanya. Itu membuat Anastasia terkejut, bisa-bisanya Amelia mengatakan hal itu kepada gadis sekecil Emily dan saat Renata kembali, Emily langsung mengadu kepada Renata. Lalu Emily meminta penjelasan jika yang di katakan Amelia itu bohong.


“Terima kasih Anastasia kamu sudah membantu, kamu boleh tidur di kamar tamu. Aku akan menelepon mama dan menugur tentang kejadian tadi,” ucap Renata, sontak Anastasia langsung pergi untuk memberikan sedikit privasi kepada Renata, karena Anastasia tahu jika Renata akan meledak.


“Halo, apa yang kamu lakukan menelepon Mama malam-malam seperti ini?” ucap Amelia dengan suara kantuknya.


“Sepertinya Mama tidur dengan sangat nyenyak, aku tidak habis pikir, bagaimana Mama bisa tidur nyenyak setelah mengucap hal mengejikan kepada Emily,” ucap Renata langsung pada intinya, karena ini sudah sering terjadi dan Renata sudah muak dengan Amelia yang begitu membenci Emily, dan sekarang Amelia tidur dengan nyenyak setelah membuat Emily sakit hati.


“Yang Mama ucapkan adalah kebenaran, karena kamu sudah gila saat itu. Coba kamu pikirkan saat itu kamu masih begitu muda dan karier kamu yang cukup bagus, lalu tiba-tiba kamu membawa anak kecil masuk ke dalam kehidupan kamu. Apa kamu lupa, apa yang di lakukan kedua orang tua gadis itu?” balas Amelia yang tidak ingin kalah berargumen dengan Renata.


“Sudah berkali-kali Renata ucapkan kepada Mama, jika Emily tidak tahu apa-apa tentang kesalahan orang tuanya dan Mama masih saja membuat itu masalah. Memang Renata sakit hati dengan mereka tapi tidak dengan Emily, dia hanyalah gadis kecil yang tidak mengetahui apa-apa tentang masalah ini,” ucap Renata yang sudah muak dengan Amelia.


“Aku mohon agar Mama berhenti mengganggu kehidupan Renata dan selamat malam lanjutkan tidur nyenyak Mama,” ucap Renata langsung menutup panggilan, karena ia sudah tidak tahan dengan sikap Amelia yang begitu memaksanya. Ditambah Renata sudah menjadi wanita dewasa dan tidak perlu Amelia ikut andil dalam keputusan hidupnya, termasuk Emily.


Bersambung.......