Why My Servant Is So Perfect?

Why My Servant Is So Perfect?
Ch. 12 – Change



Note : maaf lambat, Author kurang sehat beberapa hari ini.



...*** ...


'Melelahkan ...'


Bersandar di sebuah pagar dekat dengan jembatan gantung sambil dengan tenang menyaksikan pemandangan indah laut di depannya, Lux (Arthur) memejamkan matanya.


Pertemuan yang harusnya diadakan dengan tujuan untuk mendapatkan Lux (Arthur) dan tubuh Roxanne justru menjadi negosiasi.


Seperti yang diperkirakan, Lux (Arthur) adalah yang paling mendominasi. Dengan kekuatannya, tiada yang berani membantahnya.


Negosiasi berjalan lancar. Mulai sekarang, baik itu pihak dan pihak tidak memiliki nyali untuk menyentuh Roxanne.


Bukan hanya itu, Lux (Arthur) juga berhasil membuat mereka saling bekerja sama untuk menghadapi monster yang dikenal dengan istilah 'Shadow' itu.


Tidak mungkin Lux (Arthur) bisa melupakannya bagaimanapun, makhluk itu terlalu aneh. Selain aneh, makhluk itu juga sangat kuat.


Dia dapat memburunya sendirian tapi itu akan memakan banyak waktu. Lagipula, siapa yang mau menolak bantuan gratis?


Tentu saja, Lux (Arthur) tidak naif untuk berpikir kalau mereka ingin menurutinya dengan mudah


Meskipun sangat takut padanya sebagian dari mereka pasti ada yang keras kepala. Terutama dari pihak .


Tetapi dia sudah bersiap untuk menghadapi kemungkinan seperti itu. Dia meminta Dvain untuk mengawasi orang dengan yang cukup keras kepala.


Jika ada yang berani macam-macam, dia tidak keberatan untuk mengunjungi tempat tinggal mereka dan memberikan tinjunya pada orang-orang tua itu.


Arthur Pendragon asli yang berhati lembut tidak akan melakukannya, tapi Lux (Arthur) bukanlah orang yang baik ...


Memikirkan ekspresi ketakutan Roxanne, Lux (Arthur) hanya merasakan kepahitan dan rasa sesak di dadanya.


'Hah ... Arthur Pendragon, kenapa hatimu harus begitu baik?'


Lux (Arthur) menghela napas dengan tak berdaya. Kalau bukan karena Arthur yang terlalu lembut, dia tidak akan seperti ini ... Rasanya benar-benar tidak nyaman.


Tapi meski begitu ... Meskipun Roxanne takut padanya, tujuan Lux (Arthur) melindunginya tidak berubah.


'Itu hanya masalah singkat. Tidak lama lagi ... Waktuku di dunia ini akan segera berakhir.'


....


– [ Servant Identity : Arthur Pendragon ]


– [ Class : Saber ]


– [ Progress : 80% ]


...


Semenjak pengaktifan , prosesnya langsung melonjak ke angka 80%.


Untuk mendapatkan 20% sisanya, Lux (Arthur) harus mengabulkan keinginan Roxanne.


Sebelumnya ini adalah hal termudah bagi Lux (Arthur) namun sial baginya, gadis itu sudah takut padanya, jadi dia tidak bisa bertanya apa keinginan gadis itu.


'Tidak masalah. Aku akan mencari tahu sendiri ...'


Lux (Arthur) berpikir dengan analisis.


Mengingat pengalaman Roxanne saat ini, kemungkinan keinginannya adalah hidup seperti orang normal tanpa adanya gangguan.


Jika keinginannya sedemikian rupa, Lux (Arthur) bisa membantu Roxanne untuk mencapai keinginan tersebut.


'Andai semudah itu ...'


Lux (Arthur) mendesah lemah sekali lagi. Dia punya firasat kalau keinginan Roxanne bukan itu, melainkan hal lain.


Dia hanya kurang peka untuk mengetahui itu ...


Para gadis pejalan kaki yang menatap ekspresi melankolis pemuda itu tanpa sadar terpesona dan memerah.


Bahkan beberapa diantaranya tidak sengaja menabrak tiang listrik di depan mereka.


Para laki-laki, yang kebetulan melihat ini hanya bisa memberikan tatapan penuh kebencian ke arah Lux (Arthur).


Terutama wajah itu membuat mereka bisa merasakan ketidakadilan dunia!


