
Malam harinya, pesta sudah selesai. Renata terlihat begitu lelah berhadapan dengan anak-anak sepanjang siang ini. Renata berniat untuk beristirahat, tapi Emily memaksa Renata untuk makan malam di restoran yang baru saja buka. Awalnya Renata menolak, tapi entah kenapa Emily bersih keras agar mereka datang ke sana. Mau tidak mau, Renata harus menuruti permintaan Emily.
Sebenarnya Emily juga merasa kasihan melihat Renata yang terlihat lelah, tapi Fabian bilang ini sungguh penting. Fabian berjanji pasti Renata akan menjadi senang karena kejutan dari Fabian, namun tetap saja Fabian tidak memberitahu apa kejutannya. Padahal Emily sudah membantu sebisanya, tapi Fabian tetap tidak memberitahu. Itu membuat Emily juga penasaran, ditambah Emily kangen dengan Fabian.
“Kamu tidak mau mengajak aku?” tanya Ben.
“Tidak, Ben sama Tante Alesya istirahat saja. Tenang saja nanti Emily bawakan makanan,” jawab Emily.
“Memangnya kenapa aku tidak boleh ikut?” tanya Ben sekali lagi, Emily pun langsung mendekat kepada Ben dan membisikkan rencana kejutan itu. Mendengar itu Ben langsung terkejut, tidak disangka Fabian akan memberikan kejutan kepada Renata. Ben langsung tidak sabar bertemu dengan Fabian.
“Pokoknya nanti kalau Emily sudah tahu kejutannya apa, Emily kasih tahu Ben deh,” bisik Emily.
“Janji ya, jangan buat aku penasaran dengan kejutan itu,” balas Ben dan Emily langsung mengangguk.
Emily pun segera pergi menghampiri Renata yang sudah siap dari tadi. Emily langsung masuk ke dalam mobil sambil tersenyum, seperti merasa begitu senang. Renata yang melihat merasa curiga, bisa dibilang hari ini Emily begitu aneh. Mulai dari tidak merasa sedih saat Fabian tidak datang, dan sekarang Emily tersenyum terus. Renata curiga Emily sedang jatuh cinta, tapi itu tidak mungkin Emily masih 10 tahun. Lagi pula pikiran Renata sepertinya terlalu jauh.
Sesampainya di restoran itu, Renata begitu terkejut dengan suasana restoran itu. Restoran itu terlihat seperti untuk orang berkencan dan bukan untuk makan malam biasa. Renata langsung melirik Emily, tapi Emily malah memasang tampang polos yang tidak mengetahui apa-apa. Padahal Emily yang membantu Fabian memilih restoran itu, namun Emily tidak boleh menunjukkan rasa senangnya. Pokoknya Emily begitu tidak sabar menunggu kejutan Fabian. Akhirnya Renata dan Emily masuk ke dalam dan duduk berhadapan.
“Rena, kenapa sih dari tadi lihat aku seperti itu?” tanya Emily yang merasa tidak enak Renata menatapnya terus-menerus.
“Habisnya kamu terlihat aneh hari ini,” ucap Renata.
“Ah, itu perasaan Rena kali,” sangkal Emily.
Tak lama kemudian Emily melihat dari kejauhan Fabian datang, sedangkan Renata tidak menyadari itu. Karena saat ini Renata tengah membelakangi Fabian. Emily yang melihat Fabian langsung berpura-pura tidak melihat apa-apa, agar Renata tidak melihat ke belakangnya. Kalau Renata melihat bisa-bisa rencana Fabian rusak.
“Rena, Emily ke toilet dulu ya,” ucap Emily yang ingin memberikan waktu berdua untuk Fabian dan Renata.
“Enggak mau Rena temani?” tanya Renata dan Emily langsung menggeleng kepala, lalu berlari ke toilet.
Renata pun membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Fabian. Entah mengapa Renata begitu merindukan Fabian, rasanya Renata tidak ingin terus berjauhan dengan Fabian. Renata meneteskan air mata dan air mata itu mengenai ponsel Renata. Dengan dari telunjuknya Renata menghapus air mata itu, lalu mengambil nafas dalam-dalam. Jujur saja Renata merasa lega walau hanya satu tetes air mata yang keluar. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Renata dan Renata langsung terkejut, namun Renata tambah terkejut saat ia melihat siapa itu.
