Why My Servant Is So Perfect?

Why My Servant Is So Perfect?
Ch. 06 – Servants Association



"Kyaa! Anda sangat imut Nona!"


"Um ...."


Tepat pada saat ini, di sebuah mall pakaian, seorang pelayan wanita toko cantik memeluk seorang gadis munggil lucu yang berpakaian indah.


Dan bukan hanya pelayan toko itu, tapi orang lain yang tanpa sengaja lewat juga tertegun begitu menyaksikan keimutan gadis itu.


Merasakan tatapan semua orang, gadis itu agak tidak nyaman sebelum dia tanpa sadar menatap Servantnya.


"A-arthur, a-apakah aku terlihat bagus dengan pakaian ini?" tanyanya dengan gugup.


"Iya, Anda terlihat sangat cocok dengan pakaian itu," balasnya dengan lembut.


Benar. Lux (Arthur) dan Roxanne saat ini sedang berada di sebuah mall atau lebih tepatnya, di toko pakaian.


Sebelumnya, Roxanne hanya mengenakan pakaian putih sepanjang paha, namun tidak mungkin dia berkeliaran dengan baju seperti itu.


Jadi demi kenyamanan, tempat yang pertama kali Lux (Arthur) dan Roxanne kunjungi adalah toko pakaian.


Dan seperti yang diharapkan, kunjungan mereka tidak sia-sia.


Jika sebelumnya Roxanne terlihat seperti gelandangan, sekarang Roxanne tampak seperti seorang putri dari suatu kerajaan.


Dia benar-benar cantik dan imut saat ini ...


Mendengar pujian Lux (Arthur), wajah Roxanne memerah, tapi dia juga merasa sangat senang.


Pelayan wanita toko seperti terkena serangan jantung ketika melihat ini, tidak dapat menahan dirinya lagi, dia menempelkan pipinya lebih erat ke pipi Roxanne.


"Anda sangat-sangat imut Nona! Ah, saya rasa saya bisa mati dengan tenang sekarang!" ucap pelayan toko itu dengan bersemangat.


Sungguh, ini pertama kalinya dia melihat gadis selucu Roxanne!


Dan kesampingkan tentang itu ...


'Astaga ... Pemuda ini sangat tampan.'


Melirik Lux (Arthur) diam-diam, pelayan toko wanita itu merasa jantungnya berdetak gila.


Kalau Roxanne adalah putri imut dari suatu kerajaan maka Lux (Arthur) adalah seorang pangeran tampan dari suatu kerajaan.


Rambut pirang, suara yang lembut, mata hijau zamrud, tinggi ideal, dan aura yang gentleman itu, pemuda itu memenuhi standar suami impian seluruh perempuan di dunia.


Bahkan hanya berdiri di dekatnya saja, pelayan toko wanita itu merasa tubuhnya menjadi agak panas dan pusing.


Faktanya, jumlah pengunjung toko pakaian itu lebih banyak karena keberadaan Lux (Arthur).


Begitu Lux (Arthur) masuk, sosoknya seperti magnet, langsung menarik perhatian seluruh orang yang hadir.


Orang-orang yang melihatnya tidak mampu mengalihkan pandangan mereka dan hanya bisa terkunci pada keberadaannya.


Bahkan wanita yang sudah menikah pun tidak bisa tidak tersipu ketika melihatnya.


Para suami dan pacar dari perempuan itu tidak berdaya dan marah, tetapi apa daya? Terlepas dari aura Lux (Arthur) yang ramah di saat yang sama, mereka tahu itu adalah sosok yang tidak bisa mereka singgung.


Auranya. Terutama karismanya yang seperti seorang Raja membuat satu kata terlintas di benak mereka.


'Rare Servant'.


Tidak diragukan lagi.


Itu adalah keberadaan dengan kekuatan yang bisa membantai semua orang di toko ini tanpa kesulitan.


Sekali pun mereka menggabungkan kekuatan semua Servant mereka, tetapi tetap tidak bisa menggores Rare Servant itu.


Seratus High Servant saja tidak dapat menang melawan Rare Servant, apalagi Normal Servant.


