
Hampir satu jam pak Karim menceramahi Lily. Dari sikapnya yang kurang sopan ke Abigail, dan niatnya ingin membolos.
“ Bapak sudah memutuskan.” Tegas pak Karim. “ Hukumanmu adalah membantu ketua OSIS dari segala hal yang menjadi kegiatannya. Dan bapak harap kamu bisa belajar bersikap sopan dengan ketua OSIS.” Sambung pak Karim.
“ Ketua OSIS. Hah, hukuman macam apa ini. Aku jamin ini tidak akan menyenangkan.” Lamun Lily.
“ Kamu paham, ly. “ tegas pak Karim lagi.
Lily Cuma mengangguk dengan mulut cemberut.
“ Mulai besok hukuman ini akan berlaku selama sebulan. Setelah itu hukumanmu selesai.”
“ Apa pak ? Sebulan. “
Pak Karim mengangguk.
“ Ini tidak adil. “ kata Lily. Ia menolak keputusan pak Karim.
“ Ya jika kamu tidak setuju, tidak apa. Besok orang tuamu di minta untuk ke sekolah. “
Hah...
Oh tidak !
Lily gelagapan. Bagaimana mungkin jika hal ini kedengaran ayah. Lily menggigit bibirnya. Berat sekali rasanya jika hal tersebut akan melibatkan orang tuanya. Dengan terpaksa akhirnya ia menyetujui hukuman yang di berikan pak Karim.
“ Kalau begitu, kamu boleh istirahat. Dan jangan lupa, tolong berikan buku ini ke ruang OSIS.” Ujar pak Karim sembari menyodorkan buku kedepannya.
Lily mengambil buku tersebut dan langsung berjalan keluar dari ruang guru.
“ Oh tuhan. Apa yang bisa aku lakukan.” Keluhnya kesal.
“ Ruang OSIS.”
Lily bingung. Ini hari pertama ia masuk sekolah. Ruang OSIS dimana? Dia pun tidak tahu.
“ Huh, sepertinya aku harus bertanya.” Gumamnya.
Dengan gesit ia bertanya ke beberapa murid yang ia sendiri tidak begitu kenal.
“ Naik kelantai 3. Disana kamu bisa bertanya lagi.” Kata siswi dari kelas 1E.
Setelah mengucapkan terima kasih. Lily langsung menaiki anak tangga. Tiba di lantai 3 . Lily mencoba bertanya lagi ke beberapa orang siswa yang lagi berkumpul. Tapi, sebelum ia bertanya. Tiga orang cewek dengan berdandan sedikit mencolok menghampiri nya.
“ Gadis kampungan yang norak.” Ketusnya menyemprot kearah Lily.
“ Hei, ada apa ini “ kata cowok yang entah datangnya dari mana. Tapi kedatangannya membuat ketiga gadis itu mundur selangkah.
“ Affan.” Kata cewek itu dengan mengumbar senyum renyah. “ Gadis ini.” Katanya menunjuk kearah Lily. “ Dia yang menampar Abigail. Aku melihatnya tadi pagi.” Sambungnya lagi.
Affan memandang kearah Lily. Memandang dengan tatapan datar.
“ Gadis ini, mengapa begitu manis. Meski ia tidak mengenakan bedak. Tapi, ia memiliki paras wajah yang cantik, menawan, mempesona dan memiliki penampilan yang menarik. “ gumam Affan dalam hati.
“ Ngapain kamu kesini. Ingin cari masalah lagi. Atau belum cukup dengan kehebohanmu tadi pagi.”
Suara Abigail memecah lamunan Affan.
Lily cemberut sambil sedikit mundur. Ketika Abigail berjalan mendekat, degup jantung nya seolah berdetak tak seirama.
Deg... Deg...
“ Kamu mau apa? “ Tanya Lily ketika menyadari Abigail semakin mendekat.
Abigail tersenyum sinis dengan menyudutkan Lily ke dinding. Lily langsung memegang buku yang di bawanya dengan erat. Ketika Abigail mendekatkan wajahnya. Lily seketik menutup wajahnya dengan buku.
Deg... Deg..
Detak jantungnya mulai terdengar resah. Tiba-tiba Abigail mengambil buku itu dan berbisik ketelinga Lily.
“ Jangan terlalu ke PD an. Aku Cuma ingin mengambil buku ini. “
Oh no...
Lily hampir saja tidak bisa bernafas. Degupan jantungnya seolah belum berhenti. Ketika Abigail menarik diri. Lily langsung berlari pergi dan menghilang di belokan anak tangga.
Huh...
