
Keenan memasuki kamar Syila dan terlihat jika gadis itu sudah tidur dengan selimut membungkus tubuh mungilnya sampai dada. Keenan menghampiri Syila dan duduk di tepi ranjang menatap wajah cantik itu.
Syila membuka matanya merasakan jika ada seseorang yang duduk di ranjangnya, dan benar saja, netranya langsung menangkap Keenan yang duduk menatapnya.
"Bagaimana keadaan Lo?" tanya Keenan.
"Gue baik-baik saja" jawab Syila menatap Keenan.
"Bagus" kata Keenan berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
"Sorry" batin Syila melihat punggung gagah Keenan.
Setelah dua puluh menit, Keenan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk di pinggangnya, tubuh pemuda delapan belas tahun itu terlihat gagah dan kekar seperti usia dua puluhan.
Keenan keluar dari walk in closet Syila dengan menggunakan piyama, karena beberapa baju Keenan memang sudah ada di rumah itu.
"Ken" kata Syila saat Keenan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Lo belum tidur?" tanya Keenan.
"Belum, gue mau ngomong sama Lo" kata Syila.
"Apa?" balas Keenan memejamkan matanya seolah tidak perduli dengan apa yang ingin Syila katakan.
"Ini tentang pernikahan kita" ucap Syila membuat Keenan kembali membuka matanya, dan memiringkan tubuhnya menghadap Syila.
"Gu-gue tahu Lo terpaksa menikahi Gue, gue juga tahu Lo gak cinta sama Gue karena di hatinya ada Amanda" ujar Syila sedikit gugup.
"Terus?" balas Keenan.
"Gue akan berusaha meyakinkan Ayah Bunda untuk tidak memaksakan pernikahan ini" lirih Syila memejamkan matanya.
"Lo yakin?" Keenan tersenyum tipis.
"Ya-yakin" gugup Syila.
"Tapi sayangnya gue gak yakin" kata Keenan sinis.
"Ma-maksud Lo apa?" tanya Syila, Keenan duduk dari tidurnya dan di ikuti oleh Syila.
"Lo tahu? karena pernikahan SIALAN INI GUE PUTUS SAMA AMANDA! AYAH MELARANG GUE UNTUK KULIAH DI LONDON KARENA GUE HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS HIDUP LO!" teriak Keenan meluapkan emosinya.
"KEN" seru Syila tidak menyangka kembali mendengar kata-kata pedas dan tajam dari mulut Keenan.
"ITU BENAR! SEKARANG LO JADI BEBAN BUAT HIDUP GUE! GUE HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS SESUATU YANG GAK GUE INGINKAN!" teriakan pedas itu kembali menggema di kamar Syila.
"Keenan" lirih Syila matanya mulai berkaca-kaca.
"LO BEBAN GUE SYILA! LO BENALU! PANTAS SAJA PAPA LO MATI DAN SIALNYA NINGGALIN BEBAN ITU SAMA GUE!" teriak Keenan sangat kejam.
PLAKKKKKKK......
Untuk pertama kalinya Syila berbuat kasar pada seseorang, dan itu Syila lakukan pada suaminya sendiri.
"Lo jahat Ken!" seru Syila menangis.
"LO GAK TERIMA? SEMUA YANG GUE KATAKAN ADALAH FAKTA!" teriak Keenan memegang pipinya karena tamparan Syila sangat keras.
"LO PIKIR GUE MAU NIKAH SAMA LO? LO PIKIR GUE MAU JADI YATIM PIATU DI USIA MUDA! LO PIKIR SEMUA INI TERJADI KARENA KEINGINAN GUE?" teriak Syila tak kalah keras.
"ITU SEMUA HUKUMAN BUAT LO! KARENA LO BUKAN ORANG BAIK! BAHKAN SELAIN GUE LO GAK PUNYA TEMAN LAINYA" ujar Keenan kembali menyayat hati Syila.
"LO JAHAT KEN, LO JAHAT!" teriak Syila.
"LO YANG JAHAT KARENA UDAH NGERUSAK HUBUNGAN GUE SAMA AMANDA! LO YANG JAHAT KARENA LO GUE JADI SERING BERTENGKAR SAMA AYAH! LO YANG JAHAT KARENA LO AYAH TEGA MUKUL GUE!" teriak Keenan lalu keluar dari kamar Syila dan menutup pintu dengan kasar.
Membuat gantungan kunci yang ada foto Keenan dan Syila itu jatuh pecah menjadi dua.