Rata-rata yang hadir hanya memiliki Normal Servant, jadi tiada yang memiliki nyali untuk menyinggung Rare Servant.


Adapun pemikiran keberadaan Top Servant? Tidak satu pun dari mereka yang memikirkan kemungkinan itu.


Bagi mereka, keberadaan Rare Servant saja sudah seperti legenda, tidak perlu dikatakan lagi keberadaan Top Servant.


Tapi kalau mereka tahu bahwa yang ada di depan mereka saat ini adalah Top Servant dengan kekuatan selevel 'Grand Servant' ... Mungkin mereka akan mengalami serangan jantung.


Sayangnya, mereka pasti tidak akan mengetahui hal itu sampai mereka mati dan siapa juga yang akan mengira bahwa raja Arthur yang terhormat akan berbelanja di sebuah toko pakaian?


Tetap saja, para gadis harus mengakui bahwa mereka semua merasa sangat iri dengan keberuntungan Roxanne karena bisa memanggil Servant sesempurna Lux (Arthur).


Terutama melihat sikap anggun dan setia Lux (Arthur), membuat mereka merasakan betapa tidak adilnya dunia.


Andai mereka yang mendapatkan Lux (Arthur), mungkin mereka akan mengalami hidup penuh kebahagian.


Memikirkan hal ini, para gadis segera tidak puas dengan pacar mereka.


"Ayo kita putus."


"Eh? K-kenapa sayang?! Apakah saya melakukan kesalahan?!" Laki-laki yang diputuskan itu segera panik.


"Karena kamu kurang sempurna, jelek, sifatmu tidak terhomat dan lain-lain."


" ... "


Tanpa Lux (Arthur) sedari, keberadaannya sudah berhasil menghancurkan hubungan banyak pasangan.


Tapi kalaupun dia tahu dia tidak akan peduli karena saat ini, dia lebih berfokus ke Master perempuannya yang imut.


Ekspresi Lux (Arthur) tampak serius seolah memikirkan sesuatu yang penting ...


'Hm ... Semua pakaian ini cocok dengannya. Aku jadi bingung pilih yang mana.'


Dan akhirnya, Lux (Arthur) memutuskan. Dia menepuk tangan dan memanggil pelayan itu.


"Nona pelayan."


"Y-ya?"


"Tolong bungkus semua pakaian yang baru saja dicoba oleh Master saya dan saya juga memesan pengiriman jasa. Alamatnya ..."


" ... "


Pelayan toko itu sedikit terdiam mendengar kefasihan kalimat Lux (Arthur). Bahkan kata kata yang keluar dari bibir pemuda itu benar benar penuh kesopanan dan formal.


"Apakah Anda mendengarnya, Nona Pelayan?"


"Eh? Ah, ya!"


"Bagus." Lux (Arthur) mengangguk puas dan tatapannya menuju ke Roxanne yang saat ini mencoba terbiasa dengan pakaian barunya.


Pada saat ini, pelayan wanita itu merasa pahit dan tidak bisa menahan rasa cemburu kepada Roxanne.


Memiliki seorang Servantnya yang membeli banyak barang tanpa berkedip .... Termasuk impian para gadis.


Pelayan toko itu bertanya-tanya kenapa bukan dia yang memanggil Lux (Arthur)?


Mendesah tidak berdaya, pelayan toko hanya bisa tersenyum profesional dan berkata :


"Segera kami akan mengirimnya. Terima kasih sudah datang berkunjung, Tuan."


...***...


[ Baru-baru ini terjadi ledakan [mana] yang luar biasa di hutan belantara dan pelakunya masih belum diketahui. Diduga pelakunya adalah seorang Servant dengan kekuatan suci. Jika menemukan hal-hal yang terkait, harap segera melapor ke dan ]


" ... "


Melihat berita yang disiarkan, Lux (Arthur) berpikir.


'Akhirnya mereka mulai bergerak, kah?'


dan . Keduanya termasuk Organisasi Terbesar di dunia yang dianggap berdiri di sisi keadilan.


