
note; maaf lambat update. Ada sesuatu yang harus Author kerjakan. Jadi, sekarang silakan nikmati ceritanya. Ah, tolong dimaklumi kalau ceritanya berjalan lambat karena Author juga masih pemula.
...***...
Seorang Servant sedang berjalan, menuju ke sebuah ruangan yang mustahil ditemukan oleh orang lain kecuali dirinya – karena statusnya –
Dia memiliki rambut berwarna oranye dengan sepasang pupil mata warna hijau. Wajah agak tua dengan sedikit keriput.
Dia memakai jubah berwarna hijau atau lebih tepatnya, dia terlihat serba hijau, membuatnya terlihat seperti seorang pemanah ... Meskipun faktanya memang demikian.
Wajahnya terlihat cukup muram, menunjukkan bahwa dia sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
'Sialan.'
Dia adalah Archer, Servant yang pernah diutus untuk mengejar Roxanne, walau pada akhirnya gagal karena kemunculan Saber (Lux).
Archer tidak mempermasalahkan hal tersebut karena dia sendiri juga ingin Roxanne selamat, tetapi yang membuat dia marah adalah respon Masternya.
Sebenarnya Archer mengira kalau Masternya tidak peduli lagi pada Roxanne saat gadis itu berhasil melarikan diri mengingat identitas Masternya saat ini.
mungkin sangat berharga bagi orang lain, tapi bagi Masternya itu hanya bisa dianggap sebagai salah satu mainan yang menarik. Jadi wajar saja Masternya tidak terlalu peduli pada Roxanne.
Betapa salahnya dia ...
Bukannya masa bodoh dengan hal tersebut, Masternya justru menggila.
Saking gilanya ... Dia sampai mengirimkan makhluk yang mampu melenyapkan umat manusia ke gadis itu!
'Brengsek! Itu 'Beast'! Servant kelas Beast! Master sudah sangat gila mengirim makhluk selevel itu!'
Archer meraung dalam hati.
Servant dengan Class Beast.
Itu bukanlah class biasa seperti class Archer, Saber, dan semacamnya. Beast adalah salah satu Class yang tak terdaftar.
Maka dari itu, Archer bergegas menemukan Masternya dan ingin menanyakan apa yang ada di isi kepala Masternya itu!
Hanya saja, kesampingkan hal itu dulu, ada hal lain yang membuat Archer berpikir serius ...
'Sampai bisa memukul mundur Beast, Saber ... Dia pasti bukanlah Servant biasa.'
Harus diketahui bahwa Beast adalah Servant yang terlahir karena kejahatan umat manusia. Dengan kata lain melawan 'Beast' seperti kita melawan semua manusia di dunia.
Jadi, Top Servant sekalipun sama sekali bukan lawan dari Beast.
Namun 'Boom'! bukan hanya selamat dari kejaran Beast, Saber juga juga melukai Beast dengan parah.
Ini berarti satu hal ...
'Saber ... Dia memiliki kekuatan untuk melawan seluruh dunia ...'
Pemikiran bahwa Lux (Arthur) bisa menghapus atau menghancurkan dunia jika dia mau membuat Archer berkeringat dingin.
Untungnya, Lux (Arthur) bukan orang seperti itu. Daripada orang jahat, Lux (Arthur) lebih seperti seorang kesatria yang menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran.
Ini juga membuat Archer bertanya-tanya ... Apa identitas asli Saber?
Menggeleng untuk menghapus pemikiran itu, sekarang perhatian Archer berpusat ke pintu ruangan di depannya.
Ekspresinya menjadi sangat serius. Kali ini, dia tidak bisa bermain-main lagi karena jika dia tak berhati-hati, Matahari mungkin akan terbit dari Barat dan Archer tidak ingin melihat itu.
( Matahari terbit dari barat \= KIAMAT )
Tapi Archer segera menyesali keputusannya setelah memasuki ruangan itu ...
Siluet seorang gadis muda memasuki pandangan Archer.
Gadis dengan rambut pirang emas yang seolah bersinar seperti matahari serta mata biru muda seperti langit biru di pagi hari.
( Note ; Sebelumnya, Author membuat kesalahan dimana matanya yang seharusnya berwarna biru justru warna hijau. Jadi, Author merevisi ulang meski info ini tidak terlalu penting )
Gadis itu memberikan perasaan seperti sosok bidadari dari surga yang harus dilindungi.
Jika Archer tidak tahu wajah asli gadis itu, dia mungkin akan setuju dengan penggambaran itu, tapi sayangnya ...
Archer menghela napas lalu ekspresinya menjadi tegas.
"Master, ada yang ingin aku bicaraka–"
* DEG *
' ... Hah?'
"Ah, ah ah Arthur! Arthur! PANGERANKU! KAMU SANGAT INDAH!! KAMU INDAH!! INDAH! INDAH!! Keindahan ini ... Hanya bisa dimiliki olehku!!"
