Why My Servant Is So Perfect?

Why My Servant Is So Perfect?
Ch. 11 – I'm So Pathetic, Right?



Dua hari kemudian ...


Terlihat sebuah bangunan. Bangunan itu sangat megah, tingginya juga menjulang menembusi langit yang membuat susah untuk menebak berapa jumlah lantainya.


Bangunan itu memiliki tulisan besar yang terlihat dengan sangat jelas ... .


"Selamat datang di , itulah yang ingin aku katakan tapi ... Sepertinya waktunya tidak tepat," ucap Dvain dengan sudut bibir berkedut ketika melihat pemandangan di depannya ...


"Hahaha ..." Lux (Arthur) tertawa dengan canggung.


Lux (Arthur), Roxanne, dan lainnya saat ini berada di depan bangunan, markas utama .


Hanya saja, ada masalah.


Lautan manusia berkumpul di depan pintu masuk seakan mereka menunggu sesuatu sehingga mencegah mereka untuk masuk.


Sebagian besar orang-orang itu adalah wartawan sedangkan sebagian lagi, Lux (Arthur) menebak itu adalah utusan dari .


Tentu saja, ada kemungkinan lain bahwa orang-orang itu juga berasal dari keluarga tertentu berstatus tinggi seperti keluarga bangsawan dan keluarga penyihir.


Untuk Lux (Arthur) yang sudah mengalami pengalaman hidup milik Arthur Pendragon, pemandangan ini bukan apa-apa.


Sial, dibandingkan dengan kepungan pasukan Vortigern yang jumlahnya sampai ratusan juta, lautan manusia ini seperti anak kecil.


Tidak lagi, sebagai sosok Raja yang selalu dikelilingi oleh ribuan rakyat, dirinya sudah terbiasa melihat pemandangan ini.


Tapi hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Roxanne ...


'T-terlalu banyak orang ...'


Kepala Roxanne sangat pusing melihat pemandangan ini karena dirinya belum pernah melihat manusia sebanyak ini.


Untuk menenangkan dirinya, dia langsung memeluk lengan Lux (Arthur) dengan erat. Aroma yang terpancar dari pemuda itu entah kenapa membuatnya tenang.


"Bagaimana caranya kita mau masuk kalau mereka menghalangi pintu masuk?" Sama seperti yang lain, Mike juga terkejut tapi dia lebih kesal karena mereka tidak dapat lewat selama orang-orang itu ada.


Haruskah dia memerintahkan Caster untuk mengendalikan mereka semua?


Jika Caster mengetahui apa yang ada di pikiran Master mudanya, dia pasti tertawa pahit.


Meski dia bisa mengendalikan pergerakan orang tapi mengendalikan lautan manusia yang jumlahnya mencapai ribuan itu sama saja mustahil.


Ada lagi beberapa Servant yang mungkin bersembunyi di balik bayang-bayang saat melindungi Master mereka ...


"Tenanglah, saya sudah menghubungi anggota faksi kita. Mereka juga sudah mengirimkan orang," ucap Kaina acuh tak acuh sambil melirik Roxanne sebentar sebelum kembali menatap ke depan.


Tidak lama kemudian, seperti yang Kaina ucapkan, beberapa orang yang memakai jas dan kacamata hitam segera datang menjemput mereka.


Tapi melihat salah satu orang yang hadir diantara orang-orang berjas itu, ekspresi Dvain tampak jelek.


Berbeda dari orang yang berjas, dia justru mengenakan pakaian yang tampak cukup 'mewah' dengan penampilan mencolok.


"Sial, kenapa orang ini juga muncul?" gumam Dvain dengan kesal.


"Apakah Anda mengenal orang itu?" tanya Lux (Arthur) yang mendengar gumaman itu tanpa sengaja.


"Ya, orang ini sangat merepotka–"


"Oh, Dvain! Ini sungguh kebetulan sekali! Aku tidak menyangka akan bertemu dengamu!"


Sebelum Dvain menjelaskan, orang itu tiba tiba muncul dan menyela ucapannya.


Sudut bibir Dvain berkedut mendengar hal itu. Kebetulan apa? Jelas kamu sudah tahu aku di sini, makanya kamu muncul!


"Apa yang kamu inginkan, Ryuen?" tanya Dvain dengan kesal.