"Keenan" lirih Syila masih shock dengan kata-kata pedas dan tajam yang di lontarkan oleh Keenan.
Keenan dulu adalah sosok yang hangat dan menyenangkan, selalu khawatir dengan Syila, selalu perhatian dan peka. Tapi Keenan yang sekarang? Syila bahkan tidak bisa mengenali Keenan yang terlihat kejam dan arogan seperti tadi.
Syila kembali merebahkan tubuhnya dan menangis mengingat semua kata-kata kejam Keenan. Bagaimana bisa Keenan mengatakan jika Syila adalah beban? Benalu? Seburuk itulahenikaj dengan Syila? Se-sial itukah menjadi suami Syila?.
"Lo tega Ken, padahal Lo yang paling tahu Gue gimana, tapi Lo tega bilang kayak gitu sama Gue" gumam Syila dalam tangisnya,
Niat hati ingin mencari jalan keluar untuk pernikahannya, tapi Syila malah mendapatkan reaksi yang tak terduga dari Keenan. Syila bisa mengerti jika Keenan marah padanya karena mendiang sang Papa memaksa Keenan menikahi Syila. Tapi kata-kata kejam Keenan tadi? Sungguh di luar dugaan Syila.
🌸🌸🌸🌸
"Sial! Sial! Sial!" umpat Keenan memukul stir mobilnya, Keenan tadi terlalu emosi mengingat perlakuan Emran yang terbilang kejam padanya.
Namun seharusnya Keenan bisa menahan emosinya, tidak seharusnya Keenan menyalahkan Syila. Karena sebenarnya Syila juga sama seperti dirinya.
"Sorry" bisik Keenan dalam hati mengingat seberapa keterlaluan sikapnya pada Syila.
"Gue gak bermaksud seperti itu La" gumam Keenan menyesal.
"Tapi Gue juga gak bisa menahan semuanya sendirian, apa lagi Ayah terlalu menekan Gue" ucap Keenan, pemuda itu kembali melajukan mobilnya ke salah satu Hotel terdekat.
Sekarang sudah pukul satu dini hari, dan tubuh Keenan terasa begitu lelah. Bayangkan saja berapa kali Keenan berdebat? Tadi siang Keenan berdebat dengan Amanda, lalu sore ya Keenan berdebat dengan sang Ayah, dan beri saja Keenan juga berdebat dengan Syila.
Bukankah ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Keenan? Seharusnya saat ini Keenan menikmati masa-masa tenang sebelum memasuki gerbang Universitas, tapi Keenan malah di hadapkan dengan permasalahan yang rumit.
Setelah melakukan check in, Keenan menuju ke lift untuk mencari kamarnya. Yah untung saja Keenan sempat membawa ponsel dan dompetnya yang ia letakkan di ruang tengah tadi, jika tidak? Keenan terpaksa kembali ke rumah orang tuanya dan pasti tidak akan lolos dari interogasi panjang Ayah, Bundanya.
Keenan memasuki kamar hotel itu, bukan kamar terbagus atau termahal, namun kamar dengan standar biasa namun cukup membuat Keenan nyaman istirahat di dalamnya.
"Gue harus gimana besok menghadapi Syila?" bingung Keenan merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.
"Apa gue harus minta maaf?" gumam Keenan.
"Ah, elahhh... Lo juga sih Ken bikin masalah tambah ribet! Sekarang Lo sendiri kan yang susah" kesal Keenan berguling-guling di atas tempat tidur.
"Pikir besok aja lah" kata Keenan menutup matanya mencoba tidur, namun tidak sampai lima menit Keenan kembali membuka matanya karena tidak bisa tidur.
"Gimana kalau setelah ini Syila benci sama Gue?" gumam Keenan mulai over thinking.
"Tapi bukannya itu bagus? Dengan bencinya Syila sama Gue, itu bisa mempercepat perceraian kami kan?" kata Keenan tersenyum miring.
"Ya, kalau Gue gak bisa bujuk Ayah, Bunda untuk mengabulkan perceraian itu, Gue harus bisa buat Syila meminta cerai. Karena ayah dan Bunda pasti tidak akan bisa menolaknya" ucap Keenan seolah menemukan sebuah ide.
Pemuda itu tersenyum puas, dan kembali merebahkan tubuhnya, bahkan tangan dan kakinya terlentang memenuhi ranjang itu seolah baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah.
"I love my brain" ucap Keenan tersenyum dengan mata tertutup.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