“Aku juga merindukan kamu,” ucap Fabian sebagai balasan pesan yang Renata kirim.
“Kamu membuat aku terkejut,” balas Renata yang berusaha membendung air matanya.
“Mengapa kamu tidak suka aku di sini?”
“Mana mungkin aku tidak suka.”
Fabian pun langsung duduk di hadapan Renata. Fabian menghapus air mata Renata yang berjatuhan, Fabian tersenyum melihat itu. Fabian merasa senang sekaligus tidak menduga jika Renata menangis karena merindukannya. Tentu saja Fabian juga merindukan Renata, di dalam lubuk hati Fabian, Fabian ingin sekali bertemu Renata saat mereka berjauhan. Renata yang melihat Fabian tersenyum langsung tersenyum juga. Renata begitu senang Fabian di hadapannya.
“Jangan menangis, aku sudah ada di sini,” ucap Fabian menghapus air mata Renata, yang berjatuhan.
Tak lama kemudian Emily datang sambil tertawa kecil. Melihat itu Renata langsung melirik kepada Emily, Renata sudah menduga jika Emily tidak biasa hari ini. Sedangkan Fabian berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa, karena Fabian tidak tega menertawakan Renata. Padahal Fabian ingin memuji betapa pintarnya Emily dalam menyimpan rahasia, tapi Fabian tidak tega melihat Renata. Emily pun menghapus sisa-sisa air mata Renata dan meminta maaf kepada Renata.
“Sudah ah, jangan menangis. Bian mau memberikan kejutan tahu,” ucap Emily yang sudah tidak tahan.
“Kejutan?” tanya Renata langsung melirik kepada Fabian.
“Iya, kejutan spesial, bahkan aku tidak tahu,” ucap Emily.
Fabian pun berdiri di hadapan Renata, melihat itu Emily langsung bersembunyi di belakang Renata agar tidak merusak momen. Fabian menggenggam tangan kanan Renata dan mengecupnya. Fabian pun berlutut dengan satu kaki dan mengambil sesuatu dari sakunya. Fabian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil, dan tepat di hadapan Renata, Fabian membuka kotak itu. Terlihat sebuah cincin berlian yang begitu indah membuat Renata terpesona.
“Renata,” ucap Fabian dengan suara begitu halus.
“Belakang ini hubungan kita menjadi sedikit renggang dan aku khawatir jika dibiarkan akan semakin renggang. Akhirnya aku memutuskan jika aku sudah cukup mencari kebahagiaanku, aku ingin memperbaiki satu-satunya hal baik dimasa terkelam ku, yaitu kamu Renata.” Ucap Fabian.
“Fabian, aku tidak bisa berkata-kata. Kamu tidak perlu melakukan semua ini bahkan menyebut aku hal baik dimasa kelam kamu,” balas Renata.
“Aku tahu kamu akan menduganya, tapi tetap saja. Dari sekian banyak pria di luar sana, kamu memilih aku. Yang kamu tahu saat itu aku bukanlah yang terbaik, bisa dibilang aku masih jauh dari kata mental yang sehat. Tapi kamu mendekati aku seakan tidak ada masalah di dalam diriku.”
“Maka dari itu, Renata, maukah kamu menikah dengan aku?” tanya Fabian sambil memegang cincin berlian itu.
“Tentu saja aku mau,” jawab Renata dengan air mata bahagia terus mengalir.
“Jadi kalian berdua akan menikah?” tanya Emily yang sedari terharu bahkan menangis mendengar semua hal yang diucapkan Fabian. Mendengar pertanyaan Emily, Renata dan Fabian langsung mengangguk secara bersamaan. Tentu saja mereka akan menikah, itu adalah mimpi mereka berdua selama ini.
Fabian pun langsung memasangkan cincin berlian itu dijari manis Renata, lalu bangun untuk memeluk Renata. Tidak lupa Fabian ikut memeluk Emily, dengan senang hati Emily langsung memeluk Renata dan Fabian. Semuanya berjalan begitu lancar dan di luar dugaan Renata, Renata tidak mengira jika Fabian akan melamarnya. Renata mengira Fabian ingin memutuskan hubungan mereka.
