
Hanya dalam sekejap, semua bangunan yang berdekatan langsung musnah yang membuat tempat itu nampak seperti reruntuhan karena saking kuatnya ledakan itu.
Dari sudut pandang orang ketiga, pasti tidak ada yang mengira kalau dibalik ledakan yang kuat itu, masih ada orang yang hidup ...
"W-wow ..."
Mike, yang tertegun terpukau dan tercengang. Bukan hanya dia, akan tetapi yang lainnya juga membelalak, tampak tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Semilir angin hijau melindungi melapisi mereka.
Ya. Sebelum terjadi ledakan, angin berwarna hijau inilah yang melindungi mereka, dan jika bukan karena angin ini, saat ini mereka sudah tidak bernapas.
Bahkan para Servant saja tidak memiliki reaksi yang cepat kecuali satu ...
Mereka menatap punggung sosok yang telah melindungi mereka.
Jika sebelumnya dia memakai pakaian biasa, maka saat ini dia mengenakan sebuah armor mewah perak indah berjubah biru.
Tudung jubah menutupi wajahnya, tapi terlihat gadis yang munggil duduk di tangan kesatria itu dengan ekspresi yang cukup gugup.
"Apakah Anda baik-baik saja, Master?" tanya Lux (Arthur) dengan prihatin.
"Y-ya ..."
"Syukurlah kalau begitu." Lux (Arthur) merasa lega. "Maaf, Master. Andai saya menyadari hal ini lebih awal ..." Pemuda itu tampak menyesal.
"T-tidak, ini bukan salah Arthur ..." ucap Roxanne dengan lemah.
"Ya, gadis kecil itu benar. Lagipula, siapa yang akan mengira bahwa ada orang gila yang akan menyerang di tempat umum seperti ini?" kata Dvain.
" ... " Lux (Arthur) terdiam dan mengernyit.
Meski begitu, tetap saja ...
'Siapa yang menyerang dan kenapa?'
Lux (Arthur) menanyakan pertanyaan itu dalam hatinya.
Angin berhembus kencang dan saat itu tubuh Lux (Arthur) langsung membeku, ekspresinya bahkan sedikit berubah.
Bukan hanya dia, Saber dan Caster juga ikut bereaksi.
"A-arthur?" Roxanne bertanya ragu.
" ... "
Tidak menjawab, sebaliknya Lux (Arthur) memeluk Roxanne lebih erat dan tangan kanannya yang memegang senjata agak mengencang saat ini.
"Saber ... Jangan katakan ..." Dvain menyadari sesuatu.
"Iya, itu benar. Kita sudah dikepung, Master," ucap Saber dengan serius.
"Apa?!" Mike, yang mendengar itu terkejut. "Tapi aku tidak melihat apa–ap–" ucapan itu tercekat.
Mike membuka mulutnya dengan lebar dan tampak ngeri. Di sekitarnya, tidak terhitung jumlahnya makhluk mirip bayangan sedang mengelilingi mereka dari kejauhan.
Walau terlihat seperti bayangan, nyala merah yang terpancar dari mata makhluk itu mau tak mau membuat semua orang bergidik. Apalagi ... Bentuk setiap bayangan itu sangat aneh.
"Master muda, tolong mundur."
Caster, yang merupakan seorang pria tua dengan topi santai bejalan maju ke depan dengan ekspresinya serius.
"Ini merepotkan. Aku tak menyangka kita akan menjadi incaran makhluk ini," kata Dvalin yang kini memiliki ekspresi jelek.
"Kaina, apa kamu sudah menghubungi markas kita?"
"Saya sudah mencobanya, tapi tidak berhasil. Ada sesuatu yang sedang mengunci kita, dan selain itu ..." Belum melanjutkan, Kaina sedikit mengerutkan kening.
"Kita terkurung di tempat ini," lanjut Lux (Arthur) dengan tenang.
Ekspresi beberapa orang berubah. Terutama Dvalin yang semakin muram.
"Sial, terkurung? Lalu bagaimana caranya kita keluar?!" teriak Mike.
"Tampaknya kita tidak punya pilihan selain melawan, Master," ucap Saber serius.
