Why My Servant Is So Perfect?

Why My Servant Is So Perfect?
Ch. 09 – Gaia



"Ehm ..."


Roxanne membuka matanya dengan lemas. Dia tidak yakin kenapa tapi sekujur tubuhnya benar benar sakit saat ini.


"Ah, kamu sudah sadar, Nona."


"Siapa?..."


Melihat ke depannya dengan lemah, Roxanne memberikan pertanyaan dengan takut karena bukan Lux (Arthur) yang menyapanya.


Sebaliknya, itu adalah seorang wanita dengan pakaian biarawati serta gantungan salib tepat di dadanya.


"Ah, ini ..."


Wanita itu sedikit bermasalah melihat Roxanne tampak ketakutan padanya. Seingatnya, dia tak pernah melakukan kesalahan padanya.


Tapi itu hanya respon alami Roxanne karena tanpa Lux (Arthur) di sisinya, gadis itu hanya merasakan ancaman besar saat orang asing mendekatinya.


"Tidak ... Arthur, mana Arthur ..."


Dan karena itulah, Roxanne mulai sedikit panik, mencoba beranjak dari tempat tidurnya, gadis itu ingin mencari Lux (Arthur) ...


"Tidak, jangan bergerak Nona. Kamu belum pulih."


Tentu saja, biarawati itu menghentikan aksinya yang ceroboh.


Roxanne belum pulih, melakukan gerak yang tidak perlu justru akan memperparah cedera yang dia alami saat ini.


"T-tidak ... Lepaskan aku ..."


Tapi Roxanne salah paham dengan tindakan Biarawati dan menyangka kalau biarawati ini adalah salah satu orang yang menginginkan tubuhnya yang unik, sampai membuat gadis berambut merah itu tambah panik.


Untungnya beberapa menit kemudian, pintu kamar tiba-tiba didorong, dan suara seorang pemuda terdengar.


"Master, apakah Anda akhirnya sudah sadar?!"


Seorang pemuda berambut pirang emas dan sepasang mata hijau zamrud masuk ke kamar dengan ekspresi cemas.


"A-arthur ..."


Menemukan kalau orang itu adalah orang yang dia harapkan Roxanne merasa sangat lega dan mulai berhenti melawan.


Adapun biarawati itu juga merasa lega lalu dia menatap Lux (Arthur) dengan terima kasih .... Yah, meskipun wajahnya masih memerah saat menatap sosok sang Raja Kesatria.


Kemudian biarawati itu meninggalkan kamar itu sambil menundukkan kepala. Sedangkan sosok Lux (Arthur) buru-buru mendekati Roxanne.


"Bagaimana keadaanmu, Master? Apakah Anda merasakan sakit di bagian tertentu?"


"A-aku merasa tubuhku sangat lemah ..."


Rasa sakitnya menghilang saat dia melihat Lux (Arthur) seakan kehadiran dari Pemilik Pedang Suci Terkuat itu adalah penyembuhnya.


Tapi bukan berarti dia tidak merasa lemah ...


"Maaf Master. Karena saya, Anda terluka sampai seperti ini."


"T-tidak, ini sama sekali bukan salah Arthur! Justru akulah yang menghambat Arthur"


" ... "


Lux (Arthur) diam. Dia tahu betul karena keberadaannya di dunia inilah yang membuat Roxanne mengalami hal buruk.


" .... Mungkin, kita harus memutuskan kontrak kita berdua, Master," ucap Lux (Arthur) pahit.


" ... "


Roxanne membeku lalu ekspresinya menjadi pucat seakan darahnya sudah terhapus dari tubuhnya. Bibir gadis itu bergetar begitu dia mencoba mengucapkan sesuatu ...


"A-apa yang kamu katakan Arthur ...?"


"Seperti yang Anda bisa dengar, Master." Lux (Arthur) menggeleng dengan lemah. "Dengan keberadaan saya di dunia ini, Anda akan terus mengalami bahaya mematikan, jadi agar Anda lebih aman, lebih baik memutuskan hubungan kita–"


"Tidak! Aku tidak akan pernah menginginkan itu!"


Roxanne meraung marah, menghentikan kata kata yang hendak keluar dari bibir Lux (Arthur). Gadis itu memeluk tubuh pemuda itu sebelum berkata :


"K-kamu sudah berjanji ... Arthur ... Kamu sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan aku... A-apakah kamu berbohong padaku?..."


