
Seminggu kemudian, semua mulai membaik. Nathan sedang melalui proses persidangan, Amelia sudah mulai menerima kenyataan, Renata sudah siap untuk meninggalkan kota ini. Semua membaik kecuali Fabian. Semua sudah mulai membenahi hidupnya, tapi tidak dengan Fabian. Fabian terus berlarut dalam kesedihannya, ia mengira semua akan baik-baik saja dengan sendirinya, namun semua itu salah. Fabian sekarang kembali menutup dirinya, bersikap dingin dan tidak dapat mempercayai orang di sekitarnya. Ditambah Renata akan pergi, Fabian berusaha mendukung tapi di dalam hatinya ia tidak ingin Renata pergi. Namun Fabian sadar jika Renata mempunyai Emily yang harus di rawat, dan tentu saja prioritas Renata bukanlah tentang hubungan mereka yang tidak ada arah.
“Apa kamu bodoh? Hal seperti ini saja tidak bisa!” bentak Fabian kepada sekretaris baru, yang melakukan kesalahan. Sekretaris itu pun keluar dengan tangan bergetar dan tidak berani menatap Fabian. Fabian langsung menyadari jika ia sudah keterlaluan, hanya karena satu kesalahan kecil ia langsung marah.
Fabian pun melihat jam, dan ini sudah waktunya bertemu dengan Emily. Fabian berjanji akan menemukan Emily siang ini, Fabian pun bergegas untuk pergi. Fabian hanya akan makan siang biasa bersama Emily dan Renata lalu kembali ke pekerjaannya, oleh karena itu Fabian harus bersikap seperti biasa, yaitu menjadi orang yang baik-baik saja. Walau itu palsu setidaknya ada orang lain yang senang.
Sesampainya di restoran, Fabian langsung mencari Emily dan Renata. Fabian mengedarkan pandangannya dan menemukan Emily dan Renata, dengan cepat Fabian langsung menghampirinya mereka. Fabian melihat Emily yang sedang menggambar sambil menunggu makanannya. Fabian pun duduk di samping Renata dan Emily tidak menyadarinya, anak itu sibuk dengan gambarnya.
“Emily, kamu sedang gambar apa sih?” tanya Fabian yang membuat Emily terkejut.
“Bian!? Emily kaget tahu,” ucap Emily sambil mengelus dadanya.
“lagian kamu sibuk banget sih,” ledek Renata kepada Emily.
“Emily sedang menggambar Bian sama Rena tahu, jadi jangan ganggu Emily.” Fabian dan Renata langsung tertawa kecil mendengar itu. Tak lama setelah itu Emily menunjukkan gambarannya. Di gambar itu ada Fabian, Renata dan Emily. Gambar itu terlihat manis sekali, Emily langsung menyuruh Fabian menyimpannya. Agar Fabian tidak melupakan Emily dan Renata.
Setelah makan siang Renata bergegas untuk mengantarkan Emily pulang dan sepertinya biasa Emily tertidur setelah makan siang. Renata langsung menidurkan Emily di mobil, dan Renata berusaha berbicara dengan Fabian. Fabian belakang ini terlihat aneh dan teman-teman kantor lama Renata bilang Fabian semakin menjadi-jadi setelah Renata pergi. Renata menduga jika Fabian keberatan kalau Renata pergi keluar kota, tapi kenapa Fabian tidak mengucapkan sepatah kata pun setiap pertemuan mereka.
“Renata, kamu tidak masuk?” tanya Fabian yang melihat Renata terus berdiri di depan mobilnya.
“Fabian, aku ingin membicarakan sesuatu,” ucap Renata dengan begitu serius. Fabian pun langsung mendekat kepada Renata dan menggenggam tangan Renata. Entah mengapa Fabian menggenggam tangan Renata, seakan Fabian tidak ingin Renata pergi. Memang mereka berdekatan tapi terasa jauh karena Fabian tidak mengungkapkan isi hatinya.
“Fabian, beberapa hari ini aku dapat kabar jika kamu selalu marah-marah di kantor. Kamu juga marah kepada sekretaris baru kamu, kenapa kamu bertingkah seperti itu? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu?” ucap Renata langsung pada intinya.
“Aku tahu, aku terlihat seperti orang yang begitu menyedihkan. Tapi yang mengganggu aku adalah kamu Renata,” balas Fabian.
“Aku?”