Pada akhirnya Fabian kembali ke tempat ternyaman, yaitu Renata. Selama ini Fabian mencari hal baru dan berusaha berdamai dengan masa lalu, tapi Fabian tidak pernah bisa melepaskan pikirannya dari Renata. Setiap detik di kegiatannya Fabian terus memikirkan Renata, bahkan dimimpinya Renata selalu muncul. Akhirnya Fabian menyadari jika pelengkap hidupnya adalah seorang Renata. Butuh 3 tahun untuk menyadari itu, tapi itu semua terbayar, karena Fabian akan menikahi wanitanya.
Pada akhirnya juga kesabaran Renata terbayar. Pikiran Renata sudah mulai menyadarkan Renata, jika Fabian dan dirinya tidak bergerak hanya diam di tempat, mereka mungkin harus berpisah. Tapi perbuatan Fabian hari ini membuat semua pikiran buruk Renata hilang, Fabian benar-benar mencintainya. Bagaimana mungkin Renata bisa meragukan hal seperti itu, tapi walaupun Renata ragu. Fabian selalu mempunyai cara agar keraguan itu hilang. Itu yang membuat Renata terus mencintai Fabian.
“Baiklah, sekarang ayo fokus kepada yang berulang tahun,” protes Emily.
“Tentu saja Emily, bagaimana mungkin aku melupakan gadis yang berulang tahun,” balas Fabian sambil tertawa kecil.
“Bukannya kamu sudah makan kue tadi?” tanya Renata.
“Ah, tapi aku masih mau kue,” ucap Emily sambil memohon.
“Jadi kita mau makan malam di sini atau membeli kue?” tanya Fabian.
“Makan di sini lalu beli kue.” Jawab Emily.
“Baiklah nona Emily, ayo kita makan malam dulu,” ucap Fabian.
Akhirnya mereka menghabiskan makan malam bersama, setelah makan malam mereka langsung sibuk mencari kue yang Emily inginkan. Setelah membeli kue mereka langsung kembali ke rumah Renata, dan Emily langsung menceritakan semua kepada Ben dan Alesya. Mendengar itu Alesya langsung terkejut, tidak disangka Fabian melamar Renata di hari ulang tahun Emily. Alesya ingin heran, tapi Fabian begitu mencintai Renata.
Tidak lupa Fabian memberikan hadiahnya untuk Emily. Hadiah itu terlihat begitu besar dan saat Emily membukanya, hadiahnya adalah sebuah rumah boneka. 3 tahun yang lalu Fabian pernah berjanji akan memberikan Emily rumah boneka, jika Emily mendapatkan nilai bagus. Emily memang mendapat nilai bagus, tapi ia tidak pernah mendapat rumah boneka dari Fabian. Selama ini Emily mengira jika Fabian sudah lupa tentang hal itu, ternyata Emily salah. Fabian mengingatnya dan memberikannya.
“Mungkin rumah boneka terlalu tua untuk kamu, tapi aku sudah berjanji,” ucap Fabian dan tanpa aba-aba Emily langsung memeluk Fabian.
“Aku tidak peduli jika aku terlalu tua untuk rumah boneka. Yang aku pedulikan adalah itu hadiah dari Bian, walau harusnya Bian memberikannya tiga tahun yang lalu, tapi tetap saja Fabian mengingat janji itu. Bagi Emily tidak ada yang lebih baik dari menepati janji,” ucap Emily.
“Jadi, apakah Bian mendapatkan restu untuk menikahi Renata?” Tanya Fabian dengan nada bercanda.
“Bian!! Kalau sudah mengetahui jawabannya jangan bertanya-tanya lagi. Lagian mana mungkin Emily tidak merestui Bian menikahi Rena, Emily tidak sejahat itu,” jawab Emily dengan penuh emosi.
Mungkin Emily tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hubungan Fabian dan Renata, tapi dibalik itu Emily begitu peduli dengan mereka berdua. Emily selalu berdoa agar kedua orang itu tidak berpisah dan selalu bersama. Doa Emily pun diterima, Renata dan Fabian tidak akan berpisah ataupun bertengkar. Mereka akan menikah dan itu membuat Emily senang, ini adalah momen yang Emily tunggu-tunggu selama ini. Akhirnya momen itu tiba dan menjadi hal yang paling berkesan untuk Emily.
Yang Emily harapkan adalah hal yang mudah, Emily hanya berharap semua berjalan dengan begitu baik. Tidak ada yang boleh mengganggu keluarga kecil Emily, apalagi mengganggu Renata. Betapa bersyukurnya Emily mempunyai Renata dan Fabian disisinya.
