
Seminggu berlalu, Fabian masih belum bisa menemui Renata. Sepertinya Renata benar-benar marah kepada Fabian. Renata bahkan tidak membalas pesan Fabian atau menerima telepon dari Fabian. Fabian sungguh bingung bagaimana harus meminta maaf kepada Renata, ditambah Renata akan pergi lusa. Itu berarti Fabian harus cepat-cepat meminta maaf kepada Renata, atau tidak Renata akan pergi begitu saja.
Sekarang Fabian sedang berada di rumah sakit jiwa, untuk mengambil barang-barang Vanessa. Walau sebagian barang di ambil oleh polisi sebagai bukti, tapi masih ada yang tersisa. Yang tersisa hanya foto-foto, album foto yang Fabian berikan waktu itu, dan sebuah buku kecil. Fabian membawa barang-barang itu pulang bersamanya. Saat Fabian ingin pergi, tapi tiba-tiba perawatan memanggil Fabian dan memberikan hadiah. Hadiah itu dari Vanessa untuk Fabian, Vanessa berencana memberikan saat ulang tahun Fabian. Tapi Vanessa tidak bisa. Fabian mengambil hadiah itu lalu pergi dari rumah sakit jiwa.
Sesampainya di rumah, Fabian langsung menaruh barang-barang Vanessa di kamarnya. Fabian tidak sabar membuka hadiah itu, jika di liat itu seperti buku. Saat Fabian membuka itu benar-benar buku, dan terdapat tulisan tangan Vanessa. Buku itu terlihat sudah tua, tapi tidak ada yang rusak sama sekali. Fabian membuka buku itu, di halaman pertama buku itu terdapat tanggal di mana Fabian lahir dan beberapa foto. Di setiap halaman ada foto yang di cantumkan dan pesan Vanessa untuk Fabian.
“Aku selalu mengharapkan seorang anak lelaki dan hari ini aku mendapatkannya. Bayi itu terlihat begitu manis, aku berharap anakku bisa menjadi anak yang kuat.” Tulisan di halaman pertama itu membuat Fabian merindukan ibunya. Fabian membalik lagi halaman itu dan membacanya dengan begitu lantang.
“Hari ini Fabian berulang tahun. Tak disangka Fabian sudah berumur 1 tahun, padahal kemarin dia masih terlihat merah. Mama berharap kamu menjadi anak yang baik.”
Fabian pun lanjut membaca setiap halaman. Setiap Fabian berulang tahun pasti selalu ada pesan dari Vanessa. Fabian tidak pernah mengetahui jika Vanessa membuat buku ini dan mengambil foto untuk mengabadikan kebahagiaan. Fabian pun tiba di halaman terakhir buku itu. Pesan yang begitu panjang untuk Fabian, Fabian merasa belum siap membaca itu. Tapi pesan itu terlihat penting. Fabian pun menyiapkan diri untuk membaca pesan terakhir itu.
Fabian putra kecil mama. Maaf mama membuat kamu terlibat masalah mama dan karena itu Fabian merasa bersalah. Fabian tenang saja ini bukan salah Fabian, ini salahnya mama tidak menjaga diri mama sendiri. Jadi Fabian jangan merasa bersalah lagi saat itu Fabian masih kecil jadi tidak mengerti apa-apa. Mama hanya berharap Fabian tidak terus merasa bersalah dan merasa mempunyai hutang budi kepada mama. Mama tidak ingin Fabian terus menjaga mama hingga melupakan hidup kamu sendiri. Pasti kamu ingin mempunyai orang tua yang akur dan menjalani hidup normal seperti anak lain, maaf mama tidak bisa memberikan itu. Mama harap Fabian tidak terus seperti ini, banyak diam, tidak mau berteman sama sekali, menjauh dari orang yang Fabian sayangi. Mama hanya takut kamu menjadi menderita hanya karena melihat semua itu. Ternyata yang mama takutkan terjadi, kamu menjadi tertutup mama tidak tahu bagaimana harus membuat kamu ceria lagi. Mama hanya berharap sesuatu hari nanti Fabian memaafkan diri sendiri. Mama tahu Fabian membenci diri sendiri, maka dari itu Fabian tolong maafkan diri kamu. Karena mama tidak bisa terus bersama Fabian begitu juga yang lain. Semoga kamu bahagia putra kecil mama.
Fabian langsung menutup bukunya dan menangis. Tanggal di halaman terakhir, itu adalah tanggal seminggu setelah Vanessa tidak bisa berbicara, setelah itu Vanessa masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Saat itu Fabian benar-benar terus menyalahkan dirinya sendiri, Fabian tidak tahu jika Vanessa menyadari hal itu. Ternyata yang Renata bilang itu benar, Fabian tidak pernah memberikan kesempatan untuk mencintai dirinya sendiri. Fabian baru menyadarinya sekarang setelah membaca halaman terakhir buku itu. Fabian pun membaringkan tubuhnya di ranjang dan berusaha menenangkan pikirannya.
“Terima kasih mah, sudah mengingatkan Fabian.”
