
2 minggu kemudian, di hari pernikahan.
Renata sekarang sedang menemani Amelia untuk bersiap-siap untuk menaiki altar. Renata begitu gugup karena ia takut jika pernikahan ini berjalan lancar. Ditambah Fabian belum datang sama sekali, Fabian berjanji akan datang tepat waktu. Tapi tetap saja Renata takut jika semuanya terlambat.
“Mah, apa Mama yakin akan menikah sekarang?” tanya Renata.
“Tentu saja, mengapa dari kemarin kamu terus bertanya seperti itu. Mama sudah bilang yang kamu bilang itu tidak ada benarnya,” balas Amelia sambil tersenyum kepada Renata.
“Tetap saja aku khawatir, apa Mama tidak takut sama sekali?” tanya Renata sekali lagi, sontak Amelia langsung menggeleng kepala.
“Daripada kamu terus khawatir, mending kamu cari udara segar di luar sana,” perintah Amelia.
Akhirnya Renata segera keluar untuk mencari udara segar, kali ini Renata Benar-benar sendiri. Renata menitipkan Emily kepada Anastasia, karena Amelia tidak ingin Emily berada di pernikahan. Renata pergi ke taman samping gedung, taman yang sudah di hias untuk pesta nanti. Renata pun duduk di salah satu kursi di sana dan segera menghubungi Fabian, namun ponsel Fabian tidak aktif. Renata mulai khawatir jika terjadi sesuatu kepada Fabian, ditambah keamanan di sini begitu ketat.
“Menunggu seseorang.” Nathan yang tiba-tiba datang menghampiri Renata.
“Bukan urusan Anda!” ucap Renata dengan tegas.
“Hanya ingin mengingatkan kamu jika Fabian tidak akan datang, saya juga sudah menyuruh penjaga agar tidak membiarkan Fabian masuk,” balas Nathan sambil tersenyum jahat kepada Renata. Renata pun pergi dari hadapan Nathan saat itu juga, melihat senyuman pria itu membuat Renata ingin muntah.
Renata pun segera bergegas pergi saat melihat pengantar bunga sudah datang. Renata segera menghampiri truk itu dan tersenyum lebar. Pengantar bunga itu adalah Fabian yang sedang menyamar, Fabian bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membaca apa yang akan Nathan lakukan. Fabian sudah mengetahui jika Nathan akan melakukan apa pun agar tidak ada yang merusak pernikahannya. Fabian berada di sana untuk memberikan polisi aba-aba.
***
2 Minggu sebelum pernikahan
Fabian memberanikan diri untuk pergi ke kantor polisi untuk melaporkan ayahnya. Fabian sudah menyiapkan semua bukti yang dia butuhkan, Fabian mengambil catatan medis Vanessa. Fabian sudah mengetahui sejak awal jika Nathan menyogok pihak rumah sakit jiwa, untuk menutupi tentang keadaan Vanessa saat pertama kali masuk dalam rumah sakit jiwa. Tentu saja Fabian akan melaporkan jika pihak rumah sakit jiwa berbohong dan juga ayahnya.
“Jadi maksud Anda, semua ini sudah terjadi sejak lama?” tanya polisi kepada Fabian, sontak Fabian langsung mengangguk.
Polisi sempat curiga kepada Fabian, karena Fabian terlihat begitu aneh dan seperti sedang menghindari seseorang lalu Fabian terlihat begitu takut. Polisi pun segera mengecek identitas Fabian dan mengecek latar belakang Fabian. Setelah lama mengecek, polisi menyadari jika Fabian pernah di interogasi tentang perampokan di rumahnya yang menyebabkan ibunya tidak bisa berbicara. Dan polisi yang saat itu menginterogasi Fabian, mengatakan sifat Fabian seperti orang yang sedang berbohong.