“Iya, kita memiliki perasaan yang sama yaitu cinta. Tapi hubungan kita terlihat tidak jelas, aku ingin memiliki kamu sepenuhnya tapi aku tahu itu tidak mungkin. Kamu mempunyai masa depan yang cerah di hadapan kamu dan gadis kecil yang imut bersama kamu. Kamu terlihat sudah menjalani kehidupan yang tenang, tapi aku tidak menemukan itu sama sekali. Aku hanya merasa nyaman di dekat kamu dan mama.” Jujur saja Renata benci saat Fabian mengucapkan hal seperti itu, bahwa Renata adalah tempat yang nyaman untuk Fabian. Tapi Renata bisa mengerti kenapa Fabian seperti itu.
“Aku mengerti semua itu, aku juga ingin bersama kamu terus. Tapi apa boleh buat, aku sudah membuat keputusan. Fabian, jujur saja mencintai kamu adalah hal yang sulit karena kamu akan melakukan apa saja untuk orang terkasih kamu. Kamu selalu menuruti apa yang aku mau, bahkan kamu mengiyakan semua keputusan aku seakan kamu tidak keberatan akan hal itu. Kamu bilang kamu ikut senang dengan kepindahan aku, tapi jauh di dalam hati kamu. Kamu ingin aku terus di sini bersama kamu.”
“Aku tidak mau egois, Renata.”
“Yang kamu lakukan bukanlah hal egois, kamu hanya ingin bersama orang yang kamu sayang, percayalah semua orang menginginkan hal yang sama. Aku ingin kamu mencintai aku, tapi semua itu terasa mustahil.”
“Kamu bicara apa sih, aku sudah mencintai kamu. Lihat sekarang aku di sini bersama kamu bukan dengan wanita lain, bukan mata kamu Renata.”
“Kamu yang harusnya membuka mata hati kamu, kamu menghabiskan cinta kamu untuk orang lain sampai lupa mencintai dan menerima diri kamu sendiri.” Fabian hanya terdiam mendengar itu karena itu semua benar. Melihat Fabian yang diam saja, Renata langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi secepat mungkin. Renata meninggal Fabian di parkiran restoran itu.
***
Malam harinya, hujan begitu deras. Emily sudah tertidur lelap sedangkan Renata terus memikirkan perkataannya tadi. Renata sekarang hanya duduk di sofa lalu memandangi hujan yang turun. Banyak hal yang mengganggu pikiran Renata, mencintai Fabian benar-benar hal yang rumit. Renata pergi bukan untuk menghindari Fabian, Renata hanya ingin memberi Fabian waktu berpikir jernih. Tapi sikap Fabian seakan ia tidak butuh waktu sendiri untuk berpikir jernih. Itu membuat Renata khawatir, Fabian saja tidak bisa memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana nanti Fabian melakukan hal di luar batas untuk tetap bersama Renata, hal itu membuat Renata takut.
Tiba-tiba bel berbunyi, seketika Renata langsung melihat jam. Sudah pukul 11.34 malam, siapa yang bertamu semalam ini? Renata pun mengecek lubang pintunya, dan itu adalah Amelia. Untuk apa Amelia datang tengah malam di saat hujan seperti, tapi sejak hari pernikahan Renata belum berbicara dengan Amelia. Renata langsung membukakan pintu dan menyuruh Amelia masuk, Amelia pun duduk di sofa.
“Mungkin kamu ingin duduk dan mendengarkan penjelasan mama,” ucap Amelia dan Renata langsung duduk di depan Amelia.
“Jadi, kenapa mama datang malam-malam seperti ini? Bukannya mama mempunyai urusan yang lebih penting,” sindir Renata seakan Renata tidak ingin bertemu dengan Amelia.
“Mama hanya ingin mengakui, jika Mama adalah orang yang bodoh. Seharusnya Mama mendengarkan kamu dari awal dan bukannya terus memikirkan masa lalu, Mama sekarang merasa bersalah,” ucap Amelia.
“Syukurlah jika seperti itu,” balas Renata sambil tersenyum palsu.
“Mama minta maaf Renata.” Amelia langsung mengeluarkan air mata saat mengucapkan permintaan maaf.
Renata hanya diam saat mendengar permintaan maaf Amelia, karena Renata menganggap Amelia sudah gagal menjadi seorang ibu. Jika Renata menerima permintaan maaf Amelia, sama saja Renata berbohong kepada Amelia dan dirinya sendiri. Renata bingung harus menjawab apa kepada Amelia sekarang, pasti Amelia menunggu untuk Renata memaafkannya.