Tapi hanya Lux (Arthur) yang tahu bahwa ada banyak kegelapan di kedua organisasi itu dan bisa dibilang kedua organisasi itu tak semurni yang dibayangkan semua orang.


Tampaknya, kemunculannya sangat menarik perhatian mereka.


Untungnya, dengan kekuatannya saat ini, Lux (Arthur) tidak akan kewalahan saat berhadapan salah satu dari mereka.


"Arthur?"


Roxanne di sisi lain bingung melihat Lux (Arthur) tiba-tiba berhenti dan pandangannya mengikuti arah pandangan Servantnya.


Tapi karena 'akal sehatnya' masih kurang, jadi dia tidak terlalu mengerti apa yang disampaikan oleh wartawan di siaran langsung itu.


Dia hanya berpikir bahwa itu sangat penting karena orang-orang di sekitarnya juga fokus pada siaran itu.


"Bukan apa-apa, ayo kita pergi ke tempat selanjutnya, Master."


Lux (Arthur) menggeleng dan Roxanne hanya mengikuti dengan bingung.


Dan di saat bersamaan, hampir sebagian orang orang itu juga bubar dan memasang raut wajah kecewa. Mereka adalah para gadis dengan niat ingin mendekati Lux (Arthur) ...


Sudut bibir para laki-laki berkedut melihat ini dan hanya fokus pada berita siaran langsung itu.


Hanya saja, di salah satu bangunan, terlihat wanita berpakaian layaknya tentara sedang mengawasi Lux (Arthur) dan Roxanne lewat teropong.


Setelah meletakkan teropong itu, wanita itu kemudian mencoba menghubungi rekannya atau atasannya dengan tubuh gemetar.


"[Ada apa? Apakah ada kesalahan dalam misi itu?]"


Suara seorang pria tua terdengar dan wanita itu terdiam selama beberapa menit. Akhirnya, wanita itu pun berkata dengan nada yang agak tidak wajar.


"... Bukankah targetnya terlalu tampan untuk dijadikan sebagai ancaman? Apa kamu yakin kita tidak salah target?"


"[ .... ]"


Untuk sesaat, pria tua sisi di telepon itu tidak bisa berkata-kata ...


...***...


Sementara itu, Lux (Arthur) dan Roxanne akhirnya berdiri tepat di depan toko buku.


Seperti biasa kedatangan mereka berdua menarik perhatian, tapi tetap saja tak ada berani mendekatinya.


"Ayo masuk?"


"Um!" Roxanne mengangguk dengan penuh semangat.


Saat ini, dirinya benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang Lux (Arthur). Jadi karena itu, tanpa ragu-ragu, gadis itu melangkah masuk.


Melihat betapa antusiasnya Roxanne untuk mencari legendanya, Lux (Arthur) pun tidak berdaya mengikutinya.


Saat itu, terjadi hembusan angin yang lembut dan membuat Lux (Arthur) tiba-tiba berhenti.


"Hm?" Dia berbalik dan mengernyit. Untuk sesaat ... Dia merasakan aura yang sangat tidak menyenangkan dari hembusan angin tadi ...


Apakah hanya perasaannya?


Menggeleng ringan, Lux (Arthur) mengikuti Roxanne dan menemukan gadis itu nampak kebingungan saat melihat deretan buku.


"Apakah ada masalah, Master?"


"A-aku tidak tahu buku yang mana ..." ucap Roxanne dengan gugup.


" .... " Lux (Arthur) menatap rak-rak yang ada lalu mendekati salah satunya.


Ketika kembali, pemuda itu juga membawa buku dengan berjudul 'Arthurian Legends Volume 01'.


"Ini adalah salah satu buku tentang legenda saya, Silahkan dibaca Master."


Saat menyerahkannya, Lux (Arthur) tidak terlalu khawatir karena dia baru ingat legendanya di dunia ini berbeda dari legenda Arthur paralel.


Meski begitu, legenda mereka masih sama sama tragis, tentu saja tidak setragis legendanya.


'Arthur Pendragon di dunia ini tampaknya lebih damai ...'


Lux (Arthur) menghela napas karena legendanya lebih banyak masalah rumit yang dapat membuat rambut banyak sejarawan menjadi rontok.