Ucapan Archer terpotong karena terdengar suara yang penuh kegilaan.
Gadis muda itu tampak gila. Ekspresinya yang sangat lembut terdistorsi. Suara yang sangat menyenangkan juga ikut rusak dan terdengar gila.
Melihat keadaan Masternya yang agak 'salah', Archer tanpa sadar mundur sembari menelan ludah.
"Ah, Archer? Kamu di sini? Maaf karena telah memperlihatkan sesuatu yang kurang bagus dilihat oleh mata."
Seakan 'baru' menyadari keberadaan Archer, gadis muda itu menatapnya, dan dia berkata dengan nada yang menyenangkan sehingga suaranya saja mampu menghipnotis orang ... Khususnya laki-laki.
Akan tetapi bukannya lega Archer semakin ketakutan melihat betapa mudahnya gadis muda itu dalam mengubah ekspresinya.
Archer buru-buru berkata. "Tidak, tidak ... Bukan apa-apa."
"Begitukah? Syukurlah."
" ... " Archer diam.
Tetapi dia tahu dirinya akan mati begitu dia mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan gadis muda di depannya.
"Jadi, ada apa Archer? Tidak biasanya kamu datang menemuiku ..." ucap gadis itu penuh kelembutan.
"Itu ..." Archer ragu-ragu sejenak kemudian dia memutuskan, "tolong berhenti berbuat banyak kekacauan dan kerusakan, Master."
Saat mengatakan ini, Archer merasa putus asa. Dia tahu dia akan mati setelah ini, tapi kalau dia hanya diam, bisa-bisa dunia akan hancur akibat ulah gadis ini.
Hanya saja, yang tidak terduga adalah gadis muda itu tidak langsung membunuhnya dan sebaliknya, gadis itu tampak berpikir sedang memikirkan sesuatu yang serius.
" ... Archer."
"Ya?!" Suara Archer menjadi gugup tanpa sadar.
" ... Apakah laki-laki tidak suka dengan gadis yang suka melakukan banyak kerusakan?"
"Hah?" Archer sedikit bingung tapi melihat ekspresi gadis muda itu, dia pun buru-buru menjawab. "Y-ya. Tentu saja, tidak ada lelaki yang menyukai gadis yang suka melakukan kerusakan terus menerus."
" ... "
Merasakan ekspresi gadis itu menggelap, Archer langsung menjawab. "T-Tapi laki-laki akan menyukai gadis yang selalu berperilaku sopan, lembut, perhatian, dan hangat."
"Benarkah?"
"Ya! Tentu saja!"
" ... "
Melihat ekspresi gadis itu mulai membaik, Archer merasa lega, tapi dia juga bingung kenapa Masternya menanyakan hal ini?
Dan seolah menjawab kebingungannya, gadis muda itu menepuk kedua tangannya sebelum berkata penuh semangat.
Dan mungkin ... Itu adalah jawaban yang Archer tidak mau pernah dengar.
"Eh?"
"Sebelum bertemu dengan Pangeranku, aku harus menjadi gadis yang sempurna! Karena itulah, Archer ..."
"A-apa?"
Merasakan tatapan gadis muda itu, Archer mau tak mau bergidik.
Memang senyuman gadis itu sangat indah seperti bunga yang bermekaran di musim semi, tetapi di saat yang sama, Archer juga merasakan bahaya tersembunyi.
"Bantu aku untuk menjadi gadis yang sempurna, Archer."
" ... "
Archer terdiam dan langsung tertawa dengan canggung. "Apakah k-kamu bercanda Master?"
"Fufu ~ Apa aku terlihat seperti bercanda hm?" tanya gadis muda dengan senyuman lembut.
" ... "
Pada saat ini, Archer sadar ... Bahwa dia sudah melakukan kesalahan saat memasuki ruangan ini.
...***...
"Raja Arthur tidak memahami perasaan manusia."
'Eh?'
Ucapan itu tiba-tiba masuk ke pendengaran Roxanne membuat gadis itu bingung sesaat.
Melihat ke sekeliling, Roxanne menemukan dirinya sedang berdiri di dekat sebuah meja bundar, meja bundar itu dikelilingi tiga belas kursi mewah yang ditempati masing-masing kesatria.
Roxanne tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas tapi ada satu wajah yang bisa dilihatnya ...
' ... Arthur?'
Benar. Di kursi paling mewah dan megah itu, yang duduk di kursi itu adalah Servantnya, Arthur Pendragon.
Ada tambahan atribut penampilan kesatria itu. Dia mengenakan mahkota emas berkilau serta mantel, membuat sosoknya kini lebih menyerupai seorang King (Raja).
Jika sebelumnya, Roxanne akan terpesona dengan penampilan 'baru' Arthur itu, tetapi sekarang dia sama sekali tidak merasa begitu.
Karena ... Raja itu sama sekali tidak memiliki ekspresi.
