
Keenan kembali ke kamarnya dengan wajah lebam dan kesal, seumur hidup Keenan baru kali ini mendapat perlakuan kasar dari sang Ayah. Dan itupun terjadi bukan karena kesalahan fatal yang dilakukan oleh Keenan, tapi karena kejujuran Keenan yang mencintai kekasihnya.
Didalam kamar Keenan terlihat Syila tidur di sofa yang ada disudut kamar, namun Keenan tidak terlalu memikirkan hal itu, pemuda itu langsung masuk kedalam kamar mandi, lalu menuju walk in closet untuk berganti baju tidur.
Keenan merebahkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut tebal, pikirannya menerawang dimana saat Keenan berbicara dengan Abyan sebelum pernikahan itu di mulai.
___Flashback On __
Keenan menemui Abyan sebelum pernikahan itu dimulai, pemuda berusia 18 tahun itu melihat pria yang sudah di anggap nya seperti ayahnya sendiri terbaring lemah dengan beberapa alat medis sebagai penunjang kehidupan menempel di tubuh gagah namun penuh luka.
"Om" bisik Keenan di telinga Abyan, membuat pria itu membuka matanya meskipun berat.
"Om sangat mencintai Syila, tapi Om tidak bisa lagi menjaganya" lirih Abyan hampir tidak bisa didengar oleh Keenan.
"Om menyerahkan permata berharga Om padamu Ken, to-tolong jaga Syila, pas-pastika Syi-syila ba-ha-gia, am-an, da-n, ter-lin-dungi" pinta Abyan terbata-bata.
"To-tolong jang-an sa-kiti Syila, Om sang-at per-ca-ya pa-da-mu, ka-mu pria ya-ng ba-ik"
Abyan menatap lemah Keenan.
"Ber-jan-ji-lah" Abyan memaksakan diri untuk menyentuh tangan Keenan, namun apalah daya tangannya hanya mampir bergerak pelan.
"Keenan janji akan menjaga Syila dengan baik" ucap Keenan reflek menyanggupi permintaan Abyan, bahkan Keenan heran kenapa dirinya begitu mudah mengatakan hal tersebut.
Abyan tersenyum setelah mendengar jawaban Keenan, terlebih pemuda itu mengatakan janji sambil menggenggam erat tangan ya, yang Abyan artikan jika Keenan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Apa yang sudah kulakukan?" lirih Keenan melihat Abyan kembali menutup matanya, lalu pria itu keluar dari ruang perawatan Abyan.
___Flashback Off ____
Keenan menatap tubuh mungil Syila yang meringkuk di sofa, sofa itu tidak kecil, namun tetap saja akan kurang nyaman bagi seseorang yang terbiasa tidur di ranjang yang luas dan empuk seperti Syila. Keenan mencoba cuek namun anehnya tetap tidak bisa, jika saat dirumah Syila, gadis itu bersedia berbagi ranjang, lalu kenapa Keenan tidak mau berbagi ranjang lebarnya dengan Syila?.
Dengan menghela nafas kesal, Keenan bangun dari tidurnya dan menghampiri Syila yang terlelap di sofa.
"Syila bangun" Keenan membangunkan Syila, gadis itu langsung membuka matanya karena dirinya memang belum tidur.
"Ken, Lo kenapa?" tanya Syila melihat memar di sudut bibir Keenan.
"Gak apa-apa" kata Keenan.
"Lo ngapain tidur disini? Ranjang gue bahkan bisa untuk tidur lima orang" kata Keenan.
"Gue takut ngeganggu Lo" lirih Syila membuat Keenan mengerutkan keningnya.
"Takut gue ke ganggu?" Beo Keenan, Syila mengangguk.
"Hahahaha...sejak kapan Lo takut sama gue? Bahkan tanpa Lo tidur di ranjang gue, Lo udah sering ganggu gue" kata Keenan mengingat sikap menyebalkan dan keras kepala Syila.
"Sorry" cicit Syila kembali membuat Keenan tercengang dan menyentuh kening Syila.
"Lo sakit? Lo baik-baik aja kan? Atau Lo salah makan?" bingung Keenan mendengar kata maaf dari bibir Syila.
"Gue baik-baik aja Ken" Syila menepis tangan Keenan.
