
Esok harinya, Renata berjanji akan menghabiskan waktu bersama Fabian sebelum ia pergi. Sebagai ucapan perpisahan yang indah Fabian mengajak Renata ke taman bermain, hanya berdua saja. Selama ini Renata dan Fabian belum bisa menghabiskan waktu berdua saja, pasti selalu ada Emily. Ini adalah kesempatan yang bagus agar mereka bisa berdua tanpa beban pikiran dan gangguan.
“Kamu terlihat cantik hari ini,” puji Fabian, sontak pipi Renata langsung memerah. Renata belum biasa dengan sikap Fabian yang seperti ini, bahkan sedari tadi mereka bergandengan tangan. Jika Fabian seperti ini terus Renata jadi semakin sulit untuk meninggalkannya.
“Kenapa sih belakangan ini kamu memuji aku terus?” tanya Renata.
“Memangnya aku tidak boleh memuji wanita yang aku cintai, nanti jika aku memuji yang lain kamu cemburu,” jawab Fabian.
Yang Fabian katakan ada benarnya, tentu saja Renata tidak rela Fabian memuji wanita lain. Akhirnya Renata diam saja tanpa membalas Fabian. Renata hanya ingin bersenang-senang bukannya memikirkan hal yang buruk-buruk. Renata pun mengajak Fabian untuk menaiki roller coaster, tapi Fabian menolak itu. Seketika Renata langsung cemberut mendengar itu, dan Renata langsung menawarkan untuk masuk ke dalam rumah hantu. Sekali lagi Fabian menolak, mengapa pilihan Renata begitu ekstrem.
Fabian pun mengajak Renata untuk menaiki komidi putar, ya ampun Fabian sudah seperti anak kecil. Mau tidak mau, Renata menyetujui Fabian untuk menaiki komidi putar. Selama putaran Renata hanya merasa bosan, sedangkan Fabian tersenyum begitu manis. Melihat itu Renata menjadi senang, jarang sekali Renata melihat senyuman semanis itu dari seorang Fabian. Setelah selesai, Renata tetap memaksa Fabian untuk menaiki roller coaster.
“Ayolah Fabian, naik roller coaster tidak akan membuat kita cedera,” ucap Renata yang terus memohon kepada Fabian.
“Tidak, apa kamu tidak pernah baca berita tentang kecelakaan roller coaster. Benda itu terlihat begitu berbahaya,” balas Fabian.
“Jangan-jangan kamu takut ya?” goda Renata sambil menunjuk kepada Fabian.
“Ti– tidak kata siapa aku takut,” sangkal Fabian.
“Lalu kenapa tidak mau?”
“Baiklah kita akan naik tapi hanya satu kali saja.” Mendengar itu Renata langsung senang dan menarik Fabian untuk mengantre, antrean itu begitu panjang. Fabian bahkan membujuk Renata agar menaikinya di saat sepi, tapi Renata menolaknya. Menaiki roller coaster adalah hal favorit Renata dan tidak ada yang bisa memaksa Renata untuk tidak menaikinya.
Setelah lama mengantre akhirnya giliran mereka untuk naik. Jujur saja Fabian takut menaiki roller coaster, karena Fabian takut ketinggian. Melihat roller coaster berjalan saja membuat Fabian ingin muntah, lalu sekarang Fabian harus menaikinya. Saat roller coaster itu melaju Fabian hanya berusaha menahan ketakutannya, saat benda itu melaju cepat Fabian hanya berdoa agar ia tidak jatuh. Sedangkan Renata hanya berteriak begitu antusias, dan Fabian bahkan tidak bisa berteriak sama sekali.
Setelah selesai, Fabian langsung merasa mual dan matanya berkunang-kunang. Renata pun memberikan plastik hitam dan Fabian langsung mengeluarkan isi perutnya di plastik itu. Renata langsung memberikan Fabian minuman dan menyuruh Fabian duduk di kursi taman. Wajah Fabian terlihat begitu pucat dan lemas, itu membuat Renata khawatir.
“Apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kita pulang sekarang saja ya,” ucap Renata yang khawatir.
“Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit pusing,” balas Fabian.
“Harusnya tadi kamu bilang kalau kamu tidak bisa, lihat kita sudah mengantre lama-lama dan malah kamu jadi seperti ini. Itu sama saja kamu mengantre untuk sakit,” oceh Renata dan Fabian hanya diam mendengarkan itu. Karena Renata terlihat lucu saat sedang mengoceh seperti itu.
“Tenanglah Renata, paling nanti kalau makan juga sembuh,” ucap Fabian yang berusaha menenangkan Renata.
“Baiklah kita makan sekarang.” Tanpa aba-aba Renata langsung menarik Fabian untuk pergi mencari makan.
***
Emily sekarang sedang bersama Ben. Saat mengetahui Renata dan Fabian akan pergi berkencan, Alesya langsung menawarkan diri menjaga Emily. Awalnya Renata merasa merepotkan, tapi Alesya memaksanya. Akhirnya sekarang Emily di jaga oleh Alesya. Emily sekaligus memberikan salam perpisahan untuk Ben, karena besok Emily sudah pergi. Saat mendengar Emily pergi secepat itu Ben langsung menangis dan tidak mau Emily pergi.