"Jangan berpura-pura bodoh Dvain. Aku tahu kamu sudah membawa Raja Arthur yang terhormat dan pemilik tubuh Divine Phoenix, tapi dimana mereka?"


Orang itu, Ryuen, tidak menyadari kalau orang yang dia cari berduri tepat di samping Dvain.


Lux (Arthur) menyembunyikan penampilannya dengan jubahnya karena dia terlalu menarik perhatian, jadi wajar Ryuen kalau tidak tahu.


Tapi berbeda dengan Roxanne. Gadis itu tidak menyembunyikan penampilannya. Begitu menemukan seorang gadis munggil yang memeluk lengan orang berjubah, ekspresi Ryuen berubah.


Merasakan tatapan itu, Roxanne merinding dan langsung agak pucat, cara Ryuen menatap saat ini sangat familiar ...


Tidak ... itu adalah tatapan yang sama seperti ilmuwan-ilmuwan dari ruangan putih itu ...


Tatapan keserakahan akan tubuhnya.


"Wah, aku pikir itu bohong tapi ternyata informasi itu benar. Pemilik tubuh masih seorang gadis kecil."


Ryuen mengatakan kalimat itu dengan santai, tapi tangannya terulur untuk memegang Roxanne.


Ekspresi Dvain dan yang lainnya berubah. Terutama Dvain yang langsung mencoba menghentikannya.


Sayangnya, Dvain terlambat ...


"Hm?" Ryuen mengangkat alisnya dengan terkejut.


Sosok berjubah yang ada di dekat gadis itu tiba-tiba menghentikannya dan memegang pergelangan tangan.


Ini membuatnya sedikit tidak senang lalu berkata dengan kesal. "Hei, apakah kamu tidak tahu siapa aku? Aku adala–"


* BOOOM...!!! *


Saat itu tubuh Ryuen diangkat terbalik ke atas kemudian langsung dihantam ke jalanan aspal, menyebabkan retakan yang cukup besar.


'Dasar bodoh! Kamu sangat gila ingin menyentuh Master dari Raja Inggris!'


Dvain berseru dalam hatinya dengan kaget.


Tetap saja pria paruh baya itu juga sangat senang dan ingin mengacungkan jempol!


Lagipula, dia juga sangat kesal dengan Ryuen!


Adapun yang lain, mereka juga tercengang karena tidak ada yang menyangka kalau Lux (Arthur) tidak ragu untuk melukai orang biasa.


Tidak perlu dikatakan lagi tentang kondisi Ryuen. Pria itu tertegun di tanah, tampak tidak percaya dengan apa yang baru terjadi.


Dia barusan dibanting ...?


Seakan menjawab pertanyaan itu, rasa sakit yang sangat mengerikan menyebar sekujur tubuhnya.


"AAAHHH!!! SAKIT...!!! BERSERKER!!!"


'Oh tidak!'


"ROAAAARRR....!!"


Raungan yang memekakkan telinga terdengar dan pada saat yang sama, bayangan hitam menutupi posisi berdiri Lux (Arthur).


Pemuda itu menengadah dan mengangkat alisnya begitu melihat wujud 'makhluk' itu.


Tinggi 3 meter, tubuh berotot yang terlihat sangat kokoh, dan wajah yang seolah-olah kehilangan kewarasan.


Itu adalah Servant dengan Class Berserker.


Dan kini ... Makhluk itu melontarkan tinju maut ke arahnya.


Sebagai balasan, Lux (Arthur) juga ikut memberikan pukulan.


Tidak perlu dijelaskan lagi. Ketika pukulan Lux (Arthur) yang parameter Strenght-nya berada di Rank A – Tambahkan juga fakta kalau dia seorang Demi-Dragon – bertemu dengan pukulan Berserker yang parameter Strenght-nya diperkirakan di Rank C, wajar saja ... Kalau Berserker terpukul keras.


* BANGGG...!!! *


Tangan Berserker bergetar dan Lux (Arthur) langsung menghempaskan Berserker yang tubuhnya lebih besar darinya.


Berserker mengaum dengan enggan dan tangannya yang berusaha meninju pecah setelah menerima dampak pukulan ...


* BOOOOMM....!!! *


Angin berhembus kencang sebagai efek sampai meniup tudung yang telah menyembunyikan wajah sang Raja.


Wajah Lux (Arthur) masih terlihat tenang dengan rambut pirang emasnya berkibar kibar dan mata hijau zamrud menyala.


