
Hari ini Syila menghabiskan waktunya bersama dengan Queen, kedua ya memang sudah dekat jauh sebelum Syila menjadi Kakak iparnya. Dan adanya pernikahan antara Keenan dan Syila membuat Queen semakin dekat dengan Syila.
"Apakah Kakak bahagia?" tanya Queen, mereka berada di salah satu Kafe sebuah Mall.
"Why? Apakah aku terlihat menyedihkan?" tanya Syila sambil menikmati es krim nya.
"Tidak, bukan itu. Hanya saja Kakak terlihat berbeda" kata Queen melihat wajah Syila yang semakin sayu.
"Tentu saja aku berbeda, karena aku telah kehilangan satu-satunya pria yang menerima dan mencintai ku tanpa syarat. Itu bukan hal yang mudah untukku" jujur Syila.
"Kak, aku tidak bermaksud....."
"Aku tahu, habiskan es krim mu dan kita akan bersenang-senang hari ini" kata Syila tersenyum, mengakhiri pembicaraan yang tidak menyenangkan. Queen hanya mengangguk karena tidak ingin membuat suasana hati Syila menjadi buruk.
Seharian itu Syila dan Queen melakukan banyak hal, bermain, meminta, makan, belanja dan masih banyak lagi hingga akhirnya senja memisahkan mereka berdua.
...
Sepertinya biasanya, rutinitas pagi Syila bangun, mandi, menyiapkan sarapan dan pergi ke kampus. Untuk membersihkan Apartment, Syila selalu meminta bantuan Mbok Lis dia hari sekali. Gadis itu terlalu sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk membersihkan Apartment.
Setelah kuliah, kadang Syila mengunjungi butik mendiang Mama nya atau ikut Hans meeting untuk menambah wawasan nya dalam dunia bisnis. Atau bisa di katakan jika Syila langsung praktek di lapangan tentang ilmu yang tengah di pelajari nya di kampus.
"Morning Sisil...." sapa Tristan memberikan senyum terbaiknya, sedangkan Syila malah menengok ke kiri dan kanannya bingung.
"Cari apa?" tanya Tristan ikut bingung.
"Sisil, apa ada anak baru di kelas kita?" tanya Syila.
"Oh God, Sisil itu panggilan sayang gue ke Lo. Bukan nama orang lain" jelas Tristan.
"Gue gak suka kalau nama gue di ganti-ganti" jujur Syila, gadis itu tidak nyaman jika seseorang memberinya panggilan sayang.
"Kenapa? Kan hanya panggilan aja. Lagi pula cuma gue yang manggil Lo dengan nama Sisil" ucap Tristan menyakinkan.
"No" kata Syila menatap datar Tristan, pemuda itu hanya menghela nafas pasrah.
"Fine, tapi nanti malam Lo mau ya jalan sama Gue" ajak Tristan.
"Tidak"
"Syila, please" Tristan memohon.
"Oke, tapi Lo juga harus ajak teman-teman satu kelas ini" kata Syila berharap jika Tristan menolak.
"Why not?" Tristan langsung mengumumkan pada teman satu kelas ya untuk datang makan malam di salah satu restoran seafood.
"Sekarang Lo gak bisa nolak gue" kata Tristan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Syila hanya diam tak menyangka jika Tristan senekat itu.
"Kencan rame-rame juga bukan ide yang buruk, mereka akan menjadi saksi saat gue nembak Syila nanti. Pasti Syila akan segan nolak gue dan gue akan langsung di terima" gumam Tristan merencanakan sesuatu.
🌸🌸🌸
Malam harinya, seperti yang sudah di janjikan Syila, gadis itu pergi makan malam bersama Tristan dan teman-teman lainya.
"Gue rasa baju Lo berlebihan" kata Keenan melihat Syila tampak anggun mengenakan Lace shabby dress berwarna cream.
"This is my style" sahut Syila menata rambutnya mengenakan jepitan kecil dan itu membuatnya semakin terlihat manis.
"Menyebalkan" gumam Keenan.