Ben merasa sedih, karena tidak punya teman bermain lagi. Biasanya Ben menunggu bersama Emily, bermain bersama Emily, sekarang Ben harus berjauhan dengan Emily. Bahkan Ben belum meminta maaf karena sempat Mengabaikan Emily karena teman barunya. Ben juga mempunyai tempat yang ingin di kunjungi bersama Emily, dan sekarang semua itu hanya ucapan.
“Tapi nanti Ben tidak bisa sekolah bersama Emily lagi, terus pasti Ben akan merindukan Emily. Belum lagi kalau Ben menunggu dijemput, memang Emily tega membuat Ben menunggu sendiri,” ucap Ben sambil menangis sesenggukan.
“Tentu saja tidak tega, apalagi Ben teman Emily yang paling baik. Emily mana mungkin membiarkan semua itu, pasti Emily juga akan kangen sama Ben. Apalagi Ben belum sempat mengajarkan Emily bermain bola, terus Emily belum sempat berpesta teh bersama Ben.” Emily pun langsung meneteskan air matanya dan ikutan menangis. Seketika kedua anak itu berpelukan karena merasa sedih harus berpisah.
“Eh sudah-sudah jangan menangis,” ucap Alesya yang baru saja datang membawakan camilan.
Padahal Alesya hanya meninggalkan mereka selama 5 menit, namun mereka berdua sudah menangis kejar sambil berpelukan. Melihat itu bukannya sedih Alesya malah merasa gemas, keduanya begitu lucu karena menangis dan berpelukan. Seakan mereka berdua berusaha menenangkan satu sama lain. Alesya pun mengambil ponselnya dan memfoto kedua anak itu, lalu mengirimkan kepada Renata.
“Ayo jangan menangis lagi, ini lihat mama bawakan camilan yang enak,” rayu Alesya kepada Ben dan Emily. Akhirnya Ben dan Emily melepaskan pelukan mereka dan berusaha menghapus air mata mereka. Mereka pun memakan camilan itu, walau masih menangis kecil. Mereka juga tidak mau perpisahan mereka hanya bersedih terus.
“Sudah ah, Ben tidak ingin menangis lagi,” ucap Ben yang pura-pura kuat.
“Emily juga nanti mata Emily terlihat seperti panda.”Alesya yang melihat itu langsung tertawa kecil, bisa-bisanya mereka berbicara seperti itu tapi masih ada sisa-sisa tangisan.
Walaupun tertawa, Alesya tidak tega. Karena Ben begitu dekat dengan Emily, mereka berdua bagaikan sahabat sejati yang tidak bisa pisahkan. Apalagi Ben selalu bercerita Emily jarang memiliki teman, dan hanya Ben saja terkadang yang bermain dengan Emily. Ben hanya khawatir jika ia dan Emily berjauhan, Emily tidak memiliki teman bermain lagi. Mendengar itu Alesya menjadi terharu, karena sebegitu sayangnya Ben dengan Emily. Tentu saja Alesya menjadi tidak tega.
“Kalau menangisnya sudah, nanti kita akan berfoto sebagai kenang-kenangan,” ucap Alesya.
Karena banyak sekali masalah, Alesya sampai lupa jika ingin memfoto Emily dan Ben. Alesya sudah membelikan jaket sepasang untuk Emily dan Ben, bahkan waktu itu Alesya menitipkannya kepada Fabian. Untuk saja Fabian sempat memberikan jaket itu, karena kalau tidak hari ini kapan Alesya sempat melakukan itu.
Setelah menghabiskan camilan Emily dan Ben segera mencuci wajah mereka, dan segera memakai jaket sepasang itu. Saat sudah memakai jaket itu Emily dan Ben terlihat begitu mengemaskan. Alesya pun menyuruh mereka untuk pergi ke ruang studionya. Alesya langsung mengambil kameranya dan mengatur kedua anak itu agar terlihat bagus di foto. Sekitar 30 menit Alesya memfoto kedua anak itu, setelah itu Alesya sudah selesai.
“Capek juga ya, padahal cuman foto-foto doang,” ucap Emily yang langsung duduk di lantai.
“Memang capek, asal kamu tahu mama itu hobi sekali berfoto-foto. Kadang mama bisa di sini hingga malam,” balas Ben.
“Kenapa berfoto saja sampai malam?” tanya Emily yang penasaran.
“Karena mama pakai perias wajah dulu lalu foto.” Alesya yang mendengar itu langsung melirik kepada Ben, bisa-bisanya anak itu bilang seperti itu.
“Bukan seperti itu Ben, mama make up karakter lalu mama foto. Kenapa mama foto, karena itu sebagai contoh untuk pekerjaan mama,” ucap Alesya.
“Pokoknya seperti itulah, Ben tidak mengerti.”
“Ben payah, Emily saja mengerti.”
“Tuh Emily saja mengerti apa yang mama ucapkan, masa anak mama sendiri tidak mengerti.” Sindir Alesya, sontak Ben langsung cemberut mendengar itu.
Bersambung.....