
Setelah Syila kembali ke kamarnya, pengacara itu juga pamit untuk pulang karena sudah menjelaskan apa yang harus ia jelaskan terkait wasiat dari kliennya.
Di ruangan itu kini hanya tinggal Emran, Zahra, Keenan dan juga Hans. Mereka semua masih terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Hans" ucap Emran membuka pembicaraan.
"Saya Tuan" sahut Hans.
"Saya harap kau bisa menghandle perusahaan Abyan, sampai Syila benar-benar bisa memimpin perusahaan itu. Abyan sangat percaya padamu" kata Emran, sebab dirinya juga tidak mungkin mengurus dua perusahaan sekaligus.
"Saya mengerti Tuan" ucap Hans, menyanggupi apa yang dikatakan oleh Emran.
"Kau bisa bertanya padaku jika butuh pendapat atau solusi" ujar Emran, Hans hanya mengangguk paham.
"Kalau begitu saya permisi Tuan" pamit pria 27 tahun itu meninggalkan kediaman Alvarez.
"Ayah" Keenan kini membuka suara.
"Kita bicara besok Ken, sekarang temani lah istrimu" kata Emran masuk kedalam salah satu kamar yang ada dirumah itu.
"Istrimu?" ulang Keenan tersenyum miris.
"Apakah ada yang aneh? Bukankah Syila memang istrimu?" ucap Zahra melihat reaksi putranya, lalu wanita itu menyusul suaminya.
Keenan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kepergian Bunda nya, ia harus segera membahas pernikahan itu secepatnya, tapi saat ini juga bukan waktu yang tepat.
Ceklek....
Keenan membuka pintu kamar Syila, namun gelap, dan saat Keenan menyalakan lampu kamar, kamar itu tampak kosong. Tapi kain gorden yang mengarah ke balkon tampak tertiup angin, sudah pasti jika pintu balkon itu terbuka.
Dan benar saja, saat Keenan menyibakkan gorden itu, tampak Syila duduk dalam ayunan sangkar burung dengan memeluk lututnya dan wajahnya tampak memandang keatas langit yang gelap.
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan" Keenan mendudukkan diri di single sofa sebelah ayunan itu.
Keenan menatap wajah cantik Syila yang terlihat sayu, namun gadis itu tak bergeming. Syila terlalu larut dan hanyut dalam lamunannya atau memang sengaja tidak perduli dengan kehadiran Keenan.
"Apakah langit gelap itu sangat indah?" kesal Keenan tak mendapat respon apapun dari Syila.
"Syila, aku sedang bicara denganmu" Keenan menggoyangkan ayunan itu.
"Pergilah" usir Syila tanpa mengalihkan pandangannya.
Keenan yang tahu paham sifat keras kepala Syila langsung meninggalkan gadis itu, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang Syila. Keenan tidak perduli jika nanti Syila marah padanya karena tidur di kamar gadis itu, tubuhnya terasa lelah setelah sehari semalam tidak tidur dan kurang istirahat.
🌸🌸🌸
Sudah satu minggu sejak kepergian Abyan, selama itu pula keluarga Millard berada dirumah Syila dan mendampingi gadis itu. Rencananya hari ini Emran akan memboyong menantunya untuk pulang kerumahnya, meskipun tidak yakin jika Syila bersedia ikut.
"Syila, hari ini ikut pulang kerumah Ayah, ya" kata Emran disela sarapannya.
"Syila tidak ingin meninggalkan rumah ini, Ayah" kata Syila menundukkan kepalanya.
"Sayang, tidak ada yang meminta mu meninggalkan rumah ini, Bunda tahu seberapa berharga nya rumah ini untuk mu. Tapi Bunda ingin menantu bunda menginap di rumah Bunda beberapa hari saja" ucap Zahra.
Uhukkkkk.....uhukkkk....uhukkk....
Keenan tersedak mendengar kata-kata menantu yang masih sangat asing di telinganya.
"Kau bukan anak kecil Ken, makan saja sampai tersedak" cibir Emran bukannya memberikan minum pada putranya.
"Ayah, Ken ingin mengatakan sesuatu" kata Keenan terdengar serius.
"Memangnya kamu mau mengatakan apa?" tanya Emran.
"Ken ingin pernikahan ini hanya diketahui oleh keluarga kita saja, Ken...."
"Apa maksud mu Ken?!" seru Emran tidak setuju.