" ... Tidak, saya tidak berbohong pada Anda, tapi Anda akan dalam baha–"


"Aku tidak peduli dengan itu ... Aku hanya ingin Arthur tetap di sampingku. Jadi ....." Roxanne mengangkat kepalanya kemudian melihat ke wajah Lux (Arthur). "J-jangan tinggalkan aku a-atau aku memakai ku ..."


Gadis itu memperlihatkan lambang berwarna merah yang sebagian memudar di punggung tangan kanannya dengan gugup.


Lux (Arthur) sedikit terkejut lalu hanya bisa tersenyum pahit. "Baiklah jika itu yang Anda inginkan."


"Um ..." Roxanne pun lega setelah mendengar itu, dan menggosok wajahnya ke dada Lux (Arthur) dengan nyaman.


Aroma yang terpancar dari tubuh Lux (Arthur) membuatnya ketagihan.


Sebenarnya itu juga salah satu efek dari skill milik Raja Arthur, tapi tentu saja pemuda itu tidak menyadari hal ini, dia hanya mengira Roxanne takut sendirian lagi.


"Master ..."


"Ya?..."


"Sebelumnya saya mengatakan bahwa tidak akan ada ancaman selama saya hadir, tapi sepertinya kalimat ini tidak berlaku mengingat kejadian kemarin."


"A-aku tidak keberatan dengan itu ..."


"Tapi karena itu, saya juga akan membuat sumpah lain sekarang."


"Sumpah lain?..." Roxanne sedikit bingung.


"Ya." Lux (Arthur) mengangguk dengan tenang dan tatapannya penuh keseriusan.


"Saya bersumpah akan melenyapkan ancaman dan bahaya apapun yang mendekati Master ..."


" ... "


Roxanne linglung mendengar ucapan penuh ketegasan itu, namun jantung kecilnya yang berdetak kencang itu tidak bisa berbohong.


Wajah gadis itu memerah dan memeluk sosok kesatria itu dengan lebih nyaman. Dia pun ikut memberikan jawaban dengan senandung lucu.


"Uhm ... Lindungi aku ... Arthur ..."


"Ya, dimengerti."


Lux (Arthur) juga membalas pelukan Roxanne dan gadis itu merasa dirinya sudah tenggelam dalam kehangatan sang Raja Kesatria ini ...


Tidak mungkin ... Dia tidak bisa membiarkan Lux (Arthur) meninggalkan dirinya ...


...***...


"Bagaimana keadaan Mastermu, Raja Arthur?"


Keluar dari kamarnya, sosok pria tua langsung menyambutnya.


"Dia baik-baik saja, Tuan Dvain. Terima kasih atas kekhawatirannya."


Dvain mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyalakan rokoknya. Menghembus sekali, dia kemudian berkata dengan sedikit rumit.


"Namun aku tidak menyangka akan datang hari dimana aku menyaksikan dua hal menakjubkan."


Servant Arthur Pendragon dan pemilik tubuh .


Dua berita itu saja cukup untuk menggemparkan dunia.


Siapa yang menyangka kalau akan muncul dua keberadaan legendaris bersamaan? Terutama keduanya adalah pasangan Master dan Servant.


Lux (Arthur) tidak heran jika mereka menemukan identitas aslinya.


Bagaimanapun juga, Roxanne selalu memanggilnya dengan nama aslinya lalu ditambah dengan pengaktifan dan etiket seperti seorang kesatria dan Raja, justru aneh kalau mereka tidak menyadarinya.


Tapi yang menjadi masalah adalah keberadaan fisik Roxanne yang sudah diketahui.


Ya. Lux (Arthur) tidak menyembunyikan rahasia fisik Roxanne karena perawatan gadis itu.


Akibatnya, banyak orang yang serakah ketika mengetahui Roxanne terlahir memiliki tubuh .


"Ini menjadi merepotkan. Para rubah tua dan petinggi di itu sudah mulai menggila. Hah... Bahkan pun mengirim banyak utusan."


Tidak mungkin untuk menghentikan bocornya informasi karena pengaruh sangat besar.


"Bukan apa-apa." Dvain menggeleng. "jika dibandingkan kamu yang sudah bertarung melawan Monster itu dan melindungi kami hingga kami masih bertahan hidup saat ini, apa yang kami tidak layak untuk disebut."


