You'Re My Happily Ever After

You'Re My Happily Ever After
Keputusan Emran



Setelah pertengkaran nya dengan Keenan malam itu, Syila tidak lagi menghubungi Keenan. Terhitung sudah dua hari ini Syila tidak bertemu dengan Keenan, Syila beralasan sibuk mempersiapkan kuliahnya pada sang mertua saat memintanya untuk datang kerumah.


Sedangkan Keenan, pemuda itu masih berusaha membujuk sang Ayah agar mengizinkannya kuliah di London sesuai rencana ya dahulu. Namun keputusan Emran tidak dapat di ubah, pria paruh baya itu tetap tidak mengizinkan Keenan untuk menimba ilmu di negeri Elisabeth itu.


Lalu bagaimana dengan Amanda? Tentu saja gadis itu sudah terbang sesuai rencananya, meskipun kini Amanda harus menjalaninya seorang diri karena Keenan tidak bisa memenuhi janjinya, bahkan Amanda sendiri yang telah mengakhiri hubungan itu.


"Kenapa tidak tinggal di Apartment saja?" tanya Hans menemani Syila mencari tempat kost.


"Aku hanya sendiri Kak, Apartment terlalu besar untuk ku" kata Syila. Gadis itu memutuskan untuk mencari tempat kost didekat kampusnya karena akan terlalu repot dan melelahkan jika harus pulang pergi dari rumah ke kampusnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Keenan?" tanya Hans.


"Baik-baik saja" jawab Syila singkat, tapi Hans tahu jika hubungan keduanya tidak baik-baik saja seperti yang dikatakan Syila.


"Aku selalu ada jika kau membutuhkan teman bicara" ucap Hans.


"Thank you" kata Syila.


"Dan aku adalah pendengar yang baik" Hans mempromosikan dirinya.


"Tapi aku tidak suka story telling" balas Syila. Membuat Hans tertawa.


Satu bulan berlalu, Syila sudah menjalani kehidupannya sebagai mahasiswi baru di kampusnya. Kampus yang sama juga dengan Keenan, bahkan keduanya berada di fakultas yang sama. Namun Syila dan Keenan terlihat seperti orang asing, Syila yang selalu sendirian, dan Keenan yang menjadi idola baru. Pemuda itu mempunyai banyak teman baik laki-laki maupun perempuan, tidak seperti Syila yang pendiam dan tidak punya teman.


Sesuai dengan apa yang Keenan katakan, jika Syila tidak memiliki teman selain dirinya. Syila yang semakin tertutup membuatnya tidak memiliki teman, namun semua itu tidak masalah bagi Syila karena hidupnya tetap baik-baik saja meskipun terkadang merasa kesepian.


Malam ini Syila pergi kerumah mertuanya, setelah satu bulan menghindar dengan berbagai macam alasan. Sekarang Syila harus datang karena tidak memiliki alasan lagi.


"Sayang... Bunda kangen banget sama kamu" Zahra memeluk Syila yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Syila juga kangen sama Bunda" kata Syila membalas pelukan Zahra.


"Bohong, kau tidak pernah menelepon Bunda jika tidak Bunda yang menelpon mu, bahkan sekarang Bunda juga yang memaksamu datang kemari" ucap Zahra sedikit kesal dengan menantunya.


"Syila sangat sibuk karena baru masuk kuliah Bun, lain kali Syila pasti akan sering-sering menginjak Bunda jika ada waktu luang" janji Syila menciumi pipi Ibu mertuanya.


"Janji?" kata Zahra.


"Hemm janji" sahut Syila tersenyum.


"Kakak....oh my God...aku merindukanmu" Queen melepas pelukan Syila dan Zahra.


"Ckk, anak ini" decak Zahra.


"Queen juga merindukan Kak Syila Bun" kata Queen memeluk Syila, lalu ketiga wanita itu masuk kedalam rumah.


Syila dan Queen membantu Zahra menyiapkan makan malam sambil membicarakan banyak hal, ketiga wanita itu terlihat seperti reuni yang tidak berjumpa selama bertahun-tahun.


"Wah...ramai sekali ya..." ucap Emran baru datang dari kantor.


"Ayah" Syila menghampiri Emran dan menyalami mertuanya.


"Rumah ini akan terasa lebih hidup karena kehadiran menantu kita Yah" ujar Zahra sambil mengaduk-aduk masakannya di atas kompor.


"Sepertinya makan malam kali ini juga sangat istimewa" kata Emran melihat beberapa menu sudah tersaji di meja.


"Bunda memasak banyak menu" kata Syila.


"Dan hanya menu kesukaan ku yang tidak di masak oleh Bunda" timpal Queen mengerucutkan bibirnya.