Roxanne tertegun, Dvain tertegun, dan semua orang tertegun.


Melihat penampilannya, hanya empat kata yang muncul dibenak mereka semua ...


'Gila! Dia sangat tampan!'


Aksi Lux (Arthur) yang barusan, ditambah dengan penampilannya yang memanjakan mata, membuat pikiran semua perempuan yang hadir menjadi kosong.


Roxanne yang paling terkena dampaknya. Gadis itu tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain sang Raja Kesatria ...


"Tunggu bukankah dia adalah Raja Arthur? King of Knights? Arthur Pendragon?"


Saat itu salah satu dari mereka sepertinya menyadari identitas Lux (Arthur) sehingga berkata dengan ngeri dan tercengang.


Rupanya karena berita kemunculan Raja Arthur yang terlalu besar, penampilan Lux (Arthur) pun telah menyebar.


Dan mengingat wajah Lux (Arthur) yang luar biasa, tidak heran mereka langsung tahu. Mereka bahkan tidak bisa melupakannya meski mereka ingin, yang menunjukkan betapa tampannya Raja Kesatria.


"Ah, sepertinya identitas kita semua sudah disadari. Mungkin sebaiknya kita bergegas masuk ..."


'Bukankah itu hanya kamu!'


Mereka semua ingin berteriak karena Lux (Arthur) menganggap enteng hal ini!


Tapi tidak dapat disangkal kalau mereka harus bergegas masuk karena orang-orang itu, khususnya yang betina menatap Lux (Arthur) dengan tatapan panas!


"Sial, bagaimana caranya kita mau masuk!?" Mike berteriak.


Rute mereka yang seharusnya sudah siap justru diblokir oleh orang-orang ini.


"Serahkan pada saya," ucap Lux (Arthur) dengan mantap.


Sebagai penyebab keributan ini, sudah seharusnya dirinya bertanggungjawab bukan?


Sambil memanipulasi angin, semua orang yang telah menghalangi rute pintu mereka langsung tersingkir ke pinggiran jalan dan membukakan jalan masuk ...


"Ayo!"


Dengan itu, mereka pun berhasil masuk ke dalam markas ...


Meninggalkan Ryuen yang sudah hilang kesadaran.


...***...


' ... Lambat.'


Seorang pemuda tampan berambut hitam dan mata biru mengernyit karena pemuda itu sedang menunggu pelaku utama pada pertemuan ini.


Beberapa orang lainnya yaitu petinggi petinggi serta beberapa utusan tinggi juga tampak menunggu dengan kesal.


Masing-masing duduk di kursi dengan meja melingkar yang mungkin mampu dipenuhi oleh ratusan orang.


Setiap perwakilan yang duduk di kursi itu setidaknya Servant yang memakai jubah. Jubah itu berperan untuk menyembunyikan identitas mereka.


"Hei, hei, sepertinya salah satu petinggi kurang bagus ..."


Akhirnya salah satu dari mereka tidak tahan lagi dan memutuskan mengejek .


Mendengar itu, para petinggi yang berada di pihak terlihat muram. Diejek oleh seperti ini, mereka tidak terima!


Sebelum mereka memulai adu debat mulut, pintu ruang pertemuan secara tiba-tiba terbuka dan beberapa orang masuk.


Itu adalah Lux (Arthur) dan lainnya.


"Hah, akhirnya sampai!" ucap Mike dengan penuh kelegaan. Namun begitu melihat pemandangan di depannya, dia langsung membeku.


Wajah para petinggi dan orang-orang penting itu tampak muram ...


"Ehem, maaf karena kami terlambat. Kami dihalangi di tengah jalan, tolong dimaklumi," ucap Dvain sambil berusaha terlihat profesional meski pakaiannya yang berantakan tidak mendukung sama sekali ...


"Anda–"


"Tidak masalah. Silahkan duduk, Tuan Dvain."


Ketika orang itu hendak mencari masalah, pemuda tampan dengan rambut hitam itu memberikan perintah pada Dvain.


"Dimengerti, Ketua Asosiasi."


Dvain menghela napas karena pemuda itu membantunya. Akan sulit dia menghadapi semua orang di ruangan ini karena mereka semua adalah rubah tua yang licik.


Lagipula ada kemungkinan kalau beberapa petinggi bersekongkol dengan utusan .