"Tidak, tunggu dulu. Kaina, apa kita tetap bisa menghubungi markas jika kamu berusaha?"
Kaina berpikir sejenak lalu mengernyit. Dengan ragu, dia berkata : "Bisa, hanya saja saya butuh waktu yang cukup lama."
"Seberapa lama?"
"Satu jam? Saya kurang yakin."
" ... "
Sudut bibir Dvain berkedut. Satu jam? Sialan! Saat itu mereka sudah menjadi makanan dari para makhluk ini!
"Brengsek, satu jam terlalu lama!" Mika meraung.
"Karena itulah, saya mengatakannya cukup lama."
"Cukup lama apanya? Itu sangat lama! Kamu ingin kita semua mati di sini?!"
Mendengar hal itu, Kaina mulai agak kesal dan saat dia hendak membalas ...
* BOOOOMM...!! *
Dari atas langit, tiba-tiba tangan bayangan raksasa jatuh layaknya meteor!
Untungnya, sebelum tangan bayangan itu jatuh, Caster bereaksi dan dengan benang [mana]-nya, dia menarik semua orang, dan terbang menjauh.
Semua orang merasa sedikit takut melihat itu dan saat itu, seseorang berteriak :
"Tunggu! Mana Servant itu dan Master kecil itu?!"
Mendengar hal itu, beberapa orang tertegun namun sebelum mereka mengira kalau kedua orang itu sudah mati ...
* BLAAARRR ....!! *
Badai mengerikan meledak dengan dahsyat di bawah tangan bayangan itu. Alhasil, bayangan raksasa itu langsung musnah dalam sedetik!
Dan sosok Lux (Arthur) berdiri dengan tenang sembari memegang 'senjata' yang tak terlihat.
Saat melirik ke sekitarnya, ratusan makhluk bayangan mencoba menerkamnya.
Mengangkat pedangnya, Lux (Arthur) berkata dingin :
" ... Lenyap."
* SLASH!! * BLAAARRR ....!!! *
Satu ayunan sederhana mencabik cabik semua makhluk bayangan. Tapi belum berakhir sampai di sana ...
"<>"
Dan itu benar-benar menyerupai bencana alam.
Badai raksasa yang mencapai puluhan meter itu menyebar ke seluruh penjuru kemudian ... tanpa ampun melenyapkan semua yang ada di jalurnya!
* BOOOOOMMMM....!! *
" ... "
Mereka yang melihat ini sangat terkejut dan rahang mereka hampir jatuh, sampai bahkan tidak bisa berkata-kata ...
'Apakah ini adalah kekuatan dari Servant yang berpotensi mencapai Grand?'
Adapun Roxanne yang berada di pelukan Lux (Arthur) juga tertegun. Sebelumnya dia tidak tahu seberapa kuat Lux (Arthur) karena tidak punya kesempatan untuk melihatnya.
Tapi sekarang dia melihatnya dengan jelas dan pemandangan ini membuatnya sedikit linglung.
'Arthur ... Sekuat ini.'
Menatap wajah kesatria itu, Roxanne hanya merasakan jantungnya berdetak kencang.
Tanpa sadar mulai mencengkeram jubah Lux (Arthur) lebih erat, dan entah kenapa, dirinya merasakan perasaan aneh ...
'Arthur ... Dia adalah Servantku. Arthur milikku satu-satunya.'
Karena kurangnya 'akal sehat', Roxanne tidak tahu kalau dia mulai mengembangkan sebuah perasaan yang agak 'menyimpang’.
Sayangnya Lux (Arthur) tidak menyadari hal itu, tapi sebaliknya, pemuda itu menyipitkan kedua matanya.
'Makhluk apa ini?'
Sungguh mengejutkan bahwa makhluk yang sudah dimusnahkan oleh Lux (Arthur) tanpa sisa tadi kini benar-benar beregenerasi.
Ya. Semua makhluk bayangan yang hancur tadi muncul kembali seperti tidak terjadi apa-apa, dan bukan hanya itu, jumlah mereka juga meningkat?
