
Sekarang Fabian sedang berada di ruangannya, untuk menyenangkan diri. Tidak disangka Fabian bertemu dengan pria itu lagi, pria yang benar-benar ia benci seumur hidupnya. Selama 8 tahun Fabian tidak bertemu dengan ayahnya, Fabian tidak mengira jika akan bertemu di saat seperti ini. Mengapa ayahnya muncul di saat ia ingin melupakan masa lalunya, mengapa harus sekarang di saat semuanya mulai membaik. Tiba-tiba Renata masuk dengan raut wajah tidak enak, Renata ingin memberitahu sesuatu kepada Fabian tapi ia tidak yakin.
“Fabian, klien ba– baru kita ingin menemui kamu,” ucap Renata dengan gugup.
Fabian menyuruh Renata untuk mempersilahkan klien baru mereka masuk, awalnya Fabian takut. Namun ia harus tetap profesional, tidak mungkin Fabian menolak dengan alasan pribadi. Bahkan Fabian meminta Renata untuk menemaninya, Fabian takut ia akan hilang kendali saat berhadap dengan pria itu. Nathan pun masuk ke dalam ruangan, Fabian langsung mempersilahkan Nathan duduk di sofa. Mereka duduk berhadap, sedangkan Renata berdiri di samping Fabian.
“Apakah Anda ada keluhan?” tanya Fabian dengan sopan.
“Hahaha, tidak perlu terlalu formal. Aku adalah Ayahmu,” jawab Nathan, sontak Fabian langsung mengepalkan tangannya. Rasanya Fabian ingin meninju wajah Nathan, karena dengan entengnya Nathan tertawa dan terlihat seperti tidak ada beban. Walaupun Nathan adalah ayahnya Fabian, tapi tetap saja dimata Fabian ia adalah pria yang jahat.
“Sebenarnya saya di sini bukan ingin berbicara tentang kerja sama kita, saya merindukan kamu. Bocah yang begitu naif sekarang sudah sangat besar, mungkin aku ingin berbicara hanya empat mata dengan kamu. Bisakah sekretaris kamu keluar lebih dulu?” ucap Nathan dengan tatapan penuh arti. Mau tidak mau Fabian harus meminta Renata keluar, awalnya Renata menolak. Namun, Fabian memaksa Renata untuk pergi, dengan terpaksa Renata harus keluar meninggalkan mereka berdua.
“Jadi apa yang ingin Papa tanyakan?” tanya Fabian dengan tatapan yang begitu tajam.
“Tenang Bian, Papa hanya ingin mengetahui kabar kamu dan juga Alesya,” jawab Nathan dengan senyum jahatnya.
“Semua berjalan dengan begitu baik, bahkan mama menjadi lebih baik. Jadi untuk apa Papa kesini bukankah sudah jelas, jika hidup kita lebih bahagia jika tidak ada Papa. Jika Papa hanya ingin berbasa-basi itu hanya akan membuang waktu Papa yang berharga,” ucap Fabian dengan nada sedikit tinggi, Fabian tidak tahan jika harus terus berbicara dengan ayahnya.
“Tenanglah, mengapa kamu berbicara seolah-olah ini adalah salah Papa. Apa kamu tidak ingat, mengapa mamamu tidak bisa berbicara. Oh iya Papa lupa, jika kamu sama saja naif seperti mamamu,” balas Nathan, sontak Fabian mengingat lagi kejadian itu. Mengapa Nathan selalu menyalahkan Fabian akan hal itu, padahal Nathan yang tidak bisa mengontrol emosinya.
“Sepertinya saya harus pergi sekarang, titip salam untuk Vanessa dan juga Alesya. Dan titip salam untuk kekasih kamu dan tentu saja anaknya yang imut, bilang pada kekasih kamu jika Papa akan menikah mamanya,” ucap Nathan lalu langsung berdiri, Nathan pun pergi dari ruangan. Di luar ruangan ada Renata yang menunggu, saat melihat Renata. Nathan langsung tersenyum sinis dan pergi begitu saja.
Setelah melihat Nathan pergi, Renata langsung menghampiri Fabian. Namun saat Renata masuk Fabian sudah mengeluarkan air mata. Renata pun langsung berpikir, apa saja yang mereka bicarakan mengapa Fabian sampai menangis. Renata langsung menghampiri Fabian dan berusaha menenangkan Fabian, Renata melakukan sebisanya untuk membuat Fabian berhenti mengeluarkan air mata. Tapi tidak ada hasilnya, Fabian seperti orang syok yang menangis tanpa sebab.