Brengsek, kenapa orang setampan dan sesempurna itu bisa lahir?!


Sayangnya, meskipun mereka semua penuh keluhan tidak ada yang berani mendekatinya. Bahkan para gadis yang terpesona pun tidak punya nyali ...


Terlepas ekspresinya yang tampak ramah aura yang terpancarkan olehnya seakan dia berkata 'jangan mendekat' membuat mereka tidak bisa mendekatinya.


Selain itu, mereka entah kenapa merasa seperti tidak pantas berdiri di dekatnya ...


Tapi itu kalau mereka. Hal tersebut tidak berlaku pada gadis ini ...


Saat itu, mereka semua terkejut karena seorang gadis munggil yang mengambil langkah lembut untuk mendekatinya.


"H-hei, gadis yang di–"


Salah satu laki-laki mencoba mengatakan sesuatu pada gadis itu karena pemuda itu tampak tidak bisa diganggu.


Akan tetapi, dia segera tertegun dan ekspresinya tampak luar biasa.


Tidak hanya dia, yang lainnya juga berada di situasi yang sama. Mereka semua pun tercengang menatap sosok gadis itu.


'Bidadari.'


Rambut pirang emas, tubuh yang munggil, mata biru safir yang jernih, dan bulu mata yang sangat mempesona.


Senyuman lembut yang terpasang di wajahnya tidak pernah hilang seakan-akan senyuman itu memang alami.


Dia membawa payung bermotif bunga indah yang melindunginya dari cahaya matahari yang panas.


Tiada kata lain yang bisa menggambarkan penampilan gadis itu selain 'bidadari'.


"Apakah ada yang salah? Kakak laki-laki?"


Gadis itu bertanya dengan gelombang suara yang sangat menyenangkan.


Hanya mendengarnya, semua lelaki tanpa sadar menjadi linglung seakan terhipnotis karena suaranya benar-benar merdu.


"T-tidak, bukan apa-apa ..." ucap lelaki itu dengan wajah memerah dan pusing saat melihat kecantikan bidadari di depannya.


"Begitukah?" Gadis itu memiringkan kepalanya seolah bingung. "Baiklah." Kemudian dia lanjut berjalan sambil bersenandung lembut.


Para laki-laki yang masih terpesona hanya menatapnya pergi dengan wajah linglung.


Para gadis hanya berdecak kesal dan mau tak mau agak cemburu dengan kecantikan gadis itu.


Dengan wajah dan temperamen yang sempurna seperti itu, tidak heran gadis itu punya nyali untuk mendekati pemuda itu ...


...***...


"Halo, Kakak. Kenapa kamu hanya bersandar sendirian di sini?"


Mendengar suara itu, Lux (Arthur) sedikit mengernyit lalu berbalik dan menemukan–


Pemuda itu mengerjap. Ok ... Selain Gaia, mungkin ini kedua kalinya di dunia ini dia melihat gadis secantik ini.


Terutama senyumannya .... Sangat Indah seperti bunga yang bermekaran di musim semi, benar-benar terlindungi dari kejamnya di dunia.


Hanya saja untuk beberapa alasan insting Lux (Arthur) berkata untuk segera menjauhi gadis ini tetapi di saat yang sama mengatakan gadis ini tidak memiliki niat yang buruk padanya.


Sebaliknya, niat gadis itu mendekatinya ... Sangat-sangat tulus dan murni.


Ini membingungkan Lux (Arthur) ...


"Kamu tampak seperti memiliki banyak beban pikiran Kakak ~ Kalau tidak keberatan, bisakah aku tahu apa yang menjadi beban pikiran Kakak? Mungkin aku bisa membantunya."


Mendengar hal itu Lux (Arthur) terdiam sejenak lalu tersenyum lembut sembari berkata.


"Tidak ada yang salah, Nona Muda. Saya hanya ... sedikit lelah."


Berhasil membuat pemuda itu tersenyum itu, gadis itu juga merasa bahagia dan senyuman indahnya semakin berserk-seri.


"Kamu sangat tampan ketika tersenyum Kakak Servant. Kalau bisa, sering-seringlah untuk tersenyum seperti itu karena wajah yang sedih tidak cocok untukmu, Kakak."


Lux (Arthur) terkejut. Untuk sesaat sang Raja merasakan hatinya berdetak sangat kencang melihat senyuman gadis itu.


Tapi itu hanya sesaat. Tidak lama kemudian, dia segera kembali tenang. Tetap saja ...