Betapa malunya. Wajah lily yang memerah seakan ingin meledak. Ini begitu memalukan. Ia menutup wajahnya ketika kembali ke kelas. Perasaan aneh yang ia rasakan. Menuntunnya dengan satu tanya.
Lily mengacak rambutnya. Seolah kegalauan nya membingungkan nalurinya. Ia teringat kembali akan wajah tampan Abigail. Wajah yang sempurna tampan dan memiliki tubuh yang atletis. Semua itu bagai hantu yang mulai bergentayangan di kepalanya dan menghipnotis nalurinya.
“ Ya Allah. Apa-apaan ini. Cowok bodoh itu seolah mempermainkan ku. “ gumamnya.
“ Apa ? Dia ketua OSIS.” Teriak Lily histeris.
Jessika mengangguk.
“ Mengapa kau tidak bilang dari kemarin. Sekarang semuanya sudah telat.” Kata Lily dengan suara tinggi dan marah.
“ Pagi- pagi sudah heboh. Ada apaan sih? “
Lily dan Jessika terdiam dengan mata memandang kearah cowok yang sudah berdiri tepat di samping meja mereka.
“ Amat.” Pekik Jessika.
“ Mengapa kamu ada di sini. Bukannya kamu enggak lulus.” Kata Jessika lagi.
Amat cengar cengir.
“ Pergi loe berdua. Aku pusing.” Suara Lily seolah menggemparkan ruang kelas 1B.
“ Hei. “
Kini terdengar suara teriakan dari arah pintu. Lily menoleh kearah suara. Ia memandang dengan sedikit mata terbelalak.
“ Abigail “ kata Lily.
Jessika menyenggol lengan Lily dan berkata.
“ Sopan sedikit, ly. Panggil dengan sebutan kak Abi.”
“ Dari pada kamu ngerumpi lebih baik ikut aku keruang OSIS. Banyak kerjaan yang harus kamu kerjakan.” Jelas Abigail.
“ Jika aku tidak mau bagaimana?” Kataku seolah menentang nya.
Dia tersenyum sinis. Senyum yang sedikit menakutkandi mata siswa siswi yang kebetulan berada di kelas itu.
“ Duh ly. Kamu belum dengar ya. Jika Kak Abi terkenal dengan sikap memaksa dan kasarnya. Dan Ia juga tidak memandang cowok atau cewek untuk main tangan.” Bisik Jessika ketika Abigail mendekat.
Lily yang awalnya ingin memberontak dan mencari keributan lagi. Merasa merinding mendengar informasi dari Jessika.
“ Ingin jalan sendiri. Atau aku gendong.” Kata Abigail ketika ia berdiri tepat di depan Lily.
“ Aku pilih di gendong.” Jawab Lily. Ia berpikir jika laki-laki itu tidak mungkin seperti gosipnya. Dan lantai tiga cukup jauh dari kelasnya. Tidak akan mungkin jika Abigail akan menggendong nya. Karena hal itu tidak mungkin akan terjadi.
Pikiran Lily tidak seperti yang ia simpulkan. Abigail benar-benar menggendong nya. Sontak seluruh siswa dikelas maupun di perjalanan menuju lantai tiga berseru. Ada yang merasa itu seperti drama Korea. Ada juga yang bertanya. ‘ apa yang terjadi setelah ini ya'.
“ Turunkan aku.”
Sekuat apapun Lily menolak. Abigail tetap membawanya ke ruang OSIS. Ruang dimana ia harus melakukan tugas dan hukumannya.
Di sisi lain. Pak Karim yang mendengar jika Abigail menggendong Lily ke ruang OSIS, tertawa. Ia malah berkata kepada guru lain.
“ Aku rasa... Akan ada kisah cinta di sekolah.”
“ Walah pak de Karim. Doyan Drakor juga ya. Kaya anak ABG aja. “ timpal salah satu guru yang kebetulan mendengar gumaman pak Karim.
Dan Lily yang terus berteriak. Seolah membuat telinga Abigail berdengung kencang. Ia buru-buru menurunkan Lily di depan ruang OSIS.
Lily yang kesal. Melayangkan kembali tamparannya. Abigail mengetahui itu, ia menangkap tangan Lily yang hampir mengenai pipinya.
“ Jangan harap kau bisa menamparku lagi.” Ujar Abigail.
Ia kemudian mendorong Lily masuk dan memberikan setumpuk berkas yang harus ia cek.
“ Selesaikan ini sebelum jam sekolah berakhir.”
What...!
Lily tidak bisa percaya. Ia berteriak kesal setelah Abigail pergi meninggalkan nya sendiri di ruang OSIS.
“ Dasar pria anarkis, bodoh , psikopat.”