'Aku tidak pernah menulis makhluk semacam ini di novelku.'
Makhluk bayangan yang agak aneh dengan kemampuan regenerasi, tidak ada hal yang seperti itu dalam novelnya.
Tapi ini adalah dunia paralel, jadi apapun bisa terjadi bahkan kalau hal tersebut tidak masuk akal dan diluar nalar.
"Kukira mereka tidak akan bisa beregenerasi, tetapi bahkan kamu sekali pun tidak mampu membunuhnya, kah?"
Dvain dan lainnya mendarat di dekat Lux (Arthur).
Hanya saja, kali ini mereka semua terlihat siap untuk bertempur. Bahkan Saber pun memakai perlengkapan dan entah kenapa, Saber memberikan perasaan yang akrab pada Lux (Arthur).
'Perasaan ini ... Naga?'
Dan seolah merasakan hal yang serupa, Saber juga menatap Lux (Arthur) dengan terkejut.
Tatapan kedua Servant Saber itu bertemu, tapi mereka tahu bahwa bukan waktunya berbicara perihal hal ini.
"Apakah Anda tahu makhluk apa itu?" tanya Lux (Arthur).
"Ya." Dvain mengangguk. "Makhluk itu disebut Shadow. Tidak diketahui apa alasannya dan juga tujuannya, tapi makhluk itu mulai mengincar banyak Servant sejak kemunculannya. Baik itu Normal Servant, Rare Servant bahkan High Servant, Shadow' akan melahapnya dan tampaknya saat ini mereka mulai menetapkan target yang lebih besar lagi yaitu Top Servant ..."
Dan mangsa mereka tidak diragukan lagi adalah Lux (Arthur) dan Saber. Caster hanya Servant tingkat High, jadi dia tidak termasuk.
"Kami sudah membentuk pasukan sebelumnya dan mencoba menghancurkan, namun seperti yang bisa kamu lihat, mereka tidak hanya punya jumlah yang banyak, mereka juga memiliki kemampuan regenerasi yang sangat merepotkan."
"Apakah kerja sama yang Anda maksudkan sebelumnya adalah ini?"
"Benar." Dvain menghela napas. "Mengetahui ada Top Servant dengan kekuatan besar, kami berusaha mengundangnya. Kami mengira peluang untuk membunuh Shadow meningkat jika ada tambahan Top Servant lainnya."
" ... " Lux (Arthur) tidak mengatakan apa-apa.
Sebenarnya dia bisa melenyapkan makhluk itu kalau dia menggunakan Noble Phantasm asli miliknya tapi ...
Lux (Arthur) melirik Roxanne tanpa sadar.
Dengan kekuatan Roxanne sekarang, gadis ini mungkin tidak sanggup menahan beban besar setelah penggunaan Noble Phantasmnya.
Bagaimanapun, meski Noble Phantasm Arthur Pendragon (Saber) super overpower, efek yang ditimbulkan pada Masternya tidak main-main.
"Bagaimana? Apakah kamu dapat membantu kami untuk meminjamkan kekuatanmu dalam mengalahkan makhluk merepotkan ini?"
" ... Apakah Anda harus bertanya lagi?" Lux (Arthur) berkata pahit.
"Hahaha! Kalau begitu aku menganggapnya sebagai persetujuanmu!" Dvain tertawa dan merasa sangat bahagia.
Dia sudah melihat kekuatan Lux (Arthur) dan tahu bahwa kesempatan untuk mengalahkan Shadow mulai meningkat dengan adanya Lux (Arthur).
Lux (Arthur) menggeleng ringan mendengar tawa itu dan bisa menebak apa yang pria tua itu pikirkan.
'Jika aku tidak bisa membunuhnya, maka pilihan yang tersisa adalah ...'
Menghancurkan.
Tepatnya, menghancurkan penghalang yang sudah mengunci mereka di tempat ini.
Sebenarnya, Dvain dan lainnya juga sudah memikirkan hal yang sama. Tapi karena tak punya kekuatan yang cukup, mereka pun menyerah.
Tentu saja, itu cerita yang berbeda untuk Lux (Arthur).