"Kau sudah terlalu sering makan ayam sayang, bahkan Ayah sampai bosan melihat ayam goreng di atas meja" ucap Emran, putri bungsunya itu memang sangat suka dengan olahan ayam goreng.


"Makan ikan juga sangat enak Queen" sahut Syila yang lebih suka makanan laut, namun sayangnya gadis itu alergi udang.


"Sudah-sudah, lebih baik kalian semua sekarang mandi. Dan setelah Keenan datang kita akan makan malam" Zahra melerai perdebatan itu hingga mereka semua membubarkan diri ke kamar masing-masing.


Dengan ragu Syila memasuki kamar Keenan yang sudah satu bulan lebih tidak ia sambangi, namun mau bagaimana lagi? Baju-baju Syila semua ada di dalam kamar Keenan, untung saja pemuda itu belum datang. Entah kemana perginya Keenan, Syila tidak tahu dan juga tidak mau tahu.


Syila masuk kedalam kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat, gadis itu ingin berendam karena tubuhnya terasa lelah. Jadwal kuliah Syila lumayan padat, dan hari ini Syila terpaksa mengemudikan mobilnya kerumah mertua yang jaraknya lumayan jauh.


Untung saja Syila pulang di siang hari, jadi perjalan lancar, jika saja Syila pulang bertepatan dengan jam kantor, sudah pasti Syila akan terjebak selama berjam-jam di kemacetan panjang Ibu Kota.


"Astaga...." teriak Syila saat keluar dari kamar mandi mendapati Keenan yang berbaring di atas ranjang, dan jangan lupa tatapan matanya yang sangat tajam.


Syila memegang erat handuknya dan langsung berlari menuju walk in closet. Ya Syila menggunakan handuk yang hanya menutupi setengah paha mulusnya saja karena dalam kamar mandi tidak ada bathrobe.


"Memalukan" gumam Syila menatap pantulan dirinya dalam cermin. Tak ingin membuang waktu lama, Syila segera memakai baju dan ingin cepat keluar dari kamar itu.


Syila mengintip terlebih dulu sebelum keluar dari walk in closet, memastikan jika Keenan tidak ada. Dan setelah yakin jika Keenan memang tidak ada, Syila segera berlari keluar dari kamar itu.


🌸🌸🌸


Syila mengambilkan makanan untuk Keenan terlebih dahulu, seperti apa yang dilakukan oleh Zahra. Meskipun keduanya belum bicara, tapi Syila tetap melakukan kewajibannya, dan Keenan hanya diam.


"Udang tidak terlalu buruk" kata Queen memakan udah saus mentega favorit Keenan.


"Ya, rasanya memang enak. Aku pernah memakannya" sahut Syila tersenyum, itulah pertama dan terakhir kali Syila makan udang.


"Itu sangat mengerikan sayang, jangan di ulangi lagi. Kau membuat kami ketakutan saat itu" ucap Zahra menjadi saksi seberapa parah reaksi alergi Syila ketika makan udang.


"Syila tidak akan memakannya jika tidak...." Syila tidak jadi melanjutkan kalimatnya, dan melirik Keenan sesaat.


"Tidak apa sayang?" tanya Zahra.


"Syila lupa Bun hehee...." sahut Syila, dulu Syila makan udang karena paksaan dari Keenan, hanya dua udang saja Syila makan. Tapi hal itu hampir membuat Syila kehilangan nyawanya karena tidak bisa bernafas, dan sampai sekarang tidak ada yang tahu penyebab Syila makan udang.


Kejadian itu terjadi delapan tahun yang lalu, ketika Syila dan Keenan berusia sepuluh tahun. Kedua keluarga mereka memutuskan untuk berlibur ke sebuah resort yang ada di tepi pantai, disanalah kejadian itu terjadi.


"Bagaimana kuliah kamu sayang?" tanya Emran.


"Lancar Yah" sahut Syila tersenyum.


"Kau tinggal dimana?" tanyanya lagi.


"Di sebuah rumah kost yang tidak jauh dari kampus" jawab Syila.


"Sebaiknya kalian tinggal bersama saja" kata Emran membuat Keenan dan Syila menghentikan makan mereka.


"Ayah sudah membelikan Apartment di dekat kampus kalian. Lagi pula tidak baik jika suami istri tinggal terpisah" ujar Emran, Keenan sudah terlihat mengeratkan giginya karena marah dengan keputusan sepihak Emran, dan Syila melihat itu.


"Tapi...." Syila tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Emran langsung menyergah.


"Ayah tidak ingin di bantah" mutlak, final, sebuah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat.


🌸


🌸


🌸


🌸


🌸


TBC 🌺