You'Re My Happily Ever After

You'Re My Happily Ever After
Perdebatan



Dua minggu berlalu setelah kemarin Papa Syila, kini gadis itu baru mau datang kerumah Keenan, atau lebih tepatnya kerumah mertuanya karena sudah beberapa kali Syila menolak ajakan Emran dan juga Zahra untuk menginap dirumah mereka.


"Selamat datang sayang" Zahra memeluk menantunya dengan hangat.


"Ayah senang karena akhirnya menantu Ayah mau datang kerumah Ayah" ucap Emran memeluk Syila, membuat gadis itu jadi canggung karena ucapan Emran.


"Ken, bawa koper Syila ke kamarmu" titah Emran pada Keenan yang membawa koper milik Syila.


"Apa? Ke kamar Ken?" tanya Keenan kaget.


"Tentu saja, sekarang Syila adalah istrimu. Tidak mungkin Syila tidur bersama Queen bukan?" sahut Zahra.


"Syila di kamar tamu seperti biasanya saja Bun" sela Syila.


"Mana bisa seperti itu? Kau sekarang menantu keluarga Millard sayang, bagaimana bisa kamu membiarkanmu tidur di kamar tamu?" kata Zahra.


"Ken, apa yang kau tunggu? Cepat bawa koper Syila ke atas dan kita akan makan malam" titah Emran pada putranya.


"Ckk" decak Keenan dengan malas terpaksa membawa koper Syila ke kamarnya.


"Huffffff, untung saja sebentar lagi aku berangkat ke London, jadi tidak begitu masalah jika harus berbagi kamarku dengan Syila" gumam Keenan masuk kedalam kamarnya dan menaruh koper Syila begitu saja.


"Kakak" panggil Queen yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Hai, ayo kita makan malam" ajak Keenan merangkul pundak Queen seperti biasanya, namun dengan cepat Queen menghempaskan tangan Keenan.


"Jangan menyentuhku" ucap Queen marah.


"Why? Ada apa denganmu?" tanya Keenan bingung.


"Kakak masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Queen dengan nada sinis.


"Amanda? Ya, kau tahu bukan jika Kakak dan sudah berpacaran lumayan lama?" jawab Keenan santai melanjutkan langkahnya.


"Tapi sekarang Kakak sudah menikah!" seru Queen membuat Keenan berhenti dan berbalik pada Queen.


"Pernikahan itu tidak berarti apapun bagi Kakak, jadi kau tidak perlu ikut campur" ucap Keenan datar.


"Begitu menurut Kakak?" Queen tersenyum sinis.


"Bagaimana jika aku yang berada di posisi Kak Syila? Menikah dengan pria yang masih menjalin hubungan dengan wanita lain? Kau tega Kak? Apakah kau pernah memikirkan hal itu?" Queen menatap tajam Keenan.


"Itu tidak mungkin terjadi" jawab Keenan.


"Kenapa tidak mungkin?"


"Karena Ayah bukan orang egois seperti Om Abyan yang memaksakan kehendaknya!" seru Keenan.


Deg.......


Tubuh Syila lemas mendengar kata-kata Keenan, gadis itu tadinya ingin memanggil Keenan dan Queen. Tapi baru sampai di pertengahan anak tangga Syila malah mendengar kata-kata yang membuatnya sakit hati.


Syila kembali turun kebawah dan tidak jadi memanggil Kakak beradik yang tengah berdebat itu.


"Sayang, dimana mereka?" tanya Zahra.


"Ken dan Queen sebentar lagi akan turun Bun" jawab Syila menarik salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut.


"Kau sudah memutuskan untuk kuliah dimana sayang?" tanya Emran.


"Universitas Pelita Bangsa, Kak Hans sudah membantu Syila mengurus semuanya" jawab Syila.


"Universitas itu ada di pusat kota bukan?" tanya Zahra.


"Ya, tapi tidak terlalu jauh" kata Emran.


"Bukan masalah jauhnya Yah, tapi dari sini ke kota sering terjadi kemacetan yang panjang. Bukankah terlalu lama membuang waktu untuk sampai ke kampus itu?" ujar Zahra.


"Itu tidak masalah Bun" sela Syila.


"Ya tentu saja tidak masalah karena sekarang kau belum memulai aktivitas kuliahmu sayang, tapi nanti kau akan menghadapi kesulitan jika sudah aktif kuliah" kata Zahra mengusap tangan Syila.


"Apa yang Bunda katakan itu benar sayang" timpal Emran setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


Tidak lama Keenan dan Queen datang dan mereka mulai makan malam bersama.


"Oh iya, ayah lupa mengatakan jika pernikahan kalian sudah d SAH kan dimata hukum" kata Emran tiba-tiba.