Dia mungkin tidak bisa menggunakan Noble Phantasmnya yang asli, tetapi dirinya masih punya sarana yang lain.
Sementara Lux (Arthur) berpikir ...
"Mereka datang!"
* BOOOM...!! *
Makhluk bayangan atau dengan nama lainnya yaitu, Shadow yang tidak terhitung jumlahnya mengerumuni mereka seperti koloni semut yang mengepung mangsa.
"Saber! Dengan ini, aku memerintahkanmu untuk memakai semua kekuatanmu dan menghabisi musuhmu!"
"Caster! Dengan ini, aku memerintahkanmu untuk mulai membunuh makhluk-makhluk aneh ini!"
Dvain dan Mike menggunakan mereka lalu sebagian warna merah di lambang tersebut memudar.
Seolah terdorong oleh efek itu, tatapan Saber dan Caster berubah dratis.
"Sesuai keinginan Anda / Master Muda!" x2
* WUSSHH!! *
Sebuah pedang yang menyerupai lightsaber muncul di tangan Saber dan tanpa ragu, dia langsung mengayunkannya!
* BOOOOOMM...!! *
Sebuah beam biru yang mirip laser raksasa terbentuk dan langsung melenyapkan para Shadow.
Caster juga bertindak. Hanya saja, dia tidak bisa menggunakan Noble Phantasm seperti Saber karena hanya Top Servant yang bisa.
Tapi meski tanpa Noble Phantasm sekalipun, kemampuannya dalam mengendalikan lawan masih sangat merepotkan dan setelah dibuff oleh , jumlah individu yang bisa dia kendalikan meningkat.
Dia mengendalikan puluhan Shadow melalui benang [mana] lalu membuat mereka saling membunuh satu sama lain.
Dvain dan Mike sendiri berusaha mendukung Servant mereka dengan memberikan [mana] terus menerus.
Lagipula mereka tidak memiliki fisik yang unik seperti Roxanne, jadi mereka tidak mempunyai [mana] yang melimpah dan harus fokus untuk memberikan [mana] dengan hemat.
Sedangkan Kaina, dia masih mencoba untuk menghubungi markas sambil berkeringat.
"Nona Kaina."
Mendengar panggilan itu, Kaina tersentak lalu buru-buru menatap pemilik suara itu.
"A-apakah ada masalah, Tuan Arthur?"
Mendengar panggilan yang agak formal dan suara gugup itu, Lux (Arthur) merasa sedikit aneh, tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
"Bisakah saya mengandalkan Anda untuk melindungi Master saya?"
"Gadis kecil itu?" Tanda tanya muncul di atas kepala Kaina dan menatap Roxanne yang ikut terlihat linglung.
"Ya." Lux (Arthur) mengangguk. "Saya sudah menemukan cara memusnahkan penghalang ini, tapi saya harap Anda juga bisa melindungi Master saya sementara itu."
Kaina sedikit terkejut kemudian langsung mengangguk. "Saya mengerti."
" ... " Lux (Arthur) mengerjap. " ... Anda tidak meragukan saya?"
"Tidak. Menurut saya, Raja terhormat seperti Anda tidak mengucapkan kata-kata itu tanpa dasar. Benar bukan King Arthur?" tanya Kaina dengan senyuman menawan.
" ... " Untuk sesaat Lux (Arthur) sedikit terdiam tapi kemudian dia terkekeh ringan. "Begitukah? Kalau begitu bisakah saya mempercayai Anda?"
"Jangan khawatir. Serahkan pada saya."
" ... "
Roxanne yang mendengar pembicaraan antara Servantnya dan Kaina sedikit tak nyaman.
'Ada orang lain yang tahu tentang Arthur ...'
Ini ... Ini membuatnya sedikit tidak senang ...
"Baiklah, Master. Anda tunggulah di sini dan saya akan segera kembali."
" ... "
Roxanne hendak mengucapkan sesuatu, tapi dia tidak tahu apa yang harus dia katakan jadi ... Pada akhirnya dia cuma mengangguk.
