You'Re My Happily Ever After

You'Re My Happily Ever After
Kembali Berdebat



Syila meninggalkan kafe itu setelah mendengar kata-kata menyakitkan dari Keenan. Gadis itu juga tidak ingin berada di tengah-tengah hubungan orang lain, tapi sial nya takdir membawanya dalam kerumitan ini.


Syila terus melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di tempat tujuannya. Mobil itu berhenti di sebuah toko bunga, dan Syila turun untuk membeli beberapa bunga segar.


Setelah itu Syila kembali mengemudikan mobilnya menuju pemakaman kedua orang tuanya. Sesampainya di gerbang pemakaman, Syila turun dari mobil dengan membawa beberapa bunga segar yang baru saja di belinya.


Gadis itu duduk bersimpuh di antara makan Papa, Mamanya. Syila meletakkan bunga yang di bawanya di bawah batu nisan.


"Syila rindu Mama, Papa. Kenapa kalian tega menyiksa ku dengan rindu yang tak berujung seperti ini?" kata Syila menatap kedua nisan itu.


"Apa bagi Mama disana sangat indah, hingga teriakan ku tidak bisa membuat Mama kembali? Lalu bagaimana dengan Papa? Apakah menurut papa Syila ini robot yang bisa Papa tinggalkan begitu saja?" Syila mulai menangis.


"Kalian tahukan jika Syila tidak sekuat itu? Tapi kalian tetap saja meninggalkan Syila seorang diri" ucap sila sambil terisak-isak.


"Mama, bisakah Syila ikut Mama? Jika disana memang indah kenapa tidak mengajakku? Syila rindu Mama, Syila ingin peluk Mama, Syila butuh Mama, kenapa Mama tega tinggalin Syila?" ucap gadis itu terdengar sangat menyayat.


"Apa karena disana sudah ada Arasy? Jadi Mama tidak mau membawaku?" racau Syila mulai berbicara tidak masuk akal.


"Papa, apakah Papa tahu pria seperti apa yang Papa nikahkan dengan Syila? Pria yang mencintai wanita lain, Papa dengar itu!" kata Syila marah.


"Papa menjadikan Syila sebagai wanita jahat, papa menempatkan Syila dalam posisi yang sulit! Jangankan untuk bahagia, tersenyum saja Syila akan kesulitan. Inikah yang Papa inginkan? Syila harus bagaimana Pah? Kanapa Tuhan menghukum Syila seperti ini? Sebanyak dosa yang Syila lakukan hingga harus seperti ini?" marah Syila dalam tangisnya.


"Hidup Syila semakin berat Mah, bisakah Syila menyusul Mama? Jemput Syila, bawa Syila bersama Mama" Syila merebahkan tubuhnya diatas makam yang tanahnya masih basah itu.


"Dunia ini terlalu kejam untuk Syila, biarkan Syila menyerah" lirihnya.


"Syila... Syila...." samar-samar Syila mendengar seseorang memanggilnya.


🌸🌸🌸


Syila membuka matanya dan melihat Hans duduk disampingnya, Syila tersenyum karena masih ada seseorang yang menemukannya.


"Kau sudah bangun?" tanya Hans.


"Minumlah" Hans memberikan segelas air putih pada Syila, gadis itu duduk dan meminumnya.


"Bagaimana bisa aku ada disini?" tanya Syila.


"Aku tidak sengaja melihat mobil mu terparkir di area pemakaman, dan saat aku mengeceknya, aku menemukanmu pingsan disana" jelas Hans.


"Maaf sudah merepotkan Kakak" kata Syila.


"Tidak sama sekali. Lain kali kalau butuh teman bicara datang saja padaku, jangan pergi seorang diri seperti tadi" ujar Hans.


"Aku merindukan mereka, itu sebabnya aku kesana. Dan kejadian tadi diluar ekspektasi ku, aku janji lain kali tidak akan seperti ini" jelas Syila, namun Hans tidak percaya begitu saja. Semua ini pasti ada hubungannya dengan pernikahan Syila, tebak Hans.


"Baiklah, aku pulang dulu. Sebentar lagi Tuan Emran dan istrinya akan datang" pamit Hans.


"Terimakasih Kak" ucap Syila, Hans membelai puncak kepala Syila dan keluar dari kamar gadis itu.


Syila kembali merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar yang bercat putih bersih. Syila ingin sekali mengakhiri pernikahannya, namun Ayah dan Bunda Keenan pasti tidak akan setuju mengingat seberapa mereka menyayangi Syila.


Ceklek.......


