
2 Minggu kemudian.
Hari demi hari, Fabian sedang berusaha melupakan Renata. Fabian melakukan kegiatannya seperti biasa, tapi ada yang terasa beda. Selama 3 Minggu ini Fabian bekerja sendiri tanpa seorang sekretaris, Fabian mengalami kesulitan memilih sekretaris yang tepat. Sepertinya tidak ada yang bisa Menggantikan Renata sebagai sekretaris yang sempurna. Namun Fabian tidak bisa terus berfokus mencari sekretaris, karena kondisi Vanessa belakang ini sedang tidak baik. Dokter mengatakan jika jantung Vanessa mulai melemah dan itu membuat Fabian khawatir.
Dan tanpa Fabian sadari sebentar lagi ayahnya akan menikah dengan Amelia. Nathan sudah membicarakan semuanya dengan Fabian dan meminta Fabian melupakan masa lalu. Nathan juga meminta Fabian untuk datang ke pernikahannya, namun Fabian tidak mungkin datang. Karena sebuah permintaan maaf tidak bisa membuat Fabian luluh, ditambah Renata pasti akan datang. Rasanya tidak mungkin Fabian bisa bertemu lagi dengan Renata.
“Om Fabian jangan sedih terus dong,” ucap Ben yang menghampiri Fabian yang sedang berada di ruang tamu. Alesya memaksa Fabian untuk tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Alesya merasa kasihan kepada Fabian yang terus bersedih dan jarang berbicara, sungguh Alesya merindukan Fabian saat ia bersama Renata.
“Iya Ben, habis ini om tidak akan sedih lagi,” ucap Fabian sambil tersenyum tipis.
“Kalau gitu, ayo ikut Ben ke kamar ada yang mau Ben tunjukan,” ucap Ben langsung menarik Fabian masuk ke dalam kamarnya, bahkan Ben sampai mengunci kamarnya agar Alesya tidak dapat masuk. Ben ingin memberikan hadiah dari Emily untuk Fabian, tapi Alesya melarang itu. Alesya tidak mau Fabian terus merasa sedih, tapi Ben tidak bisa terus berbohong.
Ben pun memberikan sebuah buku kecil kepada Fabian. Di sampul Buku itu tertulis ‘Cerita Emily’ sepertinya itu adalah buku diary milik Emily. Ben menyuruh Fabian menyimpan itu dan membaca halaman yang berjudul ‘om Fabian’ saat merindukan Emily. Ben pun membuka pintu kamarnya dan segera bergegas pergi untuk bertemu dengan ayahnya. Sedangkan Fabian masih bingung mengapa Emily memberikan buku diarynya. Fabian pun membuka buku itu dan membacanya.
“Dear diary. Hari ini Emily ketemu dengan orang yang begitu baik namanya om Fabian kata Rena itu adalah bosnya. Om Fabian dan Rena terlihat begitu dekat apa om Fabian menyukai Rena tapi Rena bilang om Fabian hanya bosnya.
Dear diary. Hari ini Emily bersenang-senang bersama om Fabian ternyata om Fabian adalah orang yang begitu seru dan om Fabian juga memanggilku Emily yang imut. Mendengar itu aku menjadi malu aku jarang sekali di puji oleh pacarnya Rena tapi memang Rena tidak pernah memiliki pacar sama sekali.
Dear diary. Aku begitu merindukan om Fabian dan sepertinya Rena dan om Fabian sedang bertengkar. Tadi saat aku di sekolah om Fabian datang dan menghabiskan waktu bersama aku tapi saat Rena datang om Fabian menjadi berbeda. Oh iya om Fabian juga memperbolehkan aku memanggilnya Bian.
Dear diary. Buku ini sudah hampir habis dan aku bingung ingin bercerita apa di halaman terakhir buku ini. Aku hanya ingin mengatakan sepertinya Rena dan Bian tidak akan berbaikan lagi. Emily sedih mendengar itu oleh karena itu buku ini mau Emily kasih kepada Bian karena jika Emily tidak bisa bertemu dengan Bian setidaknya buku ini bersama Bian karena buku ini sudah seperti belahan jiwa Emily. Oh iya untuk Bian yang membaca ini semoga Bian terus mengingat Emily dari buku harian ini.”
***
Sekarang Renata sedang menemani Amelia mengambil gaun pengantin. Terpaksa Renata menemani Amelia yang begitu keras kepala. Selama 2 Minggu ini Renata sibuk membantu Amelia mengurus pernikahan, dengan terpaksa Renata melakukan itu semua. Namun Renata bisa bernafas lega saat Amelia sudah menikah, karena ia akan segera pergi bersama Emily. Renata memutuskan untuk pergi jauh dari Amelia dan semua kekacauan ini, begitu juga Fabian. Jujur saja Renata merindukan Fabian, tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang.
“Renata, apa ini terlihat bagus?” Tanya Amelia menunjukkan gaun pengantinnya.
“Itu terlihat bagus untuk Mama,” jawab Renata sambil tersenyum palsu, bukan Renata tidak menyukai gaunnya. Tapi semua terasa di luar nalar untuk Renata, bagaimana tidak semua rencana Amelia membuat Renata begitu kacau. Namun Renata tidak bisa mengekspresikan itu semua, ia tidak ingin menyakiti hati Amelia dan Amelia pasti tidak akan pernah mendengar pendapat Renata.
Setelah selesai mengambil gaun pengantin, Renata dan Amelia menunggu Nathan untuk menjemputnya. Tak lama kemudian Nathan pun datang dan mengantarkan mereka ke rumah Amelia. Sepanjang perjalanan Renata hanya terdiam, sedangkan Amelia dan Nathan sibuk berbicara. Renata pun mengecek ponselnya dan terdapat satu pesan dari Fabian. Di pesan itu tertulis jika Fabian tidak akan datang ke pernikahan kedua orang tua mereka. Renata pun segera menahan air matanya, padahal Renata ingin mencuri kesempatan saat pernikahan untuk bertemu Fabian. Namun Fabian tidak akan datang sama sekali, Renata sudah seperti orang bodoh yang mengusir Fabian tapi masih menginginkan Fabian.
Mereka pun sampai di rumah Amelia, rumah yang sudah lama tak Renata kunjungi. Tak ada yang berubah dari rumah itu hanya satu hal yang tidak ada, yaitu ayahnya. Renata pun pamit untuk melihat kamar lamanya. Kamar itu tidak ada perubahan sama sekali, membuat Renata merindukan masa kecilnya.
“Non tahu, jika mendiang ayahnya non selalu merapikan kamar ini. Siapa tahu suatu saat non butuh,” ucap bibi yang tiba-tiba muncul di belakang. Renata pun tersenyum saat mendengar itu. Bibi pun pergi meninggalkan Renata sendiri. Saat melihat bibi pergi, Renata langsung meneteskan air matanya.
Renata duduk di atas ranjangnya dan mengingat kenangan indah yang ada di kamar ini. Di mana Renata selalu bercerita apa pun kepada ayahnya, di mana ayahnya dan dia berbagi rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu, di mana Renata mengeluh tentang sikap Amelia, di mana Renata selalu meminta saran dari ayahnya. Jika saja ayahnya masih ada mungkin Renata akan meminta sarannya tentang Fabian, apa benar keputusan Renata salah. Renata pun membaringkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya.
“Aku minta maaf jika aku pernah mempunyai salah kepada Papa,” ucap Renata lalu seketika ia tertidur lelap.
Bersambung....