You'Re My Happily Ever After

You'Re My Happily Ever After
Kepergok



Siang itu Keenan membawa Amanda jalan-jalan kepusat perbelanjaan terbesar di kota itu, Keenan benar-benar lupa jika dirinya memilki tanggung jawab seorang istri, pemuda itu terlalu larut bahagia bersama dengan kekasihnya.


"Kakak" seru Queen melihat Keenan bergandengan tangan dengan mesra di Mall bersama gadis lain.


"Queen" lirih Keenan melihat adiknya yang menatap tak suka pada tangan Keenan yang masih bertaut dengan tangan Amanda.


"Hai Queen" sapa Amanda ramah tersenyum pada gadis itu karena mereka memang mengenal, sebab satu sekolahan.


"Kakak ngapain disini?" tanya Queen penuh selidik.


"Kami jalan-jalan dan membeli beberapa keperluan untuk dibawa ke London nanti" bukan Keenan, tapi Amanda yang menjawabnya.


"London? Setelah semuanya ini? Kakak masih berpikir akan pergi ke London?" Queen melipat tangannya di dada.


"Memang ada apa? Bukannya Om Emran sudah setuju jika Keenan kuliah di London?" tanya Amanda, dan Keenan masih diam saja.


"Baby kenapa kamu diam saja?" Amanda terlihat bingung, bahkan Queen menatap sinis padanya.


"Queen, sebaiknya kamu pulang" titah Keenan yang tahu arah pembicaraan Queen.


Keenan memang belum membahas lagi pasal keberangkatan nya ke London dengan Ayahnya, namun setelah mendengar kata-kata Queen, Keenan merasa jika akan sulit bagi Keenan untuk terbang ke London menimba ilmu.


"Kau juga harus segera pulang Kak, ingat tanggung jawab mu!" kata Queen penuh penekanan dan berlalu meninggalkan Keenan dan Amanda.


"Ada apa dengan Queen? Dan tanggung jawab apa yang dia maksud?" tanya Amanda bingung.


"Sudah lupakan saja apa yang Queen katakan, dia hanya asal bicara" Keenan merangkul pundak Amanda mengajak gadis itu mengelilingi Mall dan membeli apapun yang Amanda inginkan.


🌸🌸🌸


Satu jam lebih Syila menunggu Hans yang sedang meeting, gadis itu menunggu orang kepercayaan Papanya di ruang kerja Abyan. Tidak banyak kenangan di ruangan itu, karena Syila memang jarang mengunjunginya Abyan di kantornya.


Ceklek....


Hans membuka pintu ruangan itu, dan melihat Syila duduk melamun di kursi kebesaran Abyan.


"Kakak sudah selesai?" tanya Syila menoleh kearah Hans.


"Hemmm, maaf karena membuatmu menunggu lama" kata Hans.


"Ayo kita berangkat" ajak Hans lalu Syila mengangguk dan mengikuti Hans dari belakang.


Keduanya berjalan beriringan menuju lift yang akan membawanya turun kebawah.


"Sudah memutuskan untuk mengambil jurusan apa nantinya?" tanya Hans didalam lift.


"Bisnis dan Manajemen, bukankah itu yang perlu aku pelajari?" tanya Syila di angguki Hans.


"Aku yakin dimasa depan kau pasti akan menjadi pebisnis wanita yang handal dan sukses" ujar Hans, membuat Syila terkekeh.


"Kau tidak percaya?" tanya Hans.


"Bukan tak percaya, hanya saja aku tidak yakin. Tapi aku berharap apa yang Kakak katakan akan menjadi kenyataan" kata Syila tersenyum manis.


Mereka sudah keluar dari lift dan berjalan kearah lobby, disana mobil yang di kendarai Hans sudah siap menunggu sang Tuannya.


"Jadi kita kesekolah dulu?" tanya Hans.


"Ini sudah hampir jam makan siang, lebih baik kita makan siang dulu" kata Syila melihat arloji nya.


"Baiklah, kau ingin makan dimana?" tanya Hans mulai melajukan mobilnya.


"Aku belum tahu" jawab Syila.


"Bagaimana kalau kita mampir ke Mall? Kita bisa ke food court memilih menu yang menarik" usul Hans, Syila hanya mengangguk. Sudah hampir satu bulan gadis itu tidak menginjakkan kaki di Mall karena sibuk mempersiapkan ujian dan terlalu menyibukkan diri di butik peninggalan Mama nya.


"Ayo turun" ajak Hans sudah sampai di sebuah Mall besar.