Pintu kamar Syila terbuka, dan terlihat Zahra datang dengan wajah panik.


"Sayang, kau tidak apa-apa? Bagaimana keadaanmu? Hans bilang jika kau pingsan di pemakaman, apa yang terjadi? Seharusnya kamu mengajak bunda atau Queen jika pergi-pergi" cecar Zahra khawatir dengan menantunya.


"Syila baik-baik saja Bun, dan seperti yang bunda lihat sekarang, jika Syila tidak apa-apa" kata Syila tersenyum.


"Lain kali kalau mau pergi-pergi bilang sama Bunda, atau minta Keenan mengantarmu" ujar Zahra.


"Diantar Ken?" kata Syila tersenyum tipis.


"Syila bisa sendiri Bun, mungkin tadi Syila sedikit kecapean, jadi Syila pingsan" kata Syila meyakinkan Zahra jika dirinya baik-baik saja.


"Ckk, kamu memang keras kepala seperti Hasna" decak Zahra memeluk Syila.


"Apakah Mama dulu orangnya keras kepala?" tanya Syila.


"Ya, bukan hanya Hasna, tapi kami semua keras kepala. Maksud Bunda, Abyan, Emran dan Bunda juga" ucap Zahra tersenyum.


"Apakah dulu kalian memang menjodohkan kami?" tanya Syila.


"Tidak sayang, persahabatan kami tidak memaksakan hal seperti itu. Tapi takdir malah menyatukan kalian berdua, Bunda sangat senang karena sejak pertama melihatmu, Bunda ingin kamu menjadi putri Bunda. Dan sekarang kamu benar-benar menjadi putri Bunda, sebagai istri Keenan" kata Zahra terlihat bahagia.


"Bagaimana jika pernikahanku dan Ken tidak bertahan?" tanya Syila.


"Maksudnya kamu mau bercerai dengan Ken?" tanya Zahra serius.


"Syila dan Keenan tidak saling mencintai Bun" lirih Syila.


"Tapi kalian bisa belajar untuk saling mencintai sayang. Apa menurutmu putra Bunda tidak tampan? atau kurang baik?" ujar Zahra.


"Tidak, bukan seperti itu" sangkal Syila.


"Cobalah untuk mencintai Ken, Bunda yakin tidak sulit untuk mencintai putra Bunda itu" bujuk Zahra.


"Ya tentu saja tidak sulit untuk mencintai Keenan jika di hati Keenan tidak ada wanita lain. Tapi aku pun tidak tahu harus berbuat apa" batin Syila melamun.


"Bagaimana sayang? Apakah tidak ada rasa suka sedikit saja dalam hatimu pada Ken?" desak Zahra.


"Syila menyukai Ken, Bun. Jika Syila tidak menyukai Keenan, tidak mungkin Syila mau berteman dengan anak nakal itu" jawab Syila jujur.


"Ya Ken memang nakal, tapi bunda jamin jika tingkat kenakalannya hanya 0,1 persen saja, sisanya dia pria yang baik" Zahra mempromosikan putranya.


"Ya, Syila tahu itu" sahut Syila tersenyum.


Disebuah ruangan, seorang pria paruh baya tengah memarahi putranya karena di anggap tidak becus menjaga istrinya.


Keenan, kini tengah mendapatkan siraman rohani dari sang Ayah yang membuatnya jengah dan kesal pada Syila.


"Syila itu istrimu Ken, bagaimana bisa kau tidak tahu jika Syila pingsan di pemakaman? Apa saja yang kau lakukan seharian ini? Kau tidak bersama Syila?" omel Emran pada Keenan.


"Ken tidak mencintai Syila Yah, jadi please berhenti mengatakan jika Syila itu istri Ken" seru Keenan semakin frustasi, di tangan kandasnya hubungannya dengan Amanda, sekarang Keenan juga mendapat tekanan dari sang Ayah untuk mengemban tanggung jawab yang tidak Keenan kehendaki.


"Ayah tidak perduli kau mencintai Syila atau tidak! Yang pasti Syila adalah istrimu secara SAH dan itu tidak akan berubah!" seru Emran.


"Kenapa Ayah begitu memperdulikan Syila? Bagaimana dengan Ken? Keenan tidak akan bahagia hidup bersama dengan wanita yang tidak Keenan cintai! Apakah Ayah pernah memikirkan hal itu?" seru Keenan tak kalah lantang.


"Kau berani melawan Ayah?" Emran menatap tajam putranya.


🌸


🌸


🌸


🌸


🌸


TBC 🌺