* Wosh! *
Dengan mengejutkan, sosok kesatria itu pun menghilang dan untuk berjaga-jaga, dia juga meninggalkan jejak aura sucinya hingga para Shadow tidak bisa mendekati mereka berdua dengan mudah.
"Anda memiliki Servant yang sangat setia, Nona," ucap Kaina dengan acuh tak acuh.
Kesetiaan Lux (Arthur) pada Roxanne itu nyata tanpa akting.
Sangat jarang ada seorang Servant yang memiliki kesetiaan yang sangat tulus.
Awalnya Kaina berpikir kalau sebagai Raja, Lux (Arthur) harusnya tidak menuruti perintah dari orang lain karena harga diri sebagai sosok Raja itu sangat besar.
Tetapi ternyata dia salah, bukan hanya tidak memiliki kesombongan seperti seorang Raja pada umumnya, Lux (Arthur) Justru memiliki kepribadian yang sangat lembut.
Dia bahkan memberikan kesetiaannya pada Roxanne tanpa syarat. Ini ... membuat Kaina sedikit cemburu dan agak benci.
"Saya merasa ... Saya lebih layak untuk menjadi Master dari King Arthur yang terhormat ..."
Mendengar pernyataan Kaina yang sangat jujur itu, Roxanne terdiam tapi gadis itu mengepalkan tangannya sampai berdarah ...
Wanita ini ... Menginginkan Arthurku ...
...***...
* BOOOM....!! *
"Sial! Jumlahnya semakin bertambah!" teriak Mike dengan panik dan bahkan mulai nampak pucat karena [mana]-nya dikonsumsi Caster terus menerus.
"Daripada mengoceh terus, lebih baik jika kamu fokus Mike!"
"Tidak perlu dibilangpun, aku sudah tahu!" Mike terus memberikan [mana]-nya kepada Caster.
'Dimana Servant sialan itu?!'
Mike mau tidak mau merasa kesal pada Lux (Arthur).
Sementara mereka mati-matian di sini, Servant itu entah kemana!
Pada saat ini sebuah bayangan besar menutupi permukaan.
Semua orang mendongak dan kemudian membeku.
Seekor 'Shadow' berukuran 40 meter berdiri tegap di hadapan mereka.
Hanya dua hal yang mereka rasakan saat ini. Rasa teror dan ... Kematian.
* BLAAAARRR....!!! *
Beam biru melesat kencang dan melenyapkan kepala Shadow itu seperti pasta tapi tak butuh waktu yang lama, kepala itu kembali muncul.
Saber yang melihat ini mengerutkan kening, tapi dia tidak berhenti menyerang Shadow itu.
Dengan kecepatan sonik, sosoknya berubah menjadi kilatan biru kemudian mulai menebas dari atas hingga bagian bawah tubuh raksasa itu!
Caster memanfaatkan kesempatan itu, dia menggunakan benang [mana] dan menarik Mike serta Dvain menjauh dari pertempuran.
"Ukh ..."
Saat ini, Dvain mulai merasa sangat lemah.
Sama seperti Mike, pertarungan berlarut-larut ini sangat menguras [mana]-nya.
'Jika seperti ini terus ... Baik itu Caster dan Saber akan dikonsumsi oleh Shadow.'
Dvain menatap sosok Saber yang masih serius menghadapi Shadow raksasa.
Semua tebasan yang dihasilkan Saber sangat kuat, tapi kemampuan regenerasi Shadow itu sangat merepotkan!
Percuma serangannya kuat kalau pada akhirnya tidak mampu membunuhnya!
Akhirnya, Saber lengah dan berhasil ditangkap oleh tangan raksasa Shadow. Dia dicengkeram dan cengkeraman itu semakin kuat saat waktu berlalu.
"Ugh ..."
Perlahan tapi pasti, Saber merasakan sesuatu merasuki tubuhnya dan sesuatu ini ... Merusak tubuhnya secara internal.
"Kembalilah kepadaku, Saber!"
Karena melihat kondisi gawat Saber, Dvain menggunakan untuk menyelamatkannya tapi dia gagal.
'Apa?!'
Dvain terkejut. tidak bisa memanggil Saber kembali ke sisinya?!