"Ayah, Ken dan Syila masih sangat muda untuk sebuah pernikahan. Dan kem masih ingin menikmati masa muda, kuliah dan lainya" Keenan mengatakan keinginan nya.
"Mau sampai kapan pernikahan ini di rahasiakan?" Emran meneguk air putih dalam gelasnya.
"Ken belum tahu" jawab Keenan asal, karena Keenan tidak berniat menjalani pernikahan itu.
"Kau setuju sayang?" Emran bertanya pada Syila, gadis itu hanya mengangguk.
"Baiklah jika itu kemauan kalian, tapi Ayah harap kalian tidak mempermainkan ikatan sakral dan suci ini" putus Emran mengikuti kemauan putranya.
Setelah selesai sarapan, Emran pergi kekantor nya, sedangkan Zahra mengantar putri bungsunya kesekolah. Kini tinggal Syila dan Keenan dirumah itu.
"Pergilah" kata Syila tanpa berniat melarang suaminya menemui kekasihnya.
Mendapat jawaban seperti itu membuat Keenan pergi dengan bahagia menemui pujaan hatinya tanpa beban, jiwa Keenan masih merasa lajang dan bebas tanpa merasa ada beban telah memiliki seorang istri.
🌸🌸🌸
"Kau cantik sekali sayang" puji Keenan melihat Amanda mengenakan Midi dress, membuat remaja itu terlihat sangat girly dan cantik.
"As always" sahut Amanda mengedipkan matanya.
Cup.....
Keenan tidak tahan untuk tidak mencium bibir merah cerry milik Amanda yang sangat nya.
"Baby, kau merusak lipstik ku" rajuk Amanda.
"Manis, seperti biasanya" kata Keenan tanpa memperdulikan Amanda yang merajuk.
"Ckk, ayo kita pergi" ajak Amanda, mereka akan mengurus beberapa keperluan sebelum terbang ke London seperti rencana awal mereka.
"Jadi kapan kita akan berangkat ke London?" tanya Amanda.
"Dua minggu lagi, kau tidak masalah kan?" sahut Keenan dengan fokus menyetir.
"Aku tidak pernah keberatan asalkan bersamamu" ucap Amanda membuat Keenan tersenyum lega.
"Bagaimana kabar Syila?" tanya Amanda.
"Syila baik" jawab Keenan singkat.
"Kalian masih tinggal dirumahnya?"
"Ya, tapi malam ini kami akan pulang" jujur Keenan.
"Dan meninggalkan Syila sendirian?"
"Ayah mengajak Syila untuk menginap dirumah kami beberapa hari, tapi aku tidak tahu Syila setuju atau tidak" jelas Keenan.
...
Dirumah Syila, Hans datang karena gadis itu memanggilnya. Syila ingin meminta beberapa bantuan pada Hans.
"Ada apa?" tanya Hans, dia sudah menganggap Syila seperti adiknya, dan gadis itu juga tidak mau di panggil Nona.
"Kakak bisa menemaniku kesekolah? Ada beberapa berkas yang harus aku ambil dan melihat beberapa kampus" kata Syila. Hans melihat arloji di tangannya, kemudian menatap Syila.
"Kau bisa ikut kekantor dulu? Aku ada meeting satu jam lagi" kata Hans.
"Apakah lama?" tanya Syila.
"Tidak, kami hanya akan membahas pengadaan bahan baku dan rencana pemasaran produk baru" jelas Hans.
"Baiklah, Syila ikut Kakak. Tapi Syila ganti baju dulu" kata Syila lalu berlari menuju kamarnya untuk mengganti pakaian nya.
Tidak sampai sepuluh menit, Syila sudah kembali dengan pakaian kasual khas anak remaja. Gadis itu terlihat cantik dan menarik.
"Ayo" ajak Syila berjalan mendahului Hans.
"Kau mau kuliah dimana?" tanya Hans mulai melajukan mobilnya.
"Belum tahu" jawab Syila apa adanya, Syila memang belum memutuskan akan berkuliah di kampus mana.
Sebenarnya Hans menyukai Syila sebagai wanita, hal itu bisa di lihat dan di rasakan oleh Abyan. Itu juga yang membuat Abyan ingin menikahkan Syila dan Hans saat itu, tapi sayangnya ponsel.hans tidak bisa di hubungi kala itu, hingga akhirnya Keenan lah yang dengan terpaksa menikahi Syila atau perintah dari Ayah.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