Orang itu berdecak dan berhenti membuat masalah karena identitas pemuda itu tidak biasa.


Pemuda itu adalah Ketua , Kelvin Alvin.


Selain sebagai ketua termuda dalam sejarah, dia satu-satunya orang yang memegang suara terbanyak dalam pertemuan ini.


Karena itu, tidak banyak yang protes karena Dvain terlambat.


Tapi di sisi Lux (Arthur) terkejut dan mau tak mau merasa aneh melihat Kelvin. Dia menatap Roxanne yang agak gugup dan sebuah pemikiran terlintas di benaknya ...


' ... Oke, mari kita lupakan perihal itu sejenak.' Lux (Arthur) menggeleng.


"Tuan Dvain, mereka berdua ...?"


Hanya pada saat ini, Kelvin melihat Lux (Arthur) dan Roxanne dengan tanda tanya di atas kepalanya.


"Ah, mereka berdua adalah ... Uhuk." Dvain batuk agar bisa menarik perhatian mereka semua. "Perkenalkan, kesatria yang berdiri di depan kita sekarang adalah Raja Arthur Pendragon sedangkan gadis kecil ini ..."


Dvain menatap Roxanne dengan rumit lalu berkata. " ... Dia adalah Master Raja Arthur Pendragon sekaligus ... Pemilik saat ini."


" .... "


Ucapan Dvain seperti bom yang meledak di dalam hati mereka. Semua orang yang hadir tercengang dan membelalak begitu melihat sepasang Master dan Servant itu.


Mereka tahu kalau Dvain akan membawa King Arthur dan pemilik , tapi mereka tidak menyangka pria tua itu sangat serius!


Dia benar-benar membawa kedua sosok itu! Apakah dia terlalu bodoh membawa dua domba ke kandang serigala ini?!


Bahkan Kelvin merasa sudut bibirnya tidak terkendali berkedut.


Sekarang segalanya akan menjadi merepotkan.


Utusan dari pasti berusaha keras untuk mendapatkan keduanya. Bahkan mereka tidak keberatan untuk perang!


Sebelum rasa sakit kepala menyerangnya, Kelvin mendapati dirinya tertegun saat dia memandang Roxanne.


Dia tidak bisa melihatnya dengan jelas tadi, tapi sekarang ...


' ... Sangat cantik.'


Kelvin terlihat linglung. Rambut merah seperti bunga mawar indah membuat dirinya terpesona dan bulu mata gadis itu seolah menghipnotisnya ...


"Ketua Asosiasi?" panggil Dvain dengan ragu karena Kelvin terus menatap sosok Lux (Arthur) dan Roxanne.


"A-ah, bukan apa-apa. Baiklah, mari kita mulai," ucap Kelvin dengan bingung dan kembali fokus namun dia masih merlirik Roxanne diam-diam.


Dan Lux (Arthur), yang menyadari adanya perubahan tatapan Kelvin tatkala melihat Roxanne terdiam. Dia menahan diri untuk mendesah ...


'Ukh ... Yang benar saja? Bahkan di dunia paralell, dia masih tetap jatuh cinta pada Roxanne saat pandangan pertama ...'


Lux (Arthur) tidak berdaya. Sepertinya baik itu di Dunia Utama atau Dunia Paralel, takdir Kelvin tidak akan berubah.


Roxanne sangat cantik. Lux (Arthur) juga setuju dengan pernyataan itu. Jadi jangan heran kalau banyak laki-laki yang menyukainya.


Hanya karena kepribadian Roxanne yang cukup 'berbahaya' itu, orang tidak berani mendekatinya. Mereka takut justru akan dibunuh olehnya.


Tapi hal itu tidak berlaku untuk Kelvin.


Pemuda itu benar-benar cinta buta dengan Roxanne di pandangan pertama. Dia sama sekali tidak takut pada Roxanne dan Kelvin justru akan senang kalau dipukulinya selama dia bisa lebih dekat dengannya.


Lux (Arthur) yakin bahkan tanpa kehadiran Protagonis, Roxanne akan berubah karena kehadiran Kelvin.


Yah ... Meskipun untuk membuatnya jatuh cinta masih saja mustahil.


Kesampingkan hal itu, pertemuan yang mereka nanti-nantikan akhirnya dimulai. Tepatnya ... Perdebatan.


