
Syila membuka matanya dan merasa sesuatu menindih kakinya, dan saat bangun melihat kaki Keenan menimpa kakinya. Bukan seperti adegan novel-novel yang mendapati sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Tapi Syila malah mendapati kaki suaminya menimpa kakinya.
"Dia datang jam berapa?" gumam Syila masuk dalam kamar mandi membersihkan diri. Setelah dua puluh menit, gadis itu keluar dengan mengenakan bathrobe coklat, dan sebuah handuk kecil senada dengan bathrobe nya di kepala.
Syila masuk kedalam walk in closet untuk memakai baju dan keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat sarapan tanpa berniat membangunkan Keenan.
Gadis itu mengeluarkan beberapa jenis buah-buahan dari dalam freezer, seperti berries dan pisang, lalu Syila mengambil susu almond, dan juga yogurt. Syila juga mengambil buah kiwi dan mangga.
Syila memasukkan semua buah beku dan susu almond itu kedalam blender, dan memblender nya hingga halus. Lalu Syila menuangkannya kedalam sebuah bowl dan menambahkan irisan kiwi, mangga dan juga biji granola sebagai topping nya.
"Lo sengaja gak bangunin Gue lagi?" ucap Keenan dengan muka bantal nya.
"Lo udah bangun Ken, dan jangan mempermasalahkan sesuatu yang bukan masalah" kata Syila santai.
"Lo kelewatan banget sih jadi orang" kesal Keenan melihat sikap cuek Syila.
"Buatin gue sarapan, berguna dikit Lo jadi istri" kata Keenan.
"Apa Lo jadi suami juga udah berguna? Lo kasih nafkah buat gue?" Syila membalikkan kata-kata Keenan.
"Jadi Lo mau gue kasih nafkah? Lo mau gue biayain? Lo mau layanin gue di ranjang?" tantang Keenan, membuat mata Syila membulat sempurna.
"Gak perlu, gue masih sangat bisa membiayai diri gue sendiri" tolak Syila membawa satu bowl nya ke meja makan, dan satu lagi Syila titip dengan plastik wrap dan di masukkan kedalam kulkas.
"Bikinin gue sarapan yang enak" titah Keenan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Dia benar-benar menjadi tuan arogan yang menyebalkan" gumam Syila kembali membuka kulkas dan melihat bahan makanan.
Karena Syila belum belanja, sisa makanan yang ada di kulkas hanya Frozen food saja. pilihan Syila jatuh pada sosis dan kentang beku menu yang simple untuk di masak cepat, lalu Syila menambahkan dua butir telur untuk di buat scramble egg.
🌸🌸🌸
Di kampus, Tristan masih berusaha keras mendekati Syila. Meskipun belum bisa terlalu dekat, setidaknya Syila sudah mau bicara dan tidak terlalu kaku pada Tristan.
"Bagaimana kalau siang ini kita jalan?" ajak Tristan untuk kesekian kalinya.
"Gue tidak bisa" tolak Syila.
"Lo selalu nolak ajakan gue" jujur Tristan.
"Lo bisa ajak cewek lainnya yang dengan senang hati mau Lo ajak kemana pun" saran Syila.
"Terimakasih, tapi gue maunya ngajak Lo" kekeh Tristan.
"Gua gak akan bisa pergi sama seorang pria yang...." Syila tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Yang apa? Atau Lo udah punya cowok? Tapi Lo bilang kalau Lo gak pacaran sama siapapun" tanya Tristan.
"Gue emang gak punya cowok, gue juga gak pacaran. Tapi gue punya suami, suami yang gak pernah menganggap gue sebagai istrinya, tapi bukan berarti gue bisa jalan sama pria lain seenaknya. Karena gue adalah istri dan menantu seseorang" gumam Syila dalam hati.
"Ckk, kok malah melamun?" Tristan melambaikan tangannya melihat Syila yang melamun.
"Ya intinya gue gak bisa jalan sama Lo, atau cowok manapun" jelas Syila.
"Tapi ada alasannya kan?" desak Tristan.
