Why My Servant Is So Perfect?

Why My Servant Is So Perfect?
Ch. 15 – Before the Fight



"Aduh, duh, itu sakit! Bisakah kamu lebih lembut?!"


"Ini tidak bisa dihindari. Cobalah tahan, bukankah kamu seorang laki-laki?" Dengan acuh tak acuh, Kaina berkata demikian.


Ringisan kesakitan Mike meningkat karena rasa sakitnya yang meningkat saat Kaina tanpa ampun menekan lukanya.


Biasanya itu akan menarik perhatian orang orang di sekitarnya tapi sayangnya tidak ada satupun yang punya mood untuk itu ...


Tidak setelah apa yang mereka alami ...


Menoleh ke sekitarnya, Gvain menghela napas. Entah bagaimana, mereka semua masih selamat dari serangan serta .


Tentu saja, Hal tersebut tidak lepas dari pilar api yang tiba-tiba membombardir musuh yang tidak diketahui darimana asalnya.


Berkat itu, mereka masih bernapas sampai saat ini.


Meski begitu ... Melihat kerusakan disekitarnya dan kematian ribuan orang yang tidak berdosa, hati Dvain sangat bersalah.


Bukan hanya itu, mereka juga kehilangan lebih banyak anggota yang mengurangi kekuatan tempur mereka.


Suasana suram menyelimuti tempat itu, orang orang memperban luka mereka sambil dibantu oleh Servant, membuatnya sangat hening.


"Lihat! Itu Ketua Asosiasi!"


Ucapan itu menarik semua orang dan mereka menemukan pemuda tampan berjalan mendekat dengan seorang lelaki berotot yang mendukungnya.


Pemuda itu juga diikuti oleh beberapa anggota di belakangnya namun sama seperti yang lain, mereka juga terluka.


"Maaf. Kami benar-benar terlambat," ucap Kelvin sambil mengernyit saat bisa melihat sekelilingnya. Ini benar-benar ... Parah.


"Kakaka! Kalian semua terlihat buruk! Bahkan aku tak menyangka Saber juga terluka parah!" ucap pria berotot sambil menyeringai, namun tatapannya mengandung keseriusan yang tak pernah terjadi sebelumnya.


Kelvin menggeleng lalu bertanya dengan ragu saat melihat sekelilingnya, "Gadis– maksudku, pemilik , dia tidak di sini?"


"Sayang sekali Ketua Asosiasi, kami tidak melihatnya."


"Begitukah ..." Kelvin sedikit khawatir tapi dia harus mengendalikan situasi terlebih dahulu. "Kumpulkan anggota kita yang tersisa, kita akan mengadakan pertemuan darurat."


Mendengar hal itu, Dvain tersenyum pahit. Jujur, dengan kondisi saat ini, dia ragu kalau ada yang mau melakukan pertemuan darurat ...


Sekarang tidak ada yang bisa mereka lakukan tapi dia tetap menuruti perintah Kelvin.


"Baikl–"


Tepat pada saat bersamaan, angin hijau berderu dari langit. Hal tersebut sontak mengejutkann semua orang dan waspada, tapi Rider hanya mengangkat alisnya.


'Oh ... Itu aura yang sangat kuat ...'


Ini mungkin pertama kalinya dia merasakan aura sekuat ini, apalagi itu bukan satu orang ...


Saat mendarat di permukaan, angin hijau itu langsung berhamburan dan memperlihatkan tiga sosok dibaliknya.


Dua diantara adalah orang yang mereka kenal, itu adalah ...


"R-raja Arthur ..." Dvain terkejut lalu sangat lega. Sungguh, Dia benar-benar tidak mau bertarung lagi kemudian menemukan sosok Roxanne sedang tidur nyenyak di pelukan Raja itu.


Gadis itu kelelahan karena kekurasan [mana] setelah penggunaan ...