***
Siang harinya, Fabian pergi ke rumah Alesya. Fabian harus membicarakan hal ini kepada Alesya. Pasti Alesya sudah mengetahui buku ini sejak lama, dan mungkin Alesya juga mempunyai- Nya. Saat Alesya melihat Fabian, Alesya mengetahui apa yang akan Fabian bicarakan. Sepertinya sudah saatnya Alesya membicarakan ini kepada Fabian, Alesya tidak tega melihat Fabian yang terus seperti ini. Alesya menyuruh Fabian menunggu di ruang tamunya, Alesya akan menunjukkan bukunya.
“Ini, kamu bisa lihat buku aku.” Alesya memberikan bukunya kepadanya, dan Fabian segera membuka buku itu.
Fabian membaca setiap halaman di buku itu, melihat apa yang di tinggalkan Vanessa untuk Alesya. Vanessa memberi pesan untuk Alesya agar selalu menjaga Fabian, seakan itu pertanda Vanessa akan pergi. Melihat buku itu membuat Fabian lega, pertanyaannya selama ini sudah terjawab. Mengapa Fabian tidak bisa bahagia, karena Fabian tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Vanessa berhasil menyadarkan Fabian, sayang sekali Fabian tidak bisa mengucapkan terima kasih kepada Vanessa.
“Jujur saja, dulu aku merasa iri dengan kamu. Mama selalu memedulikan kamu dan selalu melindungi kamu, seakan aku tidak penting. Tapi saat aku membaca buku itu, aku menyadari aku sama saja seperti mama. Maka dari itu pria itu begitu membenci aku, jika bisa dibilang semua orang selalu memperhatikan kamu bahkan ayah sekali pun,” ucap Alesya.
“Tapi tentu saja, aku tidak akan seperti mama. Yang hanya diam di tempat saat mengalami kekerasan, mama bilang aku adalah versi dia yang lebih baik. Maka dari itu mama hanya memperhatikan kamu, karena kamu begitu rapuh. Mama berusaha membuat kamu lebih baik, tapi mama menyadari kamu tidak akan pulih jika kamu tidak memaafkan diri kamu,” tambah Alesya.
“Terima kasih kak, kakak rela mama lebih menyayangi aku. Bahkan kakak selalu membantu aku dan berusaha menenangkan seperti yang mama lakukan. Maafkan aku, aku telah merepotkan kalian berdua. Kalian adalah wanita yang begitu hebat,” balas Fabian sambil tersenyum tipis.
“Tidak perlu merasa seperti itu, kita adalah keluarga jadi harus saling menyayangi,” ucap Alesya.
“Sekali lagi terima kasih,” balas Fabian.
***
Setelah dari tempat Alesya, Fabian pergi ke rumah Renata. Fabian ingin meminta maaf kepada Renata. Bagaimanapun juga Renata telah menerima Fabian apa adanya, Renata sudah seperti belahan jiwa untuk Fabian. Mungkin Renata masih marah kepada Fabian saat ini, tapi Fabian tidak peduli itu. Yang Fabian pedulikan adalah meminta maaf kepada Renata dan mengakui Renata benar.
Fabian mengetuk pintu rumah Renata dan Renata langsung membuka pintu itu. Fabian tersenyum saat melihat Renata, sedangkan Renata hanya diam saja. Fabian bisa melihat rumah Renata yang penuh dengan kardus, padahal Renata baru pergi lusa. Renata mempersilahkan Fabian untuk masuk, dan duduk di rumah tamunya.
“Di mana Emily?” tanya Fabian.
“Emily sedang tidur siang,” jawab Renata, mendengar itu Fabian langsung meminta Renata duduk di sampingnya.
“Apa kamu masih marah?” tanya Fabian.
“Tentu saja marah, kamu itu tidak pernah sadar diri. Sebenarnya aku sedang tidak ingin berbicara dengan kamu, jangan salah sangka aku izinkan kamu masuk karena aku kasihan tahu.” Oceh Renata.
“Iya aku tahu, maafkan aku Renata. Aku bersikap seperti orang bodoh yang menuruti semua keputusan kamu, jujur aku takut jika aku menentang kamu akan meninggalkan aku. Aku berpikir bersikap seperti itu membuat kamu menyadari betapa aku mencintaimu kamu, tapi ternyata aku salah. Jadi maaf ya Renata,” ucap Fabian.
Seketika Renata terkejut, tidak biasanya Fabian seperti ini. Selama ini Fabian tidak pernah jujur tentang pendapatnya kepada Renata dan itu membuat Renata kesal, itu membuat Renata sulit menebak Fabian. Tapi sekarang Renata mengerti, jika Fabian tidak ingin Renata pergi dan berhenti mencintai Fabian. Selama ini Renata takut Fabian tidak tulus mencintai, karena jarang mengekspresikan itu semua. Ternyata Renata salah, Fabian benar-benar mencintainya dan tidak ingin Renata pergi jauh darinya.
“Kenapa kamu diam saja?” tanya Fabian dan Renata langsung tersenyum.