"Cepat sekali?" gumam Syila melepas seat belt nya dan turun dari mobil.


"Kau terlalu banyak melamun Nona" kata Hans mencubit hidung mancung Syila.


"Berhenti melakukan hal itu Kak, aku bukan anak kecil lagi" ucap Syila tak suka.


Hans sudah mengenal Syila sejak gadis itu berusia 13 tahun, saat itu Hans baru saja menyelesaikan kuliahnya dan langsung bekerja dengan Abyan.


🌸🌸🌸


Sesampainya di food court, Hans dan Syila berkeliling memilih makanan yang mereka inginkan.


"Sudah tahu ingin makan apa?" tanya Hans.


"Sesuatu yang berkuah, panas dan pedas" ucap Syila.


"Baiklah, kita kesana" Hans menarik tangan Syila menuju salah satu restoran yang menyajikan makanan sesuai keinginan Syila.


"Wait" Hans menghentikan langkahnya karena netranya menangkap sesuatu yang tidak asing.


"Bukankah itu Keenan?" kata Hans menunjuk sepasang kekasih yang tengah makan dengan mesra di salah satu meja yang ada di food court itu.


"Ada apa? Kau diam saja melihat suamimu bermesraan dengan wanita lain?" tanya Hans melihat Syila hanya menatap Keenan dan Amanda.


"Kak please, aku sangat lapar" kata Syila memelas.


Hans terpaksa mengikuti kemauan Syila dan akan kembali menanyakan nya nanti, Hans memang tidak tahu jika pernikahan Syila dan Keenan terjadi karena sebuah keterpaksaan. Yang Hans tahu adalah pernikahan itu terjadi karena Keenan dan Syila saling mencintai mengingat keduanya berteman dekat, dan tidak ada hubungan pertemanan yang murni antara pria dan wanita.


🌸🌸🌸


Hans dan Syila sudah berada didalam mobil, Syila memutuskan kembali kerumah dan tidak jadi kesekolah atau pergi melihat beberapa kampus seperti rencana awal.


"Sekarang bisa kau jelaskan apa yang tadi aku lihat?" tanya Hans sambil mengemudikan mobilnya.


"Dia Amanda, pacar Keenan" jujur Syila membuat Hans mengerem mendadak.


Cittttttttt.........


Tubuh Syila terhuyung ke depan, untuk saja gadis itu memakai seat belt nya.


"Kakak" pekik Syila.


Tin....tin....tin.....


Suara klakson dari mobil belakang, lalu Hans kembali melajukan mobilnya dan mencari tempat untuk menepi.


"Apa maksudmu menyebut gadis itu pacar Keenan?" tanya Hans menghentikan mobilnya.


"Aku dan Keenan hanya bersahabat, dan sudah lama Keenan berpacaran dengan Amanda" jelas Syila.


"Tapi Keenan menikahi mu"


"Malam itu baik aku dan Keenan tidak bisa menolak keinginan Papa yang ingin menikahkan ku, dan terjadilah pernikahan itu" kata Syila.


"Syila, pernikahan itu bukanlah suatu permainan, itu ikatan suci dan sakral. Kalian tidak boleh mempermainkan nya, apalagi pernikahan itu terjadi sebagai permintaan terakhir dari Tuan Abyan" kata Hans mengingatkan.


"Aku tahu Kak, aku juga tidak bermaksud mempermainkan pernikahan. Tapi untuk menjalani pernikahan itu? Aku tidak yakin mampu menjalaninya, seumur hidup bersama orang yang tidak mencintaiku itu terlalu lama" ucap Syila mulai berkaca-kaca.


"Kau mencintai Keenan?" tanya Hans.


"Tidak, maksud ku belum. Tapi pria itu sudah mencintai wanita lain, dan aku menjadi orang ketiga dalam...."


"Tidak, kau bukan orang ketiga. Apapun alasannya kau adalah istri sah nya" sergah Hans.


"Itu menurut Kakak, tapi tidak bagi orang lain. Mereka akan menganggap ku orang ketiga dan berpikir buruk tentangku" ucap Syila mulai menangis.


"Hiks....setidaknya aku ingin di cintai oleh suamiku, tapi takdir malah menempatkan ku di situasi yang rumit ini" Syila melihat kearah luar jendela untuk menyembunyikan air matanya dari Hans.


"Maka berjuanglah untuk mendapatkan cinta dari suamimu, aku mendukungmu" kata Hans memberikan semangat pada Syila memenangkan hati Keenan.


🌸


🌸


🌸


🌸


🌸


TBC 🌺