Sebagian orang-orang tersebut menginginkan Lux (Arthur) sebagai Servant milik mereka, tapi sebagian lagi menginginkan Roxanne – bahkan sampai ada yang menginginkan keduanya –


Mengetahui keberadaan fisik legendaris dan Lux (Arthur) berpotensi menjadi Grand Servant, tidak heran keserakan mereka membengkak.


Keserakahan orang-orang itu malah semakin bertambah setelah pertarungan Lux (Arthur).


Satu kota besar musnah.


Ya. Setelah penggunaan Noble Phantasm Lux (Arthur), kota besar itu benar-benar tidak ada yang tersisa, hanya penuh daratan hitam rata.


Manusia, tumbuhan, dan bangunan di kota itu, semuanya terhapus dari muka bumi.


Hal inilah yang memperkuat dugaan mereka bahwa Lux (Arthur) benar-benar berpotensi menjadi Grand Servant, jadi mereka tidak ragu menekan Dvain dan faksinya untuk mendapatkannya.


"Apakah tidak ada yang bisa lakukan dalam hal ini?"


"Hm ... Sebenarnya ada."


"Tolong katakan," ucap Lux (Arthur) dengan serius.


"Yah, besok mereka akan mengadakan sebuah pertemuan, dan aku harap kamu bisa ikut hadir bersamaku."


Mendengar hal itu, Lux (Arthur) berpikir sejenak lalu menjawab : "Baiklah, saya mengerti."


"Apakah kamu tidak marah?" Dvain bertanya penasaran karena apa yang dia janjikan tidak sesuai dengan perjanjian awal.


Lagipula, dia sudah berjanji akan menghadapi para petinggi dan dia juga akan melindungi mereka.


Pada akhirnya, Dvain tak bisa melawan tekanan dari pada petinggi dan utusan .


Mereka ingin melihat Arthur Pendragon dengan kedua mata mereka sendiri, maka pertemuan itu diadakan.


"Marah? Tidak." Lux (Arthur) terkekeh pelan. "Sebaliknya, ini adalah peluang bagi saya."


Ini adalah kesempatan besar baginya untuk menekan para brengsek itu. Bagaimana dia bisa marah?


Dan tentu saja Dvain menyadari hal itu hingga pria tua itu menggeleng tidak berdaya, tapi juga tidak bisa menahan diri untuk menyeringai.


"Orang-orang itu sangat sial karena harus menghadapimu."


Mereka akan mengerti kalau Raja Arthur bukanlah sosok lemah yang bisa mereka ganggu sesuka hati ...


"Ngomong-ngomong ... Bagaimana dengan lukamu?"


Pada saat menanyakan ini, Dvain tampak serius sambil menatap tangan kiri sang kesatria.


"Ah, ini baik-baik saja. Hanya saja ... Mungkin butuh waktu yang lama untuk pulih."


" ... Apakah gadis itu tahu lukamu?"


"Tidak, tapi tolong rahasiakan darinya," pinta Lux (Arthur).


Mendengar itu, Dvain menghela napas dan akhirnya hanya mengangguk. "Baiklah. Aku akan merahasiakannya."


Setidaknya, ini adalah satu bentuk terima kasihnya pada Lux (Arthur) ...


...***...


Berjalan dengan tenang, ekspresi Lux (Arthur) sangat dingin.


Dari percakapannya dengan Dvain, ada satu hal yang bisa ditangkap.


Lux (Arthur) terluka.


Ya, dia benar-benar terluka.


Untuk pertama kalinya, Lux (Arthur) mengalami cedera yang cukup parah sejak dia tiba di dunia ini.


Bentroknya dengan 'Makhluk' itu benar-benar gila.


Seberapa gila? Lux (Arthur) yakin jika dia tidak mengerahkan semua [mana]-nya untuk melindungi semua orang saat itu, bukan hanya satu kota yang hancur, tapi lebih dari itu.


Hal ini menunjukkan betapa kuatnya makhluk itu.


Lux (Arthur) sudah memiliki tebakan identitas Makhluk itu.


'King Ant', yang bernama .


Disaster adalah salah satu Servant kelas Beast dan tidak terlahir dari legenda atau mitos mana pun. Dia lahir karena dia 'harus' ada. Hal itu pun membuatnya tidak memiliki Noble Phantasm.


Tapi tidak punya Noble Phantasm bukan berarti dia lemah. Disaster termasuk salah satu Beast yang sangat kuat.


Buktinya, pelepasan satu segel saja tidak cukup untuk membunuhnya.


