
Pintu terbuka. Evan dengan sopan mempersilahkan masuk.
Deg... Deg...
Jantung Lily yang berdetak seolah mengganggu. Mereka berisik dan dengan nada yang membuat tangan Lily semakin gemetar.
Di dalam ruangan, Abigail menyambut nya dengan senyum. Lily tidak membalas dengan senyum ia malah mengeluarkan amplop berisikan uang.
“ Ini tuan. “ kata Lily. Uang 10 juta ia letakkan di depan Abigail.
Abigail yang sudah tahu akan maksudnya. Berpura-pura bingung.
“ Uang ini baru separuh nya. Dan sisanya akan saya lunasi.” Tambah Lily lagi.
“ Uang apa ini. Aku tidak mengerti.” Kata Abi santai.
“ Jangan pura-pura tuan. Uang ini adalah uang biaya rumah sakit bunda saya. Dan biaya bi Inah. Semua akan segera saya kembalikan.” Jelas Lily.
Abigail beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekat kearah Lily. Lily yang menyadari itu segera mundur.
“ Kau takut padaku.”
Pertanyaan Abigail tidak di jawab Lily. Matanya yang menyimpan rasa luka seolah muak dengan wajah tampan yang di miliki Abigail.
“ Saya harap.” Kata Lily sedikit gagap. “ Anda tidak lagi ikut campur dengan urusan saya. Dan saya mohon maaf jika menyinggung perasaan anda.” Kata Lily lagi.
Entah ada apa. Tapi, air matanya seketika menetes. Abigail mendekat, Lily pun semakin mundur.
“ Kalau begitu saya pamit dulu.” Kata Lily. Ia mencoba lari dari Abigail. Tapi, Abigail tidak sebodoh itu. Ia menarik tangan Lily. Lily langsung menepis dan berlari kearah pintu. Namun, dari arah pintu, Evan menghadangnya.
“ Maaf nona. Tuan muda belum selesai berbicara. Bisakah anda kembali dan duduk di sofa.” Kata Evan dengan sopan.
“ Minggir.” Kata Lily. Ia mencoba mendorong Evan. Evan tak bergeming. Ia seperti tiang penghalang di depan pintu.
Abigail mendekat dan langsung menggendong Lily.
Lily yang terkejut merasa kenangan lama seolah mulai terulang. Sikap pemberontaknya selalu ditangani Abigail dengan menggendongnya.
Tidak!
Ini bukan masa lalu.
Itulah yang ada di benak Lily.
“ Turunkan aku.” Teriak Lily.
“ Kamu semakin ringan. Tidak seperti dulu. Agak berat jika di gendong.” Ujar Abigail.
“ Turunkan aku, Abigail.” Teriak Lily lagi.
Abigail menurunkan Lily dan berkata. “ Akhirnya kau memanggil namaku juga.”
Lily menahan amarahnya. Wajahnya memerah. Tangannya seolah ingin sekali menampar Abigail dengan keras. Tapi tidak ia lakukan. Ia hanya mengepal tangannya, menahan emosinya yang hampir meledak.
“ Cukup. Semua sudah cukup.” Kata Lily dengan di penuhi air mata.
“ Darah dibayar dengan darah. Apa itu belum cukup?” kata Lily lagi dengan sedikit teriakan.
Abigail diam. Ia masih mengingat apa yang dilakukannya kepada Zein Malik. Tapi, semua sudah terjadi. Ia tidak bisa mengulang apa yang telah dilakukannya kepada Zein Malik.
“ Maafkan aku.”
Hanya itu yang terucap dari mulut Abigail.
“ Aku mohon. Biarkan kami tetap hidup. Aku mohon kamu tidak memasuki kehidupan ku lagi. Aku takut. Takut sekali.”
Lily terisak. Ia terduduk di lantai.
Abigail benar-benar bungkam. Air matanya hampir saja menetes. Ia menahanya agar tidak terlihat lemah di depan Lily.
“ Evan.” Kata Abigail.
“ iya tuan.”
“ Tolong antarkan Lily pulang. Aku ada rapat. Aku harus pergi.” Kata Abigail sambil memalingkan wajahnya.
“ Nona, mari saya antar pulang.” Kata Evan dengan senyum tipis nya.
“ Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Lily. Ia bangkit dan melangkah ingin pergi. Tapi ketika pintu terbuka. Lily berkata lagi. “ Aku harap. Ini adalah terakhir kali kita bertemu. Dan selanjutnya jika kita tidak sengaja bertemu. Aku berharap anda berpura-pura tidak mengenal saya. Anggap yang terjadi di masa lalu hanya sebagai dongeng. “
Lily kemudian pergi. Abigail merasa kesal. Ia membanting pas bunga, laptop dan barang-barang yang berada di dekatnya.
“ Aku bersumpah. Jika aku akan memilikimu, meskipun dengan cara curang dan memaksa. Kau wanitaku. Dan selamanya akan menjadi wanitaku.”
***