
Part 1.
Lily ingin sekali melihat jasad ayah nya untuk terakhir kalinya. Tapi, pihak kepolisian tidak mengizinkan. Mereka juga beralasan jika jasad ayahnya penuh dengan luka dan lebam.
Lily tidak bisa berbuat apalagi. Ia pasrah ketika jasad ayahnya masuk ke liang kubur. Air matanya terus berderai.
Di sela kesedihannya, ia mendengar beberapa orang berbicara. Mereka membicarakan tentang keluarga Erlangga.
“ Apa benar cucu Rahmat sesadis itu?” tanya salah satu polisi yang berbicara sedikit pelan ketika pemakaman sedang berlangsung.
Lily menoleh dan diam.
“ Nona. Jangan dengar kan percakapan mereka. Mungkin saja mereka salah sangka.” Ujar bi Inah.
Lily kembali pokus dengan pemakan ayahnya. Setelah pemakaman selesai ia mengambil ponselnya. Dan mencari tahu tentang keluarga Erlangga. Keluarga konglomerat yang di kenal banyak orang.
Keluarga Erlangga.
Ketiknya di google. Semua informasi tertulis jelas dan lengkap dari web maupun blog. Dan ketika Lily mengklik bagian gambar, ia terkejut melihat dua laki-laki yang di kenalnya.
“ Ada apa non.” Kata bi Inah. Ia melihat ekspresi wajah Lily yang semakin memucat.
“ Ini.” Kata Lily. Ia menunjukkan foto keluarga Erlangga ke BI Inah.
“ Lebih baik nona tidak mengetahui siapa keluarga Erlangga.” Jawab bi Inah.
“ Bi jawab aku. Jelaskan siapa yang ada di dalam foto ini.” Teriak Lily. Air matanya seolah pecah untuk menunggu jawaban bi Inah.
Dengan menghela nafas bi Inah akhirnya menjelaskan siapa yang ada di foto tersebut.
“ Yang berambut putih dan sudah berusia setengah baya ini adalah Rahmat Erlangga. Dan ini putrinya.”
“ Jika kedua laki-laki ini.” Potongnya di tengah penjelasan.
“ Ini cucu Erlangga. Jika tidak salah. Ini anak dari Abimanyu. Namanya Abigail. Dan ini anak dari putri keduanya. Jika bibi tidak salah ingat lagi. Namanya Affan.”
Lily menutup mulutnya. Seolah-olah ia tidak mempercayai penjelasan bi Inah.
“ Aku menyukai pembunuh ayahku.” Gumam nya dalam hati.
Air matanya yang semula terus mengalir, kini semakin mengalir deras. Ia terisak sambil memeluk ibunya.
“ Maafkan aku bunda. Maafkan aku.”
***
3 hari berlalu.
Di sekolah, Lily mulai mengurus kepindahannya. Pak Karim yang terkejut merasa kepindahan anak muridnya terlalu mendadak.
“ Saya harap. Bapak merahasiakan tentang kepindahan saya ini. “ kata Lily sedikit memohon.
“ Kau serius akan pindah ke sekolah ini.” Tanya pak Karim ia menyakinkan anak didiknya.
Lily mengangguk.
“ Ini sekolah pinggir kota. Sekolah ini juga tidak menjamin kamu bisa masuk universitas yang baik.” Kata pak Karim lagi.
“ Jika saya sekolah di sini. Saya harus mengajukan beasiswa. Tapi tidak mungkin kan pak.” Jawab Lily. “ Perusahaan ayah saya bangkrut. Saya tidak bisa hidup di lingkungan anak konglomerat lagi. Bukan saya malu. Tapi, saya tidak sanggup membayar biaya sekolah.” Jelas Lily.
“ Baiklah jika ini memang menjadi keputusanmu. Maaf jika bapak tidak bisa membantu.” Kata pak Karim.
Lily kemudian pamit. Ia keluar ruang guru dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam kesedihannya ia memikirkan satu hal.
Abigail Erlangga.
Betapa menyedihkan dirinya. Bahagia dan berbunga-bunga sendiri. Tapi, siapa sangka. Bunga itu akan segera mati. Air matanya jatuh menetes ketika kakinya berhenti di depan ruang OSIS.
“ Hei, itu Lily.” Celetuk Affan yang kebetulan duluan melihat kehadiran Lily di depan pintu.
Abigail beranjak dari tempat duduknya dan kemudian berjalan menghampirinya.
“ Dari mana saja kamu.” Tanya Abigail.
Lily tersenyum. Senyum yang terlalu di paksakan.
