
Erlangga Corf.
Adalah Perusahan besar yang dibangun oleh Rahmat Erlangga. Perjuangan Rahmat membangun Erlangga Corf patut di acungkan jempol. Tapi, di balik kesuksesan nya itu. Rahmat selalu bermain curang dan ikut berbisnis dalam perdagangan bebas.
Gedung Erlangga corf terlihat menjulang tinggi. Lily tertegun memandang gedung itu. Dengan menelan air liur nya, ia merasa ada keraguan untuk menemui Abigail dan mengembalikan uangnya.
“ Tidak bisa di undur lagi.” Kata Lily dengan tekat.
Lily kemudian melangkah masuk ke dalam Erlangga corf. Di sana ia di hentikan oleh salah satu security yang bertugas.
“ Maaf, mba. Mba ini siapa dan ada perlu apa.” Kata security yang bertubuh tinggi dan tegap itu.
“ Maaf pak. Saya ada perlu dengan tuan Abigail.” Jawab Lily dengan penuh kesopanan.
“ Apa mba sudah punya janji sebelumnya dengan tuan Abigail.” Tanya security itu lagi.
Lily hanya menjawab dengan gelengan.
“ Kalau begitu. Anda harus membuat janji terlebih dahulu. Soalnya saya tidak bisa membiarkan Anda masuk dan menemui beliau.” Jelas security itu lagi.
“ Tapi, pak. Saya ada keperluan mendesak. Saya ingin bertemu dengan Abigail.”
Lily mencoba menjelaskan maksud kedatangannya. Tapi security itu tetap menolak.
“ Lily.”
Suara yang datang dan menghentikan perdebatan Lily dengan security seolah menjadi penolong untuknya. Lily memandang kearah jalan. Tanpa ia sadari sebuah mobil baru saja berhenti dan seorang pria tinggi berkulit putih dengan rambut kriwilnya berjalan menghampirinya.
“ Affan.”
Affan tersenyum dan meminta security itu pergi meninggalkannya.
“ Ada perlu apa kamu kemari ?” tanya Affan. Ia sedikit mengerutkan alisnya.
“ Aku ingin bertemu Abigail.” Jawab Lily. “ Aku hanya ingin mengembalikan uangnya.”
“ Uang.”
Lily mengangguk.
“ Uang apa maksudmu. Aku tidak mengerti.” Tanya Affan lagi.
Lily menjelaskan apa yang terjadi. Affan tersenyum dan berpikir, jika yang dilakukan Abigail terlalu berani. Ini akan membuat gadis yang akan di cintanya terlibat masalah lebih besar lagi. Tapi, ia tidak bisa menentang keputusan Abigail. Yang bisa Affan lakukan hanya menjadi penonton.
“ Aku akan menelpon Abigail. Tunggu sebentar.” Ujar Affan.
Lily mengangguk. Affan mengambil ponselnya dan segera menghubungi Abigail. Ketika sambungan telepon tersambung.
“ Abi, ada Lily. Ia mencarimu. “ Kata Affan dengan kata datar.
Abigail yang mendengar dari seberang telepon tersenyum. Ia memanggil Evan dengan isyarat.
“ Ada apa tuan?” tanya Evan sopan.
Abigail menutup telepon nya dengan tangan nya dan berkata sedikit berbisik.
“ Baik tuan.” Jawab Evan. Ia kemudian pergi.
Sementara Affan, ia kembali berbincang dengan Lily.
“ Apa kamu masih bekerja di club’?” Tanya Affan tanpa basa basi.
Lily menjawab dengan anggukan.
“ Jika kamu butuh pekerjaan yang baik. Hubungi aku.”
Affan memberikan kartu namanya.
“ Terima kasih. Tapi, orang sepertiku tidak bisa bekerja di bidang yang bagus. Ya mungkin, memang nasibku seperti ini.” Kata Lily sambil cengar-cengir.
“ Ibuku seorang perancang busana. Aku rasa jika kamu mau bekerja di tempat ibuku. Mungkin akan lebih baik dari pada kamu bekerja di club.” Saran Affan. “ ibuku selalu mencari pekerja yang tidak malas. Meski tanpa bakat.” Jelas Affan.
“ Maaf tuan.” Kata Evan yang seolah mengakhiri percakapan mereka.
“ Aku pergi dulu.” Kata Affan kearah Lily.
Lily Cuma mengangguk sembari tersenyum tipis.
“ Nona, ikuti saya.” Kata Evan dalam bahasa sopan dan lembut sekali.
“ tunggu.” Kata Lily. “ kamu mau bawa aku kemana?” tanya Lily bingung.
“ Perkenalkan.” Kata Evan masih dalam nada yang ramah. “ Nama saya Evan Sanjaya. Asisten dari tuan Abigail Erlangga. Saya di minta tuan muda untuk membawa anda ke ruangannya. Bukankah Anda ingin bertemu beliau?”
Lily mengangguk. Lalu, mengikuti Evan masuk ke gedung Erlangga corf.
Perasaan Lily penuh kekaguman ketika memasuki gedung Erlangga corf. Di dalam gedung ini penuh dengan kemewahan. Dan para pegawainya terlihat cantik, modis dan sangat berkelas. Lily sedikit malu ketika menyadari pakaian yang di kenakanya. Celana jeans lusuh, pakaian kaos yang tidak baru. Dan sepatu yang jempolnya sedikit bolong.
Ini memalukan !
Itulah yang ada di otaknya. Ia langsung merogoh jaket di dalam tasnya dan mengenakannya. Ketika memasuki lift, Lily menyudutkan dirinya Kedinding. Kebetulan ada beberapa orang yang juga berada di dalam lift. Mereka sempat memperhatikan Lily dan berbisik.
“ Siapa? Ko lusuh banget.” Kata seorang cewek dan temannya.
Evan mendengar hal itu. Tapi, dengan sikap tenangnya ia diam dengan wajah datar.
“Stt... Jangan berisik.” Balas teman cewek itu. “ Kamu tau enggak itu pak Evan. Asisten tuan Abigail. Aku dengar ia tidak pandang cewek atau cowok. Jika ia ingin pukul. Maka Ia akan pukul.”sambungnya lagi.
Lily hanya menjadi pendengar. Dan ketika mendengar percakapan mereka. Ia bisa menyimpulkan kalau Abigail pasti akan memilih asisten yang terbaik.
Senyum tipis Lily seolah membuat suasana menjadi tenang. Tapi, ketika pintu lift terbuka. Dada Lily seolah berdegup kencang. Ia sedikit takut.
Ada apa ini?
Apakah aku siap menghadapinya?
Jika mundur sepertinya sudah terlambat. Kini di depan pembatas dari pintu ini. Sebentar lagi ia akan bertemu Abigail.