Jangan bilang Shadow sudah berkembang jauh sedemikian rupa, sampai Servant yang telah dia tangkap tidak boleh dipanggil lagi meski melalui ?!
Sial! Jika begini, Saber pasti akan ditelan!
'Tidak ada pilihan lain, aku harus membiarkan Saber menggunakan Noble Phantasmnya!'
Dia mungkin hanya dapat mendukung Saber selama beberapa menit setelah pengaktifan Noble Phantasm, tapi itu lebih baik daripada dia harus kehilangan Saber!
"Dengan dua ini, diriku memerintahkan dirimu–"
* WOSSHH!! * BANNGGG!! *
Belum sempat memberikan perintah, siluet kesatria jatuh tepat di atas Shadow itu dari atas langit.
Akibatnya, kepala makhluk itu meledak dan di saat yang sama juga, angin bertekanan super tinggi mencincang-cincang Shadow sehingga tidak tersisa!
Saber berhasil diselamatkan!
Mengetahui fakta ini, Dvain merasa lega, tapi juga sedikit kesal karena Lux (Arthur) sangat lambat!
" ... Terima kasih," ucap Saber setelah ragu sesaat.
"Bukan apa-apa. Lebih dari itu, saya sudah menemukan titik lemah dari penghalang ini. Tapi untuk menghancurkannya, kekuatan kita berdua dibutuhkan."
Sementara Saber terkejut mendengar itu, tapi dia tidak banyak bertanya, dan hanya berkata : "Dimengerti."
Lux (Arthur) mengangguk. Hanya saja sebelum itu, mereka harus membereskan para Shadow yang mengepung mereka dulu!
Di saat itu ... Sosok Saber dan Lux (Arthur) berubah menjadi kilat berwarna lalu ....
* Slash! * BOOOOMM!! *
"Brengsek!!"
Melihat betapa dahsyatnya kecepatan kedua Saber itu, Mike tidak bisa tidak mengumpat!
Kilatan biru muda dan kilatan hijau muda terus menerus bergerak sambil membantai Shadow yang ada!
Sementara Lux (Arthur) terkejut kalau Saber bisa mengimbangi kecepatannya, tapi Saber juga tak kalah terkejutnya.
Agility B!
Mereka berdua berpikir masing-masing!
Agility di Rank B, mereka bisa bergerak dengan kecepatan suara, bahkan bukan tidak mungkin untuk bergerak lebih cepat!
Hanya ada satu pikiran yang muncul di benak kedua Saber.
'Lebih cepat!' x2
* WOSHH!! * BLAAAARR ...!!! *
Keduanya menembus penghalang kecepatan suara dan tebasan mereka membantai semua Shadow!
Tidak ada Shadow yang selamat sampai sebuah bayangan raksasa gelap menutupi daratan.
Kali ini, Shadow super raksasa terlihat. Jika tadi tingginya 40 meter, maka sekarang 60 meter!
Sekilas, tatapan Lux (Arthur) dan Saber saling bertemu. Mereka berdua memikirkan hal yang sama.
"Ayo akhiri ini."
Dengan pemikiran itu, mereka mengumpulkan semua [mana] yang ada lalu–
* Bzzt! * Woshh! *
Kalau sosok Lux (Arthur) dikelilingi badai hijau yang menyerupai bencana, maka sosok Saber diselimuti oleh nyala api biru yang menyerupai api penyucian!
Ini adalah penggunaan Noble Phantasm mereka berdua.
Namanya adalah :
"<>!!"
"<>!!"
Angin hijau bertekanan super tinggi melesat, begitu pula dengan pilar api biru yang panas.
Pada tengah perjalanan, kedua serangan itu menyatu dan menjadi beam berwarna cyan!
Shadow raksasa itu mengulurkan tangannya, mencoba memblokir serangan beam itu, tapi bahkan sebelum beam yang mematikan bisa menyentuhnya, tangan itu sudah menguap.
Sebagai gantinya, sinar cyan mengantam tubuh makhluk bayangan itu. Jika makhluk tersebut suka melahap, maka kini makhluk itulah yang justru dilahap oleh sinar itu.
