When She Loved Me

When She Loved Me
8. Hukuman dari Abigail



Rahmat Erlangga. Seorang pengusaha sukses yang banyak memiliki kolega di dunia bisnis dan memiliki pengaruh besar di dunia politik.


Rahmat memiliki satu putra dan satu putri. Putranya yang bernama Abimanyu meninggal karena di tembak. Kepergian Abimanyu membuat Rahmat terpukul.


Kematian Abimanyu di anggap bukan sekedar kecelakaan. Melainkan ia berpikir, jika kematian putranya memang sudah di rencanakan.


Ketika penembakan itu terjadi. Rahmat tidak berada di Indonesia. Ia pergi ke London untuk mengurus bisnisnya. Dan Abimanyu di tugaskan ayahnya untuk menangani bisnis Perdagangan gelap yang masih dilakukan oleh keluarga Erlangga. Bisnis gelap ini memang sudah lama tercium oleh pihak yang berwajib. Hanya saja mereka belum memiliki sepenuhnya bukti untuk menangkap Rahmat Erlangga.


Beberapa tim yang melakukan penyergapan. Satu persatu mati. Kasus kematian mereka semua sama, bunuh diri. Dan kali ini. Zein Malik adalah ketua tim yang merencanakan penyergapan saat itu.


Zein di tarik dan di tendang ketika ia sudah berada di depan Rahmat Erlangga. Tubuh mulai Indah gemetaran. Ia menangis tanpa suara ketika melihat suaminya di pukul, di tendang hingga babak belur.


“ Hentikan.”


Cegah Abigail. Ia berjalan masuk dan mendekat kearah kakeknya.


“ Ada apa ini? “ tanya Abigail bingung.


Rahma memanggil cucunya untuk mendekat. Abigail pun mendekat dan duduk di sampingnya.


“ Kau lihat pria ini.” Kata Rahmat dengan jari menunjuk kearah Zein.


Abigail mengangguk sembari memperhatikan pria yang babak belur karena di pukul.


“ Dialah dalang dari kematian ayahmu.” Jelas Rahmat.


Abigail tersenyum sinis. Ia bangkit dan mendekat kearah Zein Malik.


“ Apa kau senang sekarang? “ kata Abigail. Ia menarik rambut Zein agar menatap wajahnya. “ Ibuku menjadi janda, aku menjadi yatim. Dan pada akhirnya, ibuku pun meninggal karena ulahmu. Apa itu belum cukup?” kata Abigail lagi.


“ Kumohon ampuni suamiku.” Indah mendorong pria yang sedari tadi memeganginya. Dan berlari kearah suaminya.


“ Kumohon tuan. Ampuni suamiku. Kami masih memiliki seorang putri yang perlu kamu lindungi. Jadi aku mohon ampuni kami.”


Indah bersujud di kaki Abigail.


“Singkirkan wanita itu.” Kata Rahmat.


Beberapa pria langsung menarik indah.


“ Mana pistol nya.” Tanya Abigail kearah salah satu pria berjas hitam itu.


“ Ini tuan muda.” Kata pria sembari memberikan senjata G2 Elite.


“ Jangan buru-buru.” Kata Rahmat ketika melihat cucunya yang tidak sabaran mengakhiri hidup Zein Malik.


Indah menangis histeris. Ia tidak mau melihat suaminya di perlakukan seperti itu.


“ Sebelum aku mati. Bolehkah aku meminta satu permintaan.” Kata Zein. Suaranya mulai terdengar gagap. Indah menutup mulutnya. Ia tahu sekali apa yang di minta suaminya.


“ Boleh.” Kata Rahmat angkuh.


“ Aku mohon bebaskanlah istri dan putriku. Biarkan mereka hidup dengan tenang.” Kata Zein.


“ Tentu saja.” Jawab Abigail. “ Setelah kau mati. Hutang darah ini akan lunas.” Lanjutnya lagi.


Abigail pun bersiap untuk menembak Zein. Ia menarik pistolnya dan mengarahkannya tepat kearah kepala Zein.


Dor...


