You're My Sunshiny

You're My Sunshiny
Long Time No See My Child



3 bulan berlalu, semua berjalan dengan lancar. Fabian dan Renata sudah mengenal satu sama lain lebih dalam. Tapi Fabian belum mengatakan kepada Vanessa tentang hubungannya dengan Renata, Fabian masih takut jika Vanessa tidak dapat menerimanya. Lambat laun Renata sudah mulai merasakan ada hal istimewa antara ia dan Fabian, namun Renata takut mengakui itu kepada Fabian. Sedangkan Fabian, ia tidak tahu dengan isi hatinya sendiri. Fabian merasa benar-benar nyaman di dekat Renata, tapi disisi lain Fabian takut untuk memulai hubungan dengan orang lain. Jadi mereka berdua hanya mengikuti alur yang mengalir tanpa adanya kepastian.


Sekarang Fabian sedang makan siang bersama Renata dan Emily. Mereka makan siang tidak jauh dari kantor, agar Fabian dan Renata tidak menghabiskan waktu di perjalanan. Karena tadi Renata dan Fabian sekalian menjemput Emily pulang sekolah. Sekarang mereka berdua sedang mendengarkan cerita Emily tentang sekolahnya hari ini.


“Baiklah, Nona Emily jadi kamu iri dengan teman barunya Ben,” goda Fabian dan Emily langsung mengangguk secepat kilat. Fabian pun tertawa kecil mendengar Emily yang begitu cemburu dengan teman baru Ben. Ditambah Emily mengatakan jika teman baru Ben pintar bermain bola, sedangkan Emily tidak sama sekali. Tapi Emily tidak memberitahu jika teman baru Ben ini perempuan atau laki-laki.


“Jadi Emily, siapa nama teman baru Ben ini?” tanya Renata.


“Tidak akan aku kasih tahu, nanti pasti Rena memilih bermain bersamanya,” jawab Emily yang cemburu buta, sontak Fabian dan Renata langsung tertawa mendengar itu. Bagaimana mereka bisa menanggapi cerita Emily, jika tidak memberitahu detail tentang teman baru Ben. Namun, itu terserah Emily, namanya juga anak kecil.


Makanan mereka pun datang dan mereka langsung memakannya. Setelah beberapa menit, tiba-tiba ponsel Renata terus berbunyi. Renata pun mengecek siapa yang mengirimkannya pesan, tapi saat melihat siapa yang mengirim Renata langsung malas membacanya. Bahkan ponsel Renata terus berbunyi hingga akhirnya Renata mematikan nada deringnya. Fabian yang melihat itu langsung curiga, tidak biasanya Renata memasang raut wajah seperti. Setahu Fabian hanya satu orang yang bisa membuat Renata seperti itu, yaitu Amelia.


Setelah makan siang, Emily tertidur pulas karena kekenyangan. Fabian pun mengendong Emily dengan hati-hati dan segera menidurkan Emily di mobil. Fabian melihat Renata untuk sekilas dan sepertinya Renata masih kesal dengan pesan yang ia dapat. Setelah itu Fabian duduk di kursi penumpang, sedangkan Renata mengemudi mobilnya. Sepanjang perjalanan Renata tidak mengatakan apa-apa, itu menandakan Renata tidak ingin diganggu. Renata yang selalu bercerita tentang segala hal, lalu tiba-tiba terdiam itu membuat Fabian sedikit terkejut. Setelah selesai mengantarkan Emily kembali ke rumah, Renata dan Fabian kembali ke kantor.


“Renata apa terjadi sesuatu?” Fabian akhir bertanya kepada Renata, saat mereka sudah berada di parkiran kantor.


“Tidak, hanya saja mama ingin aku bertemu dengan kekasihnya,” jawab Renata dengan nada malas.


“Lalu kenapa kamu memasang muka murung?” tanya Fabian lagi.


“Terasa aneh saja, tidak biasanya mama ingin mengenalkan kekasihnya kepada aku. Mama bilang hubungan kali serius,” jawab Renata dan Fabian terdiam dengan jawaban Renata. Fabian tidak tahu harus berbicara apa, karena ia tidak mengerti apa yang Renata rasakan. Akhirnya Fabian mengajak Renata untuk segera kembali ke kantor.


***


Malam harinya, Renata dan Emily sedang berada di restoran menunggu Amelia dan kekasihnya. Sebenarnya Renata tidak ingin membawa Emily, tapi Anastasia sedang berhalang untuk menjaga Emily. Dan Renata tidak terlalu yakin menitipkan Emily sendiri dengan orang lain. Terutama Emily hanya ingin Anastasia yang menjaganya, Emily tidak ingin orang lain selain Anastasia yang menjaganya.


“Rena, apa mamanya Rena masih lama?” tanya Emily.


“Mungkin sebentar lagi, mengapa Emily tidak suka ya?” ucap Renata yang khawatir Emily masih takut dengan Amelia.


“Tidak kok, karena ada Rena di sini,” jawab Emily sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Amelia datang bersama kekasihnya. Sungguh Renata benar-benar terkejut, karena kekasih Amelia kali ini terlihat sebaya dengan Amelia. Biasanya kekasih Amelia, selalu lebih muda dari Amelia. Bahkan ada satu ketika di mana kekasih Amelia lebih muda dari Renata, dan itu membuat Renata ingin muntah. Namun kali ini, mengapa kekasih Amelia begitu berbeda dengan yang lain, apa Amelia benar-benar akan serius dengan pria ini? Renata saja bingung dengan itu.