Abigail yang merasa aneh dengan sikapnya, mengajaknya masuk dan duduk.
“ Bisakah kalian pergi.” Kata Abigail. Ia mengusir Affan dan Angga.
“ Ok.” Kata Affan.
Angga diam saja. Ia melihat kearah Lily dengan mata yang menyedihkan.
Angga mengetahui banyak tentang keluarga Erlangga. Dan juga cukup mengetahui tentang siapa ayahnya Lily. Karena Angga adalah anak dari seorang inspektur polisi.
“ 3 hari ini, kamu ada dimana? Aku mencarimu. Dan aku bertanya sama pak Karim. Tapi, mengapa kamu tidak ada Khabar.” Ujar Abigail. Ia menggenggam jemari Lily.
Deg...
Perasaan yang bercampur aduk dengan kepergian ayahnya membuatnya bingung. Tapi, bagaimana pun Lily harus memutuskan hubungan ini.
“ kak Abi. “ kata Lily lembut.
Abigail tertawa. Ia tidak pernah mendengar Lily memanggilnya dengan sebutan kakak.
“ Apa aku tidak boleh memanggilmu dengan kak Abi?” tanya Lily.
“ Tentu saja boleh.” Jawabnya. “ Tapi, jawab pertanyaan ku. Kemana saja kamu tiga hari ini.” Sambungnya lagi.
“ Ayahku meninggal.”
Abigail terkejut mendengar hal itu. Ia langsung berkata. “ Mengapa kamu tidak memberitahu ku atau juga pak Karim. Mungkin kami semua pasti ikut berkabung.”
“ Pemakamannya cukup jauh kak. Makanya saya tidak sempat menghubungi pihak sekolah.”
Abigail merasa aneh. Lily berkata sopan sekali. Tutur katanya yang biasa blak-blakan. Sekarang malah sopan dan lembut. Abigail berpikir mungkin ia masih bersedih akan kepergian ayahnya. Berlahan ia menarik nafas dan berusaha mengontrol dirinya.
“ Besok kakak ada waktu.” Kata Lily. Ia memecah keheningan Abigail.
“ Besok kan Sabtu.” Kata Abigail sambil mengingat jadwal nya. “ Aku ada waktu. Apa kamu mau mengajak aku kencan.” tebak Abigail.
Lily hanya mengangguk.
“ Baiklah. Besok aku jemput kamu di rumah. “
Rumah.
Lucu.
Lily tertawa dalam hati. Rumahnya yang indah dan nyaman akan sebentar lagi di sita oleh pihak bank. Ayahnya meninggalkan banyak hutang. Lily benar-benar prustasi mengingat hal itu.
“ Sebaiknya kita bertemu di mall saja kak. “ ujar Lily.
“ Memangnya aku tidak boleh kerumah mu.”
“ Bukan begitu. Tapi, bunda lagi kurang sehat. Tidak enak jika ada cowok yang menjemput ku. Aku khawatir bunda marah dan menganggap aku tidak menghormati kematian ayahku. “ jelas Lily.
Abigail mengangguk mengerti.
Kring... Kring...
Suara bell berbunyi.
“ Aku kembali ke kelas dulu ya, kak.” Pamitnya.
“ Tunggu.” cegah Abigail.
“ Aku menyayangimu. “ katanya lagi.
Lily tersenyum sembari mengangguk.
Kemudian ia keluar dari ruang OSIS dengan perasaan sedih. Air matanya menetes, seolah hal yang paling berat dilakukannya ialah perpisahan. Besok adalah hari di mana ia harus berpisah dengan cinta pertamanya. Cinta pertamanya yang akan dikuburnya untuk selamanya.
Kakinya terasa lemas ketika menuruni satu persatu anak tangga. Dengan air mata yang berjatuhan di pipinya, ia terisak dalam hati.
“ Jangan nekat.”
Suara Angga menghentikan langkahnya. Ia menuruni anak tangga dan mencegah perjalanan Lily.
“ Aku tahu siapa ayahmu. Tapi, jika aku menyarankan. Jangan melukai Abigail. Nantinya kau akan berurusan dengan kakeknya.” Kata Angga memperingatinya.
“ Aku tidak akan sebodoh itu. “ balas Lily dengan suara yang sedikit parau.
“ Besok adalah hari terakhir ku bersamanya. Dan hari dimana ia harus mengetahui siapa diriku.”
Angga diam. Ia pergi meninggalkan Lily yang menangis sendirian.
Oh Tuhan...
“Andai aku tahu siapa DIA.
Mungkin aku takkan mau mengenal nya.”