"A-aku akan membacanya."


Menerima buku itu dengan gugup, Roxanne mencari tempat duduk dan mulai membaca buku itu.


Adapun Lux (Arthur), dia hanya dengan setia menunggu Roxanne sampai gadis itu selesai dengan bacaannya.


"Oh?"


Membuka matanya, kilatan aneh melintas di sepasang pupil hijau zamrud itu.


Melihat kalau pengunjung satu per satu mulai meninggalkan toko buku ini, Lux (Arthur) tidak bisa tidak mengangkat alisnya.


Itu hal yang wajar jika pengunjung toko buku pergi, tapi yang tidak wajar adalah ... Benang [mana] yang terhubung di setiap orang yang ada.


Orang lain tidak dapat melihatnya namun Lux (Arthur) yang sensitif pada perubahan [mana] bisa melihatnya dengan jelas.


Benang-benang itu mengendalikan gerakan semua orang lalu memandu gerakan mereka untuk meninggalkan tempat itu.


Tepat ketika salah satu benang itu hendak mencapai Roxanne yang sudah tenggelam dalam buku itu, Lux (Arthur) berkata dingin.


" ... Anda cukup berani, Caster."


* Wosh! * Krak! *


" ... Uhuk!"


Merasakan angin yang kencang menerpanya, Roxanne mengerjap dengan bingung, dan dia memberikan tatapan bertanya ke Lux (Arthur).


Merasakan hal itu, pemuda itu tersenyum lembut. "Tidak ada apa-apa, Master. Anda lanjutkan saja."


Meski pun dia masih bingung, Roxanne hanya mengangguk paham karena dia percaya pada Servantnya.


Melihat perhatian Roxanne kembali teralih oleh buku, Lux (Arthur) sedikit lega, tapi tatapannya yang dingin tidak berubah.


Mata hijau zamrud itu bergerak lalu tatapannya terhenti pada penjaga toko yang duduk di meja resepsionis yang cukup jauh.


Penjaga toko itu adalah seorang pria dengan topi untuk menyembunyikan wajahnya tetapi cairan merah yang mengalir pada bibir pria itu tidak mungkin bisa disembunyikan.


" ... Anak muda, Anda benar-benar sangat ganas."


"Itu bayaran yang setimpal karena mencoba mengendalikan Master saya."


" ... " Penjaga toko itu terdiam kemudian dia berkata dengan nada lembut. "Maafkan pria tua ini, saya tidak menyangka gadis muda itu adalah Master Anda. Lagipula, sulit dipercaya gadis seperti dia mampu memanggil Servant sekuatmu, fakta ini membuka mata pria tua ini."


"Saya terima permintaan maaf Anda, namun sekarang katakan, apa tujuan Anda?"


"Bukan tempat saya untuk menjelaskan, saya di sini hanya untuk menguji Anda."


"Menguji?" Lux (Arthur) mengangkat alis.


Tapi segera Lux (Arthur) tahu apa maksud dari penjaga toko itu.


"Caster! Apa kamu baik-baik saja! Aku bisa merasakan kamu terluka!"


Pintu tiba-tiba terbuka lalu beberapa orang berjas hitam memasuki toko. Salah satunya adalah seorang remaja yang tampak cemas.


Ketika melihat sosok Lux (Arthur), remaja itu sedikit tercengang.


'Brengsek! Ada orang setampan itu di dunia ini?!'


Untuk pertama kalinya, remaja itu merasakan ketidakadilan dunia ini, tapi ketika dia melihat darah yang mengalir di bibir penjaga toko itu ... Ekspresinya berubah menjadi kemarahan.


"Sialan! Apa yang sudah ka–"


Sebelum dia sempat marah, benang [mana] yang berasal dari penjaga toko itu langsung memaksa remaja itu diam.


"Cukup, cukup. Anda tidak perlu marah seperti itu, Master muda. Ini adalah kesalahan pria tua ini."


Penjaga toko itu atau tepatnya Caster berkata sambil melepas topinya dan menggeleng.