Pemuda itu tersenyum tipis lalu berkata. "Terima kasih."


"Terima kasih?" Gadis itu bertanya cukup bingung. "Untuk apa?"


"Senyuman Anda yang indah berhasil menghapus beban pikiran saya."


" ... "


Wajah gadis itu memerah dan langsung menyembunyikan wajahnya.


Dia senang karena membawa payung bersamanya.


Tidak lagi, senyuman sang Raja Kesatria itu membuat gadis itu sedikit pusing.


'Ini adalah ... Pangeranku.'


Obsesi di hatinya sedikit meningkat ...


"Kenapa Anda berada di sini Nona Muda? Apakah Anda tidak punya pengawal atau semacamnya?"


"Pengawal?" Gadis itu sedikit terkejut dan memiringkan kepala dengan lembut. "Aku tidak memiliki hal yang seperti itu."


"Anda tidak?" Lux (Arthur) berkedip.


"Tidak-tidak," Gadis itu menggeleng ringan. "Aku tidak punya latar belakang yang cukup kuat untuk memesan pengawal. Aku hanya orang biasa tapi jika pengawal yang Kakak maksud adalah 'Servant', tentu saja aku memilikinya."


Oke, itu informasi yang sedikit tak terduga. Dengan penampilan seperti bidadari yang datang dari surga, Lux (Arthur) berpikir kalau gadis itu setidaknya berasal dari keluarga terkenal.


Tapi sepertinya dia salah ...


"Kenapa Kakak mengira aku memiliki pengawal?"


"Penampilanku?"


"Ya." Lux (Arthur) mengangguk lembut. "Dengan kecantikan yang seperti putri kerajaan, sulit dipercaya bahwa status Anda seperti orang biasa."


" .... "


Kali ini, gadis itu benar-benar sudah tidak mampu menahan rangsangan itu dan dia hampir pingsan.


"Fufufu ~" Gadis itu terkikik bahagia meski wajahnya sangat merah karena malu. "Aku benar-benar merasa bahagia karena dapat dipuji olehmu, Kakak ~"


"Saya merasa terhormat." Lux (Arthur) membalas dengan lembut. "Dan hanya saran sederhana dari saya tolong agar berhati-hati saat Anda keluar sendirian, Nona Muda. Bawalah Servant Anda. Saya khawatir Anda akan dalam masalah saat tiada orang yang melindungi Anda."


"Kamu sangat peduli padaku Kakak ~"


"Semua orang akan merasa peduli pada Anda."


Tidak heran. Bahkan untuk Lux (Arthur), timbul keinginan di hatinya untuk melindungi senyuman gadis itu agar tidak ternoda oleh gelapnya dunia.


Seperti yang diharapkan, ucapan itu hanya membuat gadis itu merasakan kupu-kupu seperti sedang menari di dalam perutnya, yang membuatnya sangat bahagia.


"Lalu apakah kamu ingin menjadi Servant milikku Kakak? Aku yakin diriku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk ~"


"Apakah Anda bercanda Nona Muda?" Lux (Arthur) menggeleng. "Maaf, Saya masih memiliki Master untuk dilayani."


"Fufufu ~ Kamu sangat setia ~ Aku sangat iri pada Mastermu ~"


Tapi jawaban Lux (Arthur) sudah dia prediksi, jadi dia tidak terlalu merasa kecewa.


Meskipun yah ... Dia mungkin sedikit sedih.


'Tapi, tidak masalah ~ Justru penolakannya memperkuat keinginanku mendapatkanmu, Pangeranku ~ Tidak ada Master yang cocok yang cocok untukmu selain aku ~'


Gadis itu berpikir dengan perasaan gelap di benaknya, namun langsung kembali normal setelah mendengar ucapan dari Lux (Arthur).


"Anda berlebihan." Lux (Arthur) menggeleng dan berkata. "Tetapi Anda juga pasti memiliki Servant yang sangat setia, bukan?"


"Hm ... " Gadis itu tampak berpikir dengan ekspresi temenung. " ... Mungkin?"


"Anda tampak kurang yakin dengan Servant Anda."


"Hehehe itu jelas ~ Karena masa lalu Servantku yang membuatku meragukan kesetiaannya ~ "


'Jadi masalah kesetiaan terletak pada masa lalu ya ...' Jika konsep memang begitu, maka masa lalu Arthur Pendragon lebih parah.