Fabian pun menjelaskan semuanya dengan begitu gugup, awalnya polisi kurang percaya. Namun saat mengetahui nama ayahnya Fabian, polisi langsung percaya. Polisi menyuruh Fabian pulang dan akan segera menghubungi Fabian. Setelah seminggu aparat menghubungi Fabian lagi dan meminta kesaksian Fabian. Karena ternyata beberapa tahun lalu, ada beberapa orang yang melaporkan tentang Nathan dalam tiga hal yang berbeda, yaitu kasus penganiayaan terhadap anak, kasus pemalsuan dokumen, dan kasus penyuapan. Namun semuanya orang itu menarik kembali laporannya dan menyatakan itu semua salah. Polisi meyakini jika pelaporan itu di ancam atau di suap, tapi mereka tidak bisa melanjutkan laporan itu karena tidak ada bukti sama sekali dan juga saksi.
Setelah mendengar itu semua Fabian langsung tidak percaya, karena ia tidak menduga jika Nathan akan sepicik itu. Fabian hanya membenarkan tentang kasus penganiayaan dan penyuapan, setelah itu Fabian menjadi sering datang ke kantor polisi sebagai saksi kejahatan Nathan. Tidak lupa dengan Alesya, dengan adanya dua saksi aparat menjadi lebih muda menyelidiki tentang Nathan.
***
3 jam sebelum pernikahan
“Tenang saja, setelah ini akan ada polisi yang datang menahan pria itu,” bisik Fabian tepat di telinga Renata.
Renata pun tersenyum mendengar itu, Renata segara pergi untuk menghampiri Amelia. Renata tidak bisa berlama-lama dengan Fabian karena nanti ada seseorang yang curiga, dan juga Renata mempunyai Rencananya sendiri untuk Amelia. Saat memasuki ruang pengantin, Renata melihat Amelia yang sudah begitu cantik memakai gaun pengantin. Amelia hanya perlu menyelesaikan riasan wajahnya.
“Mama cantik deh,” puji Renata. Memang Amelia cantik tapi kecantikan Amelia tidak cocok untuk seseorang Nathan yang licik.
“Kamu bisa saja, sini duduk dekat Mama,” ucap Amelia sambil tersenyum kepada Renata. Seketika Renata langsung duduk dan melihat jam di dinding. Sebentar lagi pernikahan akan di mulai, berarti ini sudah saatnya Renata menjalankan misinya. Walau terasa berdosa tapi Renata harus melakukan ini.
Renata segera mengambilkan botol mineral untuk Amelia karena Amelia terlihat dehidrasi. Renata juga menawarkan minum kepada perias wajah Amelia. Setelah beberapa menit perias wajah Amelia, segera keluar untuk buang air kecil. Sekarang hanya ada Renata dan Amelia di ruang pengantin. Saat ingin duduk kembali di kursi, ia ‘tidak sengaja' menjatuhkan cermin kecil dan memecahkannya.
“Renata apa kamu tidak apa-apa?” tanya Amelia saat melihat pecahan kaca yang berhamburan.
“Ah, aku tidak apa. Biar aku bereskan, Mama diam saja,” ucap Renata langsung mengambil pecahan kaca itu. Dengan sengaja Renata mengenai pecahan kaca itu ke telapak tangannya, Amelia yang melihat itu begitu panik. Darah yang keluar dari telapak tangan Renata begitu banyak. Amelia segera mengeluarkan tisu dan membersihkan tangan Renata, Amelia pun berencana untuk meminta tolong keluar. Namun saat Amelia ingin membuka pintunya, pintu itu terkunci.
“Kenapa pintunya tidak bisa di buka?!” tanya Amelia.
“Mungkin pintunya macet, tunggu saja pasti nanti ada yang lewat,” dusta Renata.
Renata sudah merencanakan itu semua, Renata sengaja memberikan botol mineral. Agar perias wajah itu bisa keluar dan menguncinya dari luar, tentu saja agar Amelia tidak mendengar karena Renata sengaja menjatuhkan cermin itu. Karena suara pecahan begitu kencang, Amelia tidak menyadari jika ada seseorang yang mengunci pintunya.
Bersambung....