"Pergilah Ken, kita tidak mungkinlah datang bersama kan?" kata Syila kembali kedalam walk in closet mengambil tas.
"Lo ngusir Gue?" Keenan mengikuti Syila.
"Ya udah, kalau gitu gue yang pergi duluan" Syila memasukkan dompet dan ponselnya kedalam tas yang baru saja di ambilnya.
Syila dan Keenan tiba di restoran, disana sudah ada beberapa teman kelas mereka namun tidak semuanya bisa ikut karena ada acara masing-masing.
"Hemmm" kata Syila langsung duduk bergabung dengan teman lainnya.
"Ken, Lo datang bareng Syila?" tanya Tristan.
"Gue ketemu Syila di parkiran" kata Keenan berlalu ikut duduk bersama yang lainya.
Tristan memesan banyak makanan untuk teman-temannya, Syila yang memang suka seafood makan dengan lahap hingga gadis itu merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.
Uhukkkk..... uhukkk......
Syila tersedak, dan merasa sulit bernafas, tenggorokan dan seluruh tubuhnya terasa gatal.
"Syila, Lo kenapa?" tanya Tristan melihat Syila tidak baik-baik saja.
"G-u-e......." gadis itu terbata, dadanya terasa sesak dan semakin kesulitan untuk bernafas.
"Sepertinya dia alergi seafood" ucap salah satu teman mereka melihat kondisi Syila, Keenan yang mendengar itu langsung mendekati Syila.
"Apa yang dia makan?" tanya Keenan, tapi belum ada yang menjawab, pemuda itu langsung membawa Syila pergi dari sana.
"Pakai mobil gue Ken" kata Tristan mengikuti Keenan dari belakang.
"Cepetan brengsek" teriak Keenan melihat Syila sudah sangat lemas, ingatannya kembali saat dulu Syila terpaksa memakan udang karenanya.
"Syila, bangun" kata Keenan menepuk-nepuk pipi gadis itu yang sudah penuh ruam merah.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit karena Tristan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Tolong dia, dia alergi udang" seru Keenan merebahkan tubuh Syila di brankar pasien IGD.
"Lo tahu dari mana kalau Syila alergi udang?" tanya Tristan curiga jika Keenan dan Syila berteman dekat.
"Dia dulu juga begitu saat acara sekolah" bohong Keenan, Tristan mengangguk paham namun tetap curiga pada Keenan karena reaksi Keenan terlalu berlebihan untuk ukuran teman biasa.
🌸🌸🌸
Emran dan Zahra langsung datang kerumah sakit saat Keenan mengabari jika Syila masuk rumah sakit karena makan udang. Hal yang sangat di takutkan oleh Zahra karena pernah melihat Syila sekarat akan alerginya.
"Ken" ucap Emran dan Zahra bersamaan.
"Ayah, Bunda" Keenan berdiri dari kursi yang ada di sebelah bed Syila.
"Astaga, bagaimana bisa seperti ini?" kata Zahra melihat wajah Syila penuh ruam merah dan juga bengkak.
"Naga kau menjaganya, Ken? Apa yang kau lakukan sampai Syila makan udang?" tanya Emran, Keenan hanya diam tidak bisa membela diri. Karena seperti apapun pembelaan diri yang Keenan lakukan, Keenan tetap salah di mata Emran yang terlihat lebih menyayanginya Syila dari pada dirinya.
"Maafkan Keenan Yah" ucap pemuda, entah maaf untuk apa.
"Lain kali kau harus lebih berhati-hati menjaga Syila, ayah tidak ingin kejadian seperti ini terulang" kata Emran melihat menantunya yang terlelap.
Keenan menatap tak suka karena kedua orang tuanya sangat perhatikan dan sayang pada Syila. Padahal Emran dan Zahra juga sangat menyayangi Keenan yang notabenenya adalah putra satu-satunya mereka, tapi semua itu tidak bisa dilihat oleh Keenan semenjak kandasnya hubungannya dengan Amanda.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