
Abigail mengambil beberapa lembar foto yang di berikan oleh Evan.
“ Tiga pekerjaan dalam sehari.” Kata Evan. ( Evan adalah Asisten pribadi Abigail)
“ Ini bi Inah. Ia pembantu yang dulu pernah bekerja dengan Zein Malik. Dia seorang wanita janda yang selalu berada disisinya. Tapi, beberapa bulan ini bi Inah harus di rawat di rumah sakit. Dia mengalami gagal ginjal. “ jelas Evan.
Abigail masih diam. Ia kemudian mengambil foto berikut nya. Foto kali ini adalah foto indah. Ia masih teringat jelas ketika wanita itu membangunkan Zein Malik yang sudah tewas.
“Ini bunda indah. Ibu kandung Lily. Dia sekarang berada di rumah sakit jiwa. “ Jelas Evan lagi. “ Tapi, menurut pihak rumah sakit. Biaya ibunya masih nunggak 3 bulan. Pihak rumah sakit juga sudah meminta ia membawa pulang ibunya jika dia tidak bisa membayar perawatan ibunya.” Sambung Evan.
“ Aku ingin semua biaya bunda indah dan bi Inah di bayar. Dan Lily harus mengetahui jika akulah yang membayarnya. Kau mengerti itu.”
“ Baik tuan.” Ujar Evan.
Krek...
Pintu terbuka tanpa di ketuk. Awalnya Abigail sempat ingin marah. Tapi, ketika mengetahui siapa yang masuk. Ia berdiri dengan senyum.
“ Kakek.”
“ Apa kamu sibuk?” tanyanya.
“ Tidak begitu sibuk. “ jawab Abigail sembari mengisyaratkan Evan untuk membereskan foto yang baru saja di lihatnya.
“ Besok malam ada pesta universary dari keluarga Gatot Subroto. Dan kakek ingin kamu ikut menghadirinya.”
“ Baiklah kakek.” Jawab Abigail.
“ Dan ada satu hal lagi. Kakek harap kamu mau melakukannya.” Kata Rahmat. Ia memandang cucunya. Ada sedikit keraguan yang membuatnya tak ingin berterus terang.
“ Apa itu kek?” tanya Abigail penasaran.
“ Jack.” Panggil Rahmat ke salah satu orang kepercayaan nya.
Jack yang sedari tadi berdiri di sisi Rahmat, langsung menyerahkan map yang berisi beberapa lembar sketsa gedung.
“ Ini gedung Erlangga yang baru.” Jelas Rahmat.” Di sebelah gedung ini nantinya. Ada tempat pemakaman ayahmu dan ibumu.” Jelas Rahmat lagi.
Abigail memperhatikan sketsa gedung dan kemudian memandang kembali kearah kakeknya.
“ Tanah yang akan di bangun gedung ini adalah milik dari Gatot Subroto. Dan dia tidak ingin menjual tanah ini kecuali.”
Rahmat menghentikan kata-katanya.
“ Kecuali apa?” tanya Abigail lagi.
Abigail diam. Rahmat kembali melanjutkan kata-katanya.
“ Aku dengar putrinya satu alumni denganmu. Jika tidak salah namanya Jessika.”
Abigail masih diam.
“ Aku harap kamu tidak mengecewakan aku, Abigail. Karena, kamu bukan Affan yang suka seenaknya sendiri.”
Rahmat beranjak pergi. Ia tidak peduli dengan kebisuan cucunya. Ia berpikir, jika Abigail tidak pernah mengecewakan nya. Bahkan dari kecil dengan didikannya yang ketat. Abigail bisa menjadi pria yang kuat dan kejam seperti dirinya.
***
Dilain tempat!
Tepatnya di RSJ. Lily tertegun ketika mendengar petugas administrasi dari RSJ berkata.
“ Biaya ibu indah sudah di lunasi dan untuk kedepannya. Biaya akan di tanggung oleh.”
Petugas rumah sakit itu membalik lembaran pembayaran.
“ Di tanggung oleh Abigail Erlangga.” Sambungnya lagi.
Lily masih tertegun dan diam. Tangannya yang menggenggam tas seolah semakin diremasnya. Ia kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan petugas RSJ yang sedikit bingung dengan sikapnya.
Pikiran Lily seolah melambung. Ia bingung dan gusar. Mendengar nama Abigail saja seolah dunianya seakan kelam. Ia terus melangkah keluar dari rumah sakit. Di depan rumah sakit ada sebuah halte. Lily duduk dan diam sejenak. Tak lama ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“ Hallo.”
Jawab dari seberang telphon.
“ Amat, aku mau pinjam uang 10 juta. Apa kamu ada?” kata Lily tanpa basa basi.
Dari seberang telepon amat tersenyum.
“ Ya, aku ada. Sekarang akan aku transfer.”
“ Makasih, mat. Nanti uangnya akan aku kembalikan. Aku janji tidak akan lama, pasti akan aku kembalikan.” Kata Lily seolah menyakinkan amat.
“ Tidak usah buru-buru. Nyantai aja.”
Setelah berterima kasih. Sambungan telepon terputus. Lily kembali mencari aplikasi ojek online. Lalu memesan ojek online dengan tujuan ke gedung Erlangga Cord.