Lagipula Arthur Pendragon bahkan menjadi makhluk tanpa emosi dan perasaan dengan tujuan 'Raja Sempurna'.


"Ah tapi bukan berarti memiliki masa lalu yang buruk itu berarti Servant itu buruk ~"


"Tidak, bukan apa-apa." Lux (Arthur) sedikit menghela napas. "Mungkin faktanya begitu," gumamnya saat dirinya mengingat ekspresi Roxanne yang penuh ketakutan.


"Ah ..." Melihat ekspresi Lux (Arthur) yang sedikit tertekan, gadis itu entah mengapa merasa sangat bersalah dan ingat kembali legenda tentangnya.


"Maaf kalau aku menyakiti perasaanmu Kakak tapi aku benar-benar tidak berniat demikian."


"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Lux (Arthur) dengan lembut. "Saya tahu Anda tidak punya niat begitu."


Lux (Arthur) tampak ragu sesaat kemudian dia mulai membelai rambut pirang emas dari gadis itu.


"Anda sangat baik Nona Muda, itu bukanlah hal yang buruk, tapi terlalu baik itu juga tidak bagus. Anda harus sering berhati-hati ketika berbicara dengan orang asing, oke?"


Gadis itu tertegun. Merasakan kehangatan di kepalanya, tanpa sadar, dia langsung tertawa gembira serta pipinya yang memerah dengan kecepatan mata.


"Ah, ah ... Jangan khawatir Kakak ... Aku hanya akan seperti itu khusus hanya untukmu," lirih gadis itu dengan pelan dan suara yang cukup terdistorsi ...


"Apakah Anda mengatakan sesuatu, Nona Muda?" tanya Lux (Arthur) karena ... Untuk sesaat, pendengarannya terganggu.


"Tidak ada ~" Gadis itu membalas dengan senyuman bidadari dan suara yang cukup menyenangkan.


Lux (Arthur) sedikit aneh tapi tidak mencoba untuk mencari tahu. Selain itu, entah kenapa dia mulai merasa sangat akrab dengan gadis ini ...


Hanya saja setiap kali berusaha mengingatnya, muncul informasi lain seperti ada sebuah kabut tebal yang menghalanginya dari mengingatnya


Perasaan ini membuatnya sangat terganggu, namun di saat yang sama kehadiran gadis ini juga membuat orang-orang ketagihan.


Lupakan. Hari sudah semakin gelap. Dia harus menghantarkan gadis ini kembali ke rumahnya. Mungkin keluarganya telah menunggu dan Lux (Arthur) juga harus kembali ke sisi Roxanne.


Pancaran cahaya matahari yang cukup terang barusan, berangsur-angsur menyembunyikan dirinya di sebelah Barat.


Suasana menjadi sepi dengan sedikitnya orang yang lalu lalang dan lampu tiang listrik menyala satu per satu.


Hanya tersisa dua orang yang tampak seperti pasangan yang diciptakan dari surga. Rambut pirang emas mereka tampak serupa dan pupil mata mereka yang sangat indah, memberikan kesan menghipnotis orang.


Walau tinggi tubuh mereka berbeda layaknya anak SMP dan SMA tapi mereka berdua masih terlihat saling melengkapi.


Hanya di saat ini, Lux (Arthur) mendapatkan perasaan yang cukup menganggu dan–


Eksperesi pemuda itu berubah.


* BLAAAARRR ––!!!! *


Tanpa peringatan apapun, tiba-tiba melesat peluncur roket berkecepatan suara sebelum menghantam posisi mereka!


Dari kejauhan, wanita yang meluncurkan roket menghela napas dan menghela napas kasihan.


"Ukh ... Perasaan membunuh lelaki tampan benar-benar tidak menyenangkan."


Jika bisa, dia ingin berbicara sepatah kata pun dengan Servant itu, tapi sayang untuknya, dia ditakdirkan untuk tidak memiliki kesempatan.


Dia sudah mengawasinya sejak awal, jadi dia tahu betapa berbahayanya Servant itu untuk organisasi mereka, hingga mau tidak mau dia harus membunuhnya.


Roket itu bukanlah roket biasa, itu dibuat dari material khusus yang mengandung kekuatan sihir pembunuh roh.


Inti keberadaan Servant adalah roh. Jadi roket itu adalah senjata yang paling mematikan bagi mereka.


