You're My Sunshiny

You're My Sunshiny
Best Person Ever part 2



“Bian, habis menangis ya?” tanya Emily yang terus memperhatikan mata Fabian yang sembab.


“Tidak sama sekali, kamu salah lihat kali,” dusta Fabian.


“Bian tahu, kan? Emily tidak suka jika Bian bohong.” Emily langsung menunjukkan wajah cemberutnya.


“Baiklah jika seperti itu, bagaimana kalau Emily memberikan Bian pelukan agar Bian tenang,” tanpa basa-basi Emily langsung memeluk Fabian. Jujur saja pelukan Emily membuat Fabian begitu tenang, sama hal dengan pelukan Renata. Pelukan hangat yang jarang sekali Fabian rasakan, dan pelukan itu yang Fabian butuh di saat seperti ini.


“Sudah Emily peluk jadi Bian enggak boleh sedih lagi. Nanti kalau Bian sedih Emily dan Rena juga akan sedih loh,” ucap Emily. Fabian pun langsung tertawa kecil mendengar itu.


“Iya Bian enggak akan sedih lagi.” Walau susah tapi tidak ada salahnya untuk mencoba merelakan kepergian Vanessa.


Melihat itu Renata langsung meneteskan air mata, untung saja ada Emily yang bisa menghibur Fabian. Renata pun pergi ke kamarnya dan mengecek ponselnya, tentu saja Renata ingin menghubungi Amelia. Sejak kemarin Amelia sudah mengabaikan panggilannya dan sekarang Amelia pasti tidak tahu apa yang telah menimpa Fabian. Renata langsung menelepon Amelia, namun tidak ada jawaban sama sekali. Tak ingin menyerah Renata terus menghubungi Amelia dan tentu saja Renata ingin mengeluarkan semua isi kepalanya. Bahkan Renata berbicara dengan begitu emosi dengan dirinya sendiri.


Renata tidak menyadari jika di luar ada Fabian yang mendengarkan ocehannya. Fabian mendengar Renata mengutuk Amelia dan kata-kata lainnya, seperti dugaan Fabian. Renata sedang menyalahkan Amelia atas semua kejadian ini. Mendengar itu mengingatkan Fabian kepada dirinya dulu yang selalu menyalahkan Nathan, tentu Nathan melakukan banyak kesalahan. Tapi menyalahkan bukanlah hal yang tepat, menyalahkan Nathan membuat Fabian tidak tenang. Hal itu membuat Fabian berpikir, apa yang akan Nathan lakukan? Kebohongan apa yang akan Nathan lakukan? Jujur itu membuat Fabian tidak hidup dengan tenang.


“Renata, aku rasa kita perlu berbicara.” Fabian mengetuk pintu kamar Renata dan Renata langsung keluar dari kamarnya.


“Iya, ada apa?” tanya Renata.


“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan,” jawab Fabian. Sontak Renata langsung menyuruh Fabian masuk ke dalam kamarnya, Renata tidak ingin Emily mendengar percakapan itu. Renata mengetahui Fabian ingin membahas sesuatu yang berat dan tentu saja tentang kekacauan ini, yang tidak membaik.


“Apa kamu sayang kepada ayah kamu?” tanya Fabian secara tiba-tiba kepada Renata.


“Tentu saja, Papa adalah orang yang paling aku sayangi dan aku cintai. Bagaimana mungkin aku tidak menyayangi pria sebaik Papa,” jawab Renata dengan penuh percaya diri.


“Lalu, bagaimana kamu merelakannya dan melupakannya? Aku tahu pasti kamu begitu menyayanginya dan ingin dia selalu bersama kamu.” Renata terkejut mendengar itu, tidak disangka Fabian bertanya dengan seperti itu.


“Fabian, aku tidak pernah melupakan papa. Mungkin aku merelakan kepergiannya tapi aku–” Renata tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, bagaimana juga membahas itu adalah hal yang berat. Di dalam lubuk hati terdalam Renata ia selalu ingin ayahnya di sampingnya, pertanyaan Fabian membuatnya mengingat masa lalu.


“Bahkan kamu tidak bisa menjawab pertanyaan sesimpel itu, lalu bagaimana dengan aku Renata. Mama adalah alasan aku terus berusaha hidup dan bahagia, apa sekarang aku masih layak untuk hidup dan bahagia?” mendengar itu Renata langsung menampar Fabian, Renata tidak sanggup mendengar hal itu.


“Apa kamu gila? Tentu saja kamu berhak untuk hidup dan bahagia, Fabian lupakan kesalahan kamu di masa lalu. Lihatlah kamu sudah berusaha menembusnya dan sekarang mama kamu bisa tenang karena Nathan sudah mendapatkan ganjarannya. Jadi jangan pernah kamu berpikir seperti itu.” Sehabis berbicara seperti itu, Renata langsung memeluk Fabian. Tentu saja Renata tidak siap untuk berpisah dengan Fabian.


“Jika aku melupakan masa lalu, apa kamu juga akan berhenti merasa berdosa karena perbuatan mama kamu?”


“Baiklah, jika itu bisa membuat kamu berusaha melupakan masa lalu kamu. Kita berjanji akan melupakan kekacauan yang di buat orang tua kita.” Fabian langsung mengeratkan pelukan, itu membuat Fabian sedikit yakin memulai awal baru. Walaupun terasa susah, namun Fabian juga tidak ingin hidup seperti ini terus.


**


Malam harinya, Fabian datang ke makam Vanessa untuk mengucapkan isi hatinya. Fabian membawa bunga kesukaan Vanessa dan menaruhnya di atas makam Vanessa. Tidak di duga jika Fabian akan kehilangan Vanessa secepat ini, bahkan Fabian belum menemukan kebahagiaan yang dia inginkan. Jika sudah menemukan kebahagiaan itu pasti Fabian akan bercerita kepada Vanessa, walau tidak terasa sama lagi. Apa boleh buat Fabian harus merelakan yang sudah pergi dan tenang di sana.


“Mama, pasti Fabian akan kangen sama mama. Selama ini mama selalu berjuang untuk Fabian dan kak Alesya. Sekarang mama tidak perlu lagi melakukan hal itu, mama akan tenang tanpa memikirkan kejamnya dunia.” Seketika air mata Fabian terjatuh, hari ini Fabian menangis begitu banyak seperti anak kecil. Tapi itu tidak apa karena itu menandakan betapa berharganya Vanessa di dalam hidup Fabian.


Fabian mengira jika ia bisa membuat Nathan mengakui kesalahannya, semua akan menjadi lebih baik. Semua salah terutama Fabian kehilangan seseorang yang benar-benar ia sayang, bagaimana semua itu membaik? Fabian selalu percaya jika suatu kejadian buruk akan di ganti oleh hal yang lebih indah. Tapi, apa hal indah yang bisa menggantikan sosok Vanessa di hidupnya? Fabian rasa itu tidak. Sekarang Fabian hanya bisa bersedih dan tidak bisa menerima kenyataan jika Vanessa telah pergi walau makamnya di depan mata Fabian.


“Pria itu benar, aku terlalu naif. Mama selalu mengajarkan aku untuk bersikap optimis dan yakin hal baik akan datang, tapi lihatlah mama sekarang. Mama menderita selama bertahun-tahun karena mengharapkan hal baik itu dan sekarang mama sudah pergi. Apa selama ini mama bahagia dengan hidup mama? Hidup yang terlihat suram dan menyedihkan. Jika aku bisa memutar waktu mungkin aku akan membuat mama lebih bahagia, walau hal itu membuat aku tidak ada dunia, aku tidak apa asal mama bahagia.”


Bersambung..........