“Hai Renata,” sapa Amelia, Amelia dan kekasihnya pun duduk di hadapan Renata dan Emily.


“Perkenalkan saya Nathan. Ternyata kamu sudah besar ya Renata,” ucap Nathan, sontak Renata terkejut. Berarti ini bukan pertama kali Renata bertemu dengan Nathan. Renata berusaha mengingat di mana mereka bertemu. Renata pun ingat saat umurnya 8 tahun, Amelia sempat mengenalkan Nathan sebagai teman lelakinya.


Akhirnya mereka menghabiskan malam dengan bercerita dan menyantap makanan. Namun, Renata masih terus merasa canggung dengan sosok Nathan ini, untung saja ada Emily yang terus mengajaknya berbicara. Jadi Renata tidak perlu terlalu berbasa-basi dengan Nathan. Tapi sungguh dihati Renata sepertinya ada yang janggal tentang Nathan ini, entah mengapa Renata tidak menyukainya lelaki satu ini. Namun, terdengar Nathan begitu serius dengan Amelia, itu benar-benar membuat Renata curiga.


Setalah makan malam, Renata dan Emily pulang lebih dulu. Sepanjang perjalanan pulang Renata terus berpikir, siapa Nathan itu saat ia masih kecil. Renata begitu yakin jika Nathan bukanlah sembarang orang dan bukanlah orang yang baru Amelia kenal. Dan mengapa Amelia berkencan dengan teman lamanya? Itu membuat Renata pusing. Saat di rumah, Renata segera mencari album foto keluarganya, setelah menidurkan Emily.


Renata pun membuka album itu dan benarnya saja. Orang yang bernama Nathan itu ada di setiap acara penting keluarga Renata, bahkan di pernikahan kedua orang tuanya. Namun. di saat acara tahun baru, Renata melihat foto Nathan bersama seorang wanita yang sedang hamil dan seorang gadis kecil. Renata mengecek tanggal foto itu dan saat itu Renata belum lahir. Berati Nathan ini sudah memiliki istri dan anak, lalu ke mana istri dan anaknya sekarang. Namun, wanita itu terasa tidak asing untuk Renata, rasanya Renata pernah melihatnya. Renata pun tidak ingin memusingkan itu dan langsung pergi tidur.


***


Keesokan paginya, Renata dan Fabian sedang bersiap untuk rapat penting. Kali ini mereka kedatangan klien baru dan mereka ingin membuat kesan pertama dengan baik. Saat mereka sampai diruang rapat, mereka menunggu sebentar karena klien baru ini terlambat. Bahkan Renata sedikit gugup bertemu dengan klien baru ini, karena klien ini begitu penting untuk perusahaan. Sedangkan Fabian hanya terdiam dari tadi, tak ada ekspresi apu pun di wajahnya.


“Bagaimana kamu bisa santai, apa kamu tidak gugup?” tanya Renata yang duduk di samping Fabian.


“Tidak,” jawab Fabian singkat. Renata pun terkejut mendengar itu, bisa-bisanya lelaki ini tidak merasa gugup sama sekali.


Akhirnya klien baru itu datang. Namun, ekspresi wajah Fabian menjadi berubah, bahkan Renata melihat Fabian berkeringat. Tangan Fabian juga terlihat bergetar, Renata langsung menggenggam tangan Fabian. Agar Fabian tenang dan Fabian langsung berusaha tersenyum, walau terasa susah. Setelah rapat selesai, Fabian menjadi sedikit lebih tenang. Setelah ruang rapat sepi, tinggal Renata dan Fabian. Renata langsung bertanya kepada Fabian ada apa.


“Aku hanya merasa gugup sedikit, mengapa kamu tidak gugup sama sekali?” ucap Fabian.


“Jarang sekali kamu gugup. Dan sebagai informasi dia adalah kekasih mamaku,” balas Renata, sontak Fabian langsung memegang kedua bahu Renata. Fabian terlihat panik dan itu membuat Renata ketakutan. Renata bertanya mengapa Fabian menjadi seperti ini, namun Fabian hanya diam karena terkejut.


“Renata apa kamu yakin?!” tanya Fabian dengan suara lantang dan Renata langsung mengangguk.


“Renata kamu dengar, kamu harus jauhkan mama kamu dengan pria itu. Dia bukanlah orang yang baik, kamu bisa terluka dan Emily juga bisa terluka!” ucap Fabian.


“Fabian kamu kenapa, kenapa kamu begitu panik?” tanya Renata yang mulai khawatir, sontak Fabian langsung melepaskan pegangannya pada bahu Renata. Fabian berusaha mengatur nafasnya, agar tidak membuat Renata ketakutan dengan sikapnya yang spontan saat melihat pria itu.


“Renata, dia adalah ayahku. Karena dia mamaku–” Fabian tidak sanggup mengucapkan apa-apa, Renata pun langsung memeluk Fabian. Renata sempat terkejut mendengar itu, namun Renata rasa itu tidak penting. Yang penting baginya sekarang adalah Fabian, karena Fabian terlihat syok.


“Tenanglah aku di sini, kamu tidak perlu khawatir,” ucap Renata.


Bersambung......