"Kami tidak akan basa basi." Salah satu utusan dari itu langsung bicara. "Tujuan keberadaan kami di sini adalah untuk membawa pemilik . Saya harap tidak menghalangi kami dan sebagai gantinya, kami akan menyerah merampas beberapa tempat sumber daya sekaligus akan melupakan dendam kita selama ini."


Wajah orang-orang itu langsung menjadi gelap.


"Jangan gila!" Pria tua paruh baya dari pihak seketika berdiri dari kursinya. "Dasar anjing dari ! Kalian pikir kalian siapa bisa meminta kami, hah?! Jangan pikir kalian bisa berperilaku seenaknya!"


Dvain yang menyaksikan ini hanya ingin berteriak 'bravo' dan bertepuk tangan.


Dvain tidak menyangka bahwa ada orang dari pihak yang memiliki nyali berbicara demikian pada .


"Beraninya kamu pria tua!" Utusan lain dari berdiri marah. Bukan hanya dia, beberapa yang lainnya juga.


"Tenang." Utusan pertama itu menghentikan tindakan ceroboh utusan mereka. "Kita datang di sini bukan untuk bermusuhan tapi jika memang itu yang mereka inginkan, aku tidak keberatan."


"Juga, aku tidak berbicara pada Anda orang tua, tapi pada Ketua Asosiasi Servant ... " Dia menatap Kelvin dalam diam.


Wajah petinggi menjadi jelek dan mereka menatap ke arah Kelvin dengan cemas.


"Ketua Aso–"


"Duduklah dengan tenang dulu. Saya tahu apa yang harus saya lakukan," ucap Kelvin dengan tenang.


Dan benar saja ...


"Itu adalah tawaran yang sangat menarik. Sejujurnya, saya tidak menyangka bahwa kalian akan menawarkan ini, mengingat jumlah korban di pihak kalian lebih banyak dibandingkan korban di pihak kami."


Mereka tampak sedikit jelek mendengar ini, tapi berusaha sebisa mungkin untuk tetap memasang ekspresi tenang.


"Lalu–"


"Tapi," potong Kelvin. "Jika kalian berpikir bahwa dengan penawaran itu saja dapat menggerakkan hati kami, kalian salah besar."


Di akhir kalimat, nada Kelvin terdengar sangat dingin.


Mendengar hal ini, Para petinggi sangat lega lalu memberikan tatapan mengejek pada orang-orang itu.


Eskpresi utusan menjadi gelap dan tampak muram.


Adapun Kelvin, dia masih terlihat tenang tapi jauh di lubuk hatinya, pemuda itu dipenuhi kemarahan.


Dia tidak yakin kenapa, dia merasa sangat marah saat orang-orang itu berniat mengambil Roxanne.


Ini seperti harta karunnya yang berharga hendak dirampok ...


'Apakah ada yang salah dengan diriku?'


Kelvin gelisah dan mau tak mau melirik Roxanne sejenak. Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan kencang begitu menatap gadis itu ...


'Tidak, tenanglah ...'


Kelvin berusaha menenangkan diri dan menekan perasaan panas yang muncul dalam dirinya.


Kesampingkan perasaan pribadinya, dia tidak sebodoh itu untuk menyerahkan Roxanne pada .


Dia tahu betapa berharganya fisik . Kalau dilatih dan dijaga dengan baik, kekuatan Roxanne bahkan akan sekuat Top Servant.


Belum lagi, Roxanne juga memiliki Raja Arthur yang legendaris sebagai servantnya. Mendapatkan Roxanne sama saja mendapatkan Raja Arthur.


Itu seperti membunuh dua burung dengan satu batu.


Kelvin memahami ini dengan jelas, karena itulah ...


"Semua yang kalian tawarkan kami tolak. Jadi silahkan angkat kaki dari tempat ini, bukan tempat kalian berada di sini," ucap Kelvin dengan dingin.


Para petinggi ingin memberikan tepuk tangan pada Kelvin.


Seperti yang diharapkan Ketua termuda dalam sejarah! Sama sekali tidak gentar meskipun menghadapi !


"Kalian akan menyesali ini."


Mereka semua beranjak dari kursi mereka dengan ekspresi marah. Mereka tidak lagi memiliki wajah yang baik untuk .


Hanya saja, ketika hendak keluar tiba-tiba terdengar ketukan di atas meja, menarik perhatian mereka.


"Sejujurnya saya berusaha untuk diam selama ini, namun sepertinya ... Sudah waktunya saya berbicara."