"Sir Tristan! Apa maksud Anda mengatakan hal seperti itu pada Raja!"
Saat itu, salah satu kesatria yang duduk tepat di sebelah Arthur berkata dengan marah.
Sosok yang disebut Sir Tristan itu meliriknya sesaat lalu berkata acuh tidak acuh :
"Kalian semua tahu apa yang saya maksudkan. Raja Arthur, Anda terlalu terobsesi untuk menjadi Raja yang sempurna sampai-sampai Anda membuang kemanusiaan Anda. Jika seperti ini, saya khawatir kekuasaan Anda tidak akan bertahan lama dan bahkan saat itu rakyat kita akan memberontak pada kita."
"Sir Tristan! Anda–"
Sebelum kesatria di samping itu marah, Arthur mengangkat tangannya tuk menghentikannya.
"Cukup Sir Lencelot. Jangan terlalu terbawa emosi."
"Akan tetapi–"
Sir Lancelot hendak mengatakan sesuatu tapi dia dibungkam oleh tatapan tenang Arthur.
Arthur kemudian menatap Sir Tristan dengan tenang. Setelah beberapa menit, barulah dia angkat bicara.
"Saya akan berpura-pura tidak mendengarnya mengingat jasa Anda selama ini, tapi saya juga memberikan Anda pilihan."
Mata hijau zamrud Arthur bersinar dingin. "Apa Anda ingin meninggalkan , Sir Tristan?"
Menghadapi pertanyaan itu, Sir Tristan tidak gentar untuk menjawab.
"Ya, saya ingin mengundurkan diri dari posisi ini."
"Sir Tristan! Anda sangat keterlal–"
"Begitukah, saya mengerti. Jika itu yang Anda inginkan, Anda bisa mengundurkan diri," ucap Arthur sambil mengangguk tenang seolah dia tidak terpengaruh dengan adanya kemunduran salah satu kesatria terpecayanya.
Hanya saja ...
"Lalu siapa lagi yang ingin mengundurkan diri?" tanya Arthur saat melirik ke beberapa kesatria yang tertegun di tempat mereka.
"Yang Mulia, Anda ..."
Sir Lancelot, kesatria Arthur yang paling setia mau tidak mau mempertanyakan apa arti dari memberikan pertanyaan seperti itu.
Tapi Arthur sama sekali tidak peduli padanya.
Dia memusatkan perhatiannya pada para kesatria yang sudah berjuang bersamanya dari awal ...
Akhirnya seseorang mengangkat tangannya.
"Karena Yang Mulia sudah berkata demikian, maka saya tidak perlu sungkan lagi. Maafkan hamba Raja Arthur tetapi saya juga ingin ikut mundur dari posisi ini."
"Kalau begitu saya juga ..."
" ... "
Satu per satu kesatria mengundurkan diri dari posisi sampai akhirnya jumlah kesatria yang tadinya adalah 13 kini tersisa 8 orang.
Melihat kepergian 5 kesatria terpercayanya, ekspresi Arthur tidak memiliki riak seolah dia tidak terpengaruh dengan hal itu.
Dan jelas ekspresi Arthur cukup mengganggu orang-orang itu, bahkan Sir Lancelot, kesatria tersetia Arthur merasa tidak nyaman.
Hanya Sir Kay, kesatria yang menemani Arthur sejak kecil, tahu betul keadaan sahabatnya itu.
"Yah, karena sudah seperti ini, ayo kita mencari kesatria lain yang bisa menempati kursi kosong ini. Pemberontakan Sir Modred akan semakin gila jika tidak ada yang menghentikannya."
Mengatakan demikian dengan santai Sir Kay beranjak dari kursinya, tapi faktanya dia juga memberikan arti lain pada kesatria lainnya.
Para kesatria segera mengerti, jadi mereka semua keluar dari ruang meja bundar itu ...
Hanya Arthur yang tersisa, duduk di atas kursi indah itu.
"Raja yang sempurna kah?"
Arthur memejamkan mata dengan tenang.
Kata siapa dia tidak bisa memahami perasaan manusia? Dia tahu perasaan itu dengan baik.
Apa bedanya dia dengan robot kalau tidak bisa memahami perasan manusia? Hanya saja untuk menjadi raja, dia harus mengesampingkan perasaan pribadinya dan lebih mengutamakan kerajaannya.
Bukankah itu menyedihkan?
Ya. Itu sangat menyedihkan.
Karena tahu itu menyedihkan, Arthur butuh waktu sendirian untuk tenang.
Dan Roxanne yang melihat peristiwa barusan tertegun, tidak bisa beranjak dari tempatnya.
Apakah ini adalah ingatan Arthur? Mungkin ya.
Tapi Roxanne tidak terlalu peduli dengan hal itu.
Menyaksikan sosok kesepian duduk di kursi itu, Roxanne saat ini hanya memiliki satu keinginan yaitu ...
Menemani sang Raja.
...***...