
Keesokan harinya Emran dan istrinya mengantarkan Keenan dan Syila melihat Apartment itu. Letak Apartment itu memang dekat dari kampus mereka berdua, dan termasuk salah satu Apartment elite di Ibukota.
"Bunda gak nyangka selera Ayah bagus juga" kata Zahra melihat isi Apartment itu.
"Selera Ayah memang bagus, makanya Ayah menikahi Bunda sebagai istri Ayah. Walaupun dulu banyak perempuan cantik melamar Ayah" ujar Emran sombong.
"Jadi menurut Ayah, Bunda tidak cantik. Begitu?" sinis Zahra, Emran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena menyadari sesuatu yang salah.
"Bunda tidak hanya cantik, tapi baik hati dan sabar. Itulah kenapa Ayah memilih Bunda sebagai istri" ralat Emran dengan hati-hati.
"Ayah sama Bunda kalau mau nostalgia mending pulang aja" usir Keenan kesal melihat tingkah orang tuanya.
"Memangnya kenapa kami harus pulang?" Zahra menarik tangan Syila dan melanjutkan room tour mereka yang belum selesai.
"Apakah kamarnya hanya ada satu?" tanya Syila memasuki kamar yang cukup luas bernuansa putih.
"Ya, hanya ada kamar utama milik kalian. Tapi didekat dapur ada kamar kecil untuk pelayan kalian" terang Emran.
"Kami tidak akan menggunakan pelayan" sahut Keenan, membuat mereka semua menoleh kearah pemuda itu.
"Ken dan Syila ingin mulai hidup mandiri, tanpa ada pelayan yang menganggu kami" sambung Keenan, namun Syila menangkap sesuatu yang lain.
"Begitu juga bagus, jadi kalian semakin dekat dan saling membantu membereskan Apartment ini" kata Zahra.
"Ya kalau kalian sanggup melakukannya sendiri, Ayah setuju-setuju saja" timpal Emran.
Mereka kembali ke ruang tamu dan berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Emran dan Zahra pamit pulang, karena Keenan dan Syila langsung tinggal di Apartment karena sudah membawa barang-barang mereka.
🌸🌸🌸
Syila langsung ke kamar menata barang-barangnya, dan Keenan mengikuti gadis itu dari belakang sambil menyeret koper besarnya.
"Baju-baju gue di tata sekalian, yang rapih, jangan berantakan!" titah Keenan lalu berbalik keluar kamar.
Syila melihat itu hanya diam saja, meskipun berat tinggal bersama dengan Keenan, tapi Syila berusaha menjalaninya dengan baik.
"Aku sudah menerima kenyataan bahwa semuanya berubah, aku menerima kemarahan dan kebencian mu padaku. Tapi sesekali aku merindukan kamu yang dulu, meskipun yang aku dapat hanyalah sakit" gumam Syila menatap sendu pintu yang tidak tertutup rapat itu, lalu membawa koper Keenan kedalam walk in closet mereka.
Keenan yang sebenarnya ada di balik pintu itu mendengar kata-kata Syila, pemuda itu sebenarnya tidak tega jika harus bersikap seperti orang asing dengan sahabat sekaligus istrinya.
Namun Keenan harus melakukan semua itu agar Syila sendiri yang pergi dari hidupnya, Keenan ingin Syila membenci dirinya.
"Gue yakin dia gak akan bertahan lama" gumam Keenan, tinggal berdua dengan Syila membuat Keenan berencana menyiksa gadis itu.
"Syila......Syila......!!!" seru Keenan berada di depan TV.
"Apa...?" Syila datang dengan wajah kesal karena Keenan memanggil Syila saat dirinya belum selesai menyusun barang.
"Ambilin gue minum dong, gue haus" kata Keenan dengan entengnya.
"What????" Syila membulatkan matanya.
"Lo!!!"
"Sekalian sama cemilannya, gue laper" sambung Keenan tanpa melihat wajah marah Syila.
"Ambil aja sendiri!" Syila segera pergi Dangan menghentak-hentakan kakinya.
"Apa gunanya istri kalau gue mesti ambil sendiri" celetuk Keenan membuat Syila berhenti.