***
Pukul 12.30 malam, semua orang sudah tertidur, terkecuali Renata dan Fabian. Fabian dan Renata sibuk bertukar cerita di ruang keluarga. Fabian sedari tadi sibuk memperhatikan Renata yang sibuk bercerita, wajah Renata membuat Fabian begitu antusias mendengarkan ceritanya. Bahkan mata Renata berbinar-binar seperti anak kecil yang sedang bercerita, itu membuat Fabian benar-benar gemas.
“Fabian, aku mau bertanya?” tanya Renata yang mengakhiri ceritanya.
“Kenapa?” jawab Fabian dengan suara pelan.
“Apa kamu sekarang bahagia? Karena selama ini kamu tidak memberitahu aku detail tentang perasaan kamu, jangan jadikan itu kebiasaan,” ucap Renata.
“Kamu ini ada-ada saja, lihat saja dari wajahku. Apa aku terlihat seperti orang sedih? Lihat senyuman di wajahku, apa kamu mengira itu semua palsu?” balas Fabian.
“Tentu saja tidak, kamu itu bukan orang yang pintar berbohong. Aku hanya penasaran dengan perasaan kamu sekarang.”
“Baiklah, selama ini aku begitu bahagia dan ternyata saran kamu begitu berguna. Jika kamu ingin mengetahui perasaan aku tentang ayahku, aku sudah memaafkannya. Walau awalnya terasa susah, namun aku berhasil mengikhlaskan semuanya, tapi ada beberapa hal dari dirinya yang tidak bisa aku maafkan.”
“Lalu, bagaimana dengan mama kamu?”
“Jika kamu tanya seperti itu, tentu aku sudah mengikhlaskan kepergian mama. Tapi terkadang aku teringat dengan kenangan indah bersama mama, terkadang aku menangis mengingat itu. Aku tidak bercerita kepada kamu agar kamu tidak khawatir.”
“Alasan yang klasik, aku sudah bosan mendengar itu. Tapi aku menghargai kejujuran kamu, aku juga terkadang merindukan mama, lalu aku mengingat semua hal jahat yang mama lakukan. Terkadang aku rasa aku harus berbicara dengan mama sekali lagi saja, tapi semuanya terasa terlambat. Jadi aku hanya bisa berdoa agar mama tidak melakukan hal yang membuat aku pusing.”
Fabian pun tertawa dengan penuh tekanan, karena Fabian menganggap itu adalah hal lucu yang menyakitkan. Membicarakan itu terkadang membuat luka lama Fabian terbuka kembali, maka dari itu Fabian jarang bercerita tentang perasaannya. Tapi respons yang Renata berikan selalu begitu positif saat ia bercerita, itu yang membuat Fabian mencintai Renata.
“Renata,” panggil Fabian dengan suara pelannya.
“Kenapa lagi,” balas Renata.
“Kamu ingin menikah di mana?” tanya Fabian, mendengar itu Renata langsung terkejut.
“Kenapa tiba-tiba jadi bahas menikah sih,” ucap Renata yang salah tingkah.
“Aku tidak perlu panik, aku sudah berbicara dengan asisten pribadi aku tentang pernikahan impian kamu,” balas Fabian sambil tertawa kecil.
“Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Emily.” Mendengar itu Renata langsung tertawa, bisa-bisa Fabian mengatakan Emily adalah asisten pribadinya. Tapi itu membuat Renata senang, karena itu membuktikan jika Fabian benar-benar menyayangi Emily. Dan seperti Emily begitu antusias dengan pernikahan Fabian dan Renata, Renata yakin pasti Emily sudah mengaturnya.
“Sudah ah, lebih baik kita tidur sekarang,” ucap Renata.
“Baiklah, sampai bertemu besok saat bangun tidur,” balas Fabian, sontak Renata langsung bangun dari duduknya dan segara pergi ke kamarnya.
“Selamat tidur dan bermimpi indah,” ucap Renata.
“Pasti aku akan mimpi indah jika bertemu kamu.” Mendengar jawaban Fabian, Renata tidak menjawab apa-apa ia langsung buru-buru pergi ke kamarnya. Melihat itu Fabian segara pergi untuk tidur nyenyak dan tentu memimpikan Renata. Hari ini begitu berkesan untuk Fabian maupun Renata, jadi pasti mereka akan bermimpi indah.
...THE END...