Dalam waktu kurang sedetik tidak ada yang tersisa, tubuh makhluk itu terbarkar sampai intinya dan hanya tersisa tanah gosong.
Seolah belum berakhir cahaya cyan itu juga menyebar, dan berpisah, membombardir ke berbagai arah dengan Shadow yang tersisa sebagai target utama.
Dan untuk yang terakhir ...
Lux (Arthur) dan Saber saling menatap. Saber mengangguk, begitu pula dengan Lux (Arthur).
Keduanya mengambil posisi menyerang, lalu menghunuskan pedang mereka menuju atas langit.
Seperti sebelumnya, nyala api biru dan badai hijau menyatu, dan membentuk cahaya cyan yang sangat menyilaukan.
Apa yang terjadi selanjutnya, tidak perlu dijelaskan secara spesifik.
* Pyar! *
Terdengar suara seperti kaca yang retak, dan akhirnya seluruh tempat itupun diterangi oleh cahaya cyan yang indah ...
...***...
"K-kita berhasil selamat ..."
Mike berlutut dengan wajah bahagia sampai tidak bisa menahan tangis.
Yang lainnya juga merasa lega karena mereka akhirnya bisa keluar dari tempat itu.
"Master, bagaimana keadaanmu?" tanya Lux (Arthur) dengan khawatir, karena takut kalau Roxanne menjadi lemah setelah penggunaan Noble Phantasm yang berturut-turut.
Lihat kondisi Dvain sebagai contoh. Pria tua itu tidak sanggup lagi mendukung Saber kalau ada pertarungan, pria tua itu terlihat pucat dan bisa pingsan kapan saja karena Saber mengaktifkan Noble Phantasm berkali-kali.
"A-aku baik-baik saja ..." ucap Roxanne.
"Baguslah." Lux (Arthur) sangat lega kemudian menatap Kaina dengan penuh terima kasih.
Wanita itu hanya mengangguk sebagai balasan dan diam-diam merasa senang.
Menyaksikan ini, Roxanne menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya dengan erat.
Dia merasa sangat tidak nyaman. Rasanya seolah ada sesuatu yang berharga darinya sudah dirampok.
"A-arthur."
"Ya? Ada apa Master?"
"I-itu, aku ing–"
* DEG! *
Saat hendak mengatakan sesuatu jantung Roxanne seolah terhenti. Semua kata-kata seperti tercekat karena dihalang sesuatu.
Tidak. Bukan hanya Roxanne.
Semua orang yang hadir di tempat itu merasa jantung mereka berhenti berdetak.
Tepatnya waktu seakan terhenti.
Mata semua orang melebar, bahkan ekspresi Lux (Arthur) yang lembut berubah dratis dan pupil sang King of Knights tidak bisa berhenti bergetar.
Sesosok berdiri di depan mereka semua. Lebih tepatnya monster yang menyerupai humanoid.
Dia berdiri layaknya manusia. Sepasang sayap mirip sayap nyamuk berkepak dengan tenang.
Tinggi dua meter, memiliki dua tangan, dua mata dan dua antena panjang di kepalanya, lebih menyerupai mahkota.
Dia tak berkulit manusia atau pun berdaging manusia. Sebaliknya, tubuhnya lebih seperti armor dengan warna hitam legam.
Napas, ruang, waktu, udara, angin, kehidupan, semuanya berpusat pada makhluk itu.
Dia seperti lubang hitam, yang menarik semua yang ada tapi sebagai lubang hitam ... Dia juga membawakan kehancuran pada sekitarnya.
Gadis itu menyaksikan bagaimana wanita yang ingin merebut Servantnya saat ini terlihat seperti sedang mengalami mimpi buruk.
Gadis itu menyaksikan pria tua yang selalu santai itu memiliki ekspresi ngeri.
Gadis itu menyaksikan remeja yang mudah terbawa emosi itu berlutut ketakutan.
Gadis itu menyaksikan Servant gagah yang telah bertarung bersama Servantnya cuma bisa berdiri diam dengan gemetar. Matanya melebar marah seakan bersusaha melawan teror yang merusak jiwanya, tapi tubuhnya menolak untuk bergerak.