Uhukkkkk......uhukkkkk.....uhukkk.....


Keenan dan Syila secara kompak tersedak makanan mereka, membuat Emran dan Zahra heran.


"Kalian kenapa?" tanya Zahra, sedangkan Queen hanya diam menikmati makanannya.


"Ada apa? Kau keberatan Ayah mengesahkan pernikahan kalian?" tanya Emran menatap putra dan menantunya.


"Ken kan sudah bilang kalau pernikahan ini dirahasiakan dulu" kata Keenan.


"Ya, Ayah sudah setuju. Dan Ayah hanya mengesahkan pernikahanmu, bukan mengumumkan pada khalayak ramai" sanggah Emran.


"Ckk" decak Keenan kesal meneguk minumannya.


"Bagaimana menurutmu sayang? Kau tidak keberatan bukan?" tanya Zahra pada Syila, gadis itu mengangkat wajahnya melihat wajah masam Keenan lalu melihat Ayah mertuanya.


"Tidak Bunda" jawab Syila menundukkan kepalanya karena tidak sanggup melihat tatapan Keenan yang seolah menembus hatinya.


Makan malam itu berlanjut dengan mood Keenan yang berantakan, bahkan pemuda itu kehilangan selera makannya.


🌸🌸🌸


Keenan menemui Ayahnya yang berada di ruang kerja, seperti biasa kegiatan Emran selalu mengecek kembali pekerjaan nya sebelum tidur.


Ceklek....


"Ayah, bisa Ken bicara?" tanya Keenan masuk dalam ruang kerja Emran tanpa mengetuk pintu.


"Ya bicara saja" kata Emran sambil menatap laptop nya.


"Ken akan berangkat ke London empat hari lagi" kata Keenan berhasil membuat Emran menghentikan kegiatannya dan menatap tajam padanya.


"APA YANG KAU KATAKAN KEN?" bentak Emran.


"Ken akan kuliah di London Yah, seperti apa yang pernah kita bicarakan dulu. Dan ayah sudah setuju kan?" ucap Keenan mengingatkan, membuat Emran menghela nafas dalam-dalam.


"Saat itu Ayah memang setuju, tapi jauh dari dalam lubuk hati Ayah tidak rela melepaskan mu pergi ke London. Apalagi sekarang kau memiliki tanggung jawab seorang istri, Syila adalah tanggung jawabmu Ken. Abyan mempercayakan mu untuk menjaga Syila, ayah harap kau tidak mengecewakan nya" ujar Emran penuh harap pada Keenan.


"Ken tidak bisa Yah, Ken tidak mencintai Syila dan...."


"Tidak susah mencintai gadis seperti Syila, bukankah ayah sudah pernah mengatakan hal itu padamu?" kata Emran.


"Tapi cinta tidak bisa di paksakan Yah" sergah keenan.


"Ayah tidak memaksamu untuk mencintai Syila, tapi setidaknya belajar mencintai Syila. Menikah dengan orang yang kita cintai itu adalah harapan, tapi mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban. Ayah harap kau mengerti" Emran memberi wejangan pada putranya.


"Ken tidak bisa Yah, dan Ken akan tetap ke London" kata Keenan keras kepala.


"Kau bisa ke London, asalkan Syila juga ikut denganmu. Tapi jika Syila tidak ikut, maka jangan harap Ayah membiarkan mu pergi ke London!" putus Emran final.


"Kenapa harus Syila? Ayah merampas kebebasan Keenan secara tidak langsung!" seru Keenan.


"Kenapa harus Syila? Syila itu istrimu jika kau lupa!" kata Emran dingin.


"Ken tidak pernah menginginkan Syila menjadi istri Ken asal ayah tahu" kata Keenan menggebu.


"Tapi takdir menyatukan kalian sebagai suami istri" ucap Emran.


"Itu bukan takdir, tapi sebuah keterpaksaan. Dan apapun itu jika dipaksakan tidak akan baik" Keenan mencari pembenaran.


"Jadi maksudnya kau akan mempermainkan pernikahan ini?! Begitu maksudmu?!" seru Emran.


"Ken memilih kehidupan sendiri Yah, dan Ken punya pacar yang harus Ken jaga hat..."


Plakkkkkkk......


Emran menampar pipi Keenan untuk pertama kalinya karena geram dengan pengakuan Keenan.


"Ayah memukulku? Dalam 18 tahun kehidupanku, AYAH MEMUKULKU HANYA KARENA PERNIKAHAN SIALAN ITU!!???" teriak Keenan marah.


Plakkkkkkk......


Emran kembali menampar pipi Keenan karena putranya tidak menghargai sebuah ikatan sakral dan suci itu.


🌸


🌸


🌸


🌸


🌸


TBC 🌺