You'Re My Happily Ever After

You'Re My Happily Ever After
Kegigihan Tristan



Brukkkkk......


Keenan melemparkan tubuh Syila ke atas ranjang membuat gadis itu memekik kesal.


"Ohghggh...." pekik Syila tubuhnya terasa sedikit sakit.


"Ganti baju Lo, atau Lo gak usah kuliah" tegas Keenan marah.


"Go to hell!!!!" teriak Syila masuk kedalam walk in closet menuruti perintah Keenan.


"Apa maksudnya coba? Dasar Tuan arogan yang semakin arogan" kesal Syila memutar tubuhnya didepan cermin besar.


"Gak ada yang salah sama pakaian Gue" kata Syila melihat pantulan tubuh indahnya dalam cermin, lalu gadis itu memiringkan tubuhnya dimana sesuatu yang indah tampak lebih menonjolkan dan mengundang perhatian.


"Gak mungkin kan Keenan......" gumam Syila memikirkan apa yang di pikirkan Keenan.


"Awas aja kalau dia sampai omes gara-gara ini" kata Syila mengepalkan kedua tangannya, gadis itu mengambil blouse berwarna hitam dengan corak bunga-bunga kecil berwarna putih.


Setelah memakai blouse itu Syila keluar dari walk in closet namun netranya menangkap kantung plastik hitam berisikan baju milik Keenan.


"Huffffff....." gadis itu menghela nafas berat dan keluar dari sana mengambil shoulder bag nya di atas ranjang dan mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Mbok Lis, tolong datang ke Apartment ku. Tolong beresin walk in closet, ada baju Ken didalam plastik hitam, tolong setrika ulang dan beberapa baju yang udah Syila cuci juga sekalian di setrika" ucap Syila menghubungi asisten rumah tangga nya.


"Baik Nona, ada lagi?" tanya Mbok Lis di ujung telepon.


"Sama tolong rapihkan dapur, karena Syila tidak sempat. Nanti sandi pintunya Syila kirim melalui pesan" kata Syila mengakhiri panggilan itu, lalu keluar dari kamar dan melihat Keenan masih ada di meja makan.


Syila berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pada Keenan, dan pemuda itu tersenyum puas melihat Syila menuruti apa katanya.


"Seorang istri memang sudah seharusnya menurut pada suami right?" Keenan meminum habis jus nya dan segera pergi ke kampus.


🌸🌸🌸


"Hai selamat pagi" sapa Tristan berjalan di samping Syila, gadis itu hanya diam saja.


"Syila, gue bicara sama Lo" Tristan mencekal lengan Syila.


"Ckk, lepas" Syila menghempaskan tangan Tristan tapi tidak bisa.


"Lo mau apa?" kesal Syila.


"Berteman, gue mau berteman sama Lo" jawab Tristan dengan cepat.


"Kenapa harus Gue? Bertemanlah dengan yang lainnya" saran Syila.


"No, gue mau berteman sama Lo" kekeh Tristan.


"Gue gak mau, dan gue gak suka di paksa" karya Syila menarik paksa tangannya dan pergi ke ruang kelas.


"Gue gak akan menyerah gitu aja Nona" gumam Tristan mengepalkan tangannya karena penolakan Syila.


"Udah gue bilang kan, kalau Syila itu bukan gadis yang menarik" kata Keenan melihat interaksi keduanya sejak tadi.


"Hemm, Lo salah. Bagi gue Syila semakin menarik dan gue semakin tertantang untuk mendapatkannya" ujar Tristan menyeringai.


"Terserah Lo" kata Keenan, entah kenapa kesal melihat kegigihan Tristan.


Keenan menatap tajam Syila yang sudah duduk di bangkunya, sedangkan Syila tetap cuek seolah tidak melihat apapun.


Bruk...


Keenan membanting tas nya di meja sebelah Syila.


"Lo ngapain?" tanya Syila heran.


"Gue mau duduk disini, ada masalah?" Keenan mendudukkan diri di sebelah Syila.


"Lo sakit?" kata Syila.


Tukkk.....


"Owhhhh......Lo gila ya" umpat Syila karena Keenan menyentil keningnya dengan kuat.


"Gue males jalan kebelakang" sahut Keenan santai.


"Ckk..." decak Tristan kesal karena gagal duduk di samping Syila, pemuda itu akhirnya duduk di bangku belakang Syila karena kelas sudah akan di mulai.