"Tapi barusan Lo minta maaf, dan itu adalah kata keramat yang sangat tidak mungkin dikatakan oleh seorang Asryila Alvarez" kata Keenan membuat Syila mencebikkan bibirnya.
"Udah, Lo tidur sana" usir Syila, gadis itu kembali membalik tubuhnya.
"Lo nyuruh tidur tapi Lo nya masih disini" kata Keenan.
"Gue tidur disini aja" sahut Syila mulai memejamkan matanya.
"Lo mau pindah sendiri ke ranjang, atau perlu gue gendong?" tanya Keenan, tapi Syila hanya diam tidak menjawab. Tanpa kata-kata lagi Keenan langsung mengangkat tubuh mungil Syila.
"Sebentar lagi sampai" kata Keenan tetap menggendong Syila ala bridal style.
Brukkkkkkkk......
Dilempar kannya tubuh mungil Syila di atas ranjang.
"SIAL, LO MAU MATI? BOSAN HIDUP LO?" teriak Syila marah, mengambil bantal dan memukul Keenan dengan membabi buta.
Bugh.....bugh....bugh....
Meskipun Keenan dengan mudah menangkis nya, namun Syila pantang menyerah dan terus menyerang Keenan dengan senjata bantal di tangannya.
"Syila, stop... Syila... Syila...." teriak Keenan, namun Syila seolah tuli.
"Lo mau jadi istri durhaka yang menyiksa suaminya sendiri?" kata Keenan membuat Syila berhenti seketika.
"Sorry" kata Syila langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu.
"Dia kenapa?" gumam Keenan bingung.
"Sial, apa yang baru saja gue katakan tadi?" Keenan menutup mulutnya dengan tangan.
Keenan membanting tubuhnya di ranjang itu, ia tidak sengaja mengungkit status nya dengan Syila yang kini menjadi suami istri.
🌸🌸🌸
Syila berada di dapur, gadis itu merasa tenggorokannya sangat kering setelah mendengar kata-kata suami istri dari mulut Keenan.
"Suami istri?" kata Syila tersenyum sini sambil membuka kulkas mengambil minuman dingin lalu memeluknya beberapa kali.
"Bahkan gue belum sempat belajar mencintainya" lirih Syila berada di salah satu kursi mini Bar yang ada di dapur
"Tidak sulit bukan mencintai pria seperti Keenan? Tapi...." Syila sangat sadar jika di hati Keenan ada wanita lain, dan untuk membuat Keenan jatuh cinta padanya tentu saja sangat tidak mungkin. Syila tahu betul bagaimana Keenan.
Dari kejauhan Queen menatap sendu Syila, Queen tidak menyangka jika gadis sebaik Syila harus menghadapi kenyataan serumit dan sepahit ini.
Queen dan Syila lumayan dekat karena perbedaan usia mereka hanya dua tahunan, bahkan beberapa kali Queen dan Syila satu sekolahan karena Queen juga bersekolah disekolah yang sama dengan Keenan dan Syila.
Sebenarnya Queen juga tahu jika Keenan dan Amanda berpacaran, namun entah kenapa sejak awal Queen tidak suka dengan Amanda yang menurut Keenan baik dan manis.
"Huufffff" Queen mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum, gadis itu kembali membawa teko kacanya keatas karena tidak ingin mengganggu Syila yang sedang menikmati kesendiriannya.
"Syila rindu Papa, Syila rindu berdebat dengan Papa dan berakhlak melihat wajah kesal Papa karena kalah berdebar dengan Syila" lirih Syila, sebenarnya Syila tidak suka dengan sifat ya yang gampang sedih seperti ini, karena Syila akan terlihat benar-benar seperti gadis lemah.
"Gue benci ini" gumam Syila kembali naik keatas, seandainya saja Syila berada di rumahnya, mungkin Syila akan memilih tidur di kamar orang tuanya seperti hari-hari sebelumnya karena Keenan menguasai ranjang besarnya.
Tapi sekarang Syila bisa pergi kemana? Kamar tamu? Sangat tidak mungkin karena jika Zahra tahu pasti wanita baruh baya itu akan sangat sedih. Dan Syila tidak bisa melihat wanita yang sudah lama di panggil Bunda olehnya itu sedih, Syila sudah menganggap Zahra seperti ibu kandungnya sendiri, bahkan Zahra yang meminta agar Syila memanggilnya Bunda sejak 13 tahun yang lalu.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