Sedangkan Fabian masih belum bisa mencerna semua yang di ucapkan Nathan, bagaimana bisa ini terjadi. Bagaimana Fabian mengatakannya kepada Renata, jika ayahnya akan menikahi ibunya Renata. Tentu saja Fabian tidak ingin hal itu terjadi, Fabian sudah terlanjur merasa nyaman disisi Renata. Bagaimana jika itu tidak bisa sama lagi, bagaimana jika hal itu terasa canggung. Fabian tidak menghiraukan jika ayahnya menikah lagi, tapi Fabian tidak ingin wanita yang di nikahi ayahnya adalah ibunya Renata. Bisa dibilang Fabian sudah merasakan kasih sayang dari Renata dan Fabian tidak ingin kehilangan itu.
***
Malam harinya, Renata mengajak Fabian untuk mampir ke rumahnya. Agar Fabian bisa menceritakan hal mengganggunya, ditambah Fabian mengatakan jika ada hal yang penting. Renata tidak tahu hal sepenting apa itu, tapi Fabian membuat hal itu terdengar penting sekali. Sekarang Fabian sedang duduk diruang tamu dan berbicara bersama Emily, sedangkan Renata sedang membuat minuman dan mengambil camilan.
“Jadi menurut om Fabian aku salah?” tanya Emily dan Fabian langsung mengangguk. Emily pun membuang nafasnya, mengapa PR matematikanya begitu susah. Padahal jika mendengar penjelasan guru terdengar gampang. Akhirnya Fabian mengajarkan kembali Emily cara menghitung yang benar, walaupun Fabian sudah mengajarkannya berkali-kali. Tapi Fabian tidak pantang menyerah hingga Emily bisa.
“Oooh, seperti itu. Mengapa dari tadi Emily tidak mengerti ya? Jangan-jangan guru Emily sengaja memberikan soal yang susah,” ucap Emily yang baru saja mengerti, sontak Fabian dan Renata langsung tertawa mendengar itu.
“Ya sudah kalau begitu, Emily istirahat dulu. Pas sekali Rena membawa cokelat panas dan biskuit,” ucap Emily yang langsung menghiraukan PR-nya. Renata tidak langsung mengasih biskuit itu kepada Emily, karena Emily harus menyelesaikan PR-nya dulu. Saat mendengar itu dengan penuh semangat Emily langsung kembali mengerjakan PR-nya. Renata pun mengajak Fabian untuk pergi meninggalkan Emily, agar anak itu lebih fokus. Mereka berdua pergi ke halaman belakang rumah dan melihat bulan yang begitu indah.
“Jadi Fabian apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Renata.
“Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Ini terasa berat jika di katakan, tapi papaku bilang dia akan menikahi mama kamu,” jawab Fabian langsung pada intinya, sontak Renata langsung terkejut. Tidak mungkin itu terjadi, Amelia baru saja berpacaran dengan Nathan. Tapi mereka sudah merencanakan pernikahan, apa mereka berdua gila? Pikir Renata saat itu juga. Mengapa Amelia seperti remaja yang sedang dimabuk cinta.
“Wow, itu sedikit mengejutkan untuk didengar. Aku merasa tidak keberatan mendengar itu, apa kamu keberatan?” ucap Renata.
“Ya, aku keberatan. Karena aku merasa ada yang janggal di antara mereka berdua, tapi aku juga tidak berhak ikut campur masalah mereka,” balas Fabian yang tiba-tiba menjadi dingin.
“Mengapa kamu keberatan?” tanya Renata yang penasaran.
“Karena aku merasa nyaman berada di dekat kamu, aku merasa kamu adalah penghangat bagiku. Kamu bagaikan matahari yang menyinari aku, matahari yang mengusir kegelapan, matahari yang menandakan hari baru telah tiba. Renata, aku rasa Aku jatuh cinta kepada kamu,” ucap Fabian, sontak Renata langsung terkejut. Renata tidak menyaka Fabian keberatan, karena dirinya. Renata pun menatap Fabian dengan begitu dalam, Renata mengetahui persis apa yang ia rasakan.
“Jika aku mengatakan, aku juga mencintai kamu. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Renata.
“Tidak ada, tapi aku akan mengklaim kamu sebagai milikku,” jawab Fabian.
“Berarti kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu?” tanya Renata sekali lagi, dan Fabian langsung mengangguk.
Fabian pun langsung memeluk Renata, Fabian merasa lega bisa mengeluarkan semua isi hatinya tentang Renata. Setelah mendengar penjelasan Fabian, Renata langsung mengakui jika ia juga mencintai Fabian. Renata berpikir jika ia akan jadi yang pertama dalam menyatakan cinta, namun ia salah. Fabian menyatakannya lebih dulu daripada Renata dan Renata langsung senang mendengar itu.
“Rena dan Om Fabian, mengapa lama sekali di luar?!” teriak Emily, yang langsung membuat mereka tersadar.
Bersambung.....