Menoleh ke pemilik suara yang terdengar tenang itu, ekspresi orang-orang itu berubah, Kelvin tidak terkecuali.


'Aduh! Aku hampir melupakannya!'


Dvain ingin membenturkan kepalanya saat ini. Mereka semua lupa kalau mereka saat ini sedang ditonton oleh Raja Inggris.


Tidak heran mereka hampir melupakan Lux (Arthur) karena sang Raja menekan -nya sehingga kehadirannya seperti orang biasa yang mereka temukan di kehidupan sehari-hari.


Alasan Lux (Arthur) melakukan hal itu jelas ... Dia ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari semua rubah tua yang sekarat ini.


Dan karena semua informasinya sudah cukup, tidak perlu bersembunyi lagi. Waktunya untuk menekan para sampah ini ...


"Sekali lagi, perkenalkan. Saya adalah Raja Inggris, atau lebih sering disebut Raja Para Kesatria, nama saya Arthur Pendragon. Ini merupakan kesenangan untuk saya karena bisa bertemu dengan Anda semua."


Lux (Arthur) memperkenalkan dirinya dengan formal.


"Ah, aku tahu itu." Salah satu utusan dari itu menyeringai sebelum dia mengatakan sesuatu yang membuat Dvain dan lainnya pucat.


"Kamu adalah Raja yang diincest oleh Kakak Perempuannya sendiri, bukan?"


* BOOOOOMM...!! *


'BRENGSEK!'


Dvain dan Mike mengutuk dengan ngeri karena [mana] yang meledak dari tubuh Lux (Arthur) dengan liar seakan gunung berapi yang sudah meletus!


Mengatakan kalimat yang tabu untuk Raja Kesatria, orang ini jelas mencari kematian!


Benar saja, semua ekspresi Servant dari semua perwakilan berubah.


"MASTER....!!"


"BERHENTI!"


Kelvin juga ingin menghentikan, tapi dia selangkah terlambat ...


* BLAAARR...!! *


Meja bundar yang sangat lebar langsung hancur berkeping-keping, padahal tidak mungkin untuk menghancurkannya karena terbuat dari bahan khusus.


Tapi mungkin karena ledakan [mana] yang seolah tiada habisnya, terutama itu bersifat ganas, daya tahan meja itu menjadi sangat rapuh.


Para Servant bereaksi. Salah satunya adalah milik utusan yang mengatakan hal yang tabu barusan ...


Hanya saja, Servant itu langsung dihempaskan dengan mudah, melukainya dengan parah.


Bukan hanya dia. Kecuali Roxanne, semua orang yang hadir disana juga terhempas satu per satu!


Bahkan Servant yang kuat seperti Saber Dvain juga tidak berdaya dan justru ditekan oleh aura mengerikan itu!


Dari luar ruangan, semua orang panik karena bangunan yang merupakan markas utama bergetar keras seperti terjadi gempa besar.


Semua rakyat biasa sangat terkejut kemudian saat menatap ke arah bangunan tersebut, ekspresi mereka menjadi ngeri.


Terjadi retakan yang menyebar di berbagai sudut bangunan. Retakan yang paling jelas adalah kalimat di bangunan itu terbelah menjadi dua!


Tapi semua itu tidak dipedulikan oleh mereka orang yang ada di ruangan itu.


Mereka semua hanya menatap penuh ngeri dan teror ketika Raja mencekik seseorang yang baru saja mengatakan kalimat terlarang.


Ekspresi Lux (Arthur) sangat tenang tapi matanya yang berkilau dingin mengatakan yang sebaliknya.


"Ingat ini. Saya tidak keberatan jika Anda mengatakan hal lain semata-mata untuk menghina saya karena saya tidak peduli dengan gonggongan seekor anjing.


Tapi menyebut nama 'Wanita' itu di depan saya – meski tidak serius maupun karena bercanda – saya tidak bisa mentolerir itu."


Lux (Arthur) bukanlah Raja Arthur, itu jelas.


Tapi setelah merasakan pengalaman hidup Arthur Pendragon secara langsung, sebagian dari dirinya sudah menjadi Arthur Pendragon.


Ada dua nama yang menjadi skala terbaliknya saat disebutkan.


Itu adalah Morgan le Fay dan Modred Pendragon.


Begitu salah satunya disebutkan, emosi Lux (Arthur) akan berubah.