Remaja itu diam, tapi tatapannya yang penuh kemarahan menunjukkan kalau dia masih tidak terima Servantnya terluka.


Sedangkan di sisi lain, Lux (Arthur) tidak terlalu peduli dengan remaja dan Caster. Sebaliknya, dia lebih peduli pada tiga pengunjung lainnya.


Orang pertama adalah seorang wanita. Wanita dewasa dengan rambut hitam pekat dan entah kenapa wajahnya sedikit memerah?


Orang kedua adalah seorang pria tua dengan pasokan [mana]-nya lumayan besar.


Tapi untuk orang ketiga ...


Lux (Arthur) menyipitkan mata. Jelas, orang itu juga mengenakan jas hitam seperti lainnya tapi auranya menunjukkan kalau dia bukan seorang manusia.


'Seorang Servant, kah?'


Dan itu bukan seorang Rare Servant, dilihat fluktuasi [mana]-nya, dia adalah seorang Top Servant. Fakta ini membuat Lux (Arthur) agak terkejut.


Ini pertama kalinya dia bertemu dengan Top Servant setelah Archer, terlebih lagi itu juga adalah Top Servant yang tidak dia ketahui.


Dengan kata lain, Top Servant yang hanya ada di dunia paralel ini.


' ... Aku bertanya-tanya apa identitasnya.'


"Jadi ... Apa yang diinginkan utusan 'Servants Association' dari saya?"


" ... "


Mendengar ucapan Lux (Arthur) yang langsung tahu identitas mereka, semua orang termasuk remaja pemarah itu terkejut.


" ... Anda mengenali kami?" tanya pria tua itu dengan serius.


"Tidak. Saya hanya menebaknya dengan acak, tapi saya tidak menyangka itu benar."


" ... "


Mendengar itu, mereka semua kehilangan kata-kata.


Sudut bibir pria tua itu berkedut, dia menghela napas dan berkata. "Karena Anda tahu identitas kami, semuanya menjadi mudah. Setidaknya, Anda bisa menebak tujuan kedatangan kami, kan?"


"Saat seorang Servant dengan parameter kuat muncul, hal yang pertama kali dilakukan adalah mengundang Servant itu untuk bergabung dengan organisasinya. Apa saya salah?"


"Anda benar dan itulah tujuan kedatangan kami kali ini."


"Dan bagaimana jika saya menolak?"


" ... "


Semua orang diam, tetapi suasananya sangat tegang dan bahkan tidak ada ruang untuk bisa bernapas dengan lancar.


Tubuh semua orang tampak menjadi siap siaga kecuali Lux (Arthur) yang masih terlihat tenang namun di balik tatapannya yang tenang, kilatan dingin melintas.


"Hahaha!"


Hanya saja, tidak terduga pria tua yang awalnya terlihat serius itu tertawa tiba-tiba.


Semua orang dibuat terkejut olehnya, bahkan Lux (Arthur) sedikit mengangkat alisnya.


"Maaf, maaf karena mengejutkanmu Holy Knight. Hanya saja, aku tak bisa menahan perasaan geli ini. Sungguh, sudah berapa tahun aku berakting serius seperti ini dan sudah kuduga aku benar-benar tak cocok dengan kepribadian serius dan tegang."


Pria tua itu menggeleng dan menghela napas panjang.


"K-ketua Anda sedang berakting?! Pantas saja saya merasa aneh kenapa Anda tiba-tiba mulai berperilaku serius."


"Yah, melihat kalian semua sangat serius, aku tidak bisa menahan diri," ucap pria tua itu sambil mengangkat bahunya dengan santai.


Remaja itu sedikit kesal dan menggaruk kepalanya dengan frustrasi.


"?" Tapi berbeda dari mereka yang merasa lega, Lux (Arthur) lebih tertarik dengan nama panggilannya yang baru.


Mengetahui Lux (Arthur) tertarik, pria tua itu berkata : "Apakah kamu penasaran dengan hal itu? lalu bagaimana jika kita membicarakannya sambil minum teh?"


Melirik Roxanne sebentar, Lux (Arthur) pun mengangguk.


"Baiklah."


Jawaban itu berhasil membuat pria tua itu tersenyum lebar.