"Gak ada, ya udah. Gue cabut dulu" Syila meninggalkan Tristan dalam kelas.
"Bener-bener sulit untuk menaklukkannya" kata Tristan menatap punggung mungil Syila.
Syila sampai di parkiran dan hendak masuk dalam mobilnya, namun suara seseorang menghentikannya.
"Lo mau kemana?" tanya orang itu yang tak lain adalah Keenan.
"Bukan urusan Lo" ketus Syila.
"Ehh.. Gue tanya baik-baik ya" kesal Keenan.
"Ya memang bukan urusan Lo, dan sejak kapan Lo kepo urusan gue?" balas Syila.
"Susah emang ngomong sama cewek Karas kepala" gumam Keenan membuka dompetnya dan memberikan sebuah kartu pada Syila.
Jangan berpikir jika blackcard itu isinya penghasilan dari Keenan, karena itu salah besar. Blackcard itu memang atas nama Keenan, tapi uang didalamnya tentu dari ayah Emran. Dan keenan terpaksa merelakan blackcard itu di berikan pada Syila atas perintah ayah Emran yang tidak bisa di bantah.
"Gak perlu" tolak Syila.
"Lo nolak nafkah dari Gue?" kata Keenan sedikit pelan.
"Lo amnesia? Gue udah bilang tadi pagi kalau gue masih sangat bisa untuk menafkahi diri gue sendiri" kata Syila keras kepala.
"Oke, kalau Lo gak mau. Tapi Lo sendiri yang bilang sama ayah kalau Lo gak mau" kata Keenan mengambil ponselnya menghubungi sang Ayah.
"Ckk..." decak Syila kesal lalu mengambil kartu itu.
"Nah gitu dong, jadilah kucing yang manis" ucap Keenan tersenyum tipis.
"Dah gue pergi" Syila masuk kedalam mobil, namun pintu mobil itu di tahan oleh Keenan.
"Sekarang apa lagi.....?" geram Syila.
"Lo mau pulang?" tanya Keenan.
"Gue mau ke supermarket dulu belanja" jujur Syila memang akan belanja bahan makanan dan kebutuhan lainya.
"Nanti sekalian beliin pomade gue ya, udah abis soalnya" pesan Keenan.
"Lo beli aja sendiri, lagian gue gak tahu pomade yang Lo pake" tolak Syila.
"Lo hobi banget ngebantah gue" kesal Keenan.
"Gue emang gak tahu, udah Lo beli sendiri aja" kata Syila.
"Ya udah gue ikut ke supermarket" putus Keenan karena ada beberapa kebutuhan pribadi nya yang perlu dibeli.
"Kenapa naik mobil gue?" heran Syila Keenan duduk di kursi sebelah kemudinya.
"Mobil gue lagi di servis" sahut Keenan.
"Lo bisa naik taksi" kata Syila keberatan satu mobil dengan Keenan.
"Lo pelit banget sih! Lagian tujuan kita kan sama. Orang pelit kuburannya sempit" ketus Keenan, Syila diam saja tanpa berniat meneruskan perdebatan ini.
Setalah sampai di pusat perbelanjaan, pasangan suami istri itu turun dan memasuki gedung itu.
"Gue laper, makan dulu ya" kata Keenan memang belum makan siang.
"Gue mau cepat Ken" tolak Syila.
"Bentar aja, gue laper banget ini" kata Keenan menarik tangan Syila menuju salah satu Kafe.
"Lo gak makan?" tanya Keenan melihat buku menu.
"Gue gak laper" kata Syila.
"Lo yakin? Gue pesenin snacks ya, masa iya gue makan Lo nya cuma bengong" kata Keenan memesankan cemilan dan juga minuman untuk Syila.
Jika boleh jujur, Syila sangat merindukan sikap perhatian dan perduli Keenan yang seperti ini. Keenan yang hangat dan peka padanya, sudah beberapa bulan Syila kehilangan itu.
"Semua sudah berubah, dan keadaan tidak akan lagi sama" bisik Syila dalam hati menjalani kenyataan hidupnya.
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
TBC 🌺