"Bisakah seseorang membawa Master ke kamar istirahat dan merawatnya? Tolong," ucap King of Knights dengan tenang.


"Biarkan–" Kelvin tanpa sadar ingin menjawab, tetapi dia menyadari posisinya saat ini dan dia terdiam karena ... Dia ingat dirinya tidak dalam posisi untuk berkata demikian, yang membuat dia cukup frustrasi.


'Serius, ada apa denganku?' Kelvin mengerutkan kening.


Yang lainnya tidak sadar tapi Lux (Arthur) dan Rider menyadarinya. Sementara Lux (Arthur) mengerti perasaan Kelvin, Rider sedikit aneh dengan perilaku Masternya, dia berpikir-pikir sejenak lalu mendapatkan tebakan ...


'Oh! Jadi begitu ... Aku mengerti ...' Rider sedikit menyeringai dalam hati.


"Saya akan membawanya," Kaina menawarkan dirinya.


"Terima kasih," ucap Lux (Arthur) dengan lembut dan menatap Kelvin. "Sekarang ... Saya rasa Anda berkata akan melakukan pertemuan, kan? Kalau Anda tidak keberatan, bisakah saya ambil posisi untuk itu?"


Kelvin sedikit terkejut sebelum mengangguk dengan ekspresi tenang. "Tentu saja."


Dengan begitu ... Pertemuan darurat pun diadakan.


...***...


"Jadi seperti inilah keadaan kita sekarang ... Kecuali beberapa kota termasuk kota kita saat ini, hampir semua kota hancur, lebih buruk lagi, populasi manusia juga diperkirakan hanya tersisa 5% ..."


Informasi itu membuat ekspresi orang-orang di dalam ruangan itu muram. Bahkan Lux (Arthur) yang sudah terbiasa dengan perang massal pun menyipitkan mata.


Sementara kekacauan yang ditimbulkan oleh White Dragon Vortigern lebih parah dari ini, tapi memusnahkan populasi manusia sebanyak itu dalam sekejap, bahkan Voltigern juga tidak bisa melakukan itu kecuali dia terbang ke luar angkasa dan meluncurkan serangan napasnya.


'Yah ... Mengingat yang kita bicarakan ini adalah 'Holy Grail', itu tidak heran ...'


Meski Holy Grail hampir mahakuasa karena bisa mengabulkan semua permintaan, tapi dia butuh pasokan [mana] yang besar dan jauh lebih besar dari pelepasan .


Namun memusnahkan umat manusia pasti merupakan hal yang mudah bagi Saviera.


Dia memiliki pasukan Shadow tidak terbatas, Irregular Servant, dan bahkan seorang Beast dengan parameter yang agak 'rusak'.


"Kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kekacauan ini!"


Itu adalah yang pertama kali keluar dari ucapan salah satu petinggi , dia juga memiliki rasa keadilan yang tinggi tapi ...


"Apakah kamu bodoh?" Salah satu dari mereka bertany dengan kosong dan kesal. "Bagaimana caranya kita menghentikannya sementara saat bertahan saja kita sudah hampir mati?!"


Saran itu benar-benar hal terbodoh yang mereka pernah dengar. Mengalahkan makhluk yang bisa memusnahkan hampir semua manusia di dunia? Sungguh lelucon!


Terutama mereka sudah kekurangan kekuatan tempur. Bertarung dengan situasi mereka saat ini sama saja bunuh diri!


"Bagaimana menurut Anda Ketua?" tanya salah satunya.


" ... " Kelvin terdiam dan memejamkan mata. Dia kemudian berkata. "Kita tidak bisa melakukan apapun, kita tidak punya kekuatan yang cukup untuk mendukung pertempuran selanjutnya. Bahkan pemerintahan sudah kacau dan tidak mungkin meminta bantuan pada organisasi lain karena mereka juga sibuk mempertahankan diri."