Satu segel mungkin terdengar kurang karena memiliki tiga belas segel tapi kita harus tahu kalau satu segel lebih dari cukup untuk melenyapkan makhluk jahat seperti Beast.


Tapi Disaster berhasil selamat.


Bukan hanya selamat, makhluk itu juga berhasil melukai Lux (Arthur) dan cukup parah – sampai Lux (Arthur) tidak bisa memulihkan bagian tubuh yang terluka dengan cahaya suci –


Merasakan rasa sakit mengerikan di tangan kirinya, Lux (Arthur) mengernyit.


Justru karena ini, Lux (Arthur) tidak membiarkan Roxanne tahu dirinya sedang terluka, gadis itu pasti akan merasa sangat bersalah setelah tahu hal ini.


' ... Aku terlalu percaya diri.'


Lux (Arthur) mengira dia tidak terkalahkan di dunia ini dan tidak ada yang bisa mengancam dirinya tapi dia langsung ditampar oleh kenyataan ...


Ini memberikan Lux (Arthur) pelajaran untuk tetap rendah hati ... Yah, meskipun dia sudah cukup rendah hati setelah menerima ingatan Arthur Pendragon – Dia hanya tidak sadar –


Lagipula, siapa yang menyangka bahwa Beast akan langsung muncul di depannya?


Bukannya melawan minion lawan, dia langsung berhadapan dengan Boss tingkat Hell.


Lux (Arthur) yakin kalau identitasnya bukan Arthur Pendragon tetapi malah Servant lain, kepalanya pasti meledak oleh pukulan maut Disaster dan menjadi pasta daging.


'Tapi ini juga yang membuatku curiga ... Siapa yang cukup kuat untuk mengirim Beast?'


Hanya ada satu sosok yang bisa dan orang itu adalah ...


"Keluarlah, saya tahu Anda memperhatikan saya," ucap Lux (Arthur) dengan dingin dan memasuki mode bertarung.


Armor perak berjubah biru dan pedang yang tidak terlihat melengkapi penampilan pemuda itu.


..."Kamu bisa menyadarinya ..."...


Itu sangat mendadak.


Tangan Lux (Arthur) yang memegang pedang menjadi lebih erat dan setetes air keringat mengalir di keningnya.


Saat mendengar suara yang seolah bercampur antara anak-anak, laki-laki, perempuan bahkan dari suara dewasa yang tua – meski suara yang lebih dominan adalah perempuan – maka tidak butuh waktu yang lama, -nya langsung memberikan peringatan besar, peringatan yang jauh melampaui Beast.


Adrenalin Lux (Arthur) mengalir dengan cepat dan siap untuk melepaskan satu atau mungkin lebih segel .


Kemudian, dia berhadapan dengan makhluk yang mungkin dia kenal dari novelnya dan–


Sang King of Knights segera tertegun.


Benda ... Makhluk ... Wanita ... Sangat sulit untuk mendeskripsikan rasnya, tapi 'dia' sedang berdiri tidak jauh beberapa meter.


Dia ... Transparan ... Dia terlihat tidak solid dan tidak jelas. Seluruh tubuhnya berwarna hijau ... Tepatnya hijau muda, yang mengingatkan Lux (Arthur) pada hutan.


Rambut panjang mencapai punggungnya berwarna coklat seperti tanah sementara pupilnya berwarna zamrud yang sangat mirip dengan pupil Lux (Arthur).


Dia sangat cantik ... Sangat cantik sehingga kecantikannya melampaui Merlin, si penyihir bunga dan Istrinya, Guinevere.


Tidak berlebihan untuk menyebut 'sosok' itu adalah 'sosok' paling cantik yang pernah Lux (Arthur) lihat sejauh ini.


Kecantikannya sampai-sampai bisa disebut seperti malaikat dan tambahkan lagi fakta dia juga saat ini telanjang seperti bayi yang baru lahir hingga membuat lelaki mana pun akan meneteskan air liar saat menatap sosoknya ...


Dia cantik tapi ... Dia jelas bukan manusia, bukan binatang, bukan tumbuhan, bukan Servant, dan bukan juga seorang Dewi.


Dia ... Dia di luar semua ras itu ... Di luar semua makhluk hidup ... Di luar semua jangkauan ...


Dia ... Adalah eksistensi Dunia itu sendiri.


Dia adalah World Consciousness (Kesadaran Dunia) yang disebut ... .