“Renata, apa kamu memaafkan Mama?” tanya Amelia dan perkataan itu langsung menusuk kek hati Renata.
“Mungkin aku akan memaafkan Mama, tapi tidak sekarang. Aku belum bisa memaafkan Mama karena Mama sudah membuat hidupku kacau, dan bahkan Mama tidak menganggap Emily sebagai anak Renata. Aku hanya lelah dengan tingkah Mama yang seperti anak kecil dan terus mengatur aku untuk menjalani kehidupan aku.” Ucap Renata dengan nada sedikit tinggi.
“Tanpa Mama menyuruh, aku tahu apa yang terbaik untukku. Tapi setiap aku membuat keputusan Mama selalu menghakimi dan memberikan keputusan yang menurut Mama baik. Selama ini Mama berusaha membuat aku seperti Mama, tapi aku tidak ingin menjadi wanita menyedihkan yang tidak mementingkan orang lain dan selalu mementingkan diri sendiri. Jadi maaf jika Renata tidak bisa memaafkan Mama.” Tambah Renata, mendengar itu Amelia langsung terdiam.
“Kenapa kamu begitu membenci?” tanya Amelia.
“Aku bukan membenci Mama, aku hanya capek dengan sikap kekanakan Mama. Aku sudah dewasa sekarang, aku punya kehidupan yang harus dijalani. Dan tentu saja fokus utama aku bukanlah membereskan kerusakan yang Mama buat.” Setelah berbicara Renata langsung mengambil nafas dalam-dalam dan mengendalikan emosinya.
“Jujur saja, selama ini aku merasa berdosa karena semua yang Mama lakukan. Karena Mama bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan aku terlihat seperti orang bodoh, yang memikirkan apa Mama pernah merasa bersalah karena ulah Mama sendiri.” Renata mengepalkan tangannya dan terus berusaha menahan emosinya.
“Mama minta maaf, Mama tidak pernah tahu kamu merasa hal itu. Selama Mama mengira kamu tidak peduli dengan semua hal yang Mama lakukan.” Bela Amelia.
“Tentu saja aku peduli, bagaimanapun juga Mama adalah orang yang melahirkan aku dan merawat aku. Apa Mama pernah berpikir sekali saja tentang aku? Tentang perasaan aku atau setidaknya tentang keadaan aku saat ini. Dilihat dari sikap Mama seperti Mama tidak peduli sama sekali dan tidak ingin memusingkan.” Karena tidak sanggup Renata langsung menangis saat itu juga, ia tidak peduli jika ia terlihat lemah.
“Karena Mama pikir kamu sudah bahagia, lihatlah kamu mempunyai Emily dan Fabian sebagai kekasih kamu. Lihatlah betapa dia mencintai kamu, apa kamu masih merasa kurang bahagia tentang itu?” ucap Amelia dengan begitu tegas.
“Tentu aku bahagia, tapi setiap hubungan pasti ada masalah. Membangun suatu hubungan tidak hanya dengan cinta, itu adalah hal yang Mama tidak mengerti. Karena Mama tidak pernah merasa bahagia akan Pernikahan Mama dengan papa.” Balas Renata yang tidak kalah tegas.
“Lebih baik Mama pergi sekarang, aku lelah.” Usir Renata.
“Jika Mama pergi sekarang, apa kamu sudah memaafkan Mama? Mama butuh jawaban dari kamu,” desak Amelia.
“Tidak aku tidak memaafkan Mama, sekarang Mama pergi.” Mendengar itu Amelia langsung bangun dari duduknya dan pergi dari rumah Renata.
Renata langsung menghapus air matanya dan pergi ke kamar Emily. Renata mengecek apa Emily terbangun, tapi ternyata Emily masih tertidur pulas. Renata pun langsung berbaring di samping Emily dan memeluk Emily. Merasa ada pergerakan Emily langsung membuka matanya lalu melihat Renata berada di sampingnya. Emily melihat mata Renata sembab dan hidung Renata merah, pasti Renata habis menangis. Emily pun hanya diam saja memandangi Renata, tak lama kemudian Renata tertidur. Bahkan Renata tidak menyadari jika Emily terbangun.
“Emily sayang sama Rena,” ucap Emily lalu memejamkan matanya.
Bersambung.....