Seperti yang terjadi saat ini ...


"Gkh ... Ukk ... "


Utusan itu berusaha mengambil napas karena cengkeraman Lux (Arthur) akan bertambah kuat setiap detik.


Raja Arthur yang asli mungkin akan ragu untuk melakukan ini, tapi walaupun setengah dirinya sudah menjadi Raja Arthur, Lux (Arthur) masih Lux Silvermoon.


Lux masih orang yang sama, pemuda biasa yang menulis novel fantasi harem.


Tidak berlebihan mengatakan dia bermuka dua karena faktanya memang demikian.


Ada kalanya dia akan berperilaku seperti pria terhormat dan ada kalanya juga dia menjadi sangat kejam.


"Biarkan saya mengatakan ini dengan jelas untuk kalian semua." Lux (Arthur) menatap orang-orang itu dengan tidak acuh. "Saya dan Master saya bukanlah alat tawar-menawar yang bisa kalian perintahkan sesuka hati.


Dan tidak ada satupun dari kalian yang memiliki otoritas atas itu. Apa menurut kalian, saya merasa takut pada kalian? Sungguh lelucon."


Ekspresi Lux (Arthur) sangat dingin. "Bahkan Jika organisasi kalian bergabung entah bagaimana lalu menyatukan semua kekuatan, saya masih bisa memusnahkan kalian semua."


Kalau sebelumnya mereka mungkin tidak percaya dan mengatakan kalau itu hanya omong kosong, tapi setelah menyaksikan bagaimana Raja Inggris menghempaskan semua Servant dengan auranya – Belum lagi merasakan [mana]-nya yang terasa hampir tidak terbatas – mereka tahu ... Ucapannya bukanlah omong kosong.


Kekuatannya yang dahsyat itu mendukung deklarasinya.


"Tenangkan dirimu Raja Arthur."


Saat ini Saber, Servant Dvain datang dan mencoba berbicara dengan tenang pada Raja itu.


"Saya sangat tenang," ucap Lux (Arthur) acuh tak acuh tapi tangan kanannya yang masih mencekik utusan itu tidak membuktikan ucapannya.


Merasakan tatapan Lux (Arthur) yang menyerupai predator, untuk pertama kalinya saber bergidik.


Dia bisa melihat makhluk yang sangat familiar untuknya bersembunyi di balik tubuh pemuda itu.


Tatapan dan pupil mata Lux (Arthur) mengingatkannya pada sebuah makhluk yang dapat menghancurkan dunia ... Naga.


Saber menarik napas dalam-dalam dan berkata berat. "Apakah kamu yakin ingin membunuhnya pada saat Mastermu itu memperhatikan dirimu?"


Dan ... Itu berhasil.


Seperti air dingin yang ditumpahkan di atas air panas yang mendidih, auranya yang mengerikan menguap begitu saja.


Ekspresi Lux (Arthur) berubah dan buru buru menatap Roxanne.


"Master, saya–"


Ucapan Lux (Arthur) tercekat karena dia mendapati gadis itu gemetar tatkala dia menatapnya ketakutan.


Dan Saber mendapati pupil zamrud sang Raja itu juga bergetar hebat, kemudian si kesatria yang sangat gagah itu tidak bisa tidak tersenyum pahit ...


Tentu saja ... Tentu saja ... Gadis itu akan takut pada dirinya setelah melihat bagian kepribadiannya yang lain.


Lagian, siapapun akan takut saat melihat sisi yang berbeda dari orang yang sangat mereka percayai ...


Roxanne sangat mempercayai dirinya dan mungkin tidak akan berpikir kalau memiliki sisi ini. Jadi itu adalah respon yang normal baginya ...


Lux (Arthur) tidak terkejut kalau Roxanne tiba-tiba berteriak pada dirinya dengan kalimat : 'K-kamu bukanlah Arthurku yang asli' dengan ekspresi gugup.


Jika itu benar-benar terjadi, mungkin rasa sakit hati yang ditimbulkannya tidak dapat dibayangkan ...


Lux (Arthur) hanya ingin tertawa saat ini. Tepatnya tawa yang penuh kelemahan.


Dikhianati oleh kesatria terpercayanya, dibenci oleh rakyatnya dan sekarang ... Dia ditakuti oleh Masternya sendiri.


'Sungguh ... Aku benar-benar menyedihkan bukan?'