"Gue istri! Bukan babu apa lagi pesuruh Lo!" ralat Syila semakin kesal.
"Yah inilah maksud gue, gue harus bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak menghargai gue. Padahal gue udah ngorbanin cinta dan cita-cita gue" sinis Keenan menatap tajam Syila.
"Besok gue panggil Mbok Lis untuk kesini" kata Syila membawa satu kotak jus mangga, dan beberapa bungkus biskuit untuk Keenan.
"Gue gak mau ada orang asing disini!" sahut Keenan.
"Mbok Lis bukan orang asing Ken!" kata Syila.
"Sedekat apapun Lo sama Mbok Lis, dia tetap orang lain! Dan gue gak suka ada orang lain mengusik wilayah pribadi gue!" tegas Keenan.
"Terus yang beresin rumah, cuci baju, masak dan lainya siapa? Lo?" balas Syila.
"Kenapa harus gue? Itu semua kan tugas seorang istri, dan Lo yang harus ngerjain semua itu" tegas Keenan.
"Lo gila? Gue gak bisa dan gue gak punya waktu untuk mengerjakan semua itu!" tolak Syila keberatan dengan apa yang Keenan katakan.
"Gue gak perduli" sahut Keenan meminum jus mangganya.
"Aghhhhh....." geram Syila meninggalkan Keenan dan kembali membereskan baju-baju yang masih berserakan.
🌸🌸🌸
Syila sedang memasak makan malam didapur, bukan masakan berat, karena Syila hanya meng-grill salmon, dan menumis beberapa jenis sayuran dengan bumbu bawang putih, garam dan lada, Syila juga menggoreng kentang sebagai pengganti nasi. Dan masakan super simple Syila sudah selesai dan siap tersaji di atas meja.
"Lo masak gini doang?" cibir Keenan melihat hasil masakan Syila.
"Lo bisa makan di luar kalao gak suka" kesal Syila, sebenarnya Syila juga malas masak dan ingin makan di luar saja. Tapi melihat kulkas penuh dengan stok makanan, akan sangat sayang jika sampai busuk karena tidak di olah.
Keenan duduk dan langsung makan masakan Syila, Keenan ingin mencari kesalahan dalam masakan Syila. Namun sialnya masakan simple itu terasa enak hingga Keenan lupa tujuan awalnya makan masakan sang istri.
Syila terdiam melihat Keenan yang makan dengan lahapnya, Syila sendiri tidak yakin jika masakannya enak. Sebab ini pertama kalinya Syila masak, karena biasanya hanya melihat sang Mama masak, atau membantu Zahra menyiapkan bahan masakan seperti kemarin.
"Belajar masak lagi, biar masakan Lo enak" kata Keenan meninggalkan meja makan itu dengan piring bersih tanpa sisa.
"Kalau pun gue belajar masak, itu untuk diri gue sendiri" gumam Syila mulai makan malamnya, setelah selesai makan malam, Syila membereskan meja makan dan dapurnya. Lalu gadis itu ke kamar dengan membawa satu botol air minum di tangannya.
Saat akan membuka pintu kamar, Keenan terlebih dulu membukanya dari dalam. Pemuda itu terlihat rapih, segar dan harum maskulin.
"Minggir Lo" seru Keenan karena Syila menghalangi jalannya. Gadis itu langsung minggir tanpa mengatakan apapun, bahkan Syila tidak bertanya kemana Keenan akan pergi.
"Awas Lo sampai ngadu macam-macam sama orang tua gue" ancam Keenan menghentikan langkahnya, namun Syila hanya diam.
"Hehhh Lo budek ya!!!" bentak Keenan, Syila hanya melihatnya dengan malas lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sial, gue di cuekin" umpat Keenan melihat sikap acuh Syila.
Pemuda itu langsung pergi karena ada janji bertemu dengan Alex dan teman-teman lainya di sebuah Kafe.
"Lo mau kemana, ngapain aja itu bukan urusan gue. Dan gue juga gak mau ikut campur" gumam Syila di depan wastafel, gadis itu menggosok gigi dan membersihkan wajahnya sebelum tidur.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