“Jujur selama kamu marah aku tidak sadar, hingga aku membaca surat dari mama. Aku sadar jika selama ini aku tidak pernah mencintai diri aku sendiri. Aku harus berterima kasih kepada mama karena sudah mengingatkan dan tentu saja kamu yang sudah menegur aku.” Fabian menyenderkan kepalanya di pundak Renata, dan Renata langsung mengelus rambut Fabian.
“Jadi apa rencana kamu sekarang?” tanya Renata.
“Tidak ada,” jawab Fabian dengan begitu singkat.
“Boleh aku memberi saran?” Fabian langsung mengangguk kepalanya.
“Bagaimana kamu pergi jauh dan menenangkan diri kamu, pergi ke tempat yang selama ini kamu suka dan berdiam di sana. Mungkin dengan cara seperti itu kamu menjadi mengenal diri kamu sendiri dan siapa tahu kamu menemukan bakat baru. Karena jika di lihat hidup kamu begitu membosankan.” Saran Renata.
Yang di katakan Renata ada benarnya, Fabian merasa bosan dengan hidupnya. Yang Fabian lakukan hanya bekerja dan tidak meluangkan waktu untuk diri sendiri. Fabian tidak pernah berlibur apalagi bepergian seorang diri. Fabian bahkan tidak mengetahui apa bakatnya di luar akademik. Jika di pikir-pikir tidak ada salahnya bepergian seorang diri dan mencari hal baru, mungkin Fabian bisa memenuhi impian masa kecilnya.
“Jika aku pergi dan kamu juga pergi, lalu kita bagaimana?” tanya Fabian.
“Kita tidak akan seperti dulu lagi, tapi itu hal yang bagus. Karena kita sedang berusaha melupakan masa lalu yang kelam dan berusaha mencintai diri kita sendiri. Jika kita benar-benar bisa berkomitmen semua akan baik-baik saja,” jawab Renata sambil tersenyum.
“Terima kasih Renata, sudah menerima aku apa adanya. Terima kasih juga telah berusaha membantu aku menjadi orang yang lebih baik, aku mencintai kamu,” ucap Fabian.
“Sudah ah, kamu terlalu banyak berterima kasih. Nanti aku jadi besar hati dan itu tidak baik tahu,” balas Renata.
“Tidak apa, karena yang aku bicarakan adalah kenyataan. Jadi besar hati juga tidak apa,” goda Fabian sambil tertawa kecil.
“Sudahlah, aku ingin lanjutkan bersih-bersih. Mumpung kamu di sini bantuan ya,” pinta Renata yang langsung berdiri.
“Baiklah, tapi berikan aku ciuman dulu.” Goda Fabian.
Mendengar itu hati Renata langsung berpacu kencang, tidak biasanya Fabian suka menggoda seperti ini. Renata pun hanya diam membatu, sedangkan Fabian memasang ekspresi menunggu. Renata pun langsung mencium pipi Fabian, tapi sepertinya Renata salah mencium. Fabian mengharapkan Renata menciumnya di bibir bukan di pipi, seketika Fabian langsung protes.
“Kok di pipi, aku maunya di bibir,” protes Fabian.
“Kan sama saja tahu,” ucap Renata.
“Beda tahu,” sangkal Fabian, sontak pipi Renata langsung memerah.
Fabian pun berdiri dan menghampiri Renata. Fabian meraih pinggang Renata dan mengelus pipi Renata. Fabian tertawa kecil melihat pipi Renata yang begitu merah. Tentu saja Renata malu, karena Fabian bertingkah begitu aneh. Tanpa berpikir lama Fabian mendekatkan wajahnya ke wajah Renata. Fabian langsung menempel bibir mereka berdua, itu membuat hati Renata berdebar tidak karuan. Tapi lama-lama Renata menikmati ciuman itu.
“Rena sama Bian lagi ngapain,” ucap Emily yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Seketika Renata langsung melepas ciuman itu dan berusaha menahan malu. Sedangkan Fabian hanya bisa tertawa saat melihat Renata yang malu. Fabian pun menghampiri Emily dan berjongkok di depan Emily.
“Emily sudah selesai tidurnya?” tanya Fabian.
“Sudah, tapi Emily masih mengantuk. Oh iya Bian sedang apa di sini?” jawab Emily sambil mengucek matanya.
“Bian sedang kangen sama Renata dan Emily, Emily kangen Bian tidak?” tanya Fabian.
“Tentu saja kangen, tapi sepertinya Rena lebih kangen sama Bian. Sehari Rena murung terus kayak orang lagi galau,” sindir Emily. Sontak Renata langsung malu mendengar itu, sedangkan Fabian hanya tertawa.
“Kalau gitu, karena Emily sudah jujur Bian beliin es krim mau?” ucap Fabian, sontak mata Emily langsung berbinar-binar.
“Tentu saja mau, tidak mungkin Emily menolak es krim,” balas Emily yang begitu antusias.
“Ya sudah kalau begitu, ayo kita pergi,” ucap Fabian.
Bersambung.....