You're My Sunshiny

You're My Sunshiny
Sweet Memories part 2



Setelah berkencan, Fabian dan Renata pergi ke apartemen Fabian. Fabian sedikit gugup untuk pergi ke sana. Karena setelah Vanessa pergi Fabian terus menginap di rumah Alesya. Terakhir kali Fabian berada di sini keadaan begitu berantakan, walau Alesya mengatakan sudah ada yang membersihkan. Tapi Fabian masih ragu untuk masuk ke dalam, karena ia akan mengingat betapa hancurnya ia saat Vanessa meninggal.


“Jangan takut, aku ada di sini,” ucap Renata yang berusaha membuat rasa takut Fabian hilang.


Fabian pun langsung menggenggam kenop pintu, dengan jantung berdebar Fabian langsung membuka pintu itu. Saat melihat isi ruangan yang sama, Fabian langsung menghela nafasnya. Renata yang melihat itu langsung menyuruh Fabian untuk masuk, tidak lupa Renata menggenggam tangan Fabian. Hal yang pertama Fabian tuju adalah pianonya, karena Fabian takut piano itu lecet. Ternyata piano itu baik-baik saja, Fabian sempat takut jika ia menghancurkan piano itu. Saat mendapatkan kabar Vanessa meninggal, Fabian langsung emosi dan menghancurkan semua benda yang ada di apartemen.


Fabian langsung menyentuh tuts piano, dan berusaha berbaur lagi dengan keadaan di apartemennya. Renata yang melihat itu langsung tersenyum, Renata tahu jika Fabian sudah membaik. Tidak ada lagi Fabian yang pesimis, itu membuat Renata senang sekaligus bahagia untuk seorang Fabian. Renata berharap Fabian akan terus seperti ini walaupun Renata harus pergi dan tinggal jauh dari Fabian.


“Jadi bagaimana, apa kamu sudah berdamai dengan semua ini?” tanya Renata.


“Mungkin sebagian, tapi aku akan berusaha untuk berdamai dengan semuanya,” jawab Fabian.


“Jadi apa yang sekarang akan kamu lakukan?” tanya Renata sekali lagi.


“Setelah berpikir lama, aku ingin melakukan apa yang kamu sarankan. Mencari hobi baru dan berusaha menjadi orang yang lebih baik, tidak lupa untuk berusaha mencintai diriku sendiri.” Mendengar itu Renata langsung tersenyum. Akhirnya kebahagiaan yang Fabian mau bisa ia gapai.


“Lalu, setelah aku pergi kamu akan melakukan apa?” tanya Renata yang semakin penasaran.


“Kamu tahu setelah kasus pria itu, aku dan Alesya mendapatkan hak waris kami berdua. Aku berpikir untuk tidak mengambil kekuasaan di sana, setidaknya untuk setahun atau dua tahun. Karena aku ingin mengejar mimpiku.”


“Mimpi apa?”


“Entah, saat kecil aku mempunyai banyak mimpi yang belum terpenuhi. Jadi bisa di bilang mimpiku begitu banyak dan aku ingin menuntaskan satu-satu. Setelah menyelesaikan mimpiku, pasti orang yang pertama aku temui adalah kamu.”


“Kamu bisa saja, aku jadi terharu tahu.” Mata Renata mulai berkaca-kaca mendengar itu semua. Renata ikut bahagia untuk Fabian, karena apa pun itu Renata akan mendukung Fabian. Walaupun Renata akan berjauhan dengan Fabian, tapi itu yang terbaik untuk mereka berdua.


“Lalu jika kamu tidak mengambil ahli perusahaan ayah kamu, siapa yang menangani?” tanya Renata.


“Tentu saja Alesya, asal kamu tahu itu adalah mimpi Alesya sejak kami kecil. Jadi aku memberikan kesempatan untuk Alesya agar memenuhi mimpinya, setelah selesai dengan perjalananku, aku akan membantu Alesya.”


“Perjalanan ke mana?”


“Aku lupa memberitahu, aku sudah berhenti bekerja. Besok pagi setelah kamu pergi, aku akan keluar negeri.”


***


Keesokan harinya, Fabian mengantarkan Renata dan Emily ke bandara. Sedari tadi Emily terus berada di gendongan Fabian, Emily tidak mau berpisah dengan Fabian begitu cepat. Tentu saja Fabian memaklumi itu, Emily dan dirinya mempunyai ikatan yang spesial. Fabian juga adalah orang yang begitu spesial untuk Emily, jadi tidak mudah untuk Emily meninggalkan Fabian. Walaupun Fabian berjanji akan sering menghubungi Emily, tapi tetap saja rasanya akan berbeda.