🌸🌸🌸


Syila tengah menikmati makan siangnya di kantin, namun lagi-lagi Tristan datang mencoba mendekati gadis itu.


"Meja lain masih banyak yang kosong, kenapa Lo ke meja gue?" kesal Syila merasa terganggu.


"Gue kan udah bilang kalau gue mau berteman sama Lo, dan gak ada salahnya kan makan bareng teman?" jawab Tristan santai.


"Sebenarnya apa yang Lo mau dari gue?" Syila meletakkan sendoknya dan menyedot jus jeruknya.


"Berteman" sahut Tristan sambil makan.


"Lo serius mau berteman sama gue?" tanya Syila.


"Apakah wajah gue terlihat bercanda?" kata Tristan.


"Lo dan gue sama-sama udah dewasa, dan gak ada pertemanan yang murni antara pria dan wanita dewasa" kata Syila menatap Tristan, pemuda itu mengangkat wajahnya dan melihat Syila yang serius.


"Ya, awalnya berteman tapi kalau misalkan kita cocok, mungkin kita bisa pacaran" ucap Tristan membuat Syila tersenyum tipis.


"Lo suka sama gue?" tanya Syila to the poin.


"Gue laki-laki normal, emang salah kalau gue suka sama Lo?" kata Tristan mengakui perasaannya.


"Rasa suka itu tidak salah, tapi pemaksaan itu jelas salah" kata Syila.


"Ya sorry, soalnya gue benar-benar suka sama Lo" kata Tristan.


"Itu bukan suka, Lo hanya penasaran aja sama Gue. Dan setelah itu Lo gak akan punya perasaan apapun sama gue, Lo akan mencari cewek baru lagi yang membuat Lo penasaran dan begitu seterusnya" ujar Syila.


"Jadi secara tidak langsung Lo nolak gue?" tebak Tristan.


"Ya" sahut Syila.


"Emang Lo benar-benar gak membuka diri untuk berteman sama Gue? Gue gak akan maksa Lo untuk suka atau menerima perasaan gue. Tapi please jangan menolak berteman sama gue" bujuk Tristan.


"Gue bukan orang yang asik untuk di jadikan teman, Lo akan bosan berteman sama gue" jawab Syila, karena Syila tahu jika menolak pun Tristan akan semakin penasaran padanya.


"Gue janji akan jadi teman terbaik dan satu-satunya untuk Lo" kata Tristan sungguh-sungguh membuat Syila terdiam.


"Hei, gue janji gak akan bosan berteman sama Lo" ucap Tristan menyentuh tangan Syila.


"Seseorang dulu juga berjanji akan selalu menjadi satu-satunya teman baik dan selalu ada untuk gue. Tapi nyatanya dia pergi karena menurut dia gue bukan orang baik" ujar Syila mengenang persahabatan nya dengan Keenan.


"Jadi lebih baik Lo pikirkan baik-baik untuk berteman sama gue, karena menurut seseorang gue adalah beban" kata Syila menatap Tristan.


"Kebetulan sekali hidup gue selalu mulus dan lancar jaya, gue punya banyak kelebihan, dari segi materi, kepintaran, dan wajah yang tampan. Dalam artian hidup gue gak ada beban, dan gue sama sekali tidak keberatan jika Lo mau jadi beban hidup gue, dengan senang hati gue terima Lo sebagai beban hidup gue, kalau perlu seumur hidup Lo, biar gue tahu gimana rasanya punya beban hidup" ujar Tristan panjang lebar membujuk Syila.


"Rayuan Lo cukup menarik, tapi sayangnya gue gak tertarik" kata Syila bangkit dari duduknya, namun Tristan kembali bersuara.


"Lo pikirin tawaran gue baik-baik, sekedar informasi aja kalau gue ini bukan pria brengsek. Jadi Lo gak akan rugi kalau berteman sama gue, bahkan Lo punya banyak keuntungan jika mau berteman sama gue" Tristan mempromosikan dirinya.


"Hemm, akan gue pertimbangkan" kata Syila meninggalkan Tristan di kantin kampus. Seseorang mengepalkan kedua tangannya melihat betapa kerasnya usaha Tristan mendekati Syila, ia merasa sangat tidak suka dengan hal itu.


🌸


🌸


🌸


🌸


🌸


TBC 🌺