Sekali tembakan. Zein langsung jatuh dan tergeletak tanpa nyawa.


“ Tidak.”


Indah berlari ke tubuh suaminya. Ia mengguncang-guncang tubuh suaminya.


Zein tak menjawab.


“ Dengarkan aku. Putri kita sedang menunggu kita di rumah. Aku mohon bangunlah.”


Indah prustasi. Ia terjebak akan ketidak yakinannya.


“ ha... Ha..”


Tiba-tiba Indah tertawa. Tertawa sendiri. Abigail langsung mengerutkan dahinya karena bingung.


“ Antar wanita itu pulang.” Kata Rahmat. Ia menyadari jika wanita itu sudah mulai tertekan akan kesadaran nya.


***


Lily terdiam ketika melihat bundanya tertawa dan tak memandang dirinya.


“ Bunda sadarlah.” Kata Lily.


Bi Inah masuk dengan membawa segelas air.


“ Ayah kemana bi?” tanya Lily.


“ Bibi tidak tahu. “ jawabnya. “ hanya saja.” Bi Inah diam dan kemudian menceritakan kejadian sebelum ayah dan ibunya di bawa oleh sekelompok orang yang tidak di kenal.


Cerita Bi Inah membuat Lily teringat dengan satu nama.


Rahmat!


“ Non, sebaiknya tidak kerumah Rahmat Erlangga. Ia pria yang kejam.” Ujar Bu Inah.


“ Jadi namanya Rahmat Erlangga.”


Lily terkejut jika bi Inah mengetahui cerita tentang siapa Rahmat Erlangga. Bi Inah pun akhirnya menceritakan tentang ayahnya yang memiliki masalah dengan keluarga Erlangga.


Cerita Bi Inah membuat Lily tidak bisa berkata apa-apa. Tapi, ketika bi Inah bilang Jika ia tidak akan bertemu ayahnya lagi. Ia pun menangis sejadi-jadinya.


“ Apa ayahku sudah mati sekarang?” tanya Lily ke BI Inah. “ Katakan bi. Apa ayahku sudah mati sekarang dan itu membuat bunda jadi seperti ini.” Tanyanya lagi.


Bi Inah menangis. Ia mengangguk dan membenarkan apa yang menjadi pertanyaan Lily.


Ya Allah...!


Lily terduduk di lantai.


“ Tadi pihak kepolisian meminta izin untuk mengurus jenazah tuan. Dan besok akan ada pemakaman secara resmi dari pihak kepolisian.” Ujar Bi Inah.


“ Bukannya ayah sudah di keluarkan jadi agen CIA. Dan mengapa harus di makamkan seperti layaknya seorang prajurit.”


“ Anda salah nona. Ayah anda masih menjadi agen resmi CIA. Mereka tidak memberhentikan ayah nona. Tapi, mereka hanya membohongi keluarga Erlangga. Agar keluarga Erlangga tidak menuntut pihak yang bersangkutan dalam penyergapan itu.” Jelas bi Inah.


Sebagai anak. Lily merasa tidak begitu banyak mengetahui rahasia di keluarganya. Mungkin karena ayah dan ibu terlalu mengkhawatirkan dirinya. Sehingga rahasia sepenting ini hanya bi Inah saja yang di beritahu. Bi Inah sudah lama ikut dikeluarga Zein Malik. Ia adalah orang yang paling di percaya untuk mengurusnya.


“ Satu lagi nona.” Ujar bi Inah. “ Besok, setelah pemakaman tuan. Kita semua harus keluar dari rumah ini.” Sambung bi Inah lagi.


“ Apa ayah benar-benar bangkrut?” tanya Lily.


Bi Inah mengangguk sambil berkat. “ Kita masih punya tempat tinggal. Ayah dan ibu anda sudah mempersiapkan rumah itu sebelum ia wafat.”


Lily hanya diam. Ia meratapi nasib ibunya yang tidak mengingat dirinya.


“ Maafkan aku ibu.” Kata Lily. “ Aku putrimu yang tidak berguna dan juga tidak bisa melakukan apapun untuk mu.” Tuturnya.


***