Sedangkan Renata sedari tadi tidak mengucapkan apa-apa, bahkan dalam perjalanan ke bandara Renata hanya terdiam. Renata sedang menahan rasa sedihnya, karena harus berpisah dengan Fabian. Renata tidak mau terlihat sedih, karena harus berpisah dengan Fabian. Tentu saja Fabian mengetahui itu, maka dari itu Fabian tidak mengajak Renata berbicara sedari tadi. Fabian juga tidak mau terlihat sedih karena Renata harus pergi.


“Janji juga sama Rena,” ucap Emily, tiba-tiba suasana menjadi canggung. Renata dan Fabian hanya bertatap-tatapan, mereka bingung ingin memulai bagaimana. Renata juga sedari tadi seperti ingin menangis, Fabian jadi serba salah jika ingin mengucapkan sesuatu kepada Renata.


“Kenapa malah lihat-lihatan seperti itu?” tanya Emily yang bingung.


“Eh iya, Renata aku janji akan terus menghubungi kamu,” ucap Fabian dan Renata hanya terdiam.


“Rena jawab dong!”


“Fabian, terima kasih sudah mencintai aku,” ucap Renata yang mengeluarkan air mata.


“Harusnya aku yang berterima kasih, kamu mencintai aku dan menerima aku apa adanya. Kamu membantu mama agar aku keluar dari hidupku yang kelam, kamu juga yang membuat hidup kelamku sedikit berwarna. Aku mencintai kamu Renata,” balas Fabian.


“Berjanjilah jika kamu merasa sedih kamu akan menghubungi aku, jangan menahan rasa sakit itu sendiri. Walaupun berjauhan aku akan tetap berusaha menjadi sandaran kamu di saat kamu butuh.” Seketika mata Renata langsung di banjiri air mata, padahal Renata berjanji tidak akan menangis saat pergi. Ternyata hatinya berkata lain.


Ternyata sampai sini saja mereka bisa saling menguatkan, setelah ini mereka akan berpisah memperbaiki diri masing-masing. Melupakan dosa-dosa kedua orang tua mereka di masa lalu dan memulai lembaran baru. Lembaran baru yang akan membuat mereka menjadi lebih baik dan lebih dewasa, tidak lupa lebih bahagia dari sebelumnya. Walaupun berpisah percayalah hati dan cinta mereka tetap satu, Fabian akan terus mencintai Renata begitu juga sebaliknya. Jadi tidak perlu mengkhawatirkannya apa pun, karena bagaimanapun juga tidak ada yang bisa menggantikan Renata di hati Fabian begitu juga sebaliknya.


“Ih, kenapa malah bicara yang sedih-sedih sih. Katanya tidak ingin menangis tapi Rena menangis,” protes Emily.


“Emily, pasti Bian akan merindukan betapa cerewetnya Emily,” ucap Fabian.


“Memangnya Emily cerewet, perasaan Bian saja kali,” bela Emily.


“Memang kamu cerewet kamu saja yang tidak sadar Emily sayang,” canda Renata.


“Baiklah karena kita mau berpisah, Emily tidak mau bertengkar, jadi Emily terima jika di bilang cerewet.”


Pengumuman mengatakan jika pesawat Renata sebentar lagi akan berangkat. Fabian langsung menurunkan Emily dari gendongnya, dan Emily langsung menggandeng tangan Renata. Emily melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada. Fabian pun memeluk Renata sebagai tanda selamat jalan.


“Aku mencintai kamu Fabian.”


“Aku juga mencintai kamu Renata.”


Setelah mengucapkan hal itu, Renata dan Emily langsung berlari agar tidak ketinggalan pesawat. Sekarang hanya ada Fabian yang menunggu sendirian untuk penerbangannya. Rasanya seperti tidak nyata untuk Fabian, tapi semua itu terjadi. Fabian berpisah dengan Renata dan mungkin tidak akan bertemu selama bertahun-tahun. Entah kapan Fabian bisa bertemu dengan Renata lagi, walaupun seperti itu hati Fabian tetap milik Renata. Karena Renata adalah cinta pertamanya setelah Vanessa. Jadi tidak mungkin Fabian bisa membuang Renata begitu saja dari hatinya. ‘Selamat tinggal’ bukanlah hal yang tepat untuk mereka, tapi ‘sampai berjumpa kembali’ adalah yang paling tepat.


Bersambung......