Ucapannya membuat suasana terasa sangat berat. Mereka sebenarnya masih mempunyai kepercayaan tinggi pada Kelvin karena pemuda itu adalah satu-satunya dalam sejarah yang bisa menjadi ketua diusia yang begitu muda.


Tapi karena dia sudah berkata demikian, maka ...


"Tapi bukan berarti kita tidak punya harapan," ucap Kelvin tiba-tiba.


Semua orang sedikit terkejut saat mendengar itu.


"A-apa maksud Anda, Ketua?"


"Sederhana." Kelvin melihat ke arah Lux (Arthur) yang terlihat tenang. "Kita semua masih bisa mengakhiri bencana ini. Bukankah begitu, 'Yang Mulia Raja Arthur'?"


" ... " Lux (Arthur) menyipitkan mata. Oke ... Sepertinya Kelvin di dunia ini lebih cerdas dibandingkan dengan Kelvin dunia utama.


"Saya rasa seperti yang diharapkan dari Anda. Itu benar, kita masih dapat mengakhiri semua bencana ini."


"B–baga–"


Saat mereka hendak bertanya, mereka tiba-tiba teringat kembali pemandangan sebelumnya.


Sebuah sinaran emas indah yang membersihkan kekejian dan kejahatan dunia, pedang yang hadir untuk menyelamatkan dunia ...


Saking indahnya, mereka semua terpesona dan merasa hangat seakan-akan kembali ke pelukan ibu mereka ...


" ... "


Untuk sesaat tiada yang mengatakan sepatah katapun, tetapi mereka menelan ludah tatkala menatap sang Raja Inggris.


Jika itu dia dengan Noble Phantasmnya, maka mungkin ...


"Tapi terlepas dari itu, untuk melakukannya itu sangat sulit, pertama kita tidak tahu lokasi target utamanya.


Kedua ... Saya butuh waktu untuk mengaktifkan Noble Phantasm saya."


Untuk membunuh Saviera yang merupakan Holy Grail tidak semudah itu. Buktinya saja, dia belum mati meski sudah terkena .


Setidaknya, dia butuh lebih dari satu pelepasan segel untuk membunuhnya. Hanya saja, waktu pelepasan juga akan lebih lama.


Juga, Lux (Arthur) tidak berpikir Saviera akan duduk diam. Disaster dan beberapa 'Irregular Servant' pasti akan menganggunya.


"Waktu bukanlah tidak masalah. Kami akan melindungi dan mendukung Anda."


"Anda yakin?" Lux (Arthud) bertanya sambil mengangkat alisnya. Jika mereka melakukan seperti yang dia katakan, jumlah korban yang akan jatuh bukan main-main.


"Iya," Kelvin mengangguk tenang tapi matanya terlihat tegas. "Untuk melindungi 'dia' dan Dunia ini, kematian bukanlah apa-apa."


' ... Baik. Cintanya pada Roxanne sangat berat. Bahkan di saat seperti ini, dia masih memikirkan Heroine itu.'


Lux (Arthur) sedikit tidak dapat berkata-kata. Adapun yang lainnya, meski mereka bingung dengan siapa 'dia', tapi mendengar keinginan Ketua mereka juga ingin melindungi Dunia ... Membuat semangat mereka sedikit membara.


"Kakaka! Ya! Itulah Masterku! Semangat seperti itulah yang harus kamu miliki! Tetapi tidak perlu khawatir, Master. Selama ada aku di sini, hal-hal seperti kematian tidak akan terjadi!"


"Kalau Ketua berkata demikian, maka saya pasti akan mengikuti Anda."


"Melindungi Dunia adalah salah satu tugas kita, jadi saya bersama Anda Ketua."


Satu per satu dari mereka mendukung Kelvin dan siap untuk bertarung meski mereka akan mati. Bahkan Dvainpun juga ikut ...


Menatap ini, Lux (Arthur) merasa nostalgia. Pemandangan ini mengingatkan dia dengan pertemuan ...