"Bagus."


...***...


Saat ini, Lux (Arthur) dan orang-orang yang diduga berasal dari sedang duduk di meja yang cukup jauh dari posisi Roxanne.


"Baiklah, sekali lagi, aku akan memperkenalkan diri. Namaku adalah Dvain, salah satu pemimpin 'Servants Association' dan ketiga orang ini ..."


"Nama saya Kaina Fiona," wanita dewasa itu memperkenalkan diri dengan hormat.


"Tsk, namaku Mike," remaja emosian itu berkata kesal.


" ... Saber." Pria berjas itu hanya menyebutkan nama Class miliknya.


Dvain menyeringai lalu berkata. "Aku pikir itu adalah hal yang wajar jika Servant tidak ingin menyebutkan nama aslinya, 'kan? Aku harap kamu tidak keberatan."


"Tidak, saya tidak keberatan. Selain itu ..." Lux (Arthur) menatap Saber sejenak. "Bahkan jika saya mengetahui nama asli Saber, hal itu tidak berarti apa-apa bagi saya."


" ... "


'S-sial, Servant ini sangat berani ...'


Mike yang mendengar ucapan Lux (Arthur) sangat tercengang karena ucapan pemuda tersebut sama saja dengan provokasi, yang mengatakan bahwa Saber itu lemah.


Seperti yang diduga, tatapan Saber sedikit berubah pada saat ini.


"Pff ... Hahaha!! Menarik! Kamu benar-benar mengejutkan!"


"K-ketua!"


Dvain lepas kendali dan tertawa keras. Yah ... Bahkan dia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Lux (Arthur).


Ini hanya bisa berarti satu hal ...


'Dia bukan Top Servant biasa. Mungkin dia termasuk Top Servant terkuat ...'


Dvain dan Saber melakukan kontak mata sesaat. Dvain langsung mengerti apa arti tatapan Saber.


'Orang ini sangat kuat!'


Dvain menghela napas panjang kemudian dia mendengar Lux (Arthur) memperkenalkan diri.


"Tidak sopan jika hanya Anda bertiga yang memperkenalkan diri. Perkenalkan, saya juga adalah Servant dengan Class Saber, Servant dari Roxanne Rose."


Sama seperti Saber, Lux (Arthur) tentu saja tidak akan menyebutkan identitasnya. Meskipun dia tidak takut pada 'Servants Association', tapi jika dia bisa menghindari permusuhan dari mereka, kenapa tidak?


Seperti kata pepatah, lebih banyak teman lebih baik daripada banyak musuh.


Selain itu, dia juga bisa memanfaatkan mereka untuk menjaga Roxanne setelah meninggalkan dunia ini.


Perkenalan Lux (Arthur) dan sikapnya cukup mengejutkan.


Seorang kesatria asli, kah?


Dvain menyipitkan mata. Pembicaraan ini akan lebih mudah jika begitu.


"Baiklah, sekarang masuk ke inti pembicaraan. Kamu pasti penasaran kenapa kamu diberikan panggilan 'Holy Knight', bukan?"


"Karena penampilan saya seperti kesatria dan memiliki aura suci?"


" ... Ya, kamu benar." Sudut bibir Dvain berkedut.


"Tapi itulah yang menurut saya aneh." Lux (Arthur) menyesap teh dengan tenang.


"Aneh? Bagian mananya yang aneh?"


"Seingat saya, saya tidak pernah mengeluarkan aura suci, tapi kenapa kalian berspekulasi kalau saya memiliki aura suci?"


"Kamu meremehkan kami." Dvain menggeleng dan menghela napas. "Di pihak kami, ada radar yang mampu mendeteksi kekuatan suci."


"Itu alat yang sangat nyaman."


"Benarkan? Hanya fraksi kami yang punya alat ini!" ucap Mike menyombongkan diri.


"Lalu apa yang ingin kalian lakukan? Seperti yang saya katakan, saya tidak ingin memasuki organisasi manapun."


"Tidak-tidak, kamu tidak harus bergabung dengan kami. Sebaliknya, kita berdua bisa bekerja sama."


"Kerja sama?"


"Ya." Dvain mengangguk. "Kamu tahu, karena kemunculanmu, banyak pemimpin di 'Servants Association' menjadi gila. Mereka semua saat ini berlomba-lomba ingin mendapatkanmu karena menurut mereka, kamu berpotensi menjadi Grand Servant."


Saat menjelaskan, Dvain sedikit berkeringat. Sungguh, tidak pernah terlintas di benaknya bahwa akan muncul Servant dengan potensi untuk menembus Grand Servant.


"Oh?" Lux (Arthur) sedikit terkejut mendengar itu. Memang benar kalau Arthur Pendragon bisa menembus 'Grand Servant'.


Parameternya sebagai Top Servant saja sudah setara Grand Servant, jadi bukan tidak mungkin baginya untuk menjadi Grand Servant.


Dia juga yakin kalau Kesadaran Umat Manusia, Alaya, akan sangat senang jika dirinya menjadi Grand Servant.


Namun yang tidak dia duga adalah pemimpin pemimpin busuk di 'Servants Association' itu menyadari potensinya. Ini mengejutkan ...


"Sama seperti faksi kami, para pemimpin tua itu juga memiliki alat tertentu. Jadi mereka dengan cepat tahu potensimu."


"Begitu. Kemudian apa yang bisa kalian tawarkan kepada saya?"


"Faksi kami akan melindungimu dan Mastermu Roxanne Rose dari faksi yang lain, tapi sebagai gantinya, tolong pinjamkan kekuatanmu."


"Hm ..." Lux (Arthur) mulai berpikir. Dengan kekuatannya saat ini, pemimpin busuk dari 'Servant Association' tidak menimbulkan ancaman baginya.


Namun keamanan Roxanne adalah cerita yang berbeda. Lux (Arthur) tidak bisa selalu hadir di sisi gadis itu.


"Baiklah, saya sepakat, tapi mohon diingat jika kekuatan saya tidak digunakan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan etiket moral manusia."


"Tidak apa-apa, itu sudah cukup." Dvain tidak bisa menahan senyuman lebar.


"Baiklah, sekarang kita masuk ke urusan bisnis dan kami butuh kekuatanmu dalam hal ini."


"Tolong katakan."


"Yah, sebenarnya ..."


"A-arthur?"


Hanya saja, pada saat ini suara yang agak malu malu menarik perhatian semua orang.


Ekspresi Lux (Arthur) yang tenang berubah menjadi lembut dan menatap ke arah Dvain dengan tatapan 'minta maaf'.


"Maaf, tapi bisakah kita membahas ini di lain waktu?"


" .... Tentu saja, jika kamu tidak kebaratan," ucap Dvain dengan mengerjap dan sedikit terkejut karena Lux (Arthur) nampak lebih peduli pada Master munggilnya.


"A-apakah aku menganggu Arthur?"


"Tidak, tidak, Anda sama sekali tidak menganggu, Master."


Mendengar itu, Roxanne lega dan menatap orang-orang itu dengan ragu.


"M-mereka?"


"Ah, mereka adalah kenalan lama pemilik toko buku ini dan sebagai bentuk kesopanan, kami bertukar sepatah kata."


"B-begitu?" Roxanne cukup bingung, dan menggeleng. "A-aku sudah membacanya, t-tapi ada kata-kata yang aku tidak mengerti ..."


"Sini saya lihat."


Lux (Arthur) menyamakan tingginya dengan Roxanne. Tapi ekspresinya membeku begitu melihat aliran [mana] yang sekarang sedang terhubung sampul buku.


Itu bukan perbuatan Caster, juga bukan salah satu dari mereka yang hadir di sini dan [mana] itu juga terasa tidak murni.


Hanya ada satu penjelasan untuk situasi ini ...


Lux (Arthur) memberikan peringatan keras, dan sedetik atau dua detik ke depan, dia bisa melihat masa depan yang membuat wajah pemuda itu berubah.


"Master!"


* BLAAAAAAARRRR ... !! *


Di detik itu juga, ledakan yang sangat keras langsung memusnahkan segalanya!