'Bahkan jika dia seorang Top Servant, dia setidaknya terluka bukan?'


Wanita itu tidak bodoh untuk berpikir kalau Servant yang berpotensi berevolusi 'Grand Servant' akan dibunuh oleh sebuah roket.


Paling tidak, Servant itu harus terluka ...


"[Bagaimana? Apakah berhasil mengenai target?]"


"Ya. Aku berhasil."


"[Bagus. Seperti yang diharapkan darimu. Sekarang giliran kami]"


"Daripada memujiku aku lebih suka kalau gajiku ditingkatkan. Kamu tidak tahu berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk satu roket ini?"


"[Jangan khawatir. Kami akan meningkatkan bayaranmu]"


"Kuharap begitu."


Setelah Servant itu diurus, maka sisanya akan mudah. Yang tersisa adalah membawa pemilik tubuh dengan paksa ke organisasi mereka.


Namun pada saat itu–


* WOSSHH––!! *


Tornado berwarna kehijauan menembus langit dan memporak-porandakan semua benda apa pun yang ada di dekatnya.


Salah satu tornado itu meluncur ke arahnya yang membuat ekspresi wanita itu langsung menjadi pucat.


'Sial, yang benar saja?! Dia sama sekali tidak terluka?!'


* BOOOOMMM––!!! *


Seperti ingin membalas dendam, posisi wanita itu berdiri langsung dimusnahkan tanpa sisa.


"Uhuk, uhuk ... Ah, benar-benar mengerikan ..."


Berhasil selamat, wanita itu mulai merasakan rasa sakit di tubuhnya dan berkeringat dingin.


Wanita itu menyaksikan bagaimana Servant itu masih berdiri dengan ekspresi tenang, sembari menggendong seorang gadis bidadari kecil.


"Apakah Anda baik-baik saja, Nona Muda?"


Memasuki mode pertempuran, tudung jubah Lux (Arthur) menutupi wajahnya, kedua pupil matanya bersinar dingin.


Dia tidak berada di depan Roxanne, jadi dia tak perlu bersikap lembut saat hendak bertempur, namun gadis itu nampak tidak keberatan akan hal itu.


Sebaliknya, gadis itu menatap ke sang Raja dengan tatapan kosong.


Merasakan kehangatan di pinggulnya, melihat punggung gagah Lux (Arthur) yang menerjang langsung tanpa ragu-ragu, ditambah ... Betapa dingin ekspresinya, gadis itu hanya merasakan perasaan obsesi di hatinya menjadi liar ...


"Ah, aku ... Aku tidak bisa menahannya lagi ..."


"Nona Muda?" Lux (Arthur) sedikit bingung saat mendengar itu dan mengernyit, tetapi mulai merasa aneh kala melihat rona merah muda menghiasi pipi gadis itu.


Sebelum dia sempat bertanya lain, gadis itu, yang seperti bidadari kecil memegang leher pemuda itu dengan erat, dan menariknya ke wajah, lalu memberinya ciuman penuh pada bibirnya.


Satu detik, dua detik, tiga detik ... Otak Lux (Arthur) berjalan dengan lambat kemudian dengan jelas dapat mengindentifikasi yang terjadi saat ini.


'Apa–'


Mata sang kesatria melebar tapi tidak berhenti di sana, setelah menciumnya, gadis itu bahkan menekan bibirnya lebih jauh tuk memperdalam ciuman, sambil menarik sang Raja pirang dekat ke arahnya, dan mengeluarkan erangan kecil di mulutnya.


Hal itu membuat Lux (Arthur) tanpa sadar mengembalikan ciuman itu dan keduanya benar-benar .... Berciuman dengan penuh kemesraan!


Mereka berdua tidak tahu bahwa dari jauh, mereka sedang diperhatikan oleh seorang gadis berambut merah.


Hanya saja, tatapan gadis itu tampak hampa dan tidak bernyawa seakan-akan ... Hal yang terpenting baginya sudah hilang direbut.


"Ar ... Thur?..."


Suara gadis serak dan terdistorsi. Tempat posisi dia berdiri meleleh, memperlihatkan betapa tak terkendali emosinya.


Servantnya .... Arthurku .... Arthurku ... Satu satunya orang yang harusnya hanya peduli padaku ... Bukan pada orang lain ...


Tapi kini direbut oleh seorang gadis yang tak dikenal ...


Perasaan Roxanne mulai ditelan oleh perasaan gelap.


...***...