Keputusasaan dan teror.
Makhluk itu adalah perwujudan dari dua kata itu.
Pikiran pertama yang muncul di benak gadis itu adalah berlari, menjerit, menangis, memohon ran melarikan diri. Dia dapat melakukan semua itu sekarang karena untuk beberapa alasan, dia masih bisa bergerak.
Mungkin karena dia sudah punya pengalaman yang buruk di ruangan putih sehingga dia bisa bernapas dengan lebih teratur.
Tapi meskipun begitu, napasnya masih terasa tercekik.
Untuk sesaat, perasaan tercekik ini membawa dirinya ke kenangan buruk yang dia alami.
Makhluk itu seperti sedang mengendus lalu dia menatap sosok gadis munggil berambut merah itu dengan penuh keterkejutan.
Fisik tidak diragukan sangat menarik perhatiannya dan itu seperti hidangan terlezat di matanya.
"Kieeekkk...!!"
Makhluk itu meraung dengan serakah sebelum seketika muncul di depan gadis itu.
Tapi di dalam pandangan gadis itu, dia hanya merasa waktu seolah melambat.
' ... Apakah ... Kali ini aku benar-benar akan mati?'
Ya. Dia pasti akan mati. Mustahil dia bisa menghindar dari incaran makhluk ini.
Tinju makhluk itu hanya butuh sesaat sebelum mencapai kepalanya dan pasti meledakkannya seperti pasta daging.
Tidak ada kemungkinan untuk hidup lagi. Semua keberuntungannya sudah habis.
Sungguh keajaiban dia masih hidup sampai saat ini ...
Tapi ...
..."<>"...
Suara itu terdengar. Bagi Roxanne, suara itu seperti melodi lagu indah yang membuatnya merasa sangat aman.
Mendongak, dia melihat sosok yang dia pikir tak bisa dia lihat lagi sedang membelakangi dirinya.
Ini mengejutkannya, sementara semua orang ketakutan dan tidak mampu bergerak, tapi dia masih mampu bergerak meski berada dibawah tekanan mengerikan makhluk itu.
Angin berderu dengan kencang tetapi bukan berwarna hijau muda, melainkan warna emas berkilauan.
..."<>"...
Dan suara wanita lain yang sangat merdu dan lembut terdengar, tapi juga penuh kerinduan.
..."<>"...
..."<Mata hijau zamrud bersinar dengan dingin, dan tanpa segan mengayunkan pedangnya dimana bilahnya diselimuti cahaya keemasan suci yang penuh energi ilahi.'Sangat indah ...'Mata Roxanne terpesona menyaksikan betapa indahnya 'Pedang' itu. Saking indahnya, dia tak bisa berkata-kata. Bakkan keindahannya dapat mengusir segala keburukan di dunia.'Itu adalah ... Kemuliaan milik Arthur ...'* Wooshh!! * ..." ... Calibur>>"...Tinju bencana dan pedang suci terkuat bertemu. Apa yang terjadi di detik selanjutnya, Roxanne tidak tahu karena pandangannya menjadi silau dan kesadarannya juga ikut hilang.Tetapi di punggung tangan gadis itu mulai kehilangan sebagian warna ...
Mata hijau zamrud bersinar dengan dingin, dan tanpa segan mengayunkan pedangnya dimana bilahnya diselimuti cahaya keemasan suci yang penuh energi ilahi.
'Sangat indah ...'
Mata Roxanne terpesona menyaksikan betapa indahnya 'Pedang' itu. Saking indahnya, dia tak bisa berkata-kata. Bakkan keindahannya dapat mengusir segala keburukan di dunia.
'Itu adalah ... Kemuliaan milik Arthur ...'
* Wooshh!! *
..." ... Calibur>>"...
Tinju bencana dan pedang suci terkuat bertemu.
Apa yang terjadi di detik selanjutnya, Roxanne tidak tahu karena pandangannya menjadi silau dan kesadarannya juga ikut hilang.
Tetapi di punggung tangan gadis itu mulai kehilangan sebagian warna ...