Tetap saja ...


"Sekarang satu-satunya masalah sekarang adalah bagaimana kita menemukan lokasi musuh kita?" tanya Dvain.


Dan dia membungkam semua orang. Itu benar, Shadow mungkin sangat kuat tapi mereka tahu kalau itu hanyalah salah satu antek musuh.


Musuh sebenarnya masih belum terlihat sejauh ini. Kecuali Lux (Arthur), Roxanne, serta Kelvin – yang menduga pelaku aslinya adalah ketua dari –, mereka tidak tahu bahwa Holy Grail adalah pelakunya.


"Mengenai hal itu aku sudah tahu lokasi musuh."


Tetapi suara seorang gadis muda langsung mengambil perhatian mereka. Mengangkat alisnya, Dvain sedikit ragu.


Itu adalah salah satu yang bersama Lux (Arthur). Gadis bertubuh munggil berambut merah dengan gaya rambut kuncir ganda, kedua pupil matanya yang sangat tenang membuatnya terkesan agak tidak manusiawi.


Tapi walau begitu, kecantikannya tidak dapat diragukan lagi, bahkan mereka merasa sedikit tidak nyata untuk memikirkan ada makhluk di dunia ini dengan kecantikan setingkat itu ...


Tentu saja mereka akan merasa begitu karena yang sesang berdiri di depan mereka tidak lain adalah Dewi itu sendiri ...


" ... Saya bertanya-tanya dari tadi, siapa gadis ini Yang Mulia?" tanya Dvain sembari menatap Lux (Arthur).


Sebelum pemuda itu hendak menjawab, gadis itu telah berkata. "Siapa identitasku itu tidak penting, tujuanku disini sama seperti kalian."


Mereka mengernyit dan sedikit tidak senang karena tak menyukai nadanya yang terkesan meremehkan mereka.


Kenyataannya memang seperti itu, kecuali Lux (Arthur), gadis itu tak menganggap orang yang lainnya. Bahkan Kelvin pun tak layak baginya.


Gadis itu melirik Kelvin sejenak dan menjawab. " ... Inggris, tepatnya di London."


...***...


Lux (Arthur) berjalan sambil berpikir dengan ekspresi tenang dan dia tidak bisa menahan kerutan di wajahnya.


'Terlalu lancar ... Apakah Saviera benar-benar hanya diam menunggu kami menyerangnya?'


Itu bagus karena mereka memiliki waktu untuk menyusun rencana sebelum menyerang. Tidak terlalu rumit, itu sangat mudah.


Saviera memiliki Shadow yang tak terbatas, tapi dengan Dvain dan yang lainnya, masalah jumlah bukanlah masalah. Selama mereka semua tidak disentuh oleh Shadow dan dilahap, mereka bisa memukul mundur.


Saviera juga memiliki beberapa Irregular Servant. Diketahui sejauh ini, dia sudah memanggil empat, Sir Mordred, Sir Lancelot, Archer dan seorang pria berambut merah tertentu.


Tetapi Sir Lancelot sudah dikalahkan oleh Lux (Arthur), Jadi hanya tersisa tiga. Yang menjadi masalah adalah .... Siapa pria berambut merah yang sudah dipanggil Saviera? Dari penjelasan Dvain, pria itu mengenal dan membencinya.


Dia tidak yakin siapa itu, yang pasti itu adalah Servant dari Dunia Paralel yang sama dengan Arthur Pendragon.


Kemudian masalah terakhir, Beast. Dengan Saviera sebagai Masternya, Lux (Arthur) tak percaya King Ant itu mati setelah menerima sinaran .


Dia berhasil selamat satu kali, jadi bukan berarti dia tidak bisa selamat untuk yang kedua kalinya.


Untungnya, sudah ada Grand Servant yang akan mengcounter semut brengsek itu.


Tapi Lux (Arthur) memiliki perasaan yang tidak nyaman. Ini... Sangat aneh. Semuanya lancar ... Maksudnya terlalu lancar.


Lancarnya rencana ini tanpa gangguan membuatnya agak gelisah.


Ada sesuatu ... Sesuatu yang lebih buruk akan terjadi, instingnya berkata demikian.


Mengingat itu adalah Saviera yang pikirannya sudah gila, Lux (Arthur) tidak meragukan itu.


Dia hanya tidak tahu apa bencana buruk itu ...


"Kamu terlihat memiliki banyak pikiran."


Pikiran Lux (Arthur) terganggu saat mendengar suara seorang gadis yang acuh tidak acuh, membuat pemuda itu meliriknya.


"Grand Lancer."


"Cukup hanya dengan Ifrit. Kamu akan membuat kehebohan jika memanggilku begitu."


Grand Lancer, tepatnya, Ifrit bersandar pada dinding dengan ekspresi tenang sambil menatapnya.


"Apakah Anda memiliki sesuatu yang ingin Anda sampaikan pada saya?"


"Tidak terlalu penting, namun aku hanya ingin mengingatkanmu ... Lebih baik jika kita segera bergegas, aku bisa merasakan aura yang tidak menyenangkan dari sana."


"Dari 'sana'? Maksud Anda London?"


"Ya." Ifrit mengangguk. "Aku tidak yakin apa itu, tapi yang jelas itu bukan hal yang baik."


" ... Saya tahu tapi ini tak bisa dihindari. Lagian, hanya dengan kekuatan kita berdua saja tidak cukup untuk menghentikan Holy Grail. Kenapa Alay–, maksud saya Kesadaran Umat Manusia tidak mengirim tujuh Grand Servant? Dan juga bagaimana dengan Gaia atau Kesadaran Laut Dunia?"


Ifrit mengangkat alisnya saat mendengar nama baru Kesadaran Dunia, tapi dia tetap menjawab "Apa kamu kira posisi Grand bisa ditempati oleh orang lain semudah itu? Tidak. Dan kalaupun dia mau, dia tidak bisa karena kekacauan tidak hanya terjadi di tempat ini."


" ... "


Mendengar itu, Lux (Arthur) langsung mengerti, bukannya ketiga Kesadaran itu tidak mau tapi mereka juga sedang berusaha untuk bertahan dari invasi Saviera.


"Kekuatan Holy Grail sangat kuat, cukup untuk mengacaukan aliran waktu dan ketiga makhluk itu mencoba memperbaikinya. Jadi, Kesadaran Umat Manusia hanya bisa mengirimku."


Kesadaran Umat Manusia tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengirim lebih dari satu Grand Servant, sedangkan Gaia tidak dapat mengirim Beast karena fokus mempertahankan diri.


Adapun Kesadaran Laut Dunia? Dia juga sama seperti Gaia, hanya saja lebih rumit ...


"Saat ini hanya kita berdua yang bisa membunuh Holy Gail dengan Noble Phantasm kita."


Seperti Lux (Arthur) yang memiliki sebagai Noble Phantasm dengan Rank EX-nya, Ifrit juga memiliki hal yang serupa.


Itu wajar karena sebagai counter untuk musuh yang bisa memusnahkan Dunia, maka dia juga harus memiliki kekuatan penghancur Dunia.


Namun, Ifrit tidak begitu bodoh untuk melawan Beast dan Saviera bersamaan sendirian karena pengaktifan Noble Phantasm-nya juga memiliki jeda.


Jadi dia memilih untuk bersama Lux (Arthur) mengingat parameter pemuda itu juga boleh dibilang setara dengan Grand Servant ...


Tapi ...


"Itu tidak cukup," Lux (Arthur) menggeleng, "Ada beberapa Irregular Servant. Kita tak tahu tingkat kekuatan mereka tapi pasti salah satunya cukup kuat untuk melawan 'Beast'."


"Aku tidak berpikir ada banyak Irregular Servant yang setara dengan 'Beast' ..." ucap Ifrit dengan kurang yakin.


" ... "


Lux (Arthur) tidak mengatakan tentang apapun soal itu. Ifrit tidak tahu kalau di Dunia Utama ada banyak Servant yang biasa tapi hampir semuanya setara dengan Beast.


Dan yang paling penting, tokoh yang berasal dari Dunia Arthur Pendragon memang pada dasarnya sangat kuat dan curang.


Beberapa diantara mereka bahkan sanggup by one dengan Beast dengan dua atau tiga ronde, menunjukkan kengerian Dunia Arthur.


Dibandingkan kedua dunia itu, dunia paralel ini jauh lebih lemah ...


Meskipun rasanya agak kurang pantas menyebut dunia ini lemah karena Dunia ini telah melahirkan makhluk setingkat Saviera.


"Dunia ini jauh lebih luas dari yang dapat Anda pikirkan, Nona Ifrit," ucap Lux (Arthur) lembut.


" .... " Ifrit menatap Lux (Arthur) sesaat. Lalu dia menghela napas. "Kurasa aku mengerti kenapa dia menyukaimu ..." gumamnya.


" ... Maaf?" Pemuda itu berkedip.


"Bukan apa-apa dan ini mungkin terlambat, tapi Kesadaran Umat Manusia meminta diriku untuk memberikan sarung ini padamu."


"Hm?"


Lux (Arthur) sedikit bingung dan ekspresinya sedikit berubah saat sebuah cahaya bersinar tepat pada tangan Ifrit.


Tanpa ragu-ragu, gadis itu memberikannya pada Lux (Arthur).


"Ini ..." Melihat benda yang dia pegang, Lux (Arthur) tertegun.


Itu adalah sebuah sarung pedang berwarna emas indah yang akan bersinar dan tertera tulisan kuno yang tidak bisa dipahami manusia.


Hanya dalam sekejap, pemuda itu langsung tahu barang di tangannya ...


"Sarung suci Excalibur ... ."


Tidak diragukan lagi ... Ini adalah sarung suci , sarung yang dikatakan sepuluh kali lebih berharga dari karena pemilik sarung ini akan diberikan kemampuan pemulihan yang kuat.


Tapi... Ini bukan -nya. Meski dia merasa sangat akrab dengan sarung suci ini, dia tahu ini bukan milik-nya. Selain itu ...


" ... Ini sangat lemah," gumam Lux (Arthur) tanpa sadar.


Sudut bibir Ifrit berkedut. "Aku tak tahu sekuat apa sarung dari duniamu, tetapi asal kamu tahu, sarung suci yang kamu pegang itu adalah salah satu item terkuat di dunia ini."


"Ah, maafkan saya. Hanya saja ... dibandingkan dengan ini, milik saya jauh lebih kuat."


"Serius, aku penasaran seperti apa Duniamu," Ifrit menghela napas. "Jadi itu akan menjadi milikmu untuk sementara. Kesadaran Umat Manusia meminjamkannya supaya level kekuatanmu meningkat. Yah ... Meski aku ragu kamu akan menggunakannya untuk dirimu."


Lux (Arthur) hanya tersenyum mendengar itu. "Terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih. Itu adalah tugasku dan hanya sekadar saran dariku ... Katakanlah yang sebenarnya pada Mastermu. Berhentilah menyembunyikan sesuatu darinya. Terkadang ... rasanya sangat menyakitkan saat kita memiliki sesuatu yang tidak bisa kita ungkapkan."


Lux (Arthur) sedikit terkejut, terdiam beberapa detik. Akhirnya dia berkata. "Saya mengerti."


"Bagus." Ifrit mengangguk. "Aku tidak ingin kamu menyesal sama seperti aku ..."


"Maksud Anda menyesal karena tidak berhasil menang dalam mendapatkan cinta dari Kakak lelaki Anda yang tersayang? Kalau begitu maaf, saya tidak menyimpang ke arah itu."


"Tidak, bukan itu maksudku ..." Ifrit berkedip beberapa kali lalu ekspresinya berubah saat menyadari ucapan Lux (Arthur). "Apa yang–"


Tapi saat dia akan bertanya sosok Lux (Arthur) sudah tidak ada di tempatnya lagi. Pemuda itu menghilang, membuat gadis itu membeku lalu tubuhnya perlahan gemetar.


"A-arthur ... Pendragon ..." Ifrit berkata dengan geram. "Jika kamu sampai menyebarkan itu ... Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu ..."


Akan tetapi, di saat berkata begitu, wajah Ifrit yang sangat cantik itu memerah ...


...***...


Adapun Lux (Arthur)... Pemuda itu kini berdiri di depan kamar di mana Roxanne sedang istirahat beristirahat.


Sedangkan Ifrit? Itu hanya lelucon, dia tidak bisa menahan diri untuk menggodanya karena kehidupan masa lalu gadis itu benar-benar menarik sekaligus ... memalukan.


Untungnya, kecuali Lux (Arthur) yang merupakan penulis novel, tidak ada yang tahu tentang itu. Kalau tidak, kejutannya akan dibawakan sangat besar.


Lagipula, siapa yang akan mengira Grand Lancer yang sangat kuat ternyata adalah mantan Brocon?


Menggeleng ringan, Lux (Arthur) hanya berharap kalau penyakit Ifrit bisa sembuh karena dia tidak ingin gadis itu menjadi seperti Morgan yang memiliki cinta tidak normal pada keluarganya sendiri.


'Hm ... Kalau entah bagaimana aku berhasil menjadi Servantnya di suatu Dunia paralell, mungkin aku bisa menyembuhkannya ...'


Melupakan hal itu, Lux (Arthur) menarik napas dalam-dalam lalu mulai mengetuk pintu kamar dengan lembut.


"Master, saya akan masuk."


...***...


"Fufufu ~ Sedikit lagi ... Hanya tersisa satu gerakan lagi ~ Ah, Pangeranku, aku sangat merindukanmu ~"


Di suatu tempat yang tak terjangkau, Saviera tersenyum dengan pipi yang cukup memerah, napasnya yang memburu seolah dia sakit.


Tapi di belakangnya, beberapa orang gemetar ketakutan saat menyaksikan hal gila yang kini sedang terjadi ...


Salah satunya adalah Archer.


'Brengsek! Kegilaan Master menjadi parah! Aku harap kamu mampu menghentikan kegilaan ini, Raja Inggris!'


Archer berdoa di dalam hatinya karena dia benar benar tidak ingin memikirkan apa yang terjadi ...


...***...


"Fuh ~ Ini semakin parah ~ Aku ragu kamu bisa menyelesaikan ini, Arthur ~ "


Di menara indah dengan bunga merah muda sebagai motifnya seorang succubus tertentu tersenyum tapi matanya yang indah menyipit seakan-akan mengetahui bencana yang akan terjadi.


Hanya pada saat ini, dia merasakan fluktuasi ruang dari belakangnya.


"Ara?" Dia terkejut kemudian senyumannya yang menawan melebar begitu dia menatap sosok itu. "Fufu ~ Ini menarik ~ Aku tidak menyangka kamu sampai melewati Ruang dan Waktu supaya bisa bertemu denganku ~ Inilah masalah menjadi orang terkenal ~" Nada Succubus itu terdengar mengeluh. "Apa kamu butuh sesuatu dariku, Kesadaran Dunia atau mungkin kamu lebih suka dipanggil ... Gaia?"


..."Aku benci mengatakan ini tapi ... Aku butuh bantuanmu, Grand